BERPIKIR DIVERGEN DAN KONVERGEN (Inspirasi untuk Mahasiswa yang Akan/Sedang Menyusun Skripsi)


Abdul Halim Fathani

BAGI mahasiswa matematika maupun pendidikan matematika, sewaktu kuliah pasti pernah mempelajari materi barisan divergen dan konvergen dalam matakuliah Analisis Real. Dalam tulisan ini, tidak akan membahas apa itu barisan divergen dan konvergen. Karena, bagi alumni matematika tentu sudah pernah belajar hal itu dan saya yakin masih ingat definisi maupun teoremanya. Ada baiknya, agar segera membuka kembali materi yang terkandung dalam buku Analisis Real tersebut. Selanjutnya, setelah membuka dan memahami kembali materi barisan divergen dan konvergen, mari mencoba mengambil “hikmah” dari definisinya dalam perspektif berpikir.

Dalam faktanya, tidak sedikit mahasiswa yang studi di perguruan tinggi tingkat akhir yang mengalami kebingungan. Seperti, ketika mencoba mencari permasalahan/ide yang akan dijadikan tulisan dalam bentuk skripsi. Kebanyakan mahasiswa bolak-balik berkunjung dari kampus satu ke kampus lain yang memiliki program studi yang sama dengan yang ia tekuni selama kuliah. Tempat yang ia jadikan sasaran adalah ingin melihat skripsi yang ada di perpustakaan. Kebanyakan mahasiswa, berpendapat dengan metode inilah sehingga mereka dapat menemukan bahan/permasalahan yang dapat diajukan ke pihak jurusan/fakultas untuk dijadikan bahan penulisan skripsinya.

Salahkah metode berpikir yang diterapkan mahasiswa selama ini? Dalam proses berpikir, banyak metode/model yang dapat digunakan untuk menemukan ide. Tetapi akan lebih baik jika metode yang kita gunakan merupakan metode yang ‘cerdas’ sehingga akan dapat membuahkan hasil yang benar-benar optimal. Berikut akan diuraikan metode berpikir yang dapat dijadikan sebagai acuan bagi mahasiswa ketika setiap kali melakukan proses berpikir, terutama untuk menggali ide/mencari permasalahan, yaitu berpikir metode Divergen dan Konvergen.

Proses melahirkan ide dengan cara berpikir divergen berarti membiarkan pikiran kita untuk bergerak ke mana-mana secara simultan. Kita dituntut untuk mengeluarkan apa pun yang muncul di otak kita. Munculnya satu ide akan dapat memicu timbulnya ide yang lain. Sebanyak dan sejelek apapun ide yang muncul tetap kita tampung, dan alangkah lebih baiknya ditulis di atas kertas atau dicatat di laptop pada file tersendiri, dan juga bisa ditulis di bagian pesan tersimpan di handphone. Dengan demikian, ide tersebut tidak menguap, sehingga masih dapat diingat dan dapat dikembangkan.

Proses berpikir divergen merupakan proses berpikir yang paling mudah muncul pada seseorang yang tidak terlalu memperhatikan baik-buruknya suatu nilai (acak-abstrak) sehingga dapat dengan mudah melompat dari satu ide ke yang lain. Atau dengan kata lain gambaran berpikir divergen adalah melingkar-lingkar seperti cakar ayam (squiggle).
Ketika melahirkan sebuah ide, dituntut untuk mampu melihat dunia di sekeliling kita secara menyeluruh. Dengan langkah inilah proses kreatif dalam berpikir semakin tajam sehingga ide yang dimunculkan pun semakin bervariatif. Kunci utama dalam metode berpikir divergen ini adalah “menghilangkan” penilaian. Karena jika penilaian masih menghantui kita, maka akan sulit untuk dapat menjalankan proses berpikir divergen secara efektif.

Langkah selanjutnya setelah kita dapat melahirkan ide-ide, maka biarkanlah ide-ide itu mengalami inkubasi. Yakni biarkan ide itu mengendap sementara waktu di benak kita. Berhentilah untuk melakukan proses berpikir, dan silahkan melakukan aktivitas lainnya yang lebih santai. Ketika kita melakukan aktivitas santai, maka akan muncul sekilas wawasan atau reaksi yang kemudian dapat kita lanjutkan pada proses berpikir berikutnya yakni berpikir secara konvergen, dengan pikiran yang lebih jernih.

Setelah kita melakukan proses berpikir secara divergen dengan mengumpulkan semua ide yang kita keluarkan, maka selanjutnya adalah menyaring/menyeleksi atau ide tersebut, kita sempitkan menjadi beberapa ide saja yang terbaik. Kita dituntut mampu untuk memilih ide mana yang paling menarik, paling praktis, paling sesuai, paling unik, atau lainnya yang sesuai dengan tujuan yang kita inginkan. Lalu, langkah terakhir tetapkan secara bijak satu ide yang akan kita gunakan.

Mempersempit fokus dari beberapa ide besar inilah yang dinamakan dengan proses berpikir Konvergen. Model ini paling mudah untuk para pemikir “bujur sangkar” yang senang pada segala sesuatu yang terdefinisi dengan jelas. Allah swt melengkapi kepada setiap manusia dengan alat berpikir yang biasa kita sebut dengan otak. Otak terbagi menjadi dua bagian otak kiri dan otak kanan.

Dari uraian di atas bahwa berpikir divergen adalah membiarkan otak kita bebas bergerak ke segala arah untuk mencari ide-ide yang nantinya kita tampung. Hal ini sesuai dengan fungsi pada otak kiri. Sedangkan berpikir secara konvergen adalah mempersempit ide dengan menyeleksi ide-ide mana yang terbaik, dan hal ini sesuai dengan fungsi dari otak kanan. Dengan kata lain berpikir divergen dan konvergen adalah bagaimana cara kita untuk menggunakan otak kiri dan otak kanan secara seimbang.[ahf]

Perihal masthoni
Pengamat Pendidikan. Menempuh pendidikan program sarjana di Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang, pada program studi Matematika (lulus 2006). Kemudian melanjutkan studi Program Magister Universitas Negeri Malang, pada program studi Pendidikan Matematika (lulus 2011). Aktivitas sehari-hari yang ditekuni -di samping mengajar matematika di Universitas Islam Malang- adalah membuat tulisan yang kemudian dikirimkan ke pelbagai media massa/media online maupun yang diterbitkan dalam bentuk buku. Di samping itu, ia juga aktif menjadi Editor Buku.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s