MBAH MUCHIT DAN BUKU


Oleh Abdul Halim Fathani

WAHYU yang pertama kali diturunkan, yakni surat al-Alaq ayat 1-5, mengandung pesan penting dalam keberlangsungan kehidupan manusia, yaitu perintah membaca. Membaca berarti berkaitan dengan ilmu pengetahuan. Dalam ayat pertama tersebut, sekaligus juga mengandung pesan bahwa membaca harus dilaksanakan dengan atas nama Tuhan. Iqra’ bismi rabbika alladziy khalaq, bacalah denga nama Tuhanmu yang mencipta. Artinya, dalam membaca objek bacaan apa saja, hendaknya berpijak pada tuntunan Allah SWT, bukan berdasarkan pikiran manusia belaka.

Kalau ditilik dari segi kaidah bahasa Arab, Iqra’, merupakan bentuk fiil ‘amr (kata kerja perintah) dari qara’a-yaqra’u (membaca) yang berarti “perintah untuk membaca”. Iqra’ memiliki arti “Bacalah!”. Sebagaimana kaidah dalam kaidah ushul fiqh bahwa “hukum asal dari setiap perintah adalah wajib” (al-ashlu lil amri lil wujub), maka setiap manusia (baca: muslimin) wajib hukumnya untuk “membaca”.

Berbicara tentang tradisi membaca kita atau orang lain di sekeliling kita, diakui atau tidak, masih tergolong rendah. Sekilas, dapat diamati dari tradisi yang ada dalam kehidupan keseharian. Berapa banyak di antara kita yang senang pergi ke toko buku? Berapa banyak di antara kita yang suka membeli buku? Lalu, berapa banyak di antara kita yang senang membaca buku? Dan, berapa banyak di antara kita yang gemar menulis buku?, dan pernyataan-pernyataan lainnya.

Memang, untuk dapat dikatakan membaca, sebenarnya tidak harus objeknya berupa buku. Apalagi, di zaman modern yang sudah berbasis teknologi ini, tidak sedikit buku yang tampil dalam bentuk elektronik (e-book). Untuk membaca, kita cukup membuka komputer/laptop terus disambungkan dengan internet, kita sudah bisa secara leluasa untuk membaca “apa saja” semau kita. Pendek kata, membaca tidak harus belu buku versi cetak, memang benar.

Yang terpenting, karakter pembelajar harus dimiliki oleh setiap individu. Kandungan ayat 1-5 dalam Surat al-Iqra’ salah satunya adalah memiliki karakter pembelajar. Seorang pembelajar tentu tidak bisa dilepaskan dari aktivitas membaca. Membaca tidak dibatasi oleh jenis kelamin, umur, asal daerah, dan seterusnya. Bebas. Siapa pun boleh membaca. Bahkan, mengikuti kaidah ushul fiqh, maka siapa pun orangnya memiliki kewajiban untuk membaca.

Kalau orang sudah berkarakter sebagai pembelajar sejati, maka kadangkala meskipun sudah mengerti (baca: cerdas), maka orang tersebut juga masih saja senang untuk membeli dan membaca buku. Dalam Majalah AULA, Edisi Januari 2015, halaman 56, ditemukan pelajaran menarik yang perlu kita tauladani. Tim Redaksi majalah AULA tersebut mengulas “Betapa cintanya Mbah Muchith –sapaan akrab KH. Abdul Muchit Muzadi- terhadap buku”.

90 Tahun

Dalam majalah tersebut, ditegaskan bahwa meski sudah sepuh (berusia 90 tahun), KH Abdul Muchith Muzadi (Mbah Muchith) tidak pernah lepas dari kebiasaan membaca dan tetap rajin berbelanja buku. Buktinya, pada Kamis (27/11/14), Mbah Muchith mendatangi Kantor Majalah Aula “Aku mau beli buku yang diiklankan di Aula, sepertinya aku banyak yang tidak punya”.

Setelah berbincang-bingan dengan kru redaksi Majalah Aula, akhirnya salah satun Tim Majalah, mengeluarkan buku-buku yang ditanyakan Mbah Muchith. Mbah Muchith  melihat satu per satu judul buku tersebut. “Ini saya belum punya, ini juga belum punya, ini juga belum,” begitulah gumam Mbah Muchith sampai akhirnya ke-25 judul buku tersebut dibeli oleh beliau. Setelah dihitung, total uang yang harus dibayar adalah satu juta rupiah. Saat itu juga, Kakan kandung Dr. KH. A. Hasyim Muzadi ini langsung menyerahkan uang pembayaran buku.

Luar biasa. Itulah kata kunci menyimpulkan pribadi pembelajar yang dimiliki Mbah Muchit. Kita semua tahu, bahwa kemampuan bidang agama yang dimiliki Mbah Muchith tentu tidak ada yang menyangkal. Beliau seorang yang ahli agama yang mumpuni. Beliau pernah nyantri langsung ke Hadlratus Syaikh Hasyim Asyari. Saat ini beliau sebagai salah seorang mustasyar PBNU. Namun, meski beliau –oleh banyak orang- sudah dianggap orang yang ahli terutama di bidang agama, yang menurut saya, sebenarnya beliau sudah tidak perlu lagi membaca buku-buku agama yang ditulis oleh orang lain. Ternyata, beliau masih menginginkan untuk memiliki buku –sebagaimana yang diiklankan di Majalah Aula- dan akan membacanya. Jika demikian, bagaimana dengan kebiasaan kita?

Mengambil pelajaran atau pesan tersirat dari Mbah Muchith di atas, kita harus menjadi seorang pembelajar. Membaca atau lebih luasnya adalah menunut ilmu, itu tidak boleh dibatasi ruang dan waktu. Kapan pun dan di mana pun, harus terus membaca. Membaca apa pun, asal bermanfaat. Selamat membaca! Selamat berkarya! [ahf]

Perihal masthoni
Alumni Jurusan Matematika Fakultas Sains dan Teknologi UIN Malang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s