KANTIN DAN UJIAN SEKOLAH: MENYEMAI PERILAKU JUJUR


Oleh ABDUL HALIM FATHANI

SERINGKALI orang mengatakan bahwa tugas pendidik bukan hanya mengajar ilmu pengetahuan saja, tetapi juga harus mendidik. Kata mendidik di sini, maksudnya adalah menanamkan nilai-nilai atau pendidikan karakter yang baik. Karena, manusia –tentu- tidak hanya dibutuhkan kepintaran atau kecerdasannya saja, melainkan juga harus diperhatikan karakternya (baca: akhlaknya). Memang, kadang kita menjumpai, ada sebagian orang yang tergolong jenius namun akhlaknya kurang baik. Sebaliknya, ada yang tidak terlalu cerdas atau bahkan sangat lemah dalam memahami materi pelajaran, tetapi anak tersebut memiliki karakter yang bagus. Oleh karenanya, salah satu tugas guru (baca: pendidik) adalah membuat siswa cerdas –di bidangnya- sekaligus membangun karakter yang baik.

Terkait nilai atau pendidikan karakter, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan telah merumuskan 18 (delapan belas) nilai karakter yang akan ditamamkan dalam diri peserta didik sebagai upaya membangun karakter bangsa. Yaitu: religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat/komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, dan tanggung jawab.
Dalam dokumen Kemdikbud tersebut, nilai “Jujur” didefinisikan sebagai perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya sebagai orang yang selalu dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan, dan pekerjaan. Istilah jujur dalam bahasa Arabnya adalah “ash-Shiddiq”. Kita masih ingat, sahabat Nabi SAW yang bernama Abu Bakar. Abu Bakar adalah sahabat setia Rasulullah saw yang senantiasa mendampingi beliau pada masa-masa pelik penyiaran Islam. Abu Bakar adalah orang yang pertama kali mempercayai peristiwa Isra’ Mi’raj yang dilakoni Nami Muhammad SAW. Melihat kesungguhan Abu Bakar dalam membenarkan ceritanya, Rasulullah berkata kepadanya, “Dan engkau, wahai Abu Bakar adalah ash-shiddiq, yang benar dan dapat dipercaya.” Sejak saat itulah gelar Ash-Shiddiq sangat terkenal yang disematkan oleh Rasulullah kepada Abu Bakar. Jadilah namanya Abu Bakar Ash-Shiddiq.

Kantin Adik Kakak
Harian Kompas (12/1/15) memuat berita seutar pelaksanaan “Kantin Kejujuran” di SMA Negeri 29 Jakarta. Di sekolah ini, dalam rangka membiasakan siswa untuk berperilaku jujur dibuatlah konsep kantin kejujuran, yang digagas oleh siswa sendiri. Kantin kejujuran yang dimaksud diberi nama “Kantin Adik Kakak”. Kata “kantin” merupakan kependekan dari kawasan anak negeri tumbuh integritas nilai. Adapun ”adik” merupakan singkatan dari aksi dukung implementasi kejujuran. Sedangkan “kakak” merupakan komunikasi antikecurangan antikorupsi.

Kantin kejujuran yang diberi nama “Kantin Adik Kakak” ini memiliki konsep sederhana. Ialah siswa mengambil jajanan yang mereka kehendaki, lalu membayar sesuai daftar harga yang dipasang di depan etalase. Tidak ada seorang pun yang mengawasi transaksi. Murid diharapkan jujur, hanya mengambil sesuai yang mereka bayar.

“Jujur dan harus jujur”, itulah kata kunci agar kantin di sekolah ini terus eksis. Bayangkan, seandainya ada satu siswa saja yang tidak jujur dan terus mengambil barang dagangan yang ada di kantin tersebut, maka bisa dipastikan masa depan kantin tersebut akan segera berakhir. Namun, jika semua warga sekolah bertekad untuk jujur, maka bisa dimungkinkan keberadaan kantin akan semakin berkembang. Bahkan bisa menjadi model percontohan bagi sekolah lainnya. Bisa juga akan ditiru oleh pengusaha toko di luar sekolah.

Melihat konsep kantin kejujuran tersebut, ada satu kelebihan. Yakni tiadanya penjaga kantin (baca: kasir). Minimal, pengeluaran untuk membayar gaji kasir tidak ada. Dengan demikian, uang yang mestinya untuk gaji kasir dapat dialihkan sebagai keuntungan. Di sisi lain, kemanfaatan yang besar adalah, terinternalisasinya nilai karakter, khususnya nilai kejujuran dalam diri siswa maupun gurunya. Alhasil, konsep kantin kejujuran ini layak untuk ditiru di sekolah-sekolah lainnya.

Ujian Sekolah
Lalu, apa hubungannya kantin sekolah dengan ujian sekolah. Dalam penyelenggaraan ujian sekolah, biasanya siswa ditarik iuran. Mengapa kok ditarik? Jawabannya sederhana, karena pelaksanaan ujian sekolah tentu bukan gratisan alias membutuhkan dana. Dana yang dimaksud digunakan antara lain, untuk menggandakan soal ujian, lembar jawaban, amplop soal, daftar hadir, berita acara, dan dokumen lainnya. Selain itu, dalam ujian, dana tersebut juga dibutuhkan untuk memberikan honor kepanitiaan, pengawas ujian.

Memang tidak bisa dipungkiri adanya pengeluaran uang untuk penyelenggaraan ujian sekolah tersebut. Namun, terinspirasi dari konsep kantin kejujuran di atas, menurut hemat penulis, ada beberapa item pengeluaran yang bisa dikurangi bahkan di-nihil-kan. Yaitu item “pengawas”. Kalau dalam kantin sekolah, keberadaan kasir (pengawas) ditiadakan, maka dalam pelaksanaan ujian sekolah, keberadaan pengawas ujian juga –seharusnya- bisa ditiadakan. Lalu siapa yang mengawasi, agar siswa tidak menyontek?

Nah, dari sini, kita dapat membangun karakter kejujuran bagi siswa. Dengan penyelenggaraan ujian sekolah tanpa pengawas ujian, maka dengan sendirinya kita telah membangun sebuah iklim kejujuran. Siswa (peserta ujian) tidak boleh menyontek, tidak boleh berbuat curang dalam menyelesaikan soal ujian. Meskipun tidak diawasi gurunya, siswa harus senantiasa menjawab soal dengan jujur. Dan, kalau ini benar-benar dipraktikkan, bisa dipastikan akan menghemat anggaran yang dikeluarkan. Anggaran pengeluaran dapat diminimalisir, dan dengan sendirinya iuran untuk ujian juga akan semakin menurun. Tapi, yang patut diperhatikan adalah satu kata kunci, peserta ujian harus bertekad untuk jujur.

Tentu, penanaman karakter “jujur” ini tidak bisa sekali jadi. Butuh kebiasaan. Butuh proses. Tapi, bukan berarti tidak bisa terwujud. Butuh komitmen semua pihak, mulai dari siswa, guru sebagai pemberi teladan. Dan, yang penting adalah mulai dari diri sendiri, mulai dari sekarang. Semoga.[ahf]

Perihal masthoni
Alumni Jurusan Matematika Fakultas Sains dan Teknologi UIN Malang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s