PENDIDIKAN TANPA RANKING


Oleh Abdul Halim Fathani

1_Ranking 1Di sebuah pusat kota, ada lembaga pendidikan (baca: sekolah) yang –oleh sebagian pihak- dianggap favorit. Sekolah yang dipimpin oleh seorang doktor lulusan luar negeri ini memiliki ciri-ciri, antara lain: setiap proses penerimaan siswa baru selalu diadakan seleksi akademik yang didasarkan atas nilai hasil ujian nasional (UN) dan tes akademik. Dan, yang lebih membanggakan, pesertanya selalu membludak, melebihi kuota yang tersedia. Di samping itu, dalam setiap akhir semester, selalu diselenggarakan pertemuan wali murid untuk penerimaan rapor, hasil prestasi belajar siswa. Dalam kesempatan itu, pihak pimpinan sekolah mengumumkan ke semua undangan yang hadir tentang “siswa yang berprestasi”. Siswa berprestasi tersebut “dibatasi” hanya yang mendapat ranking 1, 2, dan 3 di masing-masing kelasnya. Mereka mendapat apreesiasi dari pihak sekolah dan memperoleh beasiswa pendidikan.

Pimpinan sekolah ini, ketika waktu liburan, memiliki program studi banding ke lembaga pendidikan lain yang dianggap juga memiliki keunggulan. Untuk merealisasikan programnya, diputuskan untuk berkunjung ke Sekolah “HUMANIS” yang lokasinya berada di pinggiran kota. Lulusan sekolah ini telah terbukti banyak yang berhasil dalam berkiprah dalam pemberdayaan masyarakat. Bisa dipastikan, hampir tidak ada yang nganggur. Selain berada dalam kompleks pondok pesantren, sekolah ini dipimpin oleh seorang profesor yang juga berstatus Kyai pondok. Karenaa keunikannya inilah, sehingga pihak sekolah merasa “perlu” untuk melakukan studi banding. Tema studi banding difokuskan pada “Bagaimana membuat konsep penilaian siswa yang baik?”.

Hadits Nabi

Di hadapan tamunya, dengan penuh semangat profesor yang sekaligus kyai tersebut bercerita panjang-lebar, bahwa di sekolahnya ini, ia tidak menerapkan konsep penilaian yang njlimet. Profesor tersebut membuat konsep penilaian yang terinspirasi dari hadits nabi. Hadits nabi tersebut berarti “Barangsiapa yang harinya sekarang lebih baik daripada kemarin maka dia termasuk orang yang beruntung. Barangsiapa yang harinya sama dengan kemarin maka dia adalah orang yang merugi. Barangsiapa yang harinya sekarang lebih jelek daripada harinya kemarin maka dia terlaknat.”

Dari hadits tersebut, dapat digarisbawahi, bahwa guru harus mengarahkan setiap siswanya –sekali lagi, setiap siswa, bukan hanya sebagian– untuk menjadi orang yang beruntung. Walhasil, guru tidak boleh hanya memberikan nilai atau ranking 1 itu hanya kepada satu siswa saja. Ranking 1 harus diberikan kepada semua siswa. Sehingga semua siswa merasa senang, karena telah mendapat ranking 1, yang karenanya, siswa tersebut akan mendapat hadiah dari gurunya, orangtuanya, bisa juga dari saudara atau teman-temannya.

Lebih lanjut, profesor tersebut menekankan bahwa yang lebih penting dari konsep penilaian adalah, bagaimana agar setiap siswa mengalami kemajuan (perkembangan). Misalnya, Si A ketika awal sekolah hanya tahu bilangan 1-5, setelah satu semester ia menjadi tahu bilangan 1-10. Si B, ketika awal sekolah hanya tahu bilangan 0 dan 1 saja, namun setelah satu semester, Si B menjadi tahu bilangan 1-5. Sementara siswa yang lain, kebanyakan tahu bilangan 1-8. Intinya, yang penting setiap siswa haru ada kemajuan. Nah, konsep penilaian seperti ini sesuai dengan hadits di atas berarti termasuk siswa yang beruntung.

Fakta yang selama ini terjadi adalah, setiap siswa dipaksa agar memiliki pengetahuan yang sama. Misalnya, materinya adalah Bilangan 1-10.  Kalau siswanya, seperti di atas, maka yang lulus atau yang mendapat ranking 1, hanyalah Si A saja. Karena hanya Si A yang bisa tahu bilangan 1-10. Padahal kita tahu, siswa Si A, Si B, dan yang lainnya, kesemuanya telah melakukan ikhtiar dalam rangka untuk mempelajari bilangan 1-10.

Guru sudah semestinya, untuk selalu menggali potensi yang ada dalam diri siswa. Selanjutnya, guru harus mampu untuk memberikan stimulus dalam rangka merangsang pertumbuhan dan perkembangan potensi kecerdasan masing-masing siswa. Sebagaimana pendapat Armstrong (2002), bahwa “Setiap anak itu Cerdas”. Jadi, seharusnya siswa yang mendapat ranking 1 itu tidak hanya satu siswa saja, melainkan setiap siswa mendapat ranking 1. Yakni ranking 1 di bidangnya masing-masing. Penentuan bidangnya masing-masing ini didasarkan atas penilaian autentik, yang setiap individu siswa tidak mesti sama.

Konsep penilaian seperti inilah yang dalam bukunya Chatib (2009:163) berjudul “Sekolahnya Manusia”, disebut dengan Penilaian Konsep Ipsative. Ialah perkembangan hasil belajar siswa yang diukur dari perkembangan siswa itu sendiri sebelum dan sesudah mendapatkan materi pembelajaran. Perkembangan siswa yang satu tidak boleh dibandingkan dengan siswa yang lain. Konsep penilaian seperti ini tidak mengenal ranking. Karena dengan ranking, hanya eksistensi siswa tertentu saja yang dihargai, sedangkan siswa lainnya tidak mendapatkan perhatian.

Jadi, sebenarnya konsep penilaian atau pembelajaran dan pendidikan pada umumnya, sebenarnya dalam Islam itu sudah sangat lengkap. Tantangan bagi kita, sebagai guru adalah bagaimana menggali konsep pendidikan dalam Islam yang kemudian mau dan mampu untuk menginternalisasikan dalam praktik pendidikan dan pembelajaran. Dengan demikian, Islam tidak hanya berfungsi sebagai simbol saja, melainkan juga nilai.

Kalau setiap siswa itu mendapat penghargaan atau dihargai, maka bisa dipastikan semua siswa akan memiliki semangat dan motivasi belajar yang tinggi. Karena, mereka merasakan bahwa mereka telah menjadi juara di bidangnya masing-masing. Berbeda dengan, jika yang mendapat ranking 1 hanya satu siswa, maka siswa yang lain, apalagi yang mendapat ranking “tertinggi” (baca: nilai jelek), maka sangat dimungkinkan siswa tersebut mengalami penurunan rasa percaya dirinya. Akibatnya semangat dan motivasi belajar semakin melemah. Oleh karena itu, ada baiknya konsep penilaian yang diterapkan adalah meniadakan ranking. Dengan kata lain, setiap siswa mendapatkan ranking 1. Ranking 1 di bidangnya masing-masing.

Luar biasa!, itulah komentar singkat dari pimpinan rombongan studi banding. Ternyata konsep penilaian yang selama ini kita gunakan, telah membangun karakter ketidakadilan terhadap semua siswa. Di samping itu sistem penilaian yang menganut paham ranking, telah merusak masa depan siswa, karena kita telah “memaksa” siswa agar menjadi seperti “gurunya”. Oleh karena itu, belajar dari sistem penilaian dari hadits nabi di atas, sudah semestinya sistem penilaian diarahkan pada pengembangan diri masing-masing siswa. [ahf]

 

 

“Setiap individu memiliki cara yang unik untuk berkembang.
Yang penting, (perkembangan) hari ini harus lebih baik daripada hari kemarin.”

Perihal masthoni
Alumni Jurusan Matematika Fakultas Sains dan Teknologi UIN Malang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s