PERPUSTAKAAN DARI BUKU GRATISAN


Oleh Abdul Halim Fathani

BIASANYA, seringkali kita mengeluhkan minimnya koleksi buku yang ada di perpustakaan, baik perpustakaan universitas, fakultas, jurusan, atau perpustakaan daerah dan lainnya. Kebanyakan kita selalu menuntut agar koleksi buku di perpustakaan selalu lengkap sehingga dapat memenuhi kebutuhan membaca masyarakat. Buku yang dibutuhkan harus selalu ada di perpustakaan, sehingga kita dapat meminjamnya untuk dibawa pulang dan (kemudian) dibaca. Lalu, kalau ingin memiliki (buku tersebut), biasanya kita membeli di toko buku atau memfoto kopi.

tumpukan buku

Upaya menuntut perpustakaan yang serba ada dan lengkap (perpusdal) merupakan suatu keniscayaan. Memang, perpustakaan adalah jantung informasi dan menunjukkan perkembangan keilmuan (pengetahuan) yang semakin maju. Oleh karenanya kehadiran perpustakaan sudah tidak dapat ditawar-tawar lagi. Perpustakaan harus senantiasa dikelola dan terus dikembangkan dengan manajemen yang rapi. Mahasiswa merasa bangga jika bangunan perpustakaan di kampusnya berdiri megah dengan koleksi buku yang lengkap. Begitu juga masyarakat akan merasa bangga jika di daerahnya berdiri kokoh perpustakaan yang banyak memiliki koleksi buku. Tapi, apakah kita sudah bangga untuk memiliki perpustakaan pribadi? Atau, jangan-jangan kita tidak punya impian untuk mewujudkan perpustakaan pribadi, tapi kita sibuk untuk menuntut “kemegahan” perpustakaan orang lain (baca: daerah/universitas).

Hemat saya, sudah saatnya kita tidak terlalu bergantung pada perpustakaan “milik orang lain”. Alangkah lebih baik, untuk berupaya mengembangkan perpustakaan pribadi, sehingga kita merasa enjoy, kita dapat membaca buku kapanpun dan dimanapun. Sebab, jika tetap mengandalkan perpustakaan daerah/universitas, maka kita hanya dapat menikmati pada hari dan jam tertentu saja, itu pun masih dibatasi dengan waktu peminjaman. Nah, terkait dengan pengembangan perpustakaan pribadi, tentu tidak lepas dengan dana untuk membeli buku. Akhir-akhir ini harga buku semakin mahal. Tapi, hal itu sebenarnya bisa diakhiri jika mau mengembangkan kemampuan menulis yang kita miliki.

Banyak teman yang sudah mempraktikkan hal ini. Mereka mengoleksi buku tanpa membeli buku. Mereka meminjam buku ke penerbit yang dikenal, atau ke teman yang baru saja beli buku. Kemudian buku itu diresensi dan dikirim ke media massa. Setelah resensinya dimuat, lalu ia tunjukkan ke penerbitnya, akhirnya ia diberi penghargaan berupa buku-buku terbaru dan ada pula yang memberi tambahan uang. Lumayan bisa dibuat untuk membeli buku baru lagi. Jika hal ini kita lakukan secara dinamis dan inovatif, maka secara tidak sengaja koleksi buku pribadi kita akan bertambah banyak dan akan terus berkembang. Akhirnya, berdirilah perpustakaan pribadi yang buku-bukunya kita dapatkan dari gratisan. Sungguh luar biasa!

Dengan demikian, kita memperoleh keuntungan ganda. Kita secara terus-menerus mendapatkan buku secara gratis dan memperoleh uang yang bisa digunakan untuk membeli buku juga. Di sisi lain, jika kita terus menerus meresensi (dan membuat tulisan lainnya), maka secara otomatis kemampuan menulis akan terus berkembang. Semoga terwujud.[ah.fathani@gmail.com]

Perihal masthoni
Alumni Jurusan Matematika Fakultas Sains dan Teknologi UIN Malang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s