MENULIS, MEMOAR KENANGAN ABADI


Abdul Halim Fathani

nulis
TENTANG menulis –sampai hari ini– selalu saja menyimpan perdebatan bagi banyak kalangan. Perdebatan yang dimaksud bukan terletak pada perlu atau tidaknya menulis, namun perlu tidaknya kepemilikan potensi (baca: bakat) bagi siapa pun yang ingin menjadi penulis. Di sisi lain, tidak sedikit instansi atau lembaga yang berikhtiar untuk menggali keberbakatan menulis tersebut dengan menggelar acara “seremonial”, seperti seminar menulis, workshop menulis, hingga penyelenggaraan karantina seperti kemah atau pondok menulis. Itu semua dilakukan dalam rangka pengembangan potensi diri dalam bidang menulis yang bertujuan mencetak penulis.

Pertanyaannya, apakah segala upaya tersebut selalu mendapatkan hasil manis sebagaimana yang diinginkan? Jawabannya, kadang iya, kadang tidak. Hemat penulis, semua itu kembali kepada individunya masing-masing. Kalau seorang individu sudah berniat untuk menjadi penulis, maka sebaiknya tidak perlu berlama-lama untuk belajar teori menulis atau berguru ke penulis senior. Lebih baik, langsung saja berbuat untuk menulis, menulis, dan menulis. Sebagaimana ketika kita membalas sms. Ketika ada pesan masuk ke handphone, kita langsung bisa membalasnya (dengan menulis pesan). Ide pesan untuk balasan pun datang saat itu juga. Sebaliknya, ketika kita tidak berniat (baca: ragu-ragu) menjadi penulis, maka meskipun sudah seringkali mengikuti workshop atau seminar menulis, nampaknya susah sekali untuk dapat mewujudkan diri sebagai seorang penulis.

Menulis merupakan salah satu keterampilan hidup yang –memang– menuntut untuk selalu dipraktikkan. Pada dasarnya, menulis itu mudah. Menulis adalah mencatat apa saja yang dilihat, mencatat apa saja yang telah didengarkan, mencatat apa saja yang dirasakan, mencatat apa yang diinginkan, mencatat apa yang dikeluhkan, mencatat apa yang dibayangkan, dan seterusnya.

Pendek kata, menulis adalah menyampaikan informasi apa saja yang dinginkannya. Jadi, tidak ada yang sulit. Untuk menjadi penulis, tidak perlu berlama-lama dan berulang kali belajar teori menulis melalaui seminar maupun workshop. Tetapi, untuk menjadi penulis, langsung saja praktik untuk menulis. Seperti layaknya bayi yang belajar berjalan.

Setelah menulis, tahap selanjutnya adalah menjaga dan memperbaiki tampilan tulisan, agar semakin indah dan nyaman untuk dibaca. Dengan menulis, maka ide kita akan dibaca dan ditanggapi banyak orang, bahkan tulisan kita akan selalu “hidup” dan dikenang sampai akhir hayat, bahkan hingga hari akhir.

Hadirnya buku yang ditulis Tim Wesfik ini semakin mengokohkan kepada pembaca, bahwa menulis itu memang harus dipraktikkan. Menulis, menulis, dan menulis! Buku ini dikemas populer dengan halaman full-colour dan gaya penyampaiannya yang serba visual, dan pembahasan yang singkat nan padat. Buku ini bukan hanya berisi teori yang kaku dan rumit. Namun buku ini dapat mendorong pembaca untuk menyadari kesalahan paradigma yang selama ini terpatri dalam otaknya. Pembaca diajak untuk merenungi keberadaan potensi menulis dalam setiap individu dan harus berupaya mensyukurinya dengan cara mengembangkannya, ialah dengan menulis. Walhasil, jadilah penulis!

Di akhir tulisan ini, perlu saya uraikan pesan singkat yang menarik yang ada dalam buku ini (hlm. viii), sebuah kata bijak yang diucapkan seorang pejuang revolusioner sekaligus penyair, Jose Marti, “Setiap orang setidaknya harus menanam sebatang pohon, memiliki anak, atau menulis sebuah buku. Ketiga hal tersebut akan melampaui batas usia kita, memastikan bahwa kita tetap dikenang. Semoga buku ini dapat memberi pencerahan bagi siapa saja yang tertarik untuk jadi PENULIS. Amin. [ahf]

Resensi ini telah dimuat di Tabloid KORAN PENDIDIKAN, Edisi: 524/I/13-19 Agustus 2014.

Identitas Buku
Judul : Nulis Itu “Dipraktekin”
Penulis : Tim Wesfix
Editor : Adinto F. Susanto
Cetakan I : Februari 2014
Tebal : x + 146 hlm.
Penerbit : Grasindo
ISBN : 978-602-251-395-7
Peresensi : Abdul Halim Fathani

Perihal masthoni
Alumni Jurusan Matematika Fakultas Sains dan Teknologi UIN Malang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s