TIDAK ADA ANAK BODOH DALAM PARADIGMA MULTIPLE INTELLIGENCES


Resolusi+Juara+2012ADA komentar menarik yang disampaikan dalam tulisan saya yang berjudul “Menghargai Keunikan Individu dalam Belajar Matematika”. Komentar tersebut berbunyi sebagai berikut: “kebodohan” itu juga sebuah keunikan…….Orang sejenius einstein, ternyata juga sangat “bodoh” dalam mata pelajaran sejarah..” Memang benar apa yang disampaikan teman saya dalam komentarnya tersebut, -dalam perspektif ini- masing-masing individu akan memiliki keunikan dalam hal “kebodohan” dan “kecerdasan”. Ada individu cerdas di bidang lingusitik, tetapi bodoh di bidang musik, ada individu mahir di bidang olahraga, tetapi lemah di bidang matematika, dan seterusnya.

Kalau kita membaca tulisan Husein (2009) dalam salah satu artikelnya, ia menulis bahwa manusia mempunyai kecenderungan untuk mengukur segala sesuatu. Pada zaman modern, barangkali alat untuk yang pertama digunakan untuk mengukur kecerdasan seseorang diawali dengan penciptaan tes Intelligent Quotients (IQ). Sejak tes IQ diciptakan orang selalu melihat kecerdasan seseorang sebagai sesuatu yang tunggal yang dibawa sejak lahir dan tidak akan banyak berubah sepanjang kehidupan seseorang. Hasil tes IQ digambarkan dalam bentuk angka yang dengan angka tersebut dan diketahui bahwa seseorang bisa dimasukkan dalam kelompok jenius bagi orang yang menghasilkan angka tinggi dan kelompok idiot bagi orang menghasilkan angka rendah. Singkat kata, dengan patokan hasil tes IQ, maka akan didapat kesimpulan bahwa si A Bodoh, si B pandai, si C pintar, dan seterusnya.

Kalau kita amati, tes IQ ini hanyalah mampu menggambarkan kemampuan sesorang dalam bidang berbahasa (menulis dan membaca) dan berhitung. Dan, anehnya, kebanyakan individu yang memiliki IQ tinggi ini hanya sedikit saja yang dapat “sukses” dalam hidupnya. Dalam hal ini, Gardner melalui penelitiannya ternyata menemukan kecerdasan “lebih dari” kecerdasan yang terdapat dalam tes IQ. Gardner berkesimpulan bahwa ada lebih banyak kecerdasan dari pada yang direkomendasikan oleh tes IQ yang biasanya digunakan di sekolah.

IQ hanya mampu mencakup 2 kecerdasan, yakni kecerdasan linguistik dan logis-matematis. Namun, Gardner mula-mula menemukan ada 7 kecerdasan dalam setiap individu manusia, meliputi kecerdasan linguistik, logis-matematis, kinestetik, visual, musik, intrapersonal, dan interpersonal. Kemudian menemukan lagi kecerdasan kedelapan, yakni kecerdasan naturalis. Pada tahun 1999, ditemukan kecerdasan eksistensial. Dan, dalam keyakinannya, Gardner masih mengakui bahwa kecerdasan yang biasa disebut dengan istilah multiple intelligence ini akan terus berkembang, akan ditemukan kecerdasan baru lainnya.

Berpijak pada uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa IQ hanya dapat mengukur sedikit kecerdasan individu, sedangkan Multiple Intelligences dapat digunakan untuk mengukur tingkat kecenderungan kecerdasan individu berdasarkan potensi yang dimiliki. Dalam IQ kita dihadapkan terhadap pengkotak-kotakan manusia, ada yang bodoh, pandai, setengah pandai atau bahkan setengah bodoh. Berbeda dengan Multiple Intelligences, dalam paradigma ini tidak akan ada anak yang “bodoh”. Sebaliknya, dalam paradigma multiple intelligences setiap individu harus mampu digali apa saja yang menjadi potensinya dan setelaha ditemukan potensi awalnya maka harus dikembangkan. Dengan demikian, Multiple Intelligences telah memberikan sebuah “pencerahan”, yaitu kita harus mengakui bahwa setiap individu itu dilahirkan dan membawa potensi masing-masing.

Sudah saatnya bagi kita untuk meyakini bahwa tidak ada individu yang bodoh, tetapi setiap individu harus dapat menggali potensi yang dimiliki lalu berusaha maksimal untuk dikembangkan sampai menemukan kondisi akhir terbaiknya. [ah.fathani@gmail.com]

Perihal masthoni
Alumni Jurusan Matematika Fakultas Sains dan Teknologi UIN Malang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s