MENJADI ORANGTUANYA MANUSIA


Oleh Abdul Halim Fathani
images
SETIAP anak memiliki kemampuan dan kecerdasan yang unik dan senantiasa dapat berubah. Anak termasuk individu unik yang mempunyai eksistensi dan memiliki jiwa sendiri, serta mempunyai hak untuk tumbuh dan berkembang secara optimal sesuai dengan iramanya masing-masing yang khas. Masa kehidupan anak sebagian besar berada dalam lingkup keluarga. Karena itu, keluargalah yang paling menentukan terhadap masa depan anak, begitupula corak anak dilihat dari perkembangan sosial, psikis, fisik, dan religiusitas juga ditentukan oleh keluarga.

Howard Gardner, seorang Psikolog dari Universitas Harvard, menyatakan bahwa dalam setiap individu manusia terdapat delapan kecerdasan, yaitu: kecerdasan linguistik, kecerdasan matematis, kecerdasan visual, kecerdasan musikal, kecerdasan kinestetik, kecerdasan interpersonal, kecerdasan intrapersonal, dan kecerdasan naturalis. Tugas orangtua dan pendidik-lah mempertahankan sifat-sifat yang menjadi dasar kecerdasan anak agar bertahan sampai tumbuh dewasa, dengan memberikan faktor lingkungan dan stimulasi yang baik untuk merangsang dan mengoptimalkan fungsi otak dan kecerdasan anak.

Berpijak pendapat Gardner di atas, dalam hal menyiapkan pendidikan anak, orangtua (termasuk juga guru di sekolah) harus dapat menemukan kecenderungan kecerdasan yang dimiliki anak, yang kemudian kecerdasan tersebut dikembangkan dengan pendekatan yang benar. Sebagaimana pendapat Johan W. Von Gothe yang menyatakan bahwa “Kita tidak bisa membentuk anak-anak kita menurut konsep kita sendiri; kita mesti menerima dan mencintai mereka dalam keadaan seperti yang diberikan Tuhan kepada kita.” Begitu juga dalam hadits, Nabi saw bersabda: ”Tidaklah seorang anak dilahirkan melainkan ia dilahirkan dalam keadaan fitrah, kedua orangtuanyalah yang membuatnya yahudi, nasrani maupun majusi”.

Pola asuh yang baik dan sikap positif lingkungan serta penerimaan masyarakat terhadap keberadaan anak akan menumbuhkan konsep diri positif bagi anak dalam menilai diri sendiri. Anak menilai dirinya berdasarkan apa yang dialami dan yang didapatkan dari lingkungan. Jika lingkungan masyarakat memberikan sikap yang baik dan positif dan tidak memberikan label atau cap yang negatif pada anak, maka anak akan merasa dirinya cukup berharga sehingga tumbuhlah konsep diri yang positif. Orangtua mempunyai tanggung jawab untuk mengantarkan putra-putrinya menjadi seorang yang sukses dan bagi orangtua penting memahami dan memperhatikan perkembangan anak.

Pada prinsipnya, pendidikan anak (usia dini) bertujuan untuk membentuk anak Indonesia yang berkualitas, yaitu anak yang tumbuh dan berkembang sesuai dengan tingkat perkembangannya, sehingga memiliki kesiapan yang optimal di dalam memasuki pendidikan dasar serta mengarungi kehidupan di masa dewasa, serta membantu menyiapkan anak mencapai kesiapan belajar (akademik) di sekolah (Hasan, 2009:17). Setiap manusia berkembang secara individual dan tidak sama antara satu dengan yang lain, ada yang berkembang secara wajar, cepat dan ada pula yang lambat perkembangannya.

Setiap orangtua, seyogianya selalu memperhatikan fase status setiap perkembangan anak. Yaitu tujuh tahun pertama, anak adalah Raja; tujuh tahun kedua, menjadi Pembantu (yang harus taat dalam menjalankan perintah); sedangkan tujuh tahun ketiga, menjadi Wazir (menteri) yang bertanggungjawab terhadap tugas-tugasnya. Hal ini diurai secara gamblang oleh Munif Chatib dalam bukunya halaman 18-23.

Munif Chatib, penulis buku yang sebelumnya telah menulis buku ‘bestseller’. Ialah Sekolahnya Manusia dan Gurunya Manusia. Karena itu, terbitnya buku ini, akan melengkapi 2 buku yang telah terbit sebelumnya. Sebagai praktisi pendidikan yang concern pada pengembangan pendidikan berbasis kecerdasan jamak membuat buku ini memiliki nilai plus dibanding buku-buku lain sejenis yang telah terbit lebih dulu. Berbagai pengalaman ketika mengajar langsung di kelas maupun mendidik anaknya sendiri, melalui buku ini –Munif Chatib- berupaya untuk membantu para orangtua untuk menjadikan bahwa setiap anak adalah cerdas, setiap anak berpotensi, setiap anak adalah bintang.

Secara umum isi buku ini, adalah seputar paradigma baru pendidikan dan tips & triks bagaimana: memberikan stimulus yang tepat untuk melejtikan kecerdasan anak, menyukseskan pendidikan anak, membangkitkan rasa percaya diri anak, mengidentifikasi bakat dan minat anak, memilih sekolah yang tepat, membantu anak belajar di rumah, dan mengatasi pengaruh media dan pornografi.

Karena itu, dalam rangka mempersiapkan masa depan anak sejak dini, tentu kehadiran buku ini patut mendapat apresiasi dari para orangtua. Selain itu, para guru, pemerhati pendidikan, pendamping anak, dan siapapun yang concern terhadap dunia pendidikan anak perlu menjadikan buku ini sebagai –salah satu- referensi untuk menyiapkan masa depan anak sejak dini.▄

IDENTITAS BUKU:
Judul Buku : Orangtuanya Manusia (Melejitkan Potensi dan Kecerdasan dengan Menghargai Fitrah Setiap Anak)
Penulis : Munif Chatib
Pengantar : Ihsan Baihaqi dan Ibnu Bukhari
Penerbit : KAIFA (PT Mizan Pustaka), Bandung
Cetakan I : Mei 2012
Tebal : xxiv + 212 halaman

*) Resensi ini telah dimuat di Tabloid Koran Pendidikan, Edisi 465/V/29 Mei – 4 Juni 2013

Perihal masthoni
Alumni Jurusan Matematika Fakultas Sains dan Teknologi UIN Malang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s