MEMAHAMI KERAGAMAN GAYA BELAJAR SISWA


Oleh Abdul Halim Fathani

niyasblogque.blogspotKeberhasilan proses pembelajaran antara lain ditentukan oleh kemampuan dan strategi pembelajaran oleh guru sebagai penyampai pesan pengetahuan matematika serta kemampuan dan gaya belajar siswa sebagai penerima pesan pengetahuan matematika. Selama proses interaksi seorang guru harus mengondisikan siswa-siswi yang memiliki perbedaan dalam cara memperoleh, menyimpan, dan menerapkan pengetahuan yang diperoleh. Namun, kondisi pembelajaran yang sering terjadi di sekolah adalah masih ditemukan terjadinya kegagalan dalam proses belajar. Banyak siswa yang mengalami kebingungan ketika menerima materi pelajaran dari seorang guru.

Gaya belajar seseorang adalah cara yang paling mudah sebuah informasi masuk ke dalam otak orang tersebut. Artinya apabila kita mengetahui kecenderungan kecerdasan seseorang dari multiple intelligences-nya, maka kita akan mengetahui gaya belajar orang tersebut. Lebih lanjut, Chatib (2009:100-101) menjelaskan pada dasarnya gaya mengajar adalah strategi transfer informasi yang diberikan oleh guru kepada siswanya. Sedangkan gaya belajar adalah bagaimana sebuah informasi dapat diterima dengan baik oleh siswa.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Howard Gardner, ternyata gaya belajar siswa tercermin dari kecenderungan kecerdasan yang dimiliki oleh siswa tersebut. Oleh karena itu, seharusnya setiap guru memiliki data tentang gaya belajar siswanya masing-masing. Kemudian, setiap guru harus menyesuaikan gayanya dalam mengajar dengan gaya belajar siswanya yang diketahui dari Multiple Intelligence Research (MIR), yang kemudian disebut dengan quantum. Apabila seseorang diriset dengan MIR, maka akan terbaca kecenderungan kecerdasan dan gaya belajarnya, mulai dari skala tertinggi sampai terendah.Hasil MIR ini merupakan data yang sangat penting untuk diketahui oleh guru dan siswanya. Setiap guru akan masuk ke dunia siswa sehingga siswa merasa nyaman dan tidak berhadapan dengan risiko kegagalan dalam proses belajar. Hal ini menurut Bobbi DePorter dinamakan sebagai asas utama quantum learning, yaitu masuk ke dunia siswa.

Chatib (2009:100) menyatakan dalam bukunya, bahwa banyaknya kegagalan siswa dalam mencerna informasi dari gurunya, disebabkan oleh ketidak sesuaian gaya mengajar dengan gaya belajar siswa. Sebaliknya, apabila gaya mengajar guru sesuai dengan gaya belajar siswa, maka semua pelajaran akan terasa sangat mudah dan menyenangkan. Guru juga senang, karena punya siswa yang semuanya cerdas dan berpotensi untuk sukses pada jenis kecerdasan yang dimilikinya. Gaya mengajar dimiliki oleh guru atau pemberi informasi. Pada dasarnya, gaya mengajar adalah strategi informasi yang diberikan oleh guru kepada siswanya. Sedangkan gaya belajar adalah bagaimana sebuah informasi dapat diterima dengan baik oleh siswa. Berdasarkan penelitian yang dilakukan Howard Gardner, ternyata gaya belajar siswa tercermin dari kecenderungan kecerdasan yang dimiliki oleh siswa tersebut.

Sebuah penelitian, khususnya di Amerika Serikat yang dilakukan oleh Profesor Ken dan Rita Dunn dari Universitas St. John, di Jamaica, New York, dan para pakar Pemrograman Neuro-Linguistik seperti, Richard Bandler, John Grinder, dan Michael Grinder, telah mengidentifikasi tiga gaya belajar yang berbeda, yakni visual, auditori, dan kinestetik (Rose dan Nicholl, 1997:130). Bobbi DePorter dan Mike Hernacki (2007) dalam buku Quantum Learning juga memaparkan 3 (tiga) gaya belajar seseorang yaitu: visual, auditori, dan kinestetik (V-A-K). Walaupun masing-masing dari siswa belajar dengan menggunakan ketiga gaya ini pada tahapan tertentu, kebanyakan siswa lebih cenderung pada salah satu di antara ketiganya.

Gaya Belajar Visual
Bagi siswa yang bergaya belajar visual, yang memegang peranan penting adalah mata/penglihatan (visual), dalam hal ini metode pengajaran yang digunakan guru sebaiknya lebih banyak/dititikberatkan pada peragaan/media, ajak mereka ke objek-objek yang berkaitan dengan pelajaran tersebut, atau dengan cara menunjukkan alat peraganya langsung pada siswa atau menggambarkannya di papan tulis. Anak yang mempunyai gaya belajar visual harus melihat bahasa tubuh dan ekspresi muka gurunya untuk mengerti materi pelajaran. Mereka cenderung untuk duduk di depan agar dapat melihat dengan jelas. Mereka berpikir menggunakan gambar-gambar di otak mereka dan belajar lebih cepat dengan menggunakan tampilan-tampilan visual, seperti diagram, buku pelajaran bergambar, dan video. Di dalam kelas, anak visual lebih suka mencatat sampai detil-detilnya untuk mendapatkan informasi.

Untuk mengenali siswa yang gaya belajarnya termasuk visual kita dapat melihat karakteristik berikut: bicara agak cepat; mementingkan penampilan dalam berpakaian/presentasi; tidak mudah terganggu oleh keributan; mengingat yang dilihat, dari pada yang didengar; lebih suka membaca dari pada dibacakan; pembaca cepat dan tekun; seringkali mengetahui apa yang harus dikatakan, tetapi tidak pandai memilih kata-kata; lebih suka melakukan demonstrasi dari pada pidato; lebih suka musik dari pada seni; dan mempunyai masalah untuk mengingat instruksi verbal kecuali jika ditulis, dan seringkali minta bantuan orang untuk mengulanginya.

Sedangkan beberapa strategi untuk mempermudah proses belajar siswa visual, antara lain: gunakan materi visual seperti, gambar-gambar, diagram dan peta; gunakan warna untuk menghilite hal-hal penting; ajak anak untuk membaca buku-buku berilustrasi; gunakan multi-media (contohnya: komputer dan video); dan ajak anak untuk mencoba mengilustrasikan ide-idenya ke dalam gambar.

Gaya Belajar Auditori
Siswa yang bertipe auditori mengandalkan kesuksesan belajarnya melalui telinga (alat pendengarannya), untuk itu maka guru sebaiknya harus memperhatikan siswanya hingga ke alat pendengarannya. Anak yang mempunyai gaya belajar auditori dapat belajar lebih cepat dengan menggunakan diskusi verbal dan mendengarkan apa yang guru katakan. Anak auditori dapat mencerna makna yang disampaikan melalui tone suara, pitch (tinggi rendahnya), kecepatan berbicara dan hal-hal auditori lainnya. Informasi tertulis terkadang mempunyai makna yang minim bagi anak auditori mendengarkannya. Anak-anak seperi ini biasanya dapat menghafal lebih cepat dengan membaca teks dengan keras dan mendengarkan kaset.

Untuk mengenali siswa yang gaya belajarnya termasuk auditori, kita dapat melihat karakteristik berikut: saat bekerja suka bicara kepada diri sendiri; penampilan rapi; mudah terganggu oleh keributan; belajar dengan mendengarkan dan mengingat apa yang didiskusikan dari pada yang dilihat; senang membaca dengan keras dan mendengarkan; menggerakkan bibir mereka dan mengucapkan tulisan di buku ketika membaca; biasanya ia pembicara yang fasih; lebih pandai mengeja dengan keras daripada menuliskannya; lebih suka gurauan lisan daripada membaca komik; mempunyai masalah dengan pekerjaan-pekerjaan yang melibatkan visual; berbicara dalam irama yang terpola; dan dapat mengulangi kembali dan menirukan nada, berirama dan warna suara

Adapun untuk mempermudah proses belajar siswa auditori, kita perlu menggunakan beberapa strategi berikut: ajak anak untuk ikut berpartisipasi dalam diskusi baik di dalam kelas maupun di dalam keluarga; dorong anak untuk membaca materi pelajaran dengan keras; gunakan musik untuk mengajarkan anak; diskusikan ide dengan anak secara verbal; dan biarkan anak merekam materi pelajarannya ke dalam kaset dan dorong dia untuk mendengarkannya sebelum tidur.

Gaya Belajar Kinestetik
Siswa yang mempunyai gaya belajar kinestetik belajar melalui bergerak, menyentuh, dan melakukan. Anak seperti ini sulit untuk duduk diam berjam-jam karena keinginan mereka untuk beraktivitas dan eksplorasi sangatlah kuat. Siswa yang bergaya belajar ini belajarnya melalui gerak dan sentuhan. Adapun ciri-ciri gaya belajar kinestetik antara lain: berbicara perlahan; penampilan rapi; tidak terlalu mudah terganggu dengan situasi keributan; belajar melalui memanipulasi dan praktik; menghafal dengan cara berjalan dan melihat; menggunakan jari sebagai petunjuk ketika membaca; merasa kesulitan untuk menulis tetapi hebat dalam bercerita; menyukai buku-buku dan mereka mencerminkan aksi dengan gerakan tubuh saat membaca; menyukai permainan yang menyibukkan; tidak dapat mengingat geografi, kecuali jika mereka memang pernah berada di tempat itu; menyentuh orang untuk mendapatkan perhatian mereka; dan menggunakan kata-kata yang mengandung aksi.

Sedangkan strategi untuk mempermudah proses belajar siswa kinestetik, antara lain: jangan paksakan anak untuk belajar sampai berjam-jam; ajak anak untuk belajar sambil mengeksplorasi lingkungannya (contohnya: ajak dia baca sambil bersepeda, gunakan objek sesungguhnya untuk belajar konsep baru); izinkan anak untuk mengunyah permen karet pada saat belajar; gunakan warna terang untuk mengingat hal-hal penting dalam bacaan; dan izinkan anak untuk belajar sambil mendengarkan musik.

Gaya belajar dapat menentukan prestasi belajar siswa. Jika diberikan strategi mengajar yang sesuai dengan gaya belajarnya, siswa dapat berkembang dengan lebih baik. Gaya belajar otomatis tergantung dari orang yang belajar. Artinya, setiap orang mempunyai gaya belajar yang berbeda-beda. Gaya belajar tidak bersifat kaku. Meski sudah memiliki gaya belajarnya bukan berarti siswa tidak bisa mengembangkan metode belajar yang lain. Jadi, ukuran keberhasilan paling penting adalah jika anak bisa menangkap informasi yang kita sampaikan dan menikmati aktivitas belajarnya.[ah.fathani@gmail.com]

Perihal masthoni
Alumni Jurusan Matematika Fakultas Sains dan Teknologi UIN Malang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s