PARADIGMA PENDIDIKAN KARAKTER


Oleh Abdul Halim Fathani

SAAT ini kita berada pada era global. Arus globalisasi –tentunya- membawa dampak terhadap karakter bangsa dan masyarakatnya. Globalisasi memunculkan pergeseran nilai, nilai lama semakin meredup, yang digeser dengan nilai-nilai baru yang belum tentu pas dengan nilai-nilai kehidupan di masyarakat.

Globalisasi, selain berdampak pada pergeseran nilai, juga berdampak pada paradigma pendidikan sebuah bangsa. Salah satunya adalah pergeseran dari paradigma pendidikan ke arah paradigma pengajaran. Makna pendidikan yang sejatinya syarat dengan nilai-nilai moral bergeser pada pengajaran sebagai transfer of knowledge ansich. Bahkan, belakangan muncul paradigma “serba instan” dalam praktik pendidikan kita.

Menanggapi hal ini, Ketut Sumarta (2000:181) menyatakan bahwa pendidikan nasional kita cenderung hanya menonjolkan pembentukan kecerdasan berpikir dan menepikan penempatan kecerdasan rasa, kecerdasan budi, bahkan kecerdasan batin. Dari sini lahirlah manusia-manusia yang berotak pintar, manusia berprestasi secara kuantitatif akademik, namun tiada berkecerdasan budi sekaligus sangat berkegantungan, tidak merdeka mandiri.

Tantangan
Membincang model pendidikan karakter, Budiastuti (2010:V) berargumen bahwa pendidikan karakter bukanlah sebagai sesuatu yang baru, namun saat ini pendidikan karakter menjadi isu utama dunia pendidikan. Pemenuhan sumber daya manusia yang berkualitas diharapkan lahir dari pendidikan.

Pendidikan memiliki peran yang sangat penting, bukan hanya menghasilkan masyarakat belajar dengan prestasi tinggi tetapi mampu melahirkan generasi baru yang memiliki karakter baik dan bermanfaat bagi masa depan bangsa. Penanaman pendidikan karakter sudah tidak bisa ditawar untuk diabaikan, terutama pada pembelajaran di sekolah di samping pendidikan dalam lingkungan keluarga dan masyarakat.

Dalam realita, ada dua “warna” dalam praktik pendidikan kita sampai hari ini. Warna hitam dan putih. Adanya warna hitam, di antaranya- ditandai dengan banyaknya perilaku menyimpang siswa seperti tawuran antar pelajar, narkotika, seks bebas, membolos sekolah, mencuri, aborsi, berbohong, tidak menyontek, dan sebagainya.

Namun, di sisi lain, tidak sedikit prestasi membanggakan yang telah ditorehkan lembaga pendidikan, seperti mereka yang menjuarai pelbagai kompetisi/olimpiade sains dan matematika, lomba debat bahasa Inggris, kewirausahaan, dan lainnya baik di tingkat nasional maupun internasional. Apalagi, akhir-akhir ini pelajar Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) telah membuat sejarah apik, yakni berhasil menciptakan produk-produk teknologi, seperti Mobil Esemka.

Masih adanya “warna hitam” menunjukkan pendidikan karakter (masih) belum maksimal. Kurang berhasilnya sistem pendidikan membentuk sumber daya manusia dengan karakter yang tangguh, berbudi pekerti luhur, bertanggung jawab, berdisiplin, dan mandiri, terjadi hampir di semua lembaga pendidikan baik negeri maupun swasta. Atas hal tersebut, -sampai kini- pendidikan dianggap belum berkarakter dan belum mampu melahirkan warga negara yang berkualitas, baik prestasi belajar maupun berperilaku baik.

Bahkan penekanan pembelajaran masih sangat dominan atau fokus pada penguasaan materi. Bahkan siswa yang akan menempuh ujian nasional diberi tambahan jam pelajaran, dengan harapan nilai ujian nasional (UN) tinggi, banyak yang lulus yang belum menyentuh pendidikan karakter sebagai penunjang prestasi siswa. Padahal apabila pembelajaran dilakukan dengan penerapan pendidikan karakter, maka akan dihasilkan insan yang cendekia dan bernurani.

Karenanya, sebentar lagi makna pendidikan karakter yang selalu didengungkan banyak pihak akan dipertaruhkan dalam UN. Meski sudah berjalan dalam kurun waktu yang lama, namun hingga saat ini kebijakan UN ini dinilai sebagian pihak masih kontraproduktif dengan semangat reformasi pembelajaran yang sedang giat-giatnya dikembangkan. Inilah tantangan yang harus segera diselesaikan.

Reformasi Paradigma
Kita semua menyadari bahwa pendidikan sesungguhnya bukan sekedar transfer ilmu pengetahuan (transfer of knowledge) melainkan sekaligus juga transfer nilai (transfer of value). Untuk itu, penanaman nilai-nilai budaya dan karakter bangsa dalam pendidikan merupakan pilar penyangga demi tegaknya pendidikan di Indonesia.

Sampai kini, persoalan budaya dan karakter bangsa terus menjadi sorotan tajam masyarakat di berbagai aspek kehidupan, baik di keluarga, sekolah, dan masyarakat. Media massa, para pemuka masyarakat, para ahli, dan para pengamat pendidikan, serta sosial berbicara tentang persoalan budaya dan karakter bangsa di berbagai forum seminar dan lokakarya, baik di tingkat lokal, nasional maupun internasional.

Pendidikan karakter merupakan upaya-upaya yang dirancang dan dilaksanakan secara sistematis untuk membantu peserta didik memahami nilai-nilai perilaku manusia dalam praktik kehidupan dalam masyarakat. Dalam proses pendidikan, internalisasi nilai-nilai budaya dan karakter merupakan salah satu upaya untuk mencegah terjadinya degradasi etika dan moral di kalangan remaja. Rasa kepedulian ini didasarkan pada kenyataan bahwa dewasa ini ada kecenderungan semakin merebaknya sikap perilaku remaja yang menyimpang. Keberhasilan dalam membangun karakter siswa, secara otomatis akan membantu keberhasilan membangun karakter bangsa.

Oleh karena itu kemajuan suatu bangsa juga akan tergantung bagaimana karakter orang-orangnya, kemampuan intelegensinya, keunggulan berpikir warganya, sinergi para pemimpinnya, dan lain sebagainya. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pendidikan karakter adalah penting dalam membangun moral dan kepribadian bangsa. Pendidikan karakter seyogyanya ditempatkan sebagai landasan untuk mewujudkan visi pembangunan nasional, yaitu mewujudkan masyarakat berakhlak mulia, bermoral, beretika, berbudaya, dan beradab berdasarkan falsafah Pancasila.

Atas dasar itu, pendidikan karakter bukan sekedar mengajarkan mana yang benar dan mana yang salah, lebih dari itu, pendidikan karakter menanamkan kebiasaan (habituation) tentang hal mana yang baik sehingga peserta didik menjadi paham (kognitif) tentang mana yang benar dan salah, mampu merasakan (afektif) nilai yang baik dan biasa melakukannya (psikomotor). [ahf]

Perihal masthoni
Alumni Jurusan Matematika Fakultas Sains dan Teknologi UIN Malang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s