FITRAH MANUSIA DAN KURIKULUM (2013)


Oleh Abdul Halim Fathani

PERMASALAHAN dunia pendidikan tidak akan selesai. Satu permasalahan tuntas, akan muncul masalah baru, begitu seterusnya. Dalam suatu kesempatan ceramah di hadapan acara Munas X Badan Musyawarah Perguruan Swasta (BMPS) di Palembang, Mendikbud, Mohammad Nuh, menyampaikan bahwa “Kalau urusan pendidikan, maka kita tidak perlu khawatir terhadap satu hal, yakni khawatir akan kehabisan masalah. Kalau kita mengurus pendidikan, terus berharap tidak ada persoalan, berarti sudah selesai. Tidak perlu ada pendidikan!

Ada tiga alasan mengapa pendidikan tidak dapat dilepaskan dari masalah? Pertama, karena pendidikan itu mengurus manusia, bukan mengurusi hewan. Seringkali manusia itu bagian dari pesoalan. Selama ada manusia, selama itu pula ada persoalan. Kedua, karena pendidikan itu pasti terkait dengan ilmu pengetahuan, budaya, teknologi, peradaban. Dan, pengetahuan itu akan terus berkembang. Ketiga, karena pendidikan itu mengurusi masa depan. Bukan masa lalu. Masa depan pribadi, masa depan sekolah, masa depan yayasan, dan masa depan bangsa. Masa depan itu memiliki variabel yang tidak pasti. Karenanya, permasalahan di dunia pendidikan itu tidak pernah tuntas, namun –satu per satu– harus terus diselesaikan.

Nah, tugas pemerintah, pimpinan lembaga pendidikan, tokoh masyarakat, pendidik, termasuk kita semua adalah mengawal pendidikan dengan mengusung paradigma penyelesaian masalah. Mengapa pendidikan sangat penting? Boediono (2012) dalam sebuah artikelnya “Pendidikan Kunci Pembangunan”, menyatakan dengan tegas bahwa institusi memegang peran kunci dalam proses kemajuan bangsa. Kualitas institusi penentu utama kemajuan bangsa. Melalui pendidikan kita dapat menanamkan sikap yang pas dan memberikan bekal kompetensi yang diperlukan kepada manusia-manusia yang menjalankan fungsi institusi-institusi yang menentukan kemajuan bangsa. Singkat kata, pendidikan (baca: pendidikan berkualitas) merupakan kebutuhan seluruh rakyat Indonesia dan memiliki nilai yang sangat mendasar dan strategis.

Oleh karena itu, Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan seyogianya terus mengawal jalannya pendidikan secara nasional dari segala aspeknya. Pendidikan harus mampu bergerak cepat untuk merespons perubahan dan tuntutan zaman. Termasuk juga kurikulum pendidikannya, tidak boleh stagnan bahkan tertinggal. Tapi, harus secara berkelanjutan dilakukan refleksi dan evaluasi dan dikembangkan sesuai dinamika zaman. Sehingga, sudah sewajarnya jika Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dikembangkan menjadi Kurikulum 2013, yang rencananya mulai diimplementasikan tahun pelajaran baru nanti (bulan Juli) pada sekolah terbatas.

Pro Kontra
Setiap ada kebijakan baru, mesti ada pro dan kontra. Itu tidak bisa dihindari. Tidak heran, jika ada pihak yang mengatakan “menteri baru, kebijakan baru”. Mendikbud, Mohammad Nuh, juga tidak lepas dari sasaran pernyataan tersebut. Namun, Mohammad Nuh, tetap bersikukuh bahwa perubahan kurikulum ini, merupakan suatu keharusan. Perubahan ini perlu dilakukan untuk menjawab tantangan zaman yang terus berubah agar anak-anak mampu bersaing pada masa depan. Kurikulum 2013, dirancang sebagai upaya mempersiapkan generasi Indonesia 2045 (100 tahun Indonesia Merdeka), sekaligus memanfaatkan momentum populasi usia produktif yang jumlahnya sangat melimpah, agar menjadi bonus demografi dan tidak menjadi bencana demografi.

Anita Lie (2013), Profesor dan Direktur Program Pascasarjana Universitas Widya Mandala, Surabaya, menyatakan sikap dua kutub yang berbeda. Sikap positif dan dukungan terhadap rencana pemberlakuan Kurikulum 2013 dilandasi pemikiran bahwa memang perubahan kurikulum sudah selayaknya dilakukan untuk merespons transformasi zaman dan kebutuhan abad ke-21. Harapannya, sekolah bisa menyiapkan peserta didik menjadi pribadi berkarakter mulia serta punya pengetahuan dan keterampilan yang relevan untuk bisa berpartisipasi dan berkontribusi di masyarakat abad ke-21. Sebaliknya, kecemasan dan keraguan yang melandasi berbagai sikap, mulai dari kritik tajam sampai penolakan, menunjukkan ketidakpercayaan bahwa Kurikulum 2013 merupakan solusi bagi berbagai masalah pendidikan di Indonesia.

Memang, bagi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Kurikulum 2013 ini dianggap sudah beres. Tinggal implementasinya saja. Akan tetapi, bagi sejumlah pengamat dan pemerhati pendidikan, kurikulum 2013 ini masih perlu dikritisi dan disempurnakan lagi. Bahkan, ada sebagian kelompok yang secara tegas menolak. Hemat penulis, terlalu lama dalam kondisi pro dan kontra seperti ini tentu sangat tidak menguntungkan. Lebih baik, fokus pada satu titik. Menolak atau menerima. Melihat perkembangan rencana perubahan Kurikulum 2013 yang sudah mendekati titik akhir ini, sudah seyogianya kita ikut mendukung pelaksanaan kurikulum 2013. Namun, mendukung harus disertai pemikiran kritis, sehingga perlu dilakukan penyempurnaan secara berkelanjutan. Alhasil, jadilah desain kurikulum 2013 yang disempurnakan.

Fitrah Manusia
Mari kembali pada permasalahan. Bahwa, yang menjadi objek pendidikan adalah manusia. Kita tahu bahwa manusia itu diciptakan Tuhan sebagai makhluk sempurna yang dilengkapi dengan akal pikiran. Tentu berbeda dengan makhluk lainnya, seperti hewan dan tumbuhan. Oleh karena itu, pelaksanaan dan pengembangan pendidikan, dalam hal ini Kurikulum 2013 harus memperhatikan karakter kemanusiaannya.

Keutamaan yang diberikan Tuhan kepada manusia adalah fitrah, yakni potensi manusiawi yang educable. Dengan bekal itulah memungkinkan bagi manusia untuk mencapai taraf kehidupan yang amat tinggi dalam aspek peradaban dan kedekatan dengan Tuhannya. Ciri yang paling mendasar tentang gambaran manusia ini, dilukiskan oleh M.J. Langeveld, sebagaimana yang dikutip Djumbransjah (2006:150) dalam bukunya “Filsafat Pendidikan” dengan kalimat singkat, animal educandum (manusia adalah makhluk yang harus dididik), animal educable (manusia adalah makhluk yang dapat dididik), dan homo edocandus (manusia adalah makhluk bukan saja harus dan dapat dididik tetapi harus dan dapat mendidik).

Fitrah yang dibawa anak sejak lahir bersifat potensial sehingga memerlukan upaya-upaya manusia itu sendiri untuk menumbuhkembangkannya menjadi faktual dan aktual. Dalam tulisan ini, fitrah dimaknai sebagai potensi kecerdasan yang ada di dalam individu manusia. Merujuk pada pendapat Howard Gardner (1993), sesungguhnya setiap anak dilahirkan dalam keadaan cerdas dengan membawa potensi dan keunikan masing-masing yang memungkinkan mereka untuk terus berkembang. Pendapat senada diungkapkan oleh Thomas Armstrong (2000), mengatakan bahwa “Semua anak itu pintar! Semua anak pada dasarnya cerdas dan ceria.”

Melalui rancangan Kurikulum 2013 berbasis fitrah manusia, diharapkan nantinya keberadaan pendidikan bisa berfungsi sebagai wahana mengembangkan potensi peserta didik sesuai dengan fitrahnya dalam hal ini sesuai dengan kecerdasannya. Pendidikan merupakan proses pengembangan fitrah peserta didik sehingga mampu membentuk kepribadian manusia yang ideal, yakni sosok manusia unggul. Pendidikan bukan untuk mencetak manusia menjadi apa dan siapa atau menciptakan produk. Namun, pendidikan sesungguhnya berperan untuk mengembangkan potensi dan kemampuan unik setiap individu.[ahf]

Perihal masthoni
Alumni Jurusan Matematika Fakultas Sains dan Teknologi UIN Malang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s