SOSIOLOGI HAJI DAN KEUNIKAN INDIVIDU DALAM PEMBELAJARAN


oleh Abdul Halim Fathani

ADA sebuah ilustrasi menarik dalam sebuah buku biografi yang berjudul “Sang Nakhoda: Biografi Suryadharma Ali”, tepatnya pada bagian “Sosiologi Haji” (halaman 235-237). Buku ini diterbitkan dalam rangka mengiringi kegiatan penganugerahan gelar doktor kehormatan (doctor honoris causa) dari UIN Maulana Malik Ibrahim Malang untuk Bapak Drs. H. Suryadharma Ali, M.Si., bidang Epistemologi Kajian Islam, 23 Februari 2013.

Mari kita simak ikhtisar tulisan “Sosiologi Haji” yang dimaksud, berikut ini.

Ibadah haji, bagi masyarakat muslim di Indonesia, terutama Kementerian Agama RI, merupakan aktivitas ritual yang super sibuk dalam setiap tahunnya. Oleh karena haji adalah “gawe besar” masyarakat dunia, jelas “travel riligi super dahsyat” ini tak lepas dari problematika, meski pelayanan haji semakin tahun semakin baik. Namun, pihak penyelenggara haji tetap saja dikomplain atas ketidakpuasan yang dirasakan para jamaah. Salah satunya, soal makan dan tidur.
Yah, makan dan tidur adalah kebutuhan pokok bagi manusia. Ibadah apapun perlu energi, dan energi dihasilkan dari makanan. Ibadah apapun juga perlu istirahat, dan tidur merupakan istirahat terbaik bagi manusia. Tak heran, jika kedua hal ini terabaikan atau tidak terpuaskan, maka pihak penyelenggara ibadah haji pun menuai getahnya.

“Ah, makanannya tidak enak”, “Ah, tidurnya tidak bisa nyenyak”, demikian keluhan sebagian jamaah.

Atas berbagai keluhan dan problem mendasar ini, Suryadharma Ali selaku Menteri Agama mengaku mampu menjelaskannya secara sosiologis dan kultural. Menurut beliau, “Apakah kita bisa memuaskan aneka menu makanan sesuai dengan selera ribuan jamaah haji yang datang dari kurang lebih 500 kota/kabupaten di seluruh Indonesia? Jelas tidak mungkin”, katanya.

“Orang Jawa senang masakan yang manis. Orang Sunda suka yang asin. Beda lagi dengan Padang yang sangat senang masakan pedas. Lalu, ada orang yang senang sekali makan ikan laut, tapi ada pula yang kalau tidak makan daging, tidak suka. Ada yang senang lalapan, bahkan tidak sedikit di bagian embarkasi, petugas menyita aneka alat tradisional untuk membuat sambal lengkap dengan garam, merica, hingga ikan asin.”

“Jadi, sebenarnya, standar makan itu hanya dua, pertama, perut kenyang, dan kedua, makanan telah memenuhi standar gizi”, jelas Pak Menteri.

Lalu, bagaimana dengan standar tidur? Bukankah masalah kamar di hotel yang sempit dan tidak sepadan dengan jumlah penghuninya? Kabarnya, satu kamar dihuni lima hingga sepuluh orang, apakah ini sesuai dengan standar tidur bagi manusia?
Sebuah pertanyaan yang benar-benar memojokkan. Tapi, tidak layak disebut “Sang Nakhoda” kalau Pak Menteri Agama tidak bisa menjelaskannya.

“Tentang tidur saat pelaksanaan haji, memang tidak enak. Jumlah jamaah kita lebih dari 194.000 orang dan mereka semua ingin berada di hotel yang jaraknya dengan Masjidil Haram. Sedangkan kamar hotel di Saudi, juga terbatas, selain juga harganya yang makin tahun makin mahal”.

“Nah, mau tidak mau, terpaksa ada yang sekamar harus dihuni hingga 10 orang. Lalu, bagaimana mungkin Kementerian Agama mampu memuaskan tidur untuk 10 orang tersebut yang masing-masing memiliki kebiasaan atau budaya yang berbeda?”

“Dalam satu kamar, ada orang yang suka tidur dalam keadaan gelap, tapi temannya ingin lampu tetap terang. Ada yang tidurnya diam dan pulas, tapi ada pula yang berisik hingga ngorok. Ada yang sensitif, ada senang AC dan berbagai macam aneka tipe tidur bagi masyarakat Indonesia yang dikenal memiliki ratusan budaya dan latar belakang berbeda”.

“Oleh sebab itu, dalam hal tidur, kita harus adil dengan melihat hukum darurat. Bukankah setiap jamaah haji, jika telah berada di Masjdil Haram, maka disana adalah sama. Antara kepala seorang menteri, profesor hingga tukang sayur, semuanya sama. Pada saat tidur, keadaan mereka pun juga sama.”

Inilah yang dimaksud bahwa masalah makan dan tidur dalam haji yang itu menuai kritik, jelas penyelenggara haji di Indonesia tidak akan mampu memberi kepuasaan bagi masing-masing jamaah yang notabene-nya beda latar belakang dan kebiasaan yang berlainan antara yang satu dengan lainnya. Apalagi, jumlah jamaah haji Indonesia adalah yang terbesar di dunia. Aspek sosiologis dan kultural masyarakat muslim Indonesia harus juga menjadi pertimbangan dalam menilai pelayanan ibadah haji agar kesimpulan kita dalam menilai sebuah kinerja, menjadi adil dan bijak.

Pesan dalam Pembelajaran
Selanjutnya, bagaimana jika paradigma “Sosiologi Haji” ala Suryadharma Ali di atas dipraktikkan dalam dunia pembelajaran? Membaca uraian di atas, kembali mengingatkan penulis atas temuan penelitian yang dilakukan oleh Howard Gardner (co-director pada Project Zero, yang merupakan sebuah kelompok riset di Harvard Graduate School of Education).

Gardner mengusulkan dalam bukunya, Frames of Mind: The Theory of Multiple Intelligences (1983), bahwa kecerdasan memiliki tujuh komponen, meliputi kecerdasan verbal-linguistik, kecerdasan logis-matematis, kecerdasan visual-spasial, kecerdasan ritmik-musik, kecerdasan kinestetik, kecerdasan interpersonal, dan kecerdasan intrapersonal (Lwin, 2004:2). Kemudian, sesuai dengan perkembangan penelitian yang dilakukannya, Gardner memasukkan kecerdasan kedelapan dalam multiple intelligences, yakni kecerdasan naturalis (Gunawan, 2007:106).

Menurut Gardner (1983), setiap orang berbeda karena memiliki kombinasi kecedasan yang berlainan. Gardner menyebutkan bahwa kita cenderung hanya menghargai orang-orang yang memang ahli di dalam kemampuan logis-matematis dan bahasa. Apresiasi sekolah diberikan kepada mereka yang memiliki kombinasi kemampuan itu dengan memberi label: murid pandai, bintang pelajar, juara kelas dan ranking tinggi pada setiap pembagian buku rapor. Sementara untuk orang-orang yang memiliki talenta (gift) di dalam kecerdasan yang lainnya seperti artis, arsitek, musikus, ahli alam, designer, penari, terapis, entrepreneurs, dan lain-lain kurang mendapat perhatian. Jarang sekali sekolah yang memberikan penghargaan kepada siswa yang memiliki kemampuan misalnya olah raga, kepemimpinan, pelukis dan lain-lain. Saat ini banyak anak-anak yang memiliki talenta (gift), tidak mendapatkan reinforcement di sekolahnya.

Musfiroh (2008:38) dalam bukunya, menjelaskan bahwa esensi teori multiple intelligences menurut Gardner adalah menghargai keunikan setiap individu, berbagai variasi cara belajar, mewujudkan sejumlah model untuk menilai mereka, dan cara yang hampir tak terbatas untuk mengaktualisasikan diri di dunia ini. Sesungguhnya multiple intelligences hadir dalam diri setiap individu, tetapi masing-masing individu akan memiliki satu atau lebih multiple intelligences yang memiliki tingkat multiple intelligences teratas. Namun, dalam praktik pembelajaran di sekolah sudah selayaknya seorang guru memiliki data tentang tingkat kecenderungan multiple intelligences setiap siswa.

Setiap individu adalah unik
Pernyataan di atas dapat dimaknai bahwa setiap individu tidak bisa disamakan antar satu dengan lainnya. Tentu, setiap individu itu memiliki perbedaan antara yang satu dengan yang lain. Perbedaan tersebut bermacam-macam, mulai dari perbedaan fisik, pola berpikir, dan cara-cara merespon atau mempelajari hal-hal baru. Dalam hal belajar, masing-masing individu memiliki kelebihan dan kekurangan dalam menyerap pelajaran yang diberikan. Menurut Hudojo (2005:100) memang tidak ada dua individu yang persis sama, setiap individu adalah unik. Suharyanto (1996:96) menyatakan bahwa jika perbedaan individu kurang diperhatikan, maka banyak siswa akan mengalami kesulitan belajar dan kegagalan belajar.

Kenyataan di atas menuntut agar siswa dapat dilayani sesuai perkembangan individual masing-masing. Konsekuensinya adalah pembelajaran perlu melayani siswa secara individual untuk menghasilkan perkembangan yang sempurna pada setiap siswa. (Hudojo, 2005:101). Seperti pepatah, Lain ladang, lain ikannya. Lain orang, lain pula gaya belajarnya (Uno, 2008:180). Pepatah ini cocok untuk menggambarkan bahwa setiap orang mempunyai gaya belajar sendiri-sendiri dan tak dapat dipaksakan untuk menggunakan gaya yang seragam.

Lebih lanjut, Uno (2008:18) menggambarkan sebagian siswa lebih suka terhadap guru mereka yang mengajar dengan cara menuliskan segalanya di papan tulis. Dengan begitu mereka bisa membaca untuk kemudian mencoba memahaminya. Akan tetapi, sebagian siswa lain lebih suka guru mereka mengajar dengan cara menyampaikannya secara lisan dan mereka mendengarkan untuk bisa memahaminya. Sementara itu, ada siswa yang lebih suka membentuk kelompok kecil untuk mendiskusikan pertanyaan yang menyangkut pelajaran tersebut.

Setiap orang memiliki gaya belajar yang unik. Tidak ada suatu gaya belajar yang lebih baik atau lebih buruk daripada gaya belajar yang lain. Tidak ada individu yang berbakat atau tidak berbakat. Setiap individu secara potensial pasti berbakat—tetapi ia mewujud dengan cara yang berbeda-beda. Singkat kata, tidak ada individu yang bodoh (atau setiap individu adalah cerdas). Ada individu yang cerdas secara logika-matematika, namun ada juga individu yang cerdas di bidang kesenian. Pandangan-pandangan baru yang bertolak dari teori Howard Gardner mengenai inteligensi ini telah membangkitkan gerakan baru pembelajaran, antara lain dalam hal melayani keberbedaan gaya belajar pebelajar. Suatu cara pandang baru inilah yang mengakui ke-unik-an setiap individu dalam praktik pembelajaran. Pembelajaran yang manusiawi

Berpijak pada adanya keragaman gaya belajar dan tingkat perbedaaan multiple intelligence, sebagaimana diuraikan di atas, kiranya penting untuk diperhatikan bagi para pendidik untuk memahami keragamaan gaya belajar peserta didik ini. Dengan demikian, diharapkan setiap individu dapat mengikuti proses pembelajaran secara menyenangkan karena model pembelajarannya didesain berlandaskan pada gaya belajar dan kecerdasan yang ada pada masing-masing pebelajar. Dengan kata lain, seorang pendidik seyogianya selalu memperhatikan aspek keunikan setiap individu selama menyelenggarakan proses pembelajaran. [ahf]

Daftar Rujukan
Gardner, H. 1983. Frames of Mind: The Theory of Multiple Intelligences. New York: BasicBooks.
Gunawan, A. W. 2007. Born to be a Genius. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Hudojo, H. 2005. Perubahan Paradigma Mengajar ke Belajar Matematika. Dalam Kapita Selekta Pembelajaran Matematika. Malang: t.p.
Lwin, M. 2008. How to Multiply Your Child’s Intelligence. Terjemahan oleh Christine Sujana (Cara Mengembangkan Berbagai Komponen Kecerdasan). 2008. Bandung: PT. Indeks.
Musfiroh, T. 2008. Cara Cerdas Belajar Sambil Bermain. Bandung: PT. Grasindo.
Suharyanto. 1996. Pengembangan Model Pengajaran Fisika Berbantuan Komputer di Jurusan Pendidikan Fisika FPMIPA IKIP Yogyakarta. Dalam Tim Basic Science LPTK (Eds.). Proceeding Hasil Diseminasi Penelitian PMIPA LPTK Tahun Anggaran 1995/1996 Bidang Kependidikan. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Taufiqurrachman. 2013. Sang Nakhoda: Biografi Suryadharma Ali. Malang: UIN-Maliki Press
Uno, H. B. 2008. Orientasi Baru dalam Psikologi Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara.

Perihal masthoni
Alumni Jurusan Matematika Fakultas Sains dan Teknologi UIN Malang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s