FITRAH MANUSIA SEBAGAI LANDASAN PENGEMBANGAN PENDIDIKAN


oleh Abdul Halim Fathani

ISLAM adalah agama Allah swt yang berisikan ajaran-ajaran dan tuntunan yang harus dipegang dan dijadikan pedoman oleh pemeluknya untuk mencapai kebahagiaan di dunia maupun di akhirat. Ajaran-ajaran Islam tersebut meliputi ajaran tauhid dan syariah atau iman dan amal. Sudah barang tentu aspek-aspek ajaran Islam tersebut harus dipahami dan dimengerti melalui belajar atau pencarian ilmu. Dengan demikian ilmu merupakan bagian dari agama itu sendiri, ia menempati posisi atau kedudukan sebagai bagian dari agama dan memiliki fungsi sebagai instrumen atau sarana untuk memperoleh tujuan agama, yakni memperoleh kebahagiaan dunia maupun akhirat.

Zainuddin (2008:45) dalam bukunya Paradigma Pendidikan Terpadu menegaskan bahwa Islam sebagai agama yang sempurna telah memberikan pijakan yang jelas tentang tujuan dan hakikat pendidikan, yakni memberdayakan potensi fitrah manusia secara utuh (integral) baik jasmani, rohani, dan akal, agar dapat menjalankan fungsinya sebagai hamba Allah swt yang mengabdi dengan setia lewat ibadah kepada-Nya. Sebagaimana firman Allah swt yang artinya: “Tidak Aku jadikan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.”(Q.S. al-Dzariyat: 56).

Lebih lanjut, dijelaskan bahwa di sisi lain, manusia juga disiapkan untuk menjalankan misi yang dibebankan kepadanya sebagai khalifah Allah swt di bumi yang bertugas untuk mengatur, mengelola, dan memakmurkan bumi ini dengan pengetahuan dan keterampilan yang dimilikinya. Sesuai dengan firman Allah swt yang artinya: “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi….” (Q.S. al-Baqarah: 30)

Dua fungsi manusia, yakni sebagai abid dan khalifah merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Terkait hal ini, pendidikan memegang peran penting untuk menyiapkan manusia agar kedua fungsi tersebut benar-benar dapat direalisasikan. Untuk menjalankan fungsi sebagai abid dan khalifah, tentu tidak cukup hanya mengandalkan ilmu-ilmu qawliyah saja, melainkan juga harus dibarengi dengan pengembangan ilmu-ilmu kauniyah, atau sebaliknya. Sehingga, tidak ada lagi pemisahan ilmu. Sebagaimana yang disabdakan Nabi Muhammad saw: “Barang siapa yang menginginkan (kebahagiaan) dunia hendaklah dia berilmu. Dan barang siapa yang menginginkan (kebahagiaan) akhirat hendaklah dia berilmu. Dan barang siapa yang menginginkan (kebahagiaan) keduanya hendaklah berilmu.” (HR. Imam Ahmad).

Berpijak pada ayat dan hadits di atas, tergambar jelas bahwa untuk menjalankan fungsinya sebagai abid dan khalifah, manusia harus berilmu. Al-Ghazali meletakkan satu pemahamannya tentang hakikat ilmu sebagai ilmu Allah yang harus dituntut dan dikaji setiap pribadi dalam upaya membawa dunia dan seisinya ke gerbang kemaslahatan. Hakikat ilmu menurut al-Ghazali mengandung makna menghilangkan pengertian ilmu secara terpisah. Karena sentralisasi ilmu ada pada Tuhan sebagai pemiliknya dan manusia sebagai pengembangnya.

Sebagai makhluk Allah swt yang bertugas memakmurkan bumi, manusia diberi kelebihan dan juga keistimewaan yang tidak diberikan kepada makhluk lain, yakni kecerdasan akal dan kepekaan hati yang mampu berpikir rasional dan merasakan sesuatu di balik materi dan perbuatan. Keutamaan lain yang diberikan Allah swt kepada manusia adalah fitrah, yakni potensi manusiawi yang educable.

Dengan bekal itulah memungkinkan bagi manusia untuk mencapai taraf kehidupan yang amat tinggi dalam aspek peradaban dan kedekatan dengan Allah swt. Ciri yang paling mendasar tentang gambaran manusia ini, dilukiskan oleh M.J. Langeveld, sebagaimana yang dikutip Djumbransjah (2006:150) dalam bukunya Filsafat Pendidikan Islam, dengan kalimat singkat, animal educandum (manusia adalah makhluk yang harus dididik), animal educable (manusia adalah makhluk yang dapat dididik), dan homo edocandus (manusia adalah makhluk bukan saja harus dan dapat dididik tetapi harus dan dapat mendidik).

Fitrah yang dibawa anak sejak lahir bersifat potensial sehingga memerlukan upaya-upaya manusia itu sendiri untuk mengembang-tumbuhkannya menjadi faktual dan aktual. Dalam tulisan ini, fitrah dimaknai sebagai potensi kecerdasan yang ada di dalam individu manusia. Merujuk pada pendapat Howard Gardner (1993), bahwa sesungguhnya setiap anak dilahirkan dalam keadaan cerdas dengan membawa potensi dan keunikan masing-masing yang memungkinkan mereka untuk terus berkembang. Pendapat senada diungkapkan oleh Thomas Armstrong (2000), mengatakan bahwa “Semua anak itu pintar! Semua anak pada dasarnya cerdas dan ceria.”

Dalam terminologi al-Qur’an, sosok manusia berilmu yang diidealkan, dikenal dengan istilah ulul-albab. Gagasan idealitas manusia ulul albab ini merupakan rumusan yang diambil dari al-Qur’an. Kata ulul albab terulang sebanyak 16 kali dalam al-Qur’an, sebagaimana tertuang dalam Q.S. al-Baqarah: 179, 197, 269; Q.S. Ali Imran: 7, 190; Q.S. al-Maidah: 100; Q.S. Yusuf: 111; Q.S. al-Ra’d: 19; Q.S. Ibrahim: 52; Q.S. Shad: 29, 43; Q.S. al-Zumar: 9, 18, 21; Q.S. al-Mukmin/Ghafir: 54; Q.S. al-Thalaq: 10.

Keberadaan pendidikan diharapkan bisa berfungsi sebagai wahana mengembangkan potensi peserta didik sesuai dengan fitrahnya dalam hal ini sesuai dengan kecerdasannya. Pendidikan merupakan proses pengembangan fitrah peserta didik sehingga mampu membentuk kepribadian manusia yang ideal, yakni sosok manusia ulul albab.

Pendidikan seyogianya selalu menanamkan nilai, sikap dan pandangan bahwa dalam memberikan layanan kepada umat manusia di mana, kapan dan dalam suasana apapun harus dilakukan yang terbaik (amal shaleh). Peserta didik yang telah menjalani proses pembelajaran harus mampu memposisikan dirinya sebagai umat terbaik yang bermanfaat bagi manusia. Sebagaimana sabda Rasulullah saw “Khairunnas anfa’uhum linnas”, yang artinya: “Sebaik-baik manusia di antaramu adalah yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain.” (HR. Bukhari dan Muslim). [ahf]

Perihal masthoni
Alumni Jurusan Matematika Fakultas Sains dan Teknologi UIN Malang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s