TARMIZI TAHER DAN PENDIDIKAN


oleh Abdul Halim Fathani

130459

Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un, telah wafat mantan Menteri Agama Bapak Tarmizi Taher. Ia wafat pada tanggal 12 Februari 2013 jam 04.00 di RS. Cipto MangunKusumo, Jakarta dan dimakamkan di Taman Makam pahlawan Kalibata Jakarta. Tarmizi wafat di usia 76 tahun.

Jenazah disalatkan di Masjid Imam Bonjol di Komplek Angkatan Laut Pondok Labu. Doa usai salat jenazah dipimpin oleh Mantan Menag, Qurais Shihab. Tampak hadir beberapa mantan pejabat tinggi negara, di antarnya: Habibie, Jusuf Kalla, Harmoko, Azwar Anas, Farhan Hamid, dan lainnya.

Selepas salat jenazah, dilakukan upacara militer pelepasan dan penyerahan jenazah dari keluarga kepada Pemerintah yang diwakili oleh Laksamana Muda TNI Sadiman Koorsahli KASAL. Selanjutnya jenazah dibawa ke Taman Makam Pahlawan Kalibata untuk dimakamkan dengan upacara secara militer. Wakil Menteri Agama, Nasaruddin Umar, yang bertugas sebagai inspektur upacara mewakili Presiden RI.

Sekilas Biografi
Tarmizi Taher terlahir di Padang, Sumatera Barat, 7 Oktober 1936. Setelah menyelesaikan pendidikan dokter di Universitas Airlangga Surabaya, dia meniti karier pada TNI AL dan pensiun dengan pangkat Laksamana Muda.

Jabatan yang pernah diembannya di lingkungan militer termasuk sebagai Perwira Kesehatan di KRI Irian, Juru Bicara Fraksi ABRI di MPR, Kepala Dinas Pembinaan Mental TNI AL dan Kepala Pusat Pembinaan Mental ABRI. Selain itu dia adalah lulusan Sekolah Staf dan Komando (Sesko) TNI AL dan sempat mengenyam pendidikan pada US Navy di bidang kesehatan.

Tarmizi Taher menjadi Menteri Agama pada tahun 1993-1998, sebelumnya menjabat sebagai Sekjen Kementerian Agama dan Kapusbintal TNI. Selama menjabat Menteri Agama Republik Indonesia, dua inisiatif penting yang beliau laksanakan adalah pengembangan Siskohat (sistem komputerisasi haji terpadu) dan pembentukan Dana Abadi Umat (DAU). Beliau menjadi jembatan umat, ulama, dan umara melalui pergaulan yang luas dengan sejumlah tokoh dan pemuka agama.

Setelah tidak menjabat menteri, Tarmizi diangkat untuk beberapa posisi lain, termasuk sebagai Duta Besar untuk Norwegia dan Islandia. Ia juga pernah menjabat sebagai ketua umum pimpinan pusat Dewan Masjid Indonesia (DMI) periode 2006 – 2011 dan Rektor pada Universitas Islam Az-zahra di Jakarta periode 2004 – 2008. Dia dianugerahi Doktor Honoris Causa di bidang dakwah oleh Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

Pemikiran Pendidikan
Adalah Mantan Wakil Presiden RI, Jusuf Kalla, salah seorang yang mengagumi Tarmizi Taher, Menteri Agama era Soeharto. Ia memandang almarhum sebagai sosok yang lengkap. “Beliau laksamana, dokter, ustadz, mubaligh, menteri. Jadi, sosok yang paling lengkap dan beliau bekerja betul-betul sesuai dengan apa yang dilaksanakannya,” ujar JK saat melayat di rumah duka, di Jalan Pangkalan Jati Kompleks Perumahan Angkatan Laut (AL) Pondok Labu, Jakarta Selatan sebagaimana yang dilansir detikNews (12/2/2013)

Dalam tulisan ini, fokus untuk mengupas pemikiran Tarmizi tentang “pendidikan”. Dalam buku berjudul “Tarmizi Taher, Arek Suroboyo dan Aktivis Kampus Abdi Umat dan Bangsa”, yang ditulis Wakhudin dan diterbitkan oleh JP Press Surabaya (Oktober 2003), diuraikan ada tujuh pokok pikiran tentang pendidikan yang digagas Tarmizi, yaitu: Pemerataan pendidikan dengan wajar 9 tahun, Kebangkitan Islam dan pendidikan, Pendidikan keimanan dan ketakwaan, menjadi produsen bukan konsumen ilmu, Tanggung jawab perguruan tinggi Islam, IAIN dan masa depannya, dan Pondok pesantren dalam menghadapi dinamika sosial.

Pertama, Pemerataan pendidikan dengan wajar 9 tahun.
Program wajib belajar 9 tahun ini merupakan salah satu upaya strategis bangsa Indonesia untuk meningkatkan sumber daya manusia. Oleh karenanya, lembaga-lembaga pendidikan keagamaan khususnya Madrasah Ibitidaiyah dan Madrasah Tsanawiyah di seluruh Indonesia seyogianya siap melaksanakan program wajib belajar 9 tahun tersebut. Kebijakan yang dikembangkan dalam pembinaan Madrasah Ibtidaiyah dan Madrasah Tsanawiyah ini bertumpu pada empat hal, yaitu pemerataan pendidikan, peningkatan mutu, peningkatan relevansi, dan peningkatan efisiensi. Dan, saat ini kita saksikan tidak sedikit Madrasah Ibtidaiyah maupun Madrasah Tsanawiyah yang unggul memiliki prestasi gemilang. Bahkan, saat ini sudah berkembang menuju wajib belajar 12 tahun, yaitu dilanjutkan pada tingkat Madrasah Aliyah. Sewaktu menjadi Menteri Agama, Tarmizi juga menggagas berdirinya Madrasah Aliyah Program Khusus (MAPK) yang kurikulumnya lebih menekankan pada pengajaran dan pendidikan agama Islam..

Kedua, Kebangkitan Islam dan pendidikan.
Menurut Tarmizi, peran sentral universitas atau dunia akademis pada umumnya dalam upaya kebangkitan kembali Islam jelas merupakan aspek yang sangat penting untuk mendapat perhatian lebih. Dalam kerangka pemenuhan atau pencapaian prasyarat kebangkitan ilmu pengetahua, maka perguruan tinggi Islam, tidak cukup lagi berperan sekedar menghasilkan para lulusan guna mengisi lapangan kerja yang ada. Universitas Islam bahkan dituntut lebih jauh lagi, yakni mengembangkan riset-riset strategis yang berkaitan dengan upaya peningkatan kemajuan berbagai cabang keilmuan.

Ketiga, Pendidikan keimanan dan ketakwaan.
Penjiwaan pendidikan dengan nafas keimanan dan ketakwaan harus dilakukan pada semua tahap pelaksanaan pendidikan, mulai tujuan-tujuan, pemilihan strategi, penyusunan program-program kurikuler, sampai pada pelaksanaan pembelajaran di sekolah. Dari sekian tahapan tersebut, yang paling menentukan adalah pada tahapan pembelajaran di sekolah, karena pada tahap inilah interaksi edukatif secara efektif berlangsung antara murid dan guru.

Keempat, menjadi produsen bukan konsumen ilmu.
Harus diakui, di kalangan kaum muslimin, apresiasi terhadap sains dan teknologi dapat dikatakan masih belum memuaskan. Dengan kata lain, sebagian peserta didik di lembaga-lembaga pendidikan Islam lebih diarhkan untuk menekuni bidang-bidang humaniora dan ilmu-ilmu sosial dari pada ilmu-ilmu alam. Jika kecenderungan ini terus terjadi, maka kaum muslimin dikhawatirkan akan tetap tertinggal dalam penguasaan Sains dan Teknologi. Akibatnya, kaum muslimin akan lebih menjadi konsumen daripada produsen. Saat ini, sudah waktunya bagi kaum muslimin Indonesia untuk memberikan perhatian khusus kepada masalah yang amat penting itu. Lembaga pendidikan Islam hendaklah mengambil peran yang lebih besar dalam peningkatan dan pengembangan sains dan teknologi yang relevan untuk menjawab tantangan masa depan. Dengan demikian, berarti kota mengubah orientasi sistem pendidikan Islam ke masa silam menjadi ke masa depan. Dengan orientasi ke masa depan berarti kita akan mempersiapkan peserta didik untuk menjawab dan menempatkan diri secara lebih fungsional dalam menghadapi segala tantangan dan perubahan.

Kelima, Tanggung jawab perguruan tinggi Islam.
Peranan perguruan tinggi Islam (PTI), sangat strategis untuk menghasilkan mahasiswa yang berkualitas sebagai kader pembangunan bangsa. Diharapkan lulusan perguruan tinggi Islam memiliki sikap tanggap terhadap pembangunan masa depan, sehingga mampu berperan serta secara optimal dalam pembangunan nasional. Dengan demikian ada dua tugas penting yang dapat dilakukan PTI dalam meingkatkan kualitas mahasiswanya, yaitu: 1) memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk memiliki pengetahuan, keahlian, dan keterampilan tertentu sesuai dengan bidang ilmu yang ditekuninya dengan kebutuhan masyarakat dan pembangunan nasional; dan 2) memantapkan kepribadian mahasiswa dengan pembekalan nilai-nilai yang bisa memperkuat identitas diri yang dilandasi oleh nilai-nilai ajaran Islam dan Pancasila, memiliki kesehatan jasmani dan rohani, kemandirian serta tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan.

Keenam, IAIN dan masa depannya.
IAIN sebagai lembaga pendidikan tinggi agama di masa mendatang mempunyai peranan yang makin penting dalam mewujudkan cita-cita pendidikan nasional Indonesia, yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya. Para lulusannya diharapkan menjadi manusia yang beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, sehat jasmani dan rohani, berkepribadian yang mantap dan mandiri serta memiliki rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan. Dalam rangka memenuhi harapan tersebut, maka: 1) IAIN harus menjadi pusat keunggulan, 2) sebagai upaya pengembangan kajian Islam, IAIN harus “berubah” menjadi Universitas Islam Negeri (UIN), 3) meningkatkan etos keilmuan di IAIN, 4) menyelenggarakan pengabdian kepada masyarakat.

Ketujuh, Pondok pesantren dalam menghadapi dinamika sosial.
Perubahan bangsa Indonesia dari masyarakat pedesaan dan masyarakat petani menjadi masyarakat perkotaan dan masyarakat industry dan perdagangan merupakan perubahan sosial yang mendasar. Pondok pesantren harus mampu menghadapi perubahan tersebut dan melakukan “antisipasi” yang kuat serta mampu mengikuti dinamika sosial budaya, khususnya dalam bidang pendidikan. Pesantren memang harus merespons zaman. Sebagaimana pesan Ali bin Abi Thalib “Didiklah anak-anakmu sesuai dengan zamannya, karena dia anak generasi zaman, bukan zaman di mana kau dididik atau mendidik”. Pondok pesantren memiliki peran penting sebagai dinamisator dan katalisator masyarakat Muslim dan lingkungannya yang berada dalam proses transformasi sosial yang didukung sederetan ciri-ciri positif, seperti: kemandirian, kesederhanaan, persatuan, dan kewirausdahaan. Karenanya, untuk kepentingan sendiri, pondok pesantren hendaknya mampu mengantisipasi laju perkembangan pembangunan, sebagai bagian dari penerjemahan jargon “Al-Islam shalih likulli zaman wa makan”. Islam itu sesuai dengan segala zaman dan semua tempat. Sehingga ujung dari dinamika tersebut adalah terjadilah kemaslahatan bagi umat dan bangsa (Al-maslahah al-ammah).

Itulah, sekilas uraian pokok-pokok pemikiran Tarmizi Taher tentang pendidikan dan dinamikanya. Semoga ide-ide cerdas dan segar di atas menjadi amal jariyah bagi beliau. Untuk lebih lengkapnya, pembaca dapat menelusuri lebih jauh dalam buku yang ditulis Wakhudin sebagaimana yang disebutkan di atas. Selamat jalan Pak Tarmizi, doa kami selalu menyertai. [ahf]

Perihal masthoni
Alumni Jurusan Matematika Fakultas Sains dan Teknologi UIN Malang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s