SEKOLAH BERKARAKTER INDONESIA (SBI)


Oleh Abdul Halim Fathani

Keberadaan Rintisan Sekolah Bertarap Internasional (RSBI) yang menjadi kebijakan pemerintah tidak mencerminkan nasionalisme. Ada pendapat RSBI hanya akan menjadikan sistem pendidikan Indonesia berwatak kebarat-baratan (western oriented) sehingga tidak sesuai dengan arah pendidikan nasional yang substansial.

Hal ini bisa dilihat dengan bahasa pengantar yang digunakan dalam proses pembelajaran yang lebih menomorsatukan bahasa Inggris daripada bahasa Indonesia yang notabene sebagai bahasa ibu.

Lalu, bagaimana (seharusnya) bahasa pengantar yang digunakan selama proses pembelajaran di RSBI? Apakah harus menggunakan bahasa Inggris secara penuh (100%), atau bahasa Inggris dan bahasa Indonesia (50:50), atau perbandingan yang lain. Tetapi, kalau dilihat realita di lapangan, masih banyak yang tidak mahir berkomunikasi menggunakan bahasa Inggris. Bukan saja siswa, tidak sedikit guru yang lemah di bidang ini, terutama saat berkomunikasi lisan.

Bukan hanya itu, permasalahan yang kerap terjadi sampai sekarang masih banyak guru yang kesulitan dapat menyampaikan materi perlajaran agar dapat dipahami siswa secara komprehensif (padahal komunikasinya dengan bahasa Indonesia). Dengan kata lain, tidak ada jaminan, seorang guru mengajar dengan bahasa Indonesia, lalu siswanya dapat memahami materi yang disampaikan guru.

Kalau melihat ini, lalu bagaimana kalau proses pembelajarannya dilangsungkan dengan menggunakan bahasa Inggris-dalam rangka menuju SBI tersebut. Jangan-jangan, beban siswa menjadi ganda, yakni mereka harus berjuang untuk mengerti terjemahan dari bahasa Inggris, baru kemudian siswa berpikir bagaimana memahami materi yang disampaikan guru.

Semua perlu merenungkan kembali data Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan terkait hasil ujian nasional tahun 2012 tingkat SMA. Secara umum, kegagalan siswa SMA terletak pada Bahasa Indonesia dan Matematika. Mendikbud Muhammad Nuh mengungkapkan bahwa dalam peta distribusi mata pelajaran, siswa lebih banyak tidak lulus karena tersandung mata pelajaran Bahasa Indonesia.

“Nilai Bahasa Indonesia lebih rendah dibanding Bahasa Inggris (Koran Jakarta, 25/5/12)”. Kondisi ini memprihatinkan. Menurutnya, ini merupakan cermin adanya pergeseran nilai pada generasi muda. Terjadi pergeseran nilai dan anak-anak yang menjadi korban. Semua pihak agar kembali membangkitkan kecintaan Bahasa Indonesia. Ini, bukan hanya tanggung jawab pemerintah, melainkan juga seluruh elemen masyarakat.

Oleh sebab itu, di samping ramai membicarakan RSBI, sekolah seyogianya mempersiapkan sejak dini siswa (dan guru) agar mahir berbahasa Inggris, tanpa tidak melupakan bahasa ibu. Jika ini dapat direalisasikan, siswa-siswa Indonesia akan tetap memiliki jiwa nasionalisme yang tinggi. Namun, juga memiliki jiwa dan cara pandang yang luas ke depan. Karena, harus diyakini, tantangan generasi ke depan, bukan tambah enteng, melainkan menjadi lebih kompleks. Dengan demikian, program internasionalisasi sejatinya tetap harus dikawal secara terus-menerus, tetapi tidak boleh meninggalkan nasionalisme.

Nasionalisme

Sebagai generasi penerus, siswa Indonesia seyogianya lebih bangga ketika mampu menunjukkan identitas bangsanya di mata dunia. Berbahasa Indonesia dengan baik dan benar harus menjadi prioritas bagi semua anak bangsa. Sebagaimana yang termaktub dalam Sumpah Pemuda, janji para pemuda bangsa itu. Oleh karena itu, penetapan penggunaan Bahasa Inggris sebagai pengantar dalam mengajarkan beberapa bidang studi yang selama ini telah terjadi di RSBI harus dievaluasi. Bahasa Indonesia harus tetap dinomorsatukan. Bahkan, kalau perlu ditambah dengan bahasa daerah.

Lalu, bagaimana dengan bahasa Inggris? Terkait ini, sekolah seharusnya menempatkan bahasa daerah untuk membangun identitas kedaerahan, bahasa nasional untuk membangun identitas nasional, dan semangat cinta Tanah Air, sementara bahasa internasional harus dimaknai sebagai langkah mempersiapkan untuk menjelajah dunia, terkait posisi sebagai bagian dari warga negara dunia. Ketiganya harus dimaknai dalam porsi seimbang.

Dengan kata lain, RSBI memiliki kewajiban menyelenggarakan kegiatan pembelajaran yang berfondasi pada roh nasionalisme yang unggul sehingga bisa berkompetitif di dunia internasional. Untuk menumbuhkan jiwa nasionalisme kepada para siswa, apakah cukup hanya dengan bahasa nasional dan daerah sebagai pengantar dalam pembelajaran? Jawabannya tentu tidak! Tantangan lain bagi guru ialah harus menginternalisasikan nilai-nilai positif budaya bangsa Indonesia seperti gotong royong, kerja keras, suka menolong, menghargai pendapat, tawadu, dan seterusnya.

Siswa RSBI boleh pintar matematika, sains, komputer, dan lainnya, namun mereka harus tetap melestarikan budaya baik yang dimiliki bangsa Indonesia. Alumni RSBI boleh mahir dan cakap bahasa Inggris, tetapi mereka harus tetap menjaga keberadaan bahasa Indonesia dan bahasa daerahnya. Kadang kala masyarakat menyaksikan anak berkomunikasi dengan orang tua menggunakan bahasa Inggris, padahal apabila mereka menggunakan bahasa Jawa kromo inggil jauh lebih sopan. Inilah salah satu budaya baik yang harus dirawat. Siswa RSBI boleh melebihi orang tua dan gurunya, namun ia harus tetap menjunjung tinggi nilai etika dan kesopanan.

Walhasil, RSBI silakan jalan terus! Namun, RSBI harus didesain secara unik dengan khas Indonesia untuk meneguhkan nasionalisme dan mampu berkompetisi secara internasional. Dengan begitu, akan terwujud sekolah berkarakter Indonesia, sekolah yang berwatak Indonesia.

Tulisan ini dimuat di Koran Jakarta, 4 Juni 2012

Perihal masthoni
Alumni Jurusan Matematika Fakultas Sains dan Teknologi UIN Malang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s