MENJADI GURU PROFESIONAL


oleh Abdul Halim Fathani

Malik Fadjar (2005:188) dalam bukunya “Holistika Pemikiran Pendidikan” menjelaskan bahwa guru menempati posisi sentral dalam mengejawantahkan dan melahirkan sumber daya manusia (SDM) berkualitas di negeri ini. Sekalipun dewasa ini dikembangkan corak pendidikan yang lebih berorientasi terhadap kompetensi siswa (student oriented), tapi kenyataan ini tidak mengurangi arti dan peran guru dalam proses pendidikan.

Guru tetap merupakan unsur dasar pendidikan yang sangat berpengaruh terhadap proses pendidikan, terlebih bagi penciptaan SDM berkualitas. Dalam bahasa arabnya, “al-Thariqah ahammu min al-maddah, wa lakin al-mudarris ahammu min al-thariqah” (Metode pembelajaran lebih penting daripada materi belajar, tetapi eksisntensi guru dalam proses pembelajaran jauh lebih penting daripada metode pembelajaran). Hal ini senada dengan pendapat negarawan Vietnam, Ho Chi Minh (1890-1969) yang menegaskan prinsipnya bahwa “No teacher, no education”, (Tanpa guru, tidak ada pendidikan).

Siapa guru yang dimaksud? Tentu –tidak lain tidak bukan- adalah guru yang berkualitas. Seperti yang ditulis Prof. Dr. Winarno Surakhmad, MSc. Ed., dalam buku berjudul “Pendidikan Nasional: Strategi dan Tragedi” (2009:354), bahwa pembelajaran yang berkualitas memadukan sekurang-kurangnya peserta didik sebagai pembelajar yang berkualitas, yang difasilitasi oleh guru yang berkualitas, melalui program pembelajaran yang berkualitas, dengan dukungan ekosistem pembelajaran berkualitas, di dalam konteks lembaga pembelajaran yang berkualitas. Hanya pembelajaran yang berkualitas yang mampu memberikan hasil pembelajaran berkualitas.

Dengan kata lain, kata kuncinya adalah guru berkualitas yang mampu melaksanakan pembelajaran yang berkualitas. Lebih lanjut Winarno (2009:355) menyatakan bahwa para guru umumnya mengetahui hal itu, tetapi sering kurang menyadari bahwa semuanya perlu terkait secara bersistem. Kelima komponen dasar penentu kualitas pembelajaran harus terkait secara serasi dalam satu sistem. Kita tidak dapat mengharapkan hasil pembelajaran berkualitas –kualitas tanpa kompromi- apabila salah satu di antara komponen dasar itu tidak berada pada tingkat keunggulan yang seharusnya.

Menyikapi realitas itulah, melalui buku “Gurunya Manusia” ini, Munif Chatib mencoba untuk menawarkan sebuah “ide kreatif” terkait guru berkualitas. Dalam pengantar buku ini dijelaskan bahwa guru adalah sebuah profesi. Profesionalitas guru tentunya sangat terkait dengan unsur manajemen kerja guru: bagaimana guru membuat perencanaan, kemudian mengaplikasikannya dengan mengajar di kelas, lalu harus ada evaluasi tentang kualitas pembelajaran itu hari demi hari. Lebih lanjut, Chatib menegaskan: jika kita punya anggapan bahwa tidak ada siswa yang bodoh, kita juga harus percaya bahwa tidak ada guru yang tidak bisa mengajar. Masalah yang ada –sesungguhnya- hanyalah kesulitan guru menuju tangga profesional.

Buku ini terdiri atas lima bab. Bab pertama, penulis menekankan bahwa unsur penting menuju guru profesional adalah kemauan guru untuk terus belajar. Tidak dapat dimungkiri bahwa zaman selalu berubah. Perkembangan zaman memungkinkan siswa mendapatkan informasi dari berbagai sumber. Akibatnya, siswa –mungkin- menjadi lebih cerdas dan kritis. Inilah salah satu contoh kecil mengapa guru harus selalu belajar.

Sebagai lanjutan bab pertama, jika keinginan untuk belajar sudah ada dan manajemen sekolah memberikan porsi penting agar guru berkesempatan untuk belajar, maka dalam bab kedua diuraikan isi pembelajaran yang berkualitas (baca: tepat). Ada tiga ranah utama dalam pembelajaran, yakni paradigma, cara, dan komitmen.

Dalam bab ketiga, dipaparkan apersepsi. Apersepsi adalah hal yang mesti menjadi bagian mengajar guru yang tak boleh terlupakan. Pada menit-menit pertama mengajar adalah waktu terpenting untuk seluruh proses pembelajaran. Ketika apersepsi sudah dilaksanakan dengan tepat, selanjutnya adalah bagaimana strategi pembelajaran yang harus dipilih. Inilah yang akan dibahas dalam bab keempat, yang diberikan banyak contoh tentang strategi multiple intelligences. Beberapa strategi pembelajaran yang dipaparkan dalam bab ini merupakan model pengalaman mengajar yang telah dilakukan Munif Chatib selama beberapa tahun di beberapa sekolah binaan.

Pada bab terakhir, bab kelima, diberikan desain model lesson plan yang kreatif. Para guru penting dan perlu untuk membuat lesson plan sebagai konsekuensi dari profesi mengajar. Itulah garis besar isi buku yang sangat mencerahkan ini. Tentunya, saat ini kita jangan terlalu sibuk mengurusi alasan mengapa banyak guru yang tidak atau kurang berkualitas? Namun, alangkah lebih bijak dan lebih baik jika kita mengakhiri perdebatan tersebut, dan yang lebih penting adalah bagaimana mencetak guru berkualitas? Apa saja yang “wajib” dilakukan. Dan, Munif Chatib telah memberikan jawaban konkret melalui hadirnya buku ini.

Buku yang merupakan kelanjutan buku “Sekolahnya Manusia” ini dapat menjadi rujukan menarik yang bermanfaat bagi para guru atau siapa pun yang “bermental” guru. Buku ini memberikan keseimbangan antara konsep, saran-saran praktis (tips), dan contoh-contoh sehingga buku ini menjadi menarik dibaca para guru. [ahf]

*) Resensi ini telah dipublikasikan di Tabloid Koran Pendidikan, Edisi 390/I/7-13 Desember 2011.

Identitas Buku:
Judul Buku : Gurunya Manusia: Menjadikan Semua Anak Istimewa dan Semua Anak Juara
Penulis : Munif Chatib
Pengantar : Anies Baswedan, Ph.D.
Penerbit : Kaifa, Bandung
Cetakan : I, Mei 2011
Tebal : xx + 256 Halaman

Perihal masthoni
Alumni Jurusan Matematika Fakultas Sains dan Teknologi UIN Malang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s