ENTREPRENEURSHIP PENELITI(AN)


Oleh Abdul Halim Fathani

PENELITIAN merupakan kompas moral akademia, utamanya dalam aras pendidikan baik pada perguruan tinggi maupun lembaga riset. Penelitian merupakan ruh dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek). Bangsa yang maju ialah bangsa yang memberi perhatian “khusus” bagi terciptanya budaya meneliti di negaranya.

Kuantitas peneliti di Indonesia sangat luar biasa. Indonesia memiliki lebih dari 60.000 peneliti yang tersebar di 114 perguruan tinggi negeri, 301 perguruan tinggi swasta, 8 badan usaha milik Negara, 8 badan usaha miliki swasta, 76 lembaga penelitian kementerian, 91 lembaga nonkementerian, dan 24 lembaga penelitian pemerintah daerah (Kompas, 1/11/2011). Melihat fakta ini, sungguh luar biasa potensi peneliti di negara kita.

Ilmu pengetahuan bukanlah hal yang statis. Ilmu pengetahuan akan terus berkembang secara dinamis. Di sinilah, penelitian memegang peran penting dalam rangka membangun peradaban bangsa. Namun, tradisi penelitian di Indonesia –sampai kini- masih “kembang-kempis”. Mulai dari keluhan pada minimnya kesejahteraan peneliti dan terbatasnya dana penelitian, belum lagi rumitnya sistem pelaporan keuangan dibanding laporan penelitiannya. Konsekuensinya, banyak peneliti yang terjebak pada sistem birokrasi negara.

Sebagaimana diberitakan Koran ini, mekanisme kegiatan penelitian dimasukkan dalam pos pengadaan barang dan jasa. Tentu, mekanisme ini sangat merepotkan bagi peneliti karena semua pengeluaran harus bisa dibuktikan dengan kuitansi. Akibatnya, -bisa jadi- laporan pengeluran keuangan akan lebih tebal dibanding laporan penelitian (akademik)nya.

Selain menyangkut mekanisme pelaporan keuangan, kadang instansi/lembaga penelitian menggunakan paradigma “yang penting terserap”. Setiap intansi memperoleh dana penelitian yang bersumber dari APBN, meski secara kumulatif telah mengalami penurunan drastis. Tahun 2009, anggaran riset Rp 1,2 triliun, tahun 2010 turun lebih dari separuh menjadi Rp 453 miliar, dan tahun 2011 ini turun lagi menjadi Rp 435 miliar (Kompas, 1/11/2011).

Dampak dari praktik paradigma inilah yang mengakibatkan banyaknya peneliti yang melakukan riset secara asal-asalan. Baginya, yang penting adalah peneliti mendapatkan dana penelitian (yang terbatas itu) kemudian melakukan penelitian sekadarnya, kemudian hasil penelitiannya “cukup” dikumpulkan beserta kuitansinya dan selanjutnya menjadi koleksi rapi di perpustakaan yang hanya bisa dikonsumsi kaum akademik yang sangat-sangat terbatas. Praktik ini aman secara sistem keuangan APBN, tetapi kualitas (dan manfaat) penelitian sungguh, masih layak dipertanyakan.

Daur ulang penelitian
Masalah krusial dalam penelitian, adalah terbatasnya dana dan minimnya kesejahteraan peneliti. Sebagaimana kesimpulan Ratnawati (Kompas, 10/11/2011) terhadap pernyataan Menteri Riset dan Teknologi Gusti Muhammad Hatta bahwa dalam waktu dekat tak akan menaikkan gaji peneliti meskipun kesenjangan gaji peneliti dengan gaji dosen sangatlah lebar dan tidak manusiawi.

Menanggapi kenyataan tersebut, menjadi tidak heran jika banyak peneliti yang melakukan daur ulang hasil penelitiannya dalam format lain, demi mengejar “kesejahteraan” yang lebih layak dan manusiawi. Tidak sedikit peneliti yang memformat hasil penelitiannya dalam bentuk artikel jurnal, makalah seminar, buku yang diterbitkan, dan sebagainya. Hal ini dilakukan agar hasil penelitiannya itu dapat “dihargai” kembali sehingga peneliti dapat “sejahtera” untuk memenuhi kebutuhan finansialnya.

Tidak jelek memang, namun menyikapi hal ini seyogianya pemerintah membuka mata lebar-lebar. Agar tema penelitian tidak hanya berhenti di satu titik, maka peneliti perlu diberi ruang dan waktu yang lebih luas, agar dapat menghasilkan banyak penelitian murni. Pemerintah perlu memperlakukan peneliti secara manusiawi dari pelbagai aspeknya. Dengan demikian, tradisi penelitian semakin semarak, perkembangan ilmu pengetahuan akan semakin cepat dan maju.

Paradigma “layak jual”
Kalau kita menengok harga lukisan, tentu bervariasi. Mulai dari ratusan ribu hingga jutaan rupiah. Seakan-akan hidup pelukis lebih sejahtera disbanding seorang peneliti. Lukisan jauh lebih “berharga” daripada hasil penelitian. Terinspirasi dari hal ini, hemat penulis bahwa penelitian sudah selayaknya dilakukan dengan mengedepankan aspek kualitas secara keilmuan yang “dihargai” secara manusiawi. Bukan berbasis proyek yang memiliki paradigma “yang penting dapat menghabiskan anggaran”, sementara hasil penelitiannya tidak bermutu.

Kadang perlu dicoba, peneliti melakukan penelitian atas inisiatif sendiri yang bersumber dari dana pribadi atau penelitian mandiri. Dengan kata lain, penulis sebut sebagai peneliti yang memiliki mental entrepreneurship. Setelah melakukan penelitian, kemudian produk atau manfaatnya “dijual” ke konsumen, dalam hal ini adalah sasaran penelitian. Berkaca pada lukisan, maka harga jual sebuah “hasil” penelitian dapat bervariasi hingga jutaan rupiah bahkan bisa lebih.

Penelitian mandiri ini tentu berisiko. Bagi peneliti yang hasil penelitiannya “kelas rendahan”, peluang untuk laku di pasar adalah kecil. Sebaliknya, bagi peneliti yang hasil penelitiannya berkualitas tinggi, tentu akan diserbu pasar dengan harga yang bersaing. Hal ini merupakan tantangan bagi setiap peneliti untuk menghasilkan kualitas penelitian yang berbobot. Jika hal ini dicoba-praktikkan, maka tidak akan ada lagi keluhan minimnya dana penelitian dan rumitnya birokrasi keuangan.

Dengan penelitian mandiri, maka kita bisa melakukan penelitian secara bebas, tidak terikat sistem keuangan negara, tidak terbatasi oleh ruang dan waktu. Paradigma penelitian mandiri adalah bagaimana melakukan penelitian yang layak jual di pasaran.[ahf]

Perihal masthoni
Alumni Jurusan Matematika Fakultas Sains dan Teknologi UIN Malang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s