KECERDASAN SPIRITUAL


Oleh Abdul Halim Fathani


KETIKA diskusi terkait kecerdasan, biasanya yang sering disebut adalah kecerdasan intelektual (Intellectual Quotient/IQ), dan emosional (Emotional Quotient/EQ). Tema pokok yang paling mendasar adalah “kesuksesan dapat dicapai bila ada keseimbangan antara kedua kecerdasan tersebut”. Dalam perkembangannya, tepatnya tahun 2000, Psikolog Danah Zohar dan suaminya Ian Marshall memunculkan kecerdasan “baru” yaitu kecerdasan spiritual (Spiritual Quotient/SQ). Danah Zohar adalah pemikir asal Inggris yang terpengaruh oleh pemikiran dosennya, David Bohm, fisikawan ternama yang menemukan fisika kuantum. Pemikiran Danah Zohar terhadap psikologi manusia, khususnya menyangkut self (diri), merujuk pada hasil riset terakhir dalam berbagai bidang, antara lain teori kuantum dan riset tentang mata ketiga dari tradisi Yoga. Juga, bagian dari perkembangan riset tentang misteri otak.

Melalui bukunya berjudul SQ: Spiritual Intelligence, The Ultimate Intelligence, yang diterbitkan di London Januari 2000, dan sudah diterjemahkan (dan diterbitkan) dengan judul SQ: Memanfaatkan Kecerdasan Spiritual dalam Berpikir Integralistik dan Holistik untuk Memaknai Kehidupan, oleh Mizan (2001), Danah Zohar dan Ian Marshall mendefiniskan kecerdasan spiritual adalah kecerdasan untuk menghadapi persoalan makna (value), yaitu kecerdasan untuk menempatkan perilaku dan hidup kita dalam konteks makna yang lebih luas dan kaya, kecerdasan untuk menilai bahwa tindakan atau jalan hidup seseorang lebih bermakna dibandingkan dengan yang lain. SQ adalah landasan yang diperlukan untuk memfungsikan IQ dan EQ secara efektif. Bahkan SQ merupakan kecerdasan tertinggi kita.

Sementara itu, Subandi dalam papernya Menyoal Kecerdasan Spiritual yang disampaikan dalam seminar setengah hari “Spiritual Intelligence” yang diselenggarakan oleh PW IJABI Yogya di gedung UC UGM 6 Juni 2001, menguraikan bahwa dalam bukunya SQ, Danah Zohar tampak tidak memberikan batasan secara definitif, tetapi mereka memberikan penjelasan-penjelasan maupun berbagai gambaran yang semuanya berkaitan dengan esensi SQ.

Dari penjelasan-penjelasan Danah dan Ian dalam bukunya, tampak bahwa pengarang sangat menekankan aspek nilai dan makna sebagai unsur penting dari kecerdasan spiritual. Yakni: “SQ adalah kecerdasan untuk menghadapi dan memecahkan masalah makna dan nilai”. (h.4); ‘SQ adalah kecerdasan untuk menempatkan perilaku dan hidup manusia dalam konteks makna yang lebih luas dan kaya (h.4); “Kecerdasan untuk menilai bahwa tindakan atau jalan hidup seseorang lebih bermakna dibandingkan dengan yang lain (h.4); “Kecerdasan ini tidak hanya untuk mengetahui nilai-nilai yang ada, tetapi juga untuk secara kreatif menemukan nilai-nilai baru.

Namun, pada zaman sekarang ini terjadi krisis spiritual karena kebutuhan makna tidak terpenuhi sehingga hidup manusia terasa dangkal dan hampa. Menurut Lisa Kumalanty (2010) dalam jurnal Pendidikan BPK Penabur menjelaskan ada tiga sebab yang membuat seseorang dapat terhambat secara spiritual, yaitu tidak mengembangkan beberapa bagian dari dirinya sendiri sama sekali, telah mengembangkan beberapa bagian, namun tidak proporsional, dan bertentangannya/buruknya hubungan antara bagian-bagian.

Terkait hal ini, dalam artikelnya Lisa menguraikan pelbagai usaha yang dapat digunakan untuk mengatasi krisis spiritual menurut Danah dan Ian dengan memberikan “Enam Jalan Menuju Kecerdasan Spiritual yang Lebih Tinggi” dan “Tujuh Langkah Praktis Mendapatkan SQ Lebih Baik”. Enam Jalan tersebut yaitu jalan tugas, jalan pengasuhan, jalan pengetahuan, jalan perubahan pribadi, jalan persaudaraan, jalan kepemimpinan yang penuh pengabdian. Sedangkan Tujuh Langkah Menuju Kecerdasan Spiritual Lebih Tinggi adalah (1) menyadari di mana saya sekarang, (2) merasakan dengan kuat bahwa saya ingin berubah, (3) merenungkan apakah pusat saya sendiri dan apakah motivasi saya yang paling dalam, (4) menemukan dan mengatasi rintangan, (5) menggali banyak kemungkinan untuk melangkah maju, (6) menetapkan hati saya pada sebuah jalan, (7) tetap menyadari bahwa ada banyak jalan.

Bila SQ seseorang telah berkembang dengan baik, maka tanda-tanda yang akan terlihat pada diri seseorang adalah (1) kemampuan bersikap fleksibel, (2) tingkat kesadaran diri tinggi, (3) kemampuan untuk menghadapi dan memanfaatkan penderitaan, (4) kemampuan untuk menghadapi dan melampaui rasa sakit, (5) kualitas hidup yang diilhami oleh visi dan nilai-nilai, (6) keengganan untuk menyebabkan kerugian yang tidak perlu, (7) kecenderunganuntuk melihat keterkaitan antara berbagai hal (berpandangan holistik), (8) kecenderungan nyata untuk bertanya “Mengapa?” atau “Bagaimana jika?” untuk mencari jawaban yang mendasar, (9) memiliki kemudahan untuk bekerja melawan konvensi.

ESQ
Dalam ESQ, kecerdasan spiritual adalah kemampuan untuk memberi makna ibadah terhadap setiap perilaku dan kegiatan, melalui langkah-langkah dan pemikiran tauhidi (integralistik), serta berprinsip “hanya karena Allah”. Dalam tulisan ini akan diberikan contoh kisah seseorang yang memiliki tingkat kecerdasan spiritual yang tinggi dan “mapan” yang dikutip dari situs (http://wisataoutboundmalang.com/artikel-motivasi-kecerdasan-spiritual-sq/, diakses 24 Januari 2012).

Harry bekerja di sebuah perusahaan otomotif sebagai seorang buruh. Tugasnya memasang dan mengencangkan baut pada jok pengemudi mobil. Itulah tugas rutin yang sudah dikerjakannya selama hampir sepuluh tahun. Karena pendidikannya hanya setingkat SLTP, maka sulit baginya untuk meraih posisi puncak. Saya pernah bertanya kepada Harry bahwa bukankah itu suatu pekerjaan yang sangat membosankan, dia menjawab dengan tersenyum, “Tidakkah ini suatu pekerjaan mulia, saya telah menyelamatkan ribuan orang yang mengemudikan mobil-mobil ini?, saya mengeratkan kuat-kuat kusri pengemudi yang mereka duduki, sehingga mereka sekeluarga selamat, termasuk kursi pengemudi yang anda duduki itu”. Esok harinya saya mendatangi Harry lagi. Saya ajukan pertanyaan, “Mengapa anda tidak melakukan mogok kerja seperti yang lain untuk menuntut kenaikan upah, dan nampaknya saat ini bahkan anda bekerja semakin giat saja?” Ia memandang mata saya, seraya tersenyum ia menjawab “Saya memang senang dengan kenaikan upah itu, seperti teman-teman yang lain, tapi saya memahami bahwa keadaan ekonomi sangat sulit, sehingga perusahaan kekurangan dana, saya memahami pimpinan perusahaan yang juga tentu sedang dalam kesulitan, dan bahkan terancam pemotongan gaji seperti saya. Jadi kalau saya mogok kerja, maka itu hanya akan memperberat masalah mereka”. Lalu ia melanjutkan pembicaraan sambil tersenyum. “Saya bekerja, karena prinsip saya adalah ‘memberi’, bukan hanya untuk perusahaan, tapi untuk ibadah saya.” Setelah lima tahun Harry telah menjadi seorang pengusaha otomotif ternama di Jakarta.

Harry mampu memaknai pekerjaannya sebagai ibadah, demi kepentingan umat manusia dan Tuhannya yang sangat dicintainya. Ia berpikir secara tauhidi dengan memahami seluruh kondisi perusahaan, situasi ekonomi, dan masalah atasannya, dalam satu kesatuan yang esa (integral). Harry mempergunakan prinsip Bismillah dengan tetap bekerja giat dan bahkan lebih giat lagi. Harry berprinsip dari dalam, bukan dari luar, ia tidak terpengaruh oleh lingkungan. Harry adalah seorang raja, raja atas jiwanya. Jiwa yang bebas merdeka dengan prinsip La ilaha illallah. Inilah satu contoh konkret hasil penggodokan kecerdasan emosi dan spiritual –ESQ. Sebuah penggabungan atau sinergi antara kepentingan dunia (EQ) dankepentingan spiritual (SQ). Hasilnya adalah kebahagiaan dan kedamaian pada jiwa Harry, sekaligus etos kerja Harry yang tinggi tak terbatas. Harry menjadi aset perusahaan yang sangat penting. Harryi adalah “rahmatan lil alamiin”.

Belajar dari contoh di atas, kita dapat merefleksikan bahwa SQ adalah kecerdasan yang bertumpu pada bagian dalam diri kita yang berhubungan dengan kearifan di luar ego atau jiwa sadar. SQ menjadikan manusia yang benar-benar utuh secara intelektual, emosional dan spiritual. SQ adalah kecerdasan jiwa. Ia adalah kecerdasan yang dapat membantu manusia menyembuhkan dan membangun diri manusia secara utuh.

Dengan demikian, fungsi SQ antara lain memberikan kemampuan untuk kreatif, memberikan perasaan moral, memberikan kepastian jawaban tentang sesuatu yang baik dan yang buruk. Seperti IQ, tingkat SQ orang per orang berbeda-beda. Orang yang ber-SQ tinggi, memiliki tingkat kesadaran diri yang tinggi dan selalu mawas diri. Juga, kemampuan untuk memanfaatkan dan mentransendenkan kesulitan yang ditemui. “Orang yang cerdas secara spiritual lebih bisa bertanggung jawab terhadap hidupnya,”

Namun, tingkat kecerdasan spiritual tak berbanding lurus dengan keberagamaannya. “Orang yang taat menjalankan ibadah agama bisa jadi kecerdasan spiritualnya rendah, sedangkan seorang ateis bisa jadi malah memiliki kecerdasan spiritual tinggi. Contohnya, orang beragama sering tidak memiliki toleransi kepada penganut agama lain. Idealnya memang, orang yang beragama memiliki kecerdasan spiritual yang tinggi sehingga mereka bisa menghormati keberagamaan orang lain. (Tempo, 4 september 2000)

Mereka yang mempunyai kecerdasan spiritual tinggi akan mampu memaknai setiap peristiwa dan masalah yang dihadapi dalam hidupnya, bahkan dalam penderitaan sekalipun. Dengan memberi makna yang positif, mereka akan mampu membangkitkan jiwanya untuk bersikap dan bertindak secara positif pula. Dan kecerdasan ini juga memungkinkan manusia untuk berpikir secara kreatif, berwawasan jauh kedepan, intuitif, tambah cerdas dan semakin berkesadaran.

Oleh karenanya, bagi mereka yang telah menggunakan kecerdasan spiritualnya, mereka akan menjadi pribadi yang kreatif, intuitif, bisa menerima segalanya secara apa adanya, dan hidupnya akan berbahagia. [ahf]

Perihal masthoni
Alumni Jurusan Matematika Fakultas Sains dan Teknologi UIN Malang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s