(Ada) Siswa Cerdas, Tapi (Dianggap) “Bodoh”


Oleh Abdul Halim Fathani

SUDAH cukup lama banyak orang/pihak yang terlanjur percaya seratus persen pada hasil tes IQ, sampai-sampai tes IQ menjadi salah satu pertimbangan dalam seleksi penerimaan siswa baru di sekolah-sekolah yang me(di)anggap favorit dan unggul. Bahkan, ada beberapa orang tua yang rela membayar mahal kepada lembaga tertentu agar hasil tes IQ anaknya dapat mencapai skor tertentu (sebagaimana yang dipersyaratkan sekolah yang akan dibidik), sehingga bisa diterima di sekolah –yang dianggap- favorit atau unggul tersebut.

Namun, kalau kita melihat realitas di lapangan, ada orang yang memiliki skor IQ tinggi, namun tidak (baca: belum) dapat menjalani kehidupannya dengan sukses dan bahagia. Mereka memiliki skor IQ tinggi, tetapi sering berkonflik dengan orang lain, tidak dapat bekerjasama dengan orang lain, dan parahnya emosinya tidak stabil dan sering marah. Akibatnya, orang tersebut sering mengalami kegagalan dalam mengarungi kehidupannya.

Di sisi lain, ada beberapa orang yang memiliki IQ rendah, tetapi karena didukung dengan sifat ketekunan, ketelatenan, kesabaran, emosi yang stabil, memiliki sikap percaya diri yang tinggi dan selalu optimis, maka dengan mudahnya ia dapat menjalani kehidupan sehari-hari dengan sukses dan bahagia. Jika demikian, lalu bagaimana sebenarnya posisi IQ dalam menentukan kesuksesan hidup seseorang?

Kalau kita renungkan, seandainya ada tiga siswa yang memiliki tingkat IQ yang sama, mereka sama-sama rajin, dan dibelajarkan dengan cara yang sama oleh seorang guru, maka sangat dimungkinkan ketiganya akan menghasilkan nilai matematika yang berbeda. Di sekolah, siswa yang menyandang peringkat teratas, biasanya didominasi oleh siswa yang rajin belajar, memiliki IQ tinggi, nilai akademiknya tinggi, dan biasanya mahir di bidang bahasa dan matematika.

Sementara, siswa yang senang berolahraga, memasak, melukis, memainkan musik dan melakukan pentas teater, dan sebagainya, meskipun pernah menjadi juara pada perlombaan, pihak sekolah jarang, bahkan tidak memberikan apresiasi penghargaan yang sepantasnya. Mereka tidak dilihat sebagai siswa yang cerdas, namun lebih dilihat sebagai siswa yang memiliki bakat di bidang yang digemari.

Melengkapi kenyataan atas masih adanya kekeliruan orang tua dalam memandang kecerdasan, berikut saya kutip cerita yang ditulis Munif Chatib –penulis buku Sekolahnya Manusia- yang dikirim ke inbok saya via facebook, 11 April 2011, jam 19:13, berjudul “ORANGTUA ‘SHOCK’ MELIHAT HASIL TRY OUT ANAKNYA”.

Seorang sahabat ‘shock’ melihat hasil try out anaknya yang kelas 6 SD, nilainya 3 dan sudah diremidi 7 kali. Sebutnya saja nama si anak adalah Amin. Ketika saya berdiskusi dengan guru si Amin ternyata memang Amin tidak mampu untuk mengerjakan soal kognitif matematika. Amin memang punya hambatan untuk berpikir mengerjakan soal matematika. Ketika saya tanya tentang bagaimana strategi mengajar guru. Semua guru Amin mengatakan kami sudah jungkir balik mengajar Amin dengan ganti-ganti strategi. Mulai strategi umum sampai khusus. Ketika try our Ujian Nasional diselenggarakan nilai Amin terpuruk. Ketika hasil itu disodorkan orangtuanya, terutama sang mama, langsung ‘shock’ hampir pingsan sebab akan membayangkan anaknya tidak akan lulus ujian nasional.

Lalu bagaimana seharusnya kita menyikapi hal di atas? Kebingungan, ketegangan dan pikiran untuk ambil jalan pintas tidak hanya ada di kepala orangtua, juga terjadi pada para guru, para kepala sekolah di seluruh Indonesia ketika memasuki bulan-bulan Apri, Mei dan Juni, bulan-bulan krusial Ujian Nasional.

Saya bertanya kepada gurunya, apakah si Amin mempunyai kelebihan yang menonjol. Serempak mereka menjawab, ada! Yaitu musik dan menggambar. Kalau dua hal itu si Amin jagonya. Namun tidak semua orang melihat dua kemampuan Amin itu menjadi sesuatu yang patut dikembangkan dan dinilai dari si Amin. Memang sih, musik dan menggambar memang tidak ada Ujian Nasional-nya dan akhirnya tidak ada try outnya. Coba jika ada try outnya, pasti si Amin akan menduduki ranking 1 dengan nilai sempurna 10.
***

Belajar dari cerita di atas –sungguh- jika kita memperlakukan si Amin secara manusiawi, maka tentu kita tidak akan dapat memaksa si Amin untuk “mempelajari” Matematika, apalagi hanya bertujuan agar dapat dikatakan sebagai siswa yang lulus dalam ujian nasional. Tetapi, seyogianya kita akan mengapresiasi si Amin ketika mengembangkan secara maksimal pada kemampuan musik dan menggambarnya. Dalam teori multiple intelligencesnya Gardner, kemampuan ini termasuk dalam kecerdasan musikal dan spasial.

Dalam bukunya, Armstrong (1999:2) memberikan contoh sehingga diperoleh gambaran tentang kecerdasan. “Jika mobil Anda mogok di tengah jalan, siapakah orang yang paling tepat untuk mengatasi keadaan tersebut? Apakah seseorang yang bergelar doktor dari universitas terkemuka ataukah montir mobil yang berpendidikan SMP? Kalau Anda tersesat di sebuah kota besar, siapakah yang akan sangat membantu Anda? Seorang profesor ataukah anak kecil yang mempunyai kemampuan mengenal arah? Kecerdasan, pada dasarnya bergantung pada konteks, bagaimana kita dapat menyelesaikan suatu problem yang terjadi dalam kehidupan. Jadi, kecerdasan bukan hanya tergantung tingginya IQ, deretan gelar dari perguruan tinggi, atau nilai ujian di sekolah.

Terkait hal di atas, Gardner (1993) mendefinisikan kecerdasan sebagai berikut: kemampuan untuk menyelesaikan suatu masalah yang terjadi dalam kehidupan nyata; kemampuan untuk menghasilkan masalah baru untuk dipecahkan; dan kemampuan untuk menciptakan sesuatu atau menawarkan suatu pelayanan yang berharga dalam budaya suatu masyarakat.

Berpijak pada definisi kecerdasan menurut Howard Gardner di atas, menjadikan kita semakin sadar, bahwa setiap individu adalah cerdas, tidak ada individu yang bodoh. Cerdas yang dimaksud bukan cerdas di segala bidang, melainkan cerdas di bidangnya masing-masing. Seperti si Amin yang memiliki kecenderungan kecerdasan di bidang musical dan spasial.

Dalam praktiknya di kehidupan nyata, hampir semua aktivitas yang dilakukan individu memerlukan kombinasi dari beberapa kecerdasan. Misalnya, untuk dapat menjadi seorang wartawan yang baik, seseorang perlu memiliki kecerdasan linguistik, logis-matematis, dan intrapersonal yang tinggi. Untuk menjadi seorang Arsitek, seseorang perlu memiliki kecerdasan visual-spasial, logis-matematis, kinestetik, dan interpersonal yang tinggi. Bahkan untuk dapat menjadi seorang guru yang berhasil, tentu harus dapat mengombinasikan semua jenis kecerdasan dalam multiple intellegences selama proses pembelajaran berlangsung. Hal ini akan dapat memudahkan siswa dalam menerima informasi yang disampaikan oleh guru. [ahf]

Perihal masthoni
Alumni Jurusan Matematika Fakultas Sains dan Teknologi UIN Malang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s