Penulis (Itu) Bukan Editor


Oleh Abdul Halim Fathani

DALAM pelbagai kesempatan “forum kepenulisan”, baik workshop, talkshow, diklat atau apa pun namanya, biasanya pertanyaan yang seringkali dilontarkan peserta kepada narasumber adalah seputar: Bagaimana caranya untuk menjadi penulis? Bagaimana kiat dan tips jitu agar motivasi menulis terus bertahan? Bagaimana membuat tulisan yang baik dan sesuai ejaan yang disempurnakan (EYD)? Dan, masih banyak pertanyaan serupa lainnya. Tingkat keragaman pertanyaan yang disampaikan peserta pun tidak jauh berbeda. Hampir sama dan selalu terus diulang-ulang. Bahkan, ditengarai ada beberapa peserta yang tergolong sangat aktif mengikuti forum pelatihan menulis, namun –dalam realitanya- belum ada satu pun karya yang ditelorkan. Tetapi, ada seorang yang tidak pernah mengikuti forum kepenulisan sekali pun, namun justru ia sudah melahirkan banyak karya yang menakjubkan.

Mengapa hal di atas bisa terjadi? Bisa saja. Hal ini –salah satunya- disebabkan adanya kesalahan dalam memaknai “Penulis” dan “Editor”. Kita sering menyaksikan beberapa orang yang sedang belajar menulis, setelah menulis beberapa paragraf, kemudian ia berhenti, lalu membaca kembali tulisannya dari awal. Namun, belum sampai membaca hingga akhir, ada beberapa kata yang dicoret atau didelete, kemudian diganti dengan kata-kata lain. Begitu seterusnya. Hingga akhirnya, tulisan yang dicanangkan tersebut tidak sampai pernah berhasil dituntaskan.

Mengapa tulisan tidak pernah terwujud? Hanya ada satu alasan. Karena, tulisannya selalu saja dibaca berulang kali, dicoret, didelete, kemudian diganti dengan kata lain, begitu terus ia lakukan. Jika demikian halnya, maka untuk mengharapkan agar satu tulisan jadi pun agak susah. Bisa jadi tidak pernah ada. Atau, bisa juga berhasil, namun tentu membutuhkan waktu yang tidak sebentar.

Kalau kita membaca ulang definisi penulis. Sederhananya, penulis adalah orang yang menulis. Sementara editor adalah orang yang mengedit suatu tulisan. Jadi, antara penulis dan editor adalah dua hal yang tidak sama. Jenis pekerjaannya tidak sama, honor dan beban kerjanya pun berbeda. Singkatnya, Penulis bukan seorang editor. Tugas seorang penulis adalah “hanya” untuk menulis. Penulis bertugas untuk menghasilkan karya tulis. Baik menulis apa yang ia baca, menulis apa yang telah didengarnya, menulis apa yang pernah dilihat, menulis apa yang sedang dirasakan, menulis apa yang baru saja dipikirkan, menulis apa yang diingat, atau menulis dari mana pun asalnya. Yang penting, pekerjaanya adalah menulis!

Sementara, editor bertugas untuk memastikan sebuah tulisan menjadi layak untuk dipublikasikan. Santosa & Kosasih (2010) dalam bukunya “Kiat Sukses Sang Editor” menjelaskan tugas umum seorang editor adalah merekonstruksi tulisan dari penulis dan memeriksa aksara sehingga naskah yang ada sesuai dengan kaidah bahasa yang berlaku, mengubah struktur kalimat asal (dari penulis) sehingga tingkat keterbacaan tulisan menjadi lebih baik dan tidak mengubah makna yang terkandung dalam isi tulisan tersebut. Dengan demikian, yang “boleh” memeriksa, mencoret, mengubah tulisan adalah seorang editor, bukan seorang penulis. Jika hal ini dilakukan, maka tentu banyak tulisan yang dapat dilahirkan.

Paradigma tersebut, sangat efektif diterapkan bagi penulis pemula. Karena, sebagian besar penulis pemula, ketika membuat tulisan, ia tidak (baca: kurang) memiliki rasa percaya diri yang kuat untuk berani mempublikasikannya. Oleh karenanya, hemat saya, bagi penulis pemula seyogianya tidak perlu merisaukan kualitas sebuah tulisan. Serahkan saja kepada editor. Editor memang sudah tugasnya untuk membuat tulisan yang sebelumnya tidak layak dipublikasikan menjadi tulisan yang layak untuk diketahui khalayak luas.

Pada praktik selanjutnya, kita bisa memainkan peran sebagai seorang penulis dan editor sekaligus. Jadi, setiap kali kita membuat suatu karya tulis, maka kita juga mengedit tulisan yang baru saja dibuat. Bolehkan demikian? Boleh saja dan sangat bagus. Namun, yang perlu digarisbawahi, sebagaimana yang diuraikan di atas, bahwa penulis dan editor merupakan dua hal yang berbeda. Oleh karenanya, ketika kita memerankan dua hal sekaligus, penulis sekaligus editor, maka harus dipertegas, kapan sebagai penulis dan kapan sebagai editor. Pekerjaan sebagai penulis dan sebagai editor harus diatur sebaik mungkin. Dengan demikian, maka tulisan yang kita rencanakan pun akhirnya dapat berwujud suatu tulisan yang layak publikasi.

Kadang, jika suatu tulisan diedit sendiri, masih dimungkinkan kurang percaya diri. Maka, dapat dilakukan editing tulisan secara berlapis. Setelah kita menulis, lalu kita edit sendiri, selanjutnya dapat diberikan editor lain untuk dibaca-periksa kembali. Dan, akhirnya tulisan kita benar-benar dapat dinikmati pembaca. Satu hal yang perlu diperhatikan apabila kita ingin menulis, adalah menulislah sekarang juga![ahf]

Perihal masthoni
Alumni Jurusan Matematika Fakultas Sains dan Teknologi UIN Malang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s