Modus Pembelajaran Abad Pengetahuan


Oleh Abdul Halim Fathani

SETIAP kali pergantian tahun pelajaran baru, bagi orangtua yang memiliki anak usia sekolah yang akan meneruskan pendidikannya lebih tinggi tentu harus berjuang ekstra, terutama menyiapkan segala modal pembiayaan pendidikan. Setiap sekolah tentu tidak sama biaya pendidikannya. Saat sekarang, seolah-olah ketika memilih sekolah, maka harus melihat dulu latar belakang ekonominya. Bagi orangtua yang tingkat ekonominya menengah ke atas, maka “layak” untuk menyekolahkan anaknya di sekolah-sekolah tengah kota dengan bangunan gedung yang megah dan fasilitas representatif. Sementara bagi orangtua yang untuk memenuhi hidupnya sehari-hari saja masih pas-pasan, maka harus merelakan anaknya untuk mengenyam pendidikannya di sekolah-sekolah pinggiran, yang biasanya dikelola dengan sumber dana dan daya secara pas-pasan juga.

Apabila keadaan ini terus berlanjut, dikhawatirkan masa depan generasi bangsa mendatang akan (lebih) memprihatinkan. Mengapa? Karena, kaum intelektual atau generasi pelajar hanya akan dihuni oleh orang-orang berduit. Sementara, golongan ekonomi lemah hanya disilahkan untuk menjadi penonton atau objek dari kemajuan suatu bangsa. Sungguh tidak adil, jika pendidikan “seolah-olah” menjadi lahan bisnis bagi sebagian kecil orang yang “tidak bertanggungjawab” demi meraup kepentingan pragmatis.

Oleh karenanya, perlu sekali melakukan reformulasi pendidikan dan pembelajaran seutuhnya yang manusiawi. Pendidikan seharusnya menempatkan manusia sebagai subjek. Manusia harus diberikan ruang dan waktu yang layak untuk dapat mengenyam pendidikan sehingga memperoleh derajat dan penghargaan yang tinggi. Dan, akhirnya dapat membangun dan mewujudkan peradaban unggul di era kompetitif ini.

Memang, dewasa ini, jika kita berbicara pendidikan telah terjebak pada hal yang formal. Seperti, Bagaimana gedungnya, mewah atau tidak? Apakah ruangan kelasnya ber-AC atau tidak? Apakah guru-gurunya kalau mengajar selalu memakai bahasa Inggris? Apakah guru-gurunya adalah orang yang banyak gelar? Dan sebagainya. Pertanyan-pertanyaan seperti ini, bukan sepenuhnya salah, tetapi juga belum tentu sepenuhnya dapat dibenarkan begitu saja.

Belum lagi, mereka yang menjadikan hasil ujian nasional sebagai parameternya. Kalau siswanya memiliki nilai ujian nasional yang bagus dan dinyatakan lulus semua, maka menunjukkan skolahnya bagus. Sedangkan, jika nilai ujian nasionalnya jelek dan ada siswa yang tidak lulus, maka masyarakat memberi label sekolah tersebut dengan sebutan sekolah yang tidak layak.

Benarkah anggapan demikian? Lagi-lagi, kita dihadapkan pada pilihan yang dilematis. Namun, yang perlu digarisbawahi, bahwa dalam kasus-kasus tertentu memang bisa dibenarkan, tetapi dalam kasus lain, kadang kita temukan praktik yang tidak terpuji terjadi dalam ujian nasional. Pengawas ujian, yang semula menjadi pengawas siswa berubah menjadi pengawas ruangan. Bahkan, adanya praktik penyebaran kunci jawaban dari tim sukses sekolah merupakan salah satu bukti kita tidak bisa –tergesa-gesa- menyimpulkan bahwa kelulusan siswa dalam ujian nasional adalah menunjukkan kemampuan siswa. Hal ini biasa terjadi, karena memang pendidikan saat ini lebih mempercayai hal-hal yang formal dan administratif, bukan pada hal yang realistis.

Terkait hal ini, Wasis D Dwiyogo dalam bukunya “Pembelajaran Visioner” menyatakan bahwa kecenderungan pembelajaran masa kini –sesungguhnya- telah mengubah pendekatan pembelajaran tradisional ke arah pembelajaran masa depan –yang disebut sebagai pembelajaran abad pengetahuan–, bahwa orang dapat belajar: di mana saja, artinya orang dapat belajar di ruang kelas/kuliah, di perpustakaan, di rumah, atau di jalan; kapan saja, tidak sesuai yang dijadwalkan bisa pagi, siang sore atau malam; dengan siapa saja, melalui guru, pakar, teman, anak, keluarga atau masyarakat; melalui apa saja, melalui buku teks, majalah, koran, internet, CD ROM, radio, televisi, dan sebagainya.

Lebih lanjut Wasis menyatakan bahwa ciri-ciri pembelajaran pada abad pengetahuan, yaitu: guru sebagai fasilitator, pembimbing dan konsultan, guru sebagai kawan belajar, belajar diarahkan oleh orang yang belajar, belajar secara terbuka, fleksibel sesuai keperluan, belajar terutama berdasarkan proyek dan masalah, berorientasi pada dunia empirik dengan tindakan nyata, metode penyelidikan dan perancangan, menemukan dan menciptakan, kolaboratif, berfokus pada masyarakat, hasilnya terbuka, keanekaragaman yang kreatif, komputer sebagai peralatan semua jenis belajar, interaksi multimedia yang dinamis, serta komunikasi yang tidak terbatas.

Qaryah ThayyibahPembelajaran visioner merupakan pembelajaran yang dirancang sedemikian rupa dengan menjadikan manusia sebagai subjek dalam pembelajaran sehingga cita-cita belajar sepanjang hayat dapat dikabulkan. Sebagai contoh model pendidikan dan pembelajaran yang tidak “terjebak” pada bangunan fisik gedung sekolah tingkat pendidikan terkahir pengajarnya, jumlah uang SPP yang harus dibayar, dan hal-hal lain yang bersifat formal, maka di bagian akhir tulisan ini, penulis perlu memberikan satu contoh model pembelajaran di SMP Waryah Thayyibah, Salatiga. Uraian ringkas berikut, saya sarikan dari sebuah informasi berjudul “Sekolah tanpa Sekolah: Pendidikan Alternatif Qarya Thayyibah” yang dimuat dalam Majalah UMMI (Online), Edisi: No.7 Tahun XXI, 27 Januari 2010.

Model sekolah Qaryah Thayyibah yang ada di Desa Kalibening, Salatiga, Jawa Tengah ini merupakan sekolah tanpa pagar, tanpa tiang bendera, tanpa bel, tanpa gedung sekolah, bahkan tanpa plang yang menunjukkan bahwa ada sekolah. Itulah sebuah komunitas belajar yang mengusung ide pendidikan alternatif yang muncul dan mengagetkan dunia pendidikan kita yang carut marut ini. Gaungnya tidak hanya bergema di negeri ini namun sudah terdengar hingga kancah internasional.

Keresahan mengenai mahalnya biaya pendidikan merupakan faktor utama yang mendorong Bahruddin, inisiator sekaligus penggerak model pendidikan alternatif di Salatiga mengajukan ide untuk membangun Learning Based Community (pendidikan berbasis komunitas) di desa Kalibening, kecamatan Tingkir, Salatiga. ‘Sekolah’ yang pada awalnya menampung 12 siswa setingkat SMP ini diberi nama Qaryah Thayyibah (QT) yang berarti Desa milik Allah yang dilimpahi keberkahan. Kini QT sudah memiliki 150 siswa setingkat SMP dan SMA.

Pendidikan akternatif yang digagas oleh Bahruddin merupakan konsep yang dia kembangkan sendiri berdasar pengalaman dan buku-buku yang dibacanya. Prinsip dasarnya adalah memberi kebebasan pada siswa untuk belajar apa pun yang mereka sukai. Guru (di QT disebut pendamping) hanya memberikan ide atau masukan, apakah nanti akan diterima anak atau tidak, semua dikembalikan ke siswa.

Pendidikan alternatif yang diusung Bahruddin sebenarnya mendidik anak agar mandiri dalam belajar. Ini hal penting yang justru sering tidak kita dapatkan di dunia pendidikan kita. Anak-anak yang pergi ke sekolah setiap pagi, pulang sore hari, 6 hari selama seminggu, kebanyakan datang ke sekolah lebih sebagai formalitas bukan dengan niat murni untuk menuntut ilmu. Sampai di sekolah pun anak memposisikan diri sebagai ‘wadah’ yang siap menerima apa pun yang diberikan oleh guru. Padahal hakekatnya, anak bukanlah tempat kosong yang tidak berisi apa-apa. Artinya, anak-anak itu sudah memiliki bekal-bekal yang dapat mendorong mereka untuk belajar. Misalnya pengalaman, informasi dari televisi, buku maupun dari tempat lain.
nanti akan diterima anak atau tidak, semua dikembalikan ke siswa.

Hal menarik yang bisa kita dapatkan dari QT ini, anak jadi terbiasa belajar secara mandiri. Bayangkan, jika selama 6 tahun mereka dilatih untuk memilih sendiri apa yang akan mereka pelajari. Juga merumuskan sendiri (bersama teman satu forum) materi yang akan dipelajari dan menyiapkan sendiri segala macam perangkat yang dibutuhkan untuk belajar, maka bisa dipastikan setelah lulus ‘sekolah’ dia tidak akan kesulitan untuk terus belajar meski sudah tidak berada di lingkungan sekolah. Untuk dapat mengetahui secara lengkap mengenai pendidikan alternatif yang dipraktikan SMP Qaryah Thayyibah ini, lebih lanjut pembaca dapat membaca buku berjudul “Pendidikan Alternatif Qaryah Thayyibah” yang ditulis Ahmad Bahrudin, diterbitkan LKiS Yogyakarta, Januari 2007.

Melihat kenyataan di atas, sungguh sangat mengharukan bagi kita semua. Di tengah-tengah sibuknya institusi pendidikan yang terlalu mengurusi hal-hal administratif dan mengesampingkan mutu yang jauh dari realitas, masih ada “cahaya” yang bersinar di pinggiran desa. Qaryah Thayyibah merupakan salah bukti yang menunjukkan bahwa pendidikan, jika didesain secara natural dengan memperhatikan dan mengembangkan potensi setiap anak, maka akan mendapatkan hasil yang bermutu tinggi. Dampaknya, siswa akan menjadi pebelajar sejati sehingga dengan sendirinya akan berwujud hadirnya “learning society”.[ahf]

Perihal masthoni
Alumni Jurusan Matematika Fakultas Sains dan Teknologi UIN Malang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s