JARAK DAN WAKTU


Oleh Abdul Halim Fathani

Pada saat bepergian ke Bangkalan, saya bertanya ke teman saya yang sudah mengerti sekaligus hafal daerah-daerah di Surabaya, yang biasa juga dikenal dengan sebutan Kota Pahlawan. Ketika itu, saya bertanya kepada teman saya, jarak dari terminal Purabaya ke jembatan Suramadu, jauhnya kira-kira berapa? Spontan, teman saya tadi menjawab “Ah, dekat kok, kalau naik sepeda motor sekitar lima belas menit sudah nyampek”.
Dalam kesempatan yang lain, ketika saya berada di terminal Arjosari Malang, orang-orang yang duduk bersebelahan dengan saya –kelihatannya bukan penduduk Malang asli- bertanya ke petugas terminal, “Pak, kalau dari sini (terminal Arjosari) mau ke Kampus UIN Malang jauh apa dekat pak? “Tidak begitu jauh dik, paling-paling cuma 40 menit, kalau naik angkutan umum. Kalau dari sini, silahkan naik AL. Tapi, kalau pakai sepeda motor ya cuma 15 menit sudah nyampek”, begitu jawaban petugas terminal.

Kalau kita mencoba mengamati dua kejadian di atas, akan nampak ada beberapa hal yang secara tidak disadari mengandung ‘salah kaprah”. Dalam kejadian yang pertama, pertanyaannya adalah “Berapa jarak dari terminal Purabaya ke Jembatan Suramadu?” Dan, jawabannya yang diberikan adalah “Lima belas menit”. Sedangkan dalam kejadian kedua, pertanyaannya adalah “Berapa jarak terminal Arjosari ke kampus UIN Malang?” Jawabannya adalah “Kalau naik angkutan umum 40 menit, kalau naik sepeda motor 15 menit”.
Ketika kita masih sekolah di tingkat dasar sampai menengah, kita pernah memperoleh materi matematika tentang Besaran dan Satuan. Kalau kita pahami, besaran adalah segala sesuatu yang dapat diukur yang memiliki nilai dan satuan. Besaran menyatakan sifat dari benda. Sifat ini dinyatakan dalam angka melalui hasil pengukuran. Oleh karena satu besaran berbeda dengan besaran lainnya, maka ditetapkan satuan untuk tiap besaran. Satuan juga menunjukkan bahwa setiap besaran diukur dengan cara berbeda. Ada besaran panjang, waktu, massa, suhu, arus listrik, dan lainnya. Untuk besaran panjang, satuan panjangnya adalah kilometer, hektometer, dekameter, meter, desimeter, centimeter, millimeter. Untuk mengukur besaran waktu, dapat digunakan satuan detik, menit, jam, hari, bulan, tahun, dan seterusnya.

Apabila kita mengukur besaran apa pun, seperti panjang, massa atau kecepatan, terdiri dari angka dan satuan. Misalnya kita mengetahui jarak dua gedung fakultas dalam satu kampus yang dinyatakan dalam satuan meter. Hal ini dapat dapat dikonversi ke dalam satuan centimeter atau kilometer, atau yang lain. Demikian juga, jika kita menyatakan lamanya berkendara dalam satuan menit, maka bisa juga dinyatakan dalam satuan detik atau jam.

Melakukan konversi berarti mengubah. Namun, yang perlu diperhatikan ketika kita melakukan konversi adalah berupaya untuk mengonversi sesuai dengan “tempatnya” Misalnya, ukuran jarak kota, maka tepatnya adalah menggunakan satuan kilometer, bukan centimeter. Kalau mengukur tinggi badan, maka tepatnya adalah centimeter. Begitu juga, untuk menghitung berat emas, maka yang paling sesuai adalah dinyatakan dalam satuan gram, bukan kilogram.

Kembali ke pokok persoalan (pada paragraf pertama dan kedua). Ketika ditanya berapa jarak dari terminal Purabaya ke jembatan Suramadu, lalu dijawab dengan jawaban Lima Belas menit, dan pertanyaan berapa jarak dari terminal Arjosari ke kampus UIN Malang yang dijawab dengan jawaban, jika naik angkutan umum 40 menit sedangkan jika naik sepeda motor 15 menit. Jika ada pertanyaan dan jawaban seperti itu maka bisa dimungkinkan, antara Penanya dan Penjawab sudah faham dan maklum. Mengapa? Karena dengan jawaban sperti itu, penanya sudah mengerti maksudnya. Sebenarnya, yang ditanyakan adalah berapa jaraknya, namun karena dijawab dengan satuan waktu, maka secara spontan, dalam otak penanya berpikir menjadi berapa waktunya, bukan berapa jaraknya.
Konversi besaran
Dilihat dari perspektif konversi satuan, maka pada kejadian ini yang terjadi adalah melakukan konversi, tetapi yang dikonversi bukan satuannya, seperti meter menjadi kilometer, detik menjadi menit, Namun, yang dilakukan adalah melakukan konversi besaran. Dari besaran panjang kemudian dikonversi menjadi besaran waktu. Dilihat dari segi kemudahan, ternyata ketika ada orang yang bertanya berapa jarak dari terminal Purabaya ke jembatan Suramadu, lalu dijawab dengan menggunakan satuan jarak (panjang), tentu akan menyulitkan bagi yang menjawab. Kecuali, sudah ada tulisannya yang menginformasikan jarak sebenarnya. Oleh sebab itu, kesulitan menjawab dengan satuan panjang tersebut dapat diatasi menjawab dengan menggunakan satuan waktu. Jawaban ini tentu dapat diperoleh dengan mudah berdasarkan pengalaman si penjawab.

Mengambil “hikmah” dari kejadian di atas, ternyata mengukur panjang atau jarak tidak hanya dapat diselesaikan dengan satuan panjang, namun bisa juga diselesaikan dengan menggunakan pendekatan satuan yang lain, semisal satuan waktu. Ketika ditanya berapa jarak dari kota A ke kota B, maka jawabannya bukan hanya 10 km, tetapi bisa juga dijawab dengan 30 menit. Begitu sebaliknya, ketika ditanya berapa lama perjalanan dari kota Malang menuju kota Batu, maka bisa dijawab dengan lamanya kurang lebih 30 menit.[ahf]

Perihal masthoni
Alumni Jurusan Matematika Fakultas Sains dan Teknologi UIN Malang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s