Menulis, Menulis, dan Menulis


Oleh A Halim Fathani

Sering dalam acara kepenulisan, baik yang berbentuk seminar, workshop, talkshow, maupun diklat, pemateri/narasumber selalu menawarkan pelbagai kiat praktis untuk bisa menjadi penulis andal. Beragam tema ditawarkan dalam kegiatan tersebut, seperti kiat jitu menjadi penulis ngetop, menjadi kaya dengan menulis, mahir menulis sekarang juga, dan sebagainya. Secara umum, materi yang diberikan terkait motivasi kepenulisan, strategi dan teknik menulis, dan kiat mengirim tulisan ke media massa atau penerbit buku.

Bukan hanya kalangan mahasiswa yang bergairah untuk mengikuti acara-acara kepenulisan, bahkan sejak 3-4 tahun yang lalu, acara seputar peningkatan profesionalisme guru melalui menulis banyak digelar. Akan tetapi, setelah mengikuti kegiatan yang didesain dengan bagus dengan materi kepenulisan, ternyata masih belum mampu menunjukkan keberhasilannya. Tidak sedikit peserta ang sudah tidak lagi memiliki gairah menulis setelah keluar dari ruang pelatihan. Ada yang beralasan, tidak punya laptop, tidak punya motivasi, tidak punya ide, dan beragam alasan klasik lainnya.

“Mengapa untuk menjadi penulis pakai diseminarkan segala. Kalau ingin bisa menulis ya langsung menulis saja, menulis kok didiskusikan, lalu kapan menulisnya?” Begitulah salah satu pernyataan narasumber dalam seminar kepenulisan di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, beberapa waktu yang lalu.

Kalau dengan acara sejenis seminar dan workshop masih belum sanggup menjawab, adakah cara lain untuk membentuk kader penulis? Padahal, di era informasi ini beragam media secara mudah untuk bisa menyalurkan keinginan untuk menulis, seperti media massa, majalah, tabloid, jurnal, buletin, website, blog, Facebook. Intinya, bergantung masing-masing, mau berusaha atau tidak.

Terkait hal ini, penulis Helvi Tiana Rosa pernah berkata, tips jitu untuk menjadi penulis adalah langsung praktik menulis, menulis, dan menulis. Yang penting adalah tulislah apa yang Anda ketahui, jangan menulis sesuatu yang Anda sendiri tidak mengetahui maksudnya. Kalau memang merujuk pada tulisan orang lain, maka cantumkan sumber rujukannya. Setelah tulisan yang Anda buat selesai, selanjutnya bagikan kepada teman-teman di sekeliling Anda, atau juga bisa dibagi via Facebook, dan suruhlah mereka untuk memberi komentar. Atau ada cara yang paling cepat, langsung saja kirim tulisan Anda ke media massa tertentu melalui email dan Anda akan menerima email balasan terkait tulisan Anda. Dengan cara-cara tersebut, maka -perlahan namun pasti- Anda akan bisa segera menjadi penulis.[ahf]

Perihal masthoni
Alumni Jurusan Matematika Fakultas Sains dan Teknologi UIN Malang

One Response to Menulis, Menulis, dan Menulis

  1. Menulis = merakit kata, mengikat makna. Tidak hanya di kertas (atau di blog)

    Ternyata merakit kata dan mengikat makna di pikiran kita ya

    Mantab

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s