Mengakhiri Kontroversi Penyikapan Dampak Hasil UN


Oleh A Halim Fathani

Sampai hari ini, kontroversi mengenai pelaksanaan ujian nasional (UN) belum juga berakhir. Ini menandakan ada sesuatu yang “tidak beres” dalam UN. Begitulah rupanya soal pendidikan, selalu menimbulkan pro dan kontra. Pada dasarnya, antara yang pro dan kontra, semuanya menginginkan pendidikan dibangun atas kepentingan bersama demi meraih masa depan gemilang. Maklumlah selain vital dan strategis, kegiatan pendidikan menyangkut kepentingan banyak orang dan masa depan bangsa. Tetapi, yang jelas UN tahun ini telah tuntas dijalankan. Dan, alhamdulillah secara umum pelaskaanan UN, khususnya di Jawa Timur telah diselenggarakan dengan baik dan lancar, meski ada sedikit “kelalaian”. Bahkan, Senin (26/4) hasil UN tingkat SMA/MA/SMK telah diumumkan serentak secara nasional.

Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, kelulusan siswa pada 2010 ini bukan lagi menjadikan hasil UN sebagai satu-satunya faktor yang menentukan lulus-tidaknya siswa. Namun, untuk menentukan kelulusan siswa, diserahkan sepenuhnya ke masing-masing sekolah. Nilai UN akan disandingkan dengan nilai di masing-masing sekolah untuk menentukan lulus dan tidaknya siswa tersebut. Pihak sekolah (baca: guru) diberi otoritas penuh untuk menentukan kelulusan siswa di sekolahnya.

Di Jawa Timur tercatat 6.555 siswa SMA/MA tidak lulus dan harus mengulang UN. Jumlah ini kalau dipersentasikan hanya 3,17% dari total peserta. Ini menurun dibandingkan tahun lalu yang di atas 4,38%n. Untuk tahun ini di Jatim, peserta UN sebanyak 206.595, dan siswa yang gagal UN 6.555 orang. Rinciannya, untuk siswa SMA dari 142.792 orang yang gagal UN 3.731 atau 2,61%, sementara dari 63.803 siswa MA terdapat 2.824 siswa (4,43%) gagal UN. Berbeda dengan siswa SMK, yang mengikuti UN 2009/2010 sebanyak 138.313 orang. Dari jumlah itu, yang tidak lulus 9.782 siswa atau 7,072%. Jumlah tersebut naik lebih satu persen dibanding hasil UN Tahun Ajaran 2008/2009, di mana 6.174 siswa ( 5,48%) dari 112.562 peserta tidak lulus. (online)

Tidak Lulus = Tidak Bodoh
Setiap dalam evaluasi/ujian, kiranya pasti ada siswa yang lulus dan tidak lulus. Kadangkala ada yang lulus 100 persen, hanya ada beberapa yang tidak lulus, ada pula yang tidak lulus sampai 100 persen. Itu merupakan hal yang wajar terjadi dalam sistem evaluasi pendidikan, tidak perlu dibesar-besarkan dan diada-adakan. Yang penting, segala yang terjadi pasti mengandung hikmah dan menyimpan nilai yang berharga.

Biasanya, dampak yang sering terjadi adalah pihak yang tidak lulus selalu saja memandang negatif terhadap pihak sekolah, bahkan pemerintah. Kadang juga, melayangkan surat protes untuk menggugat hasil UN yang telah diumumkan. Sementara, efek lain yang turut menyertai ketidaklulusan siswa, biasanya adalah stres, mengurung diri di rumah, bahkan ada yang mencoba untuk bunuh diri karena merasa sudah tidak percaya diri dalam bergaul di masyarakat, akibat gagalnya meraih predikat “lulus”.

Jikalau fenomena ini terjadi secara terus-menerus, maka dikuatirkan lambat laun, masa depan generasi bangsa akan hancur-punah. Oleh sebab itu, pemerintah dan pihak lain yang berkepentingan harus terus menyosialisasikan kepada khalayak luas bahwa –saat ini- UN bukan (lagi) menjadi satu-satunya penentu kelulusan siswa. Masih terdapat faktor lain yang perlu dipertimbangkan. Dan, yang berhak mempertimbangkan adalah sekolah (baca: guru) yang sehari-hari bersama dengan siswa. Dengan demikian, rasa trauma UN untuk tahun mendatang –sedikit demi sedikit- akan hilang, dan akhirnya masyarakat akan menyambut UN dengan sikap ramah dan merindukan.

Bagi siswa (lulusan) yang saat ini tidak (baca: belum) dinyatakan lulus UN, maka pesan saya adalah Anda bukanlah siswa bodoh, tetapi Anda memiliki kemampuan bidang lain yang belum tergarap dan terakomodir. Dalam paradigma multiple intelligences, dinyatakan tidak akan ada anak yang “bodoh”. Sebaliknya, dalam paradigma multiple intelligences setiap individu harus mampu digali apa saja yang menjadi potensinya dan setelah ditemukan potensi awalnya maka harus dikembangkan. Dengan demikian, multiple intelligences telah memberikan sebuah “pencerahan”, yaitu kita harus mengakui bahwa setiap individu itu dilahirkan dan membawa potensi masing-masing.

Alhasil, bagi siswa yang belum lulus UN, tidak perlu stres dan minder. Silahkan gali potensi diri Anda yang tidak dimiliki orang lain, gali keunikan Anda, dan kembangkan hingga menemukan jati diri Anda sebenarnya. Sebaliknya, bagi Anda yang dinyatakan lulus UN, jangan tergesa-gesa senang dan menyambut gembira dengan berkonvoi ria. Refleksikan diri Anda, sudah sesuaikah, hasil UN dengan kemampuan Anda yang sebenaranya saat ini. Jika ya, maka Anda harus mengembangkannya. Jika tidak, maka tantangan terberat bagi Anda adalah, bagaimana Anda dapat membuktikan kemampuan Anda sebagaimana yang tercantum dalam hasil UN.

Dengan paradigma multiple intelligences inilah, kiranya pro-kontra terhadap cara menyikapi hasil ujian nasional dapat diakhiri. Dengan demikian, generasi bangsa akan memiliki percaya diri yang cukup yang dilandasi dengan potensi dan keunikan individu masing-masing. Sudah saatnya bagi kita untuk meyakini bahwa tidak ada individu yang bodoh, tetapi setiap individu harus dapat menggali potensi yang dimiliki lalu berusaha maksimal untuk dikembangkan sampai menemukan kondisi akhir terbaiknya.[AHF]

Perihal masthoni
Alumni Jurusan Matematika Fakultas Sains dan Teknologi UIN Malang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s