Bahasa Pengantar dalam Sekolah Internasional


Oleh A Halim Fathani

Akhir-akhir ini, tidak sedikit lembaga pendidikan (baca: sekolah) yang sibuk berbenah diri untuk menyiapkan diri menuju Sekolah Berstandar Internasional (SBI). Program ini mendapat dukungan kuat dari pemerintah –Depdiknas- yang di antaranya dibuktikan dengan program Depdiknas untuk menggelontorkan dana ratusan miliar kepada ratusan SMP dan SMA di hampir semua kabupaten/kota di seluruh Indonesia. Ini proyek prestisius karena akan dibiayai oleh pemerintah pusat 50 persen, pemerintah provinsi 30 persen, dan pemerintah kabupaten/kota 20 persen. Padahal, untuk setiap sekolahnya, pemerintah pusat mengeluarkan 300 juta rupiah setiap tahun-paling tidak selama tiga tahun dalam rintisan tersebut(Dharma, 2009:187).

Realisasi program “internasionalisasi pendidikan” ini juga sesuai dengan apa yang diamanatkan dalam UU Sisdiknas No. 20 Tahun 2003, pasal 50 ayat 3 yang berbunyi, “Pemerintah dan/atau pemerintah daerah menyelenggarakan sekurang-kurangnya satu tujuan pendidikan pada semua jenjang pendidikan untuk dikembangkan menjadi satuan tujuan pendidikan yang bertaraf internasional. Apabila program ini benar-benar dapat berjalan sesuai dengan apa yang diidealkan atau dicita-citakan, insyaallah pendidikan Indonesia akan semakin diakui kualitasnya dalam kancah internasional.

Lalu, pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana bahasa pengantar yang digunakan selama proses pembelajaran berlangsung? Karena bahasa Inggris merupakan bahasa internasional, apakah harus menggunakan bahasa Inggris secara penuh (100%), atau bahasa Inggris dan bahasa Indonesia (50:50), atau perbandingan yang lain. Tetapi, kalau kita melihat kenyataan riil yang ada, masih banyak di sekeliling kita yang tidak begitu mahir dalam berkomunikasi dengan menggunakan bahasa Inggris. Bukan saja bagi siswa, melainkan tidak sedikit para guru juga lemah di bidang bahasa Inggris, terutama saat berkomunikasi dengan lisan.

Bukan hanya itu, permasalahan yang kerap terjadi sampai sekarang adalah masih banyak guru yang kesulitan untuk dapat menyampaikan materi perlajaran yang kemudian dapat dipahami oleh siswa secara utuh (padahal berkomunikasinya dengan bahasa Indonesia). Dengan kata lain, belum ada yang berani menjamin, kalau seorang guru mengajarnya memakai bahasa Indonesia, lalu siswanya dapat memahami apa saja yang disampaikan oleh guru. Kalau melihat hal ini, lalu bagaimana kalau proses pembelajarannya itu dilangsungkan dengan menggunakan bahasa Inggris –dalam rangkan menuju SBI tersebut. Jangan-jangan beban siswa menjadi double, yakni mereka harus berjuang untuk dapat mengerti terjemahan dari bahasa Inggris, baru kemudian siswa berpikir bagaimana memahami materi yang disampaikan guru.

***

Pada Sabtu, 30 Januari 2010, saya mengikuti seminar nasional matematika dan pendidikan matematika di UMM Dome yang diselenggarakan oleh Jurusan Pendidikan Matematika Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Malang. Dalam seminar tersebut, menghadirkan 2 narasumber dari Universiti Pendidikan Sultan Idris (UPSI) Malaysia, Prof. Madya Dr. Noor Sha Saad & Dr. Sazelli Ab. Ghani. Dalam kesempatan itu, Pak Noor Sha Saad menuturkan, bahwa pada tahun 2005, Malaysia menerapkan pembelajaran dengan menggunakan bahasa Inggris untuk bidang ilmu Matematika, Sains, dan Teknologi. Namun, dalam perjalanannya, diperoleh kesimpulan ternyata banyak siswa yang kurang bergairah dalam belajar, dan dampaknya siswa tidak dapat mencapai titik kecemerlangan (baca: keberhasilan) dalam belajar. Oleh karena itu, pada tahun 2011 mendatang, pemerintah Malaysia akan berencana “kembali” menyelenggarakan proses pembelajaran dengan menggunakan bahasa Melayu. Karena, dengan bahasa Melayu ini, akan dapat membuat guru dan siswa semakin komunikatif yang diharapkan dapat mencapai prestasi belajar yang maksimal. Dengan kata lain, pembelajaran yang baik adalah pembelajaran yang diselenggarakan dengan menggunakan bahasa “Ibu”.

Nah, melihat Malaysia seperti itu, bukan lalu Indonesia ikut-ikutan berhenti untuk menge-gol-kan program internasionalisasi pendidikan. Tetapi, menurut saya Indonesia harus dapat menunjukkan akan keberhasilan pelaksanaan internasionalisasi pendidikan. Oleh sebab itu, di samping kita ramai membicarakan SBI (baca: RSBI), pihak sekolah juga harus mempersiapkan sejak dini bagaimana siswa dapat bergairah untuk belajar bahasa Inggris, tetapi –yang penting- tidak melupakan bahasa Ibu. Jika hal ini dapat direalisasikan, maka siswa-siswa Indonesia akan tetap memiliki jiwa nasionalisme yang tinggi, tetapi juga memiliki jiwa dan cara pandang yang luas ke depan. Karena, harus diyakini, bahwa tantangan generasi Indonesia ke depan, bukan tambah enteng, melainkan menjadi lebih kompleks. Dengan demikian, program internasionalisasi tetap harus dikawal secara terus-menerus, tetapi tidak boleh meninggalkan mental nasionalisme. [ahf]

Perihal masthoni
Alumni Jurusan Matematika Fakultas Sains dan Teknologi UIN Malang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s