Tidak Ada Kecerdasan yang Lebih Baik/Lebih Jelek


Oleh A Halim Fathani

Dulu, sewaktu masih studi di salah satu sekolah menengah di Lamongan, pihak sekolah (baca: kepala sekolah) menerapkan kebijakan “aneh”. Di sekolah saya tersebut, menerapkan sistem peringkat paralel. Siswa yang se-angkatan dengan saya waktu itu berjumlah kurang lebih 350. Akibatnya dengan sistem paralel, akan ada siswa yang memiliki peringkat kesatu, kedua, ketiga, hingga siswa yang mempunyai peringkat ketiga ratus lima puluh. Dan, setiap kelas ada 50 puluh siswa, sehingga terdapat 7 rombongan kelas. Kelas A diisi dengan siswa yang berperingkat 1-50, kelas B diisi oleh siswa yang berperingkat 51-100, begitu seterusnya siswa yang memiliki peringkat 301-350 menempati kelas yang ketujuh (kelas G).

Dalam kesehariannya, nampak jelas bahwa siswa yang berada di kelas A, pada umumnya mereka belajar secara serius, nurut, dan disenangi para guru. Sementara bagi siswa yang berada di urutan kelas terakhir, umumnya mereka “tidak bisa diam”, mereka suka ke kantin ketika jam pelajaran kosong, biasanya ada siswa yang membawa alat musik ke kelas, lalu menyanyi bersama, jarang sekali mereka belajar, biasanya mereka tidak tahan jika duduk lama dikelas, tetapi senang ketika pembelajaran dilakukan di luar kelas, dan umumnya mereka lebih menyenangi pelajaran kesenian dan olahraga.

Selain itu, saya juga mempunyai teman yang berada di kelas B, kalau tidak salah ia menempati peringkat ke-72. Ia –dianggap oleh kebanyakan teman dan guru- memiliki kecerdasan luar biasa, terutama pada waktu pelajaran matematika dan bahasa Inggris. Ia selalu semangat belajar ketika waktunya pelajaran tersebut. Tetapi, ketika pelajaran olahraga, (hampir) tidak pernah ikut, sehingga ia tidak dibolehkan mengikuti ujian akhir semester (UAS) dan akibatnya ia dinyatakan tidak naik kelas. Padahal –seingat penulis- teman saya tadi pernah mewakili sekolah untuk mengikuti lomba cerdas cermat pelajaran matematika di tingkat propinsi dan berhasil mendapat juara. Karena dinyatakan tidak naik kelas, akhirnya ia memutuskan untuk berhenti sekolah. Tetapi, -ternyata- pada saat ada kawan yang berkunjung ke rumahnya, ia telah diangkat menjadi pembimbing siswa-siswa SMA di dekat rumahnya dalam rangka mempersiapkan olimpiade matematika. Kelihatannya tidak masuk akal. Ia berhenti sekolah, gara-gara tidak naik kelas (tidak pernah lulus SMA), tetapi anehnya ia justru dipercaya oleh SMA yang berdekatan rumahnya untuk membimbing siswa dalam rangka persiapan olimpiade matematika.

***

Kalau kita merenungkan beberapa “kasus” di atas, maka kita akan sering menjumpai kasus serupa di banyak sekolah. Bisa saja, jika praktik yang terjadi di sekolah masih dipertahankan dengan model-model seperti di atas, maka sedikit-banyak akan ada siswa yang “dikorbankan” dan ada juga siswa yang justru “diuntungkan”. Kalau selama ini, pihak sekolah lebih banyak menghargai siswa yang berkemampuan bahasa dan matematika, sementara siswa yang memiliki kecerdasan di bidang musik, kinestetik, spasial menjadi terabaikan. Padahal, Gardner menyatakan bahwa masing-masing kecerdasan itu tidak ada yang lebih baik dan juga tidak ada yang lebih jelas. Masing-masing kecerdasan memiliki derajat yang sama.

Hemat penulis, sudah saatnya kita menengok pada teori kecerdasan yang dicetuskan oleh Howard Gardner. Suatu sekolah (baca: guru) harus mampu mengenali kecerdasan setiap individu siswa. Dengan demikian, guru dapat menghargai setiap individu siswa, yakni menyesuaikan gaya mengajar dengan gaya belajar siswa. Dan, yang penting guru harus mampu mengembangkan kecerdasan siswa, bukan membentuk siswa. [ahf]

Perihal masthoni
Alumni Jurusan Matematika Fakultas Sains dan Teknologi UIN Malang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s