Lebih Akrab dengan Howard Gardner


Oleh A Halim Fathani

Howard Gardner lahir 11 Juni 1943, ia masuk Harvard pada tahun 1961, dengan keinginan awal, masuk Jurusan Sejarah, tetapi di bawah pengaruh Erik Erikson, ia berubah mempelajari Hubungan-Sosial (mempelajari ilmu Psikologi, Sosiologi, dan Antropologi secara integratif), dengan konsentrasi di Psikologi Klinis. Lalu ia terpengaruh oleh psikolog Jerome Bruner dan Jean Piaget. Setelah memperoleh gelar Ph.D di Harvard pada tahun 1971 dengan disertasi masalah “Sensitivitas pada anak-anak”, Gardner terus bekerja di Harvard, di Project Zero yang didirikan pada tahun 1967 (Alwi, tt).

Howard Gardner adalah co-director pada Project Zero, yang merupakan sebuah kelompok riset di Harvard Graduate School of Education. Project Zero dikhususkan kepada kajian sistematis pemikiran artistik dan kreativitas dalam seni, serta humanistik dan disiplin ilmu, baik di tingkat individu dan kelembagaan. Dari Project Zero yang menelurkan teori Multiple Intelligences (MI), Gardner melanjutkan dan mengembangkan aplikasi MI paa Project Spectrum (Gunawan, 2007:105).

Lebih lanjutm Gunawan (2007:105) dalam bukunya yang berjudul “Born to be a Genius” menjelaskan bahwa Project Spectrum adalah suatu program penilaian dan kurikulum untuk anak pra sekolah yang bertujuan mengetahui kemampuan MI anak-anak tersebut. Pada Project Spectrum, anak yang senang musik akan diberi pelajaraan menarik yang berkenaan musik dengan menggunakan alat musik yang dikenal dan disukai oleh anak tersebut. Kemampuan logika, visual-spasial, dan kinestetik anak diuji dengan meminta mereka untuk membongkar dan memasang kembali objek-objek yang dapat dijumpai di rumah atau di sekolah seperti handel pintu. Kecerdasan lain juga diuji dengan menggunakan teknik dan materi yang sesuai.

Gardner mengusulkan dalam bukunya, Frames of Mind: The Theory of Multiple Intelligences (1983), bahwa kecerdasan memiliki tujuh komponen, meliputi kecerdasan verbal-linguistik, kecerdasan logis-matematis, kecerdasan visual-spasial, kecerdasan ritmik-musik, kecerdasan kinestetik, kecerdasan interpersonal, dan kecerdasan intrapersonal (Lwin, dkk. (2004:2). Kemudian, sesuai dengan perkembangan penelitian yang dilakukannya, Gardner lalu memasukkan kecerdasan kedelapan dalam multiple intelligences, yakni kecerdasan naturalis (Gunawan, 2007:106). Selanjutnya, Murtanto (2002:250) dalam buku “Sekolah para Juara” yang merupakan terjemahan dari buku “Multiple Intelligences in The Classroom yang ditulis Thomas Armstrong (2000) menjelaskan bahwa, pada tahun 1999, Gardner menulis tentang “kemungkinan” adanya kecerdasan yang kesembilan, yakni kecerdasan eksistensial.

Dalam buku tersebut, dituliskan bahwa Gardner mendefinisikan kecerdasan eksistensial sebagai “minat pada masalah-masalah pokok kehidupan”. Gardner mempertimbangkan untuk memasukkan kecerdasan ini ke dalam teori MI, karena tampaknya kecerdasan ini memenuhi sebagian besar kriteria yang dia tetapkan untuk dapat disebut kecerdasan. Sambil berseloroh, dia menyatakan bahwa sekarang dia memiliki 8,5 kecerdasan. (Murtanto, 2002:251).
***

Berpijak pada teori kecerdasan yang ditemukan Howard Gardner di atas, menjadikan kita semakin sadar, bahwa setiap individu adalah cerdas, tidak ada individu yang bodoh. Cerdas yang dimaksud bukan cerdas di segalan bidang, melainkan cerdas di bidangnya masing-masing. Chatib (2009:69) dalam bukunya “Sekolahnya Manusia” menyontohkan fakta yang sering terjadi di masyarakat. “Setiap kali kita dimitai menilai siapa yang lebih cerdas: Bill Gates, J.K. Rowling, Oprah Winfrey, atau almarhum Munir, S.H.? Atau siapa yang paling cerdas dari tokoh-tokoh dan ilmuwan-ilmuwan terkenal? Banyak yang kebingungan untuk menjawabnya”.

Atau, kalau kita mengambil contoh yang lebih dekat dengan kita, misalkan di sekolah A, kita ditanya siapa guru yang mengajar di sekolah A yang cerdas? Tentu, kita akan kebingungan. Jika kita jawab, yang cerdas adalah si X (guru matematika), sementara siswa yang lain menjawab “Bukan si X, tapi yang cerdas adalah si Z (guru seni musik), begitu juga yang lain mengajukan guru yang lain. Dari sini, sudah kelihatan bahwa sebenarnya setiap guru merupakan individu yang cerdas di bidangnya masing-masing.

Nah, teori multiple intelligences yang digagas Howard Gardner ini akan merekonstruksi paradigma kecerdasan yang selama ini kita pahami. Akibatnya, kita harus mengakui bahwa tidak ada individu yang bodoh, setiap individu adalah cerdas di bidangnya masing-masing. [ahf]

Perihal masthoni
Alumni Jurusan Matematika Fakultas Sains dan Teknologi UIN Malang

One Response to Lebih Akrab dengan Howard Gardner

  1. Riana Dyah Suryaningrum mengatakan:

    Saya salah satu penggemar Howard Gardner dan sangat ingin tau lebih jauh tentang beliau. Bisakah anda memberikan informasi-informasi lain tentang apa saja dari seorang Howard Garner? Saya tunggu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s