Puasa, antara Kebutuhan dan Kewajiban Spiritual: Sebuah Refleksi


Oleh A Halim Fathani Yahya

Ramadlan telah hadir diikuti dengan menjalankan ibadah puasa. Apakah kedatangannya akan memperkaya keberagamaan kita, tergantung bagaimana kita menjalaninya. Religiusitas secara khusus begitu dekat dengan umat Islam. Setiap siang hingga malam hari alunan ayat suci hingga penceramah terdengar di mana-mana, dari masjid, mushala hingga tempat lain. Fenomena ini dapat disebut nuansa religius jika ukuran yang dipakai sekadar merujuk simbol agama, kesemarakan ritual, dan sejenisnya. Namun, jika parameter yang digunakan adalah substansi ajaran agama, kita mungkin sepakat, religiusitas keberpuasaan yang selama ini mentradisi di Indonesia (di sekeliling kita) masih jauh dari nilai-nilai keberagamaan hakiki.Banyak orang yang berpuasa, tetapi perilakunya sama sekali tidak mencerminkan nilai-nilai puasa.

Sebagian menyikapi puasa sekadar tradisi dalam kehidupan yang nyaris tanpa perubahan. Yang lain menjalankan puasa untuk menunjukkan keangkuhan melalui tindakan yang merugikan orang lain. Karena itu, bulan Puasa tiba, lalu berlalu, tetapi tidak ada gejala signifikan menuju proses pencerahan kehidupan, individual maupun sosial. Ali ibn Abi Thalib, dalam kitab Nahj al-Balâghah, mengatakan, ada tiga kelompok manusia yang menjalankan ibadah. Kelompok pertama, orang beribadah karena menghendaki keuntungan. Itu ibadah pedagang. Kelompok kedua, orang beribadah karena takut siksa. Itu ibadah budak. Kelompok ketiga, orang yang beribadah hanya karena bersyukur kepada-Nya. Itulah ibadah orang merdeka.

Kehidupan manusia adalah kehidupan yang penuh misteri, bukan karena asal mula kejadiannya yang kompleks, tetapi juga perjalanan kehidupannya yang tidak pernah dapat dipastikan. Secara individual tidak pernah ada peristiwa di mana seseorang terlibat dalam proses kejadian penciptaan dirinya, sejak dari proses dalam kandungan sampai kelahirannya. Seseorang lahir dalam ketidakberdayaan sempurna tidak mampu untuk menghidupi diri sendiri, sepenuhnya tergantung perawatan dan kasih sayang ibu atau orang lain. Ia lahir dengan warna kulit dan jenis kelamin yang sudah melekat tanpa ada persetujuan lebih dulu dari dirinya, demikian juga yang berkaitan dengan hari, tanggal, tempat, dan jam serta caranya keluar dari rahim ibunya. Hal sama terjadi dengan kematiannya. Seseorang tidak pernah tahu pasti kapan ajal kematian akan menjemputnya dan dengan cara bagaimana kematian datang

Maka dalam ibadah puasa, seseorang belajar betapa berat menahan haus dan lapar dalam kehidupan normal, sebagai proses pelepasan memasuki dimensi pengalaman spiritual yang aktual. Pada saat dorongan jasmani membutuhkan makan dan minum dan melampiaskan hasrat seksual di siang hari, ia harus segera menahannya. Tidak boleh hanya sampai di situ, karena yang lebih penting dalam puasa adalah munculnya kesadaran transendental dengan menahannya, lalu mengantarkan seseorang memasuki pengalaman spiritual yang mencerahkan.

Pengalaman spiritual yang diolah dan dimaksimalkan melalui qiyamul-lail, yaitu bangun malam untuk melakukan shalat, memperbanyak dzikir dan pikir mengenai perjalanan hidupnya akan menjadi proses pembebasan rohani untuk memasuki pengalaman berada di sisi Tuhan. Karena itu, jika puasa seseorang hanya sampai pada kemampuan menahan rasa haus dan lapar saja, tetapi tidak dilanjutkan dengan olah batin guna memasuki dan mengalami hidup dalam realitas spiritual, puasanya hanya menyentuh dimensi fisik saja, ia hanya merasakan kehausan dan kelaparan yang melelahkan.

Dimensi spiritualitas puasa terasa amat diperlukan, di saat kehidupan modern semakin intensif menawarkan kenikmatan dan kesenangan jasmani yang hanya sesaat, apalagi dihadapkan pada sempitnya waktu dan terburu-buru, membuat banyak orang yang jatuh dalam perbuatan bodoh, yang kemudian amat disesalinya. Maka ibadah puasa adalah masa jeda di mana manusia mengambil jarak dengan kepentingan dan kesenangan yang bersifat fisik dengan menghitung baik buruknya dan untung ruginya secara spiritual. Karena itu, ibadah puasa amat mengasyikkan dan selalu ditunggu-tunggu datangnya.

Pencapaian puasa batin meniscayakan umat Islam melakukan ibadah dengan penuh ketulusan. Salah satu rukun Islam dilaksanakan dalam rangka penyucian diri, memperkaya spiritualitas; bukan karena beban agama, apalagi menganggapnya tradisi yang mengungkung. Ketulusan menyadarkan mereka menelanjangi kelemahan diri masing-masing. Berangkat dari kelemahan itu, mereka melakukan proses menuju pembenahan dan perbaikan diri. Dengan demikian, setiap menjalani puasa, mereka berusaha melakukan perubahan transformatif yang mengantar ke dalam kehidupan lebih berarti, bukan hanya bagi diri sendiri tetapi semua manusia.
Ironinya, puasa yang kita jalani justru dapat dikatakan nyaris absen dari nilai ketulusan. Kita berpuasa lebih disebabkan sesuatu selain Tuhan; demi, misalnya, masuk surga atau demi menunjukkan tingkat keberagamaan kita kepada orang lain. Tidak heran jika sebagian dari kita yang berpuasa justru mengedepankan kesombongan, menganggap lebih baik dari yang lain, bahkan menyebarkan kekerasan karena dibuai angan-angan sebagai orang yang telah mendapat mandat dari Tuhan untuk melakukan apa saja bagi orang lain. Maka, puasa bukan lagi meningkatkan spritualitas dan religiustitas, tetapi tanpa disadari mendegradasikannya.

Fenomena ibadah untuk mencari keuntungan kini amat tampak. Berbagai ceramah keutamaan Ramadhan sebagai bulan penuh berkah: sepuluh awalnya rahmat, sepuluh tengahnya ampunan, dan sepuluh ujungnya pelepasan dari neraka. Terlebih, di bulan Ramadhan, ada satu malam yang bernilai seribu bulan (lailatul qadar). Hampir setiap penceramah mengungkap hal ini, dan mengatakan, siapa pun yang melakukan ibadah sunat pada bulan Ramadhan, niscaya nilainya dicatat sebagai ibadah wajib; siapa yang melakukan ibadah wajib, nilainya dilipatgandakan berpuluh bahkan beratus kali lipat. Kita pun ramai-ramai berebut pahala. Kita pikir, rangkaian ibadah selama bulan suci ini insya Allah akan menghapus dan mengimbangi pelbagai kekurangan, bahkan menghapus kejahatan— korupsi, penipuan, pemerkosaan hak-hak orang lain, dan lainnya—yang dilakukan sebelas bulan sebelumnya. Inilah mental pedagang yang dimaksud Ali ibn Abi Thalib.

Salah satu sebab yang tampaknya memicu kecenderungan melakukan ibadah ala pedagang adalah karena banyak ulama memberi tekanan lebih besar pada ajaran-ajaran eskatologis. Menurut tinjauan Jane I Smith Yvonne Y Haddad (1996: 2), hal itu awalnya dilakukan guna membentengi umat Islam dari pengaruh materialisme Barat. Namun, kecenderungan ini memberi dampak negatif, yakni terkikisnya nilai-nilai sosial dan kemanusiaan dalam ibadah. Akibatnya, ibadah hanya dipandang sebagai kewajiban manusia kepada Tuhan dan bekal menghadapi Hari Pengadilan.

Bukti nyata fenomena ini adalah shalat. Nabi menyatakan, shalat adalah tiang agama, penanda keberislaman seseorang. Al-Quran menegaskan, shalat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar. Namun, kenyataannya, shalat sama sekali tidak berpengaruh pada perubahan sikap dan perilaku. Shalat tak membuat kita lebih menyayangi sesama, tak bisa mencegah kita menggunjingkan orang lain; tak kuasa menahan tangan untuk memalsu data dan me-mark-up anggaran, tak bisa mengendalikan tangan untuk merusak hutan.

Begitu banyak pejabat yang tak pernah tinggal shalat lima waktu seraya tak segan menghabiskan uang rakyat. Begitu banyak pengusaha diceritakan sering puasa Senin-Kamis, tetapi enggan menghargai hak-hak pekerjanya. Begitu pun pekerjanya. Banyak di antara mereka tak pernah tinggal shalat, tetapi mereka tak sungkan memalsu data, mengurangi kadar timbangan, dan mengorupsi uang kantor. Semua ini diakibatkan pementingan nilai-nilai akhirat ketimbang dunia. Semestinya, sebagaimana ditandai rukun shalat yang terakhir, shalat yang dilakukan bisa melahirkan kedamaian (salam) dan bisa membuat kita lebih menghargai hak-hak manusia. [ahf]

Perihal masthoni
Alumni Jurusan Matematika Fakultas Sains dan Teknologi UIN Malang

One Response to Puasa, antara Kebutuhan dan Kewajiban Spiritual: Sebuah Refleksi

  1. johnnduwo mengatakan:

    waaah tulisan yang bagus b

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s