Memadu Filsafat Sains


Oleh A Halim Fathani Yahya

Filsafat SainsDewasa ini, banyak ilmuwan muslim mengembangkan sains modern, namun tanpa mengenali landasan filosofisnya. Mereka menyadari bahwa sains yang dikerjakan di laboratorium atau yang ditulis dalam buku-buku teks diperoleh melalui pendidikan modern ala Barat. Dominasi Barat atas dunia Islam, mendorong umat Islam mengadopsi konsep-konsep Barat secara buta. Hal ini mengakibatkan kerancauan di kalangan umat Islam dan menjauhkannya dari paham tauhid yang hakiki. Selain itu, juga dapat menghilangkan jati diri, merendahkan harkat dan martabat, serta meruntuhkan kredibilitas moralnya. Untuk itu, perlu segera dicari konsep filsafat sains yang berlandaskan al-Qur’an.

Buku Filsafat Sains dalam Al-Qur’an ini hadir untuk menjawab kegelisahan tersebut. Disadari atau tidak, sampai saat ini masih banyak para teoritisi dan praktisi muslim yang masih mempertahankan pandangan yang usang bahwa sains modern merupakan value-free, padahal sains modern sarat dengan muatan nilai pragmatis, positivistis, dan materialistis Barat. Sains modern dikenal memiliki kontribusi positif dalam peningkatan fasilitas hidup masyarakat, tetapi ia juga menyisakan dampak negatif. Oleh karenanya, sains modern tidak dapat dikatakan sebagai value-free tetapi lebih tepat value-laden. Atas dasar itu, sains modern tidak dapat dikatakan bersifat universal tetapi lebih bersifat western sentris.

Nah, tugas pokok filsafat sains Islam adalah membedah penyakit-penyakit pemikiran dalam sains Barat, dengan mempertanyakan secara kritis dan mendasar terhadap pandangan dan asumsi-asumsi dasarnya, mengidentifikasi aspek-aspek positif dan negatifnya, serta mengomparasikan dengan pandangan Islam agar dapat ditarik secara jelas dan tegas garis pemisah antara persamaan dan perbedaannya dalam paradigma Islam. Selain itu, filsafat sains Islam juga harus senantiasa melakukan penggalian terhadap prinsip-prinsip dasar ajaran Islam agar dapat dijadikan sebagai landasan pengembangan sains masa kini. Jika hal tersebut sudah dilakukan, maka upaya mengintegrasikan sains Barat ke dalam Islam–dengan mengeliminasi aspek-aspek negatif yang bertentangan dengan Islam–menjadi lebih bermakna (hlm. 7).

Oleh sebab itu, usaha-usaha integrasi sains perlu dilakukan dengan mempertimbangkan aspek-aspek di atas, serta memahami filsafat sains Islam. Jika hal itu sudah dilakukan, maka integrasi sains dapat membuka era dan visi baru dalam berbagai bidang ilmu. Sarjana muslim perlu mengidentifikasi dan menganalisis secara mendasar akar masalah sains modern serta berupaya untuk mencari solusinya. Perlu terus ditumbuhkembangkan kesadaran global di kalangan kaum intelektual muslim akan bahaya sains sekuler terhadap keimanan umat Islam. Perlu juga mengenali perbedaan yang fundamental antara filsafat sains sekuler vis-à-vis filsafat sains Islam, serta pentingnya mengganti konsep filsafat sains sekuler dengan filsafat sains.

Buku ini juga mengupas pendapat berbagai tokoh filsafat terkait dengan ilmu dan ketauhidan, di antaranya: Ibn Hazm menyatakan bahwa ilmu dan iman berasal dari sumber yang sama dan keduanya merupakan pemberian dari Tuhan untuk tujuan yang sama, yaitu menerima secara totalitas kebajikan sebagaimana ditentukan Tuhan dalam al-Qur’an dan Hadis yang sahih. Menurut Sayyid Qutub, ilmu merupakan kesatuan pemikiran dan tindakan. Menurutnya, tindakan tidak berada di luar bidang ilmu, namun merupakan unsur ilmu yang esensial. Oleh karenanya, terdapat kesatuan antara ilmu, iman, dan amal.

Singkatnya, terdapat kesatuan antara ilmu, iman, dan amal dalam Islam. Sebaliknya, konsep ilmu Barat sekuler meniadakan dan memisahkan iman dari ilmu, sehingga ilmu di sana melahirkan saintis tanpa iman. Ilmu pengetahuan tanpa keyakinan terhadap ke-Esa-an Tuhan, akan menyesatkan dan bahkan anti terhadap agama. Ilmu tanpa hidayah dan hikmah membuat para ilmuwan kian jauh dari keimanan.

Dengan menggunakan bahasa tulis yang ringan, membuat buku ini mudah dipahami oleh siapapun pembacanya mulai dari Dosen, intelektual muda, mahasiswa, masyarakat umum atau siapa saja yang ingin mengetahui lebih jauh tentang perseteruan antara filsafat sains Barat dan filsafat sains Islam dapat menikmati kajian dalam buku ini. Penulis menyajikan secara detail konsep filsafat ilmu sebelum terformulasi sebagai cabang dari filsafat hingga melacak akar filsafat sains dalam perspektif Islam. Sehingga buku baru ini, patut untuk dijadikan pijakan dalam mengembangkan sains modern yang berporos pada konsep tauhid. Dengan berupaya memahami konsep yang terdapat dalam buku ini, diharapkan perkembangan sains modern dewasa ini, dapat menuju ke arah yang positif dan zaman keemasan peradaban Islam dapat terulang kembali. Semoga![ahf]

Identitas Buku:
Judul Buku : Filsafat Sains dalam Al-Qur’an: Melacak Kerangka Dasar Integrasi Ilmu dan Agama
Penulis : HM. Hadi Masruri & H. Imron Rossidy
Penerbit : UIN-Malang Press
Cetakan I : Agustus 2007
Tebal : vii + 136 Halaman

Perihal masthoni
Alumni Jurusan Matematika Fakultas Sains dan Teknologi UIN Malang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s