Meruwat Tradisi Menulis


Oleh A Halim Fathani Yahya

Berbicara tentang menulis, biasanya yang sering dipermasalahkan adalah saya tidak punya bakat menjadi penulis, saya sulit mencari ide untuk menulis, saya tidak ada waktu untuk menulis, dan seterusnya. Padahal, di bangku sekolah dasar hingga menengah, bahkan sampai di perguruan tinggi, oleh guru bahasa Indonesia kita sudah pernah diajar menulis. Memang, kebanyakan materi yang diperoleh dalam pelajaran tersebut adalah materi teoritis, sedangkan praktik menulis jarang dilakukan. Efeknya, menulis tidak menjadi sebuah kebiasaan bahkan kebutuhan, melainkan kebanyakan di antara kita hanya menjadikan menulis sebagai ilmu pengetahuan (baca: teori) saja. Dan, lebih parah lagi sebagian besar di antara kita memiliki anggapan (keliru) bahwa untuk bisa menulis diperlukan “kecerdasan” spesial.

Apabila kita menengok pada sejarah para ulama’ kita, maka kita dapat memastikan bahwa hampir para ulama’ tersebut mewariskan ilmunya dengan sebuah tulisan dalam berbagai kitab. Dan, isi kitab yang ditulisnya pun memiliki kadar kualitas yang berbobot dan menjadi referensi umat sepanjang zaman. Namun, tradisi yang demikian itu, semakin lama semakin punah. Sulit rasanya kita mencari generasi umat Islam yang mewariskan “kita” pegangan hidup. Padahal, tidak dapat dipungkiri, waktu demi waktu, ulama kita secara bergiliran akan meninggalkan kita. Tentu, hanya ada satu cara untuk menyelamatkan pikiran-pikiran mulai para ulama tersebut. Hanya dengan menulis, menulis, dan menulis.

Mari kita renungkan, firman Allah swt dalam surat al-Alaq ayat pertama, Iqra’ bismirabbikalladzi khalaq. Sebuah anjuran Allah swt kepada kita untuk membaca. Hal ini menunjukkan suatu makna yang penting, dalam, dan luas. Membaca bisa berarti suatu perintah/kewajiban agar manusia senantiasa belajar sepanjang hayatnya. Membaca juga bermaksud tidak sekedar bermanfaat bagi diri sendiri, tetapi menyebarkan, mengembangkan hasil bacaan menjadi informasi, ilmu pengetahuan yang bermanfaat bagi orang lain. Membaca akan semakin berfaedah apabila mengolah, menyajikan kembali seluruh hasil bacaan menjadi bentuk tulisan, sehingga informasi dan ilmu pengetahuan tetap awet, terjaga dalam masa yang lama dan bisa memberikan manfaat kepada generasi berikutnya. Membaca juga berarti selain membaca yang tertulis juga membaca yang tidak tertulis, yang tersirat, membaca alam, kebesaran dan keagungan Tuhan. Membaca juga berarti (bernilai sangat tinggi) apabila atas nama Tuhan yang telah menciptakan bacaan, tulisan, dan alam semesta. Barang siapa pandai membaca (alam tanda kekuasaan Tuhan), maka ia akan mudah mengenal siapa Pencipta alam tersebut, dan mengenal hakikat keberadaan dirinya sendiri.

Dalam salah satu surat Al-Qur’an ada surat yang bernama pena (Q.S. al-Qalam (68), yang berisikan keterangan tentang tulisan dan alat yang digunakan untuk menulis yaitu pena (qolam). Ayat keempat dari Q.S. Al-‘Alaq menyebutkan secara tegas bahwasanya Allah mengajar manusia melalui perantaran sarana, media, alat tulis yaitu qolam. Al-Quran sendiri sebagai pedoman hidup terbesar bagi manusia sepanjang masa merupakan bukti bahwa Allah mengajarkan manusia melalui perantaraan pena, alat yang menghasilkan tulisan. Karena itu Al-Quran juga disebut sebagai al-Kitab (yang ditulis).

Rasulullah saw bersabda: “Ikatlah ilmu dengan tulisan.” (Riwayat Tabrani dan Hakim, keduanya menyatakan sebagai hadis sahih dan disetujui oleh Al-Albani). Ketika Abu Bakar r.a. atas usulan Umar al-Khattab r.a. memerintahkan Zaid bin Tsabit r.a. agar mengumpulkan al-Quran yang masih berada di dada-dada para sahabat, untuk dituliskan atau dibukukan. Karena kekuatiran Umar al-Khattab r.a. pada masa itu. Kita bertanya, mengapa seorang khalifah kuatir? Karena pada masa itu, banyak huffazh (penghapal Al-Qur’an) yang gugur sebagai syuhada dalam peperangan. Dari situlah Umar al-Khattab r.a. melihat bahawa al-Quran itu perlu ditulis. Dari kisah di atas, kita dapat memahami bahawa ilmu perlu diikat dengan tulisan. Karena pada dasarnya sesuatu itu tidak ada yang abadi, sebagaimana firman Allah swt “Semua yang ada di bumi itu akan binasa.” (QS. al-Rahman: 26)

Sebenarnya dunia Islam pun sudah lebih dahulu menghargai tulisan dan kemampuan menulis, mengingat manfaatnya yang begitu besar bagi perkembangan peradaban manusia. Misalnya, apa yang akan terjadi kalau tidak ada budaya (tradisi) baca-tulis, orang tentu akan sangat sulit mengetahui, belajar tentang kitab suci Al-Qur’an yang berjumlah lebih dari 6000-an ayat tersebut, dan hadits yang tak kalah besar jumlahnya mencapai ratusan ribu buah. Belum lagi kitab-kitab kuning warisan para ulama sebagai sumber ilmu pengetahuan semuanya adalah karya baca-tulis manusia.

Tidak ada di antara kita yang tak sepakat bahwa kepakaran dan keilmuan seorang ulama, cendekiawan, perlu didukung (dibuktikan) dengan menghasilkan karya nyata yang betul-betul bisa “dinikmati” oleh masyarakat, di antaranya dengan melihat berapa banyak karya tulis atau buku yang telah dikarang.Tentunya umat Islam sudah tak asing lagi dengan nama Imam Al-Ghazali karena kemashuran kitabnya yang berjudul Ihya’ al-‘Ulumuddin, Imam Bukhari dengan Shahih Bukhari, Imam Muslim dengan Shahih Muslim, Imam Malik dengan Muwatta’, Imam Syafi’i dengan al-Umm dan banyak lagi ulama lainnya.

Begitu juga dengan ulama yang terkenal karena kitab-kitab tafsir mereka, seperti Tafsir Jalalain, Al-Maraghi, Ibnu Katsir. Ulama dalam ilmu Fiqh dikenal karena kitab-kitab fiqh mereka seperti Subul al-Salam, Bulugh al-Maram, Fath al-Mu’in, Fath al-Qarib, Fiqh as-Sunnah. Ditambah lagi kitab-kitab karangan ulama dalam bidang Tauhid/Aqidah, Ilmu Kalam, Tata Bahasa Arab (Nahwu/Sharf), termasuk ilmu-ilmu umum seperti kedokteran, ilmu alam, astronomi, politik-kenegaraan, ekonomi, sosiologi, psikologi, dan sebagainya.

Walhasil, karya-karya tertulis memegang peran penting dalam transmisi ilmu pengetahuan kepada masyarakat secara luas. Pesantren sebenarnya memiliki tradisi yang luar biasa dalam hal menulis. Ini dibuktikan dengan munculnya sejumlah karya bermutu tinggi yang dilahirkan oleh para ulama. Bila pada masa lalu pesantren bisa, sekarang pun harusnya bisa.[ahf]

Perihal masthoni
Alumni Jurusan Matematika Fakultas Sains dan Teknologi UIN Malang

One Response to Meruwat Tradisi Menulis

  1. Pendidikan Indonesia mengatakan:

    wah dari judulnya aku jadi tertarik dan penasaran…. Info yang sangat menarik, kritis dan membangun… trim’s

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s