Pembelajaran Matematika yang Humanis


Oleh A Halim Fathani Yahya

“Membosankan, menakutkan, membingungkan, menyebalkan”. Itulah kata-kata yang sering kita dengar dari siswa-siswa SD, SMP, SMA, bahkan mahasiswa perguruan tinggi ketika diminta pendapatnya tentang pengalaman belajar matematika. Tidak banyak dari mereka yang berpendapat bahwa belajar matematika sungguh sangat mengasyikkan dan menantang, serta sangat akrab dengan kehidupan nyata.

Ketika kita melihat proses pendidikan matematika yang berlangsung di sekolah, kita patut ikut bersedih, sebab banyak siswa yang merasa jenuh akan pelajaran matematika, sama sekali tidak tertarik, malas belajar karena matematika dianggap ilmu yang kering, yang hanya merupakan kumpulan angka-angka dan rumus saja yang tidak dapat dimanfaatkan dalam kehidupan, mereka berpandangan belajar matematika di sekolah hanya sekedar diajari bagaimana agar siswa dapat menyelesaikan soal-soal ujian dengan baik dan yang kemudian menyebabkan memunculkan sifat kebencian terhadap matematika.

Selama ini (mudahan-mudahan segera berakhir), memang pembelajaran matematika cenderung pada pencapaian target materi yang diamanatkan dalam kurikulum atau merujuk pada buku yang dipakai sebagai buku wajib dengan berorientasi pada soal-soal ujian nasional dan ujian masuk perguruan tinggi pada tahun-tahun sebelumnya, bukan pada pemahaman (understanding) bahan materi yang dipelajari. Para siswa cenderung menghafalkan konsep-konsep matematika, seringkali dengan mengulang-ulang menyebutkan definisi yang diberikan guru atau yang tertulis dalam buku, tanpa berusaha untuk memahami maksud dan isinya.

Hal yang demikian dapat kita amati ketika siswa belajar, kebanyakan belajar baru dilakukan sangat intens atau yang biasa dikenal dengan sebutan SKS (Sistem Kebut Semalam, Sejam, Setengah jam, Semenit, atau …) menjelang ulangan atau ujian. Anehnya, seorang guru mengatakan bahwa dalam tingkat SMA yang penting adalah bahwa siswa mampu menghafalkan konsep-konsep dan bisa mengerjakan soal-soal seperti soal-soal Ujian Nasional (UN) dan Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN), ganya dengan satu tujuan, yakni agar mereka bisa lulus UN dan dapat diterima di perguruan tinggi negeri yang dicita-citakan. Sedangkan, terkait pemahaman materi itu nanti dapat dilaksanakan setelah mereka menempuh proses perkuliahan di perguruan tinggi. (Y. Marpaung:2003:240)

Jika demikian persepsi guru dan siswa mengenai pelajaran matematika di sekolah, maka akan muncul pertanyaan, apakah semua siswa itu dapat melanjutkan studinya ke perguruan tinggi. Dan kalau pun melanjutkan, belum tentu mereka masuk jurusan yang secara langsung atau tidak langsung berhubungan dengan matematika. Akibatnya, banyak orang meninggalkan dunia matematika dengan kesan yang tidak menyenangkan, bahkan seringkali buruk, sehingga dengan cepat mereka akan melupakan apa yang telah mereka pelajari. Ini merupakan suatau tantangan besar bagi para pendidik matematika.

Ciri-ciri manusiawi matematika hanya dapat dialami dan diapresiasi oleh para siswa kalau mereka mempelajari matematika itu juga secara manusiawi, yaitu dengan membangun sendiri pemahaman mereka akan unsur-unsur matematika. Pemahaman tersebut dapat terbentuk bukan dengan menerima apa saja yang diajarkan dan mengahafalkan rumus-rumus dan langkah-langkah yang diberikan, melainkan dengan membangun makna dari apa yang dipelajari dengan mempergunakan informasi baru yang mereka peroleh untuk mengubah, melengkapi atau menyempurnakan pemahaman yang telah tertanam sebelumnya, dengan memanfaatkan keleluasaan yang tersedia untuk melakukan eksperimen, termasuk di dalamnya kemungkinan untuk berbuat kesalahan dan belajar dari kesalahan tersebut.

Dengan demikian, pemahaman terhadap matematika yang terbentuk melalui proses asimilasi dan akomodasi itu sungguh bersifat pribadi dan mengakar dalam masing-masing individu siswa. Para siswa akan belajar untuk menghargai dan mencintai matematika karena mereka memiliki keyakinan tentang bagaimana caranya merumuskan dan menggunakan sarana matematika ketika diperlukan. Artinya, ketika proses pembelajaran matematika berlangsung, guru lebih berperan sebagai fasilitator dan moderator, bukan sebagai penceramah atau pengajar, dan para siswa sendirilah yang aktif mencari, menyelidiki, merumuskan, menguji, membuktikan, mengaplikasikan, menjelaskan, dan sebagainya. Sistem belajar siswa aktif memang berorientasi pada siswa dan bukan pada bahan pelajaran, pada proses dan bukan pada hasil pembelajaran. Sehingga, akhirnya para siswa akan menguasai bukan hanya pada materi atau bahan yang dipelajarinya, melainkan juga bagaimana mempelajari materi itu secara bermakna.

Dalam artikelnya, HJ. Sriyanto (2004:51) berpendapat, bahwa seorang guru yang mampu menghadirkan diri sebagai sosok teman yang akrab, familiar, mau terbuka untuk mendengarkan, dan membantu setiap kesulitan yang dihadapi siswa kiranya akan mudah diterima oleh siswa daripada guru yang menampilkan diri sebagai sosok yang galak, seram menakutkan, dan sering menghukum siswa. Kedekatan secara personal antara guru dan siswa akan membuat siswa lebih terbuka mengungkapkan kesulitan dan persoalan yang dihadapinya dalam pembelajaran matematika sehingga guru juga akan lebih mudah untuk membantu mencari solusi yang tepat.

Secara sederhana, penulis dapat menarik kesimpulan, bahwa salah satu ciri pembelajaran matematika yang manusiawi adalah bukan hanya menunjukkan konsep-konsep atau rumus-rumus matematika saja, melainkan juga menunjukkan tentang aplikasi dan manfaatnya dalam kehidupan sehari-hari, yang tentunya dalam menginformasikannya disesuaikan dengan tingkatan atau jenjang sekolah siswa. Sehingga, para siswa diharapkan akan menjadi tertarik dan tertantang untuk berusaha memahami metematika lebih dalam, karena dalam pikiran mereka tentunya sudah tertanam subur bahwasannya, matematika sangat akrab dengan dunia aktivitas sehari-hari. Akibatnya kesan negatif yang selama ini menghantui dunia matematika akan hilang dengan sendirinya.

Berikut, akan diberikan 2 contoh kasus proses pembelajaran matematika.
Kasus I: Seorang guru SD menjelaskan kepada siswanya tentang macam-macam bilangan. Ketika menerangkan bilangan cacah, beliau memberikan definisi bahwa bilangan cacah adalah bilangan yang dimulai dari nol (0,1,2,3, …). Dari penjelasan tersebut siswa hanya akan menangkap pesan bahwa bilangan yang dimulai dari nol dinamakan bilangan cacah, dan tidak mengetahui untuk apa bilangan cacah itu dalam kehidupan, kecuali siswa yang berusaha untuk mencari jawabannya.

Kasus II: Dalam kasus II ini hampir sama dengan kasus I, tetapi ada sedikit perbedaan, di mana guru tersebut berusaha menjelsakan bagaimana bilangan-bilangan itu digunakan dalam kehidupan sehari-hari. “Bilangan cacah dijelaskan, bahwa bilangan cacah adalah bilangan yang dimulai dari nol yang jika kita amati dalam kehidupan, bilangan cacah ini digunakan untuk menyatakan jumlah objek atau barang”. Kata guru ketika menjelaskan. Lalu ada salah satu siswa yang bertanya, “Kalau begitu, berarti ada objek yang jumlahnya nol, bu?”. Kemudian guru tersebut mengajak para siswa untuk ke halaman sekolah. Guru tersebut bertanya: “Berapa banyak sepeda yang diparkir di halaman sekolah ini?”. Dengan serentak siswa menjawab: “ada sepuluh buah sepeda, bu”. Selanjutnya guru tersebut bertanya lagi, “Berapa jumlah mobil yang diparkir di halaman sekolah ini?”. “Tidak ada , Bu”. Jawab siswa serempak. Dari jawaban inilah, kemudian guru menjelsakan bahwa ada objek yang berjumlah nol, dalam hal ini jumlah mobil yang di parkir di halam sekolah. Nol adalah bilangan cacah yang dapat digunakan untuk menyatakan jumlah obyek kosong atau tidak ada. (Sardi Sonoatmodjo:1998:05)

Dari dua kasus di atas, tentunya kita dapat menemukan perbedaan yang sangat menonjol di antara dua kasus tersebut. Kasus II tentunya lebih manusiawi, karena dalam proses pembelajaran guru berusaha mengaitkan langsung materi pelajaran yang sedang diajarkan dengan kehidupan nyata. Sedangkan pada kasus I guru hanya menerangkan definisi bilangan cacah tanpa menjelaskan kegunaannya.

Beberapa pemikiran Sriyanto (2002) yang bisa dilakukan untuk pembelajaran matematika saat ini, agar proses pembelajaran matematika dapat bermakna dan berdampak bagi peserta didik adalah;
1. Kreatifitas guru untuk menyiasati kurikulum yang sedang berlaku. Guru tidak hanya mengajar sesuai juklak atau juknis kurikulum, melainkan dapat menyiasati kurikulum dengan memilih dan memilah materi yang penting bagi siswa dan memberikan materi secara berkelanjutan, bahkan bila perlu membuang materi yang tidak penting.
2. Inovasi guru dalam pembelajaran. Variasi metode pembelajaran memegang peran penting untuk menarik minat siswa dalam pembelajaran matematika. Inovasi dalam metode pembelajaran dengan berbagai variasi sesuai materi ajar akan membuat siswa tidak jenuh untuk mengikuti pembelajaran.
3. Mengaitkan materi ajar dengan peristiwa atau kejadian dalam kehidupan nyata sehari-hari. Dengan menunjukkan keterkaitan matematika dengan realitas kehidupan, akan menjadikan pelajaran matematika lebih bermakna bagi siswa. Siswa dapat menerapkan konsep atau teori yang dipelajarinya untuk memecahkan persoalan riil yang dihadapi dalam keseharian. Dengan demikian matematika akan lebih humanis dan membumi.

Dengan melaksanakan pembelajaran matematika yang humanis, tentu akan berakibat pada diri siswa untuk senang dan tertarik dalam belajar matematika. Mereka akan berusaha menyenangi matematika dan diharapkan akan berdampak pada pencapaian prestasi yang unggul. Memang, semua siswa tidak dapat dipaksa untuk mempelajari matematika. Namun, tentunya siswa harus tetap dimotivasi agar dapat menguasai konsep-konsep matematika dasar yang kiranya dibutuhkan dalam kehidupan yang akan mereka jalani, semisal: konsep matematika dalam praktik jual beli, perencanaan keuangan keluarga, anggaran membangun rumah, dan sebagainya. Jenis-jenis matematika dasar inilah yang tidak akan bisa ditinggalkan. [ahf]

Perihal masthoni
Alumni Jurusan Matematika Fakultas Sains dan Teknologi UIN Malang

One Response to Pembelajaran Matematika yang Humanis

  1. yogo mengatakan:

    tetapi untuk membuat pembelajaran matematika yang menarik, dibutuhkan waktu yang lama, sedangkan disekolah biasanya hanya disediakan waktu 5 period seminggu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s