Menjadi yang Lebih Baik


Oleh A Halim Fathani

Setiap kali pemilihan digelar, baik itu pilpres, pileg, pilgup, pilbub, dan sebagainya pasangan yang mencalonkan diri biasanya membuat slogan dan singkatan nama pasangan yang mudah diingat oleh para pemilih. Tujuannya, agar pemilih memilihnya dalam pemungutan suara. Sebagaimana pada pilpres 2009 yang baru saja dilaksanakan. Pasangan nomor urut 1, Mega-Prabowo mengusung slogan “Pro Rakyat”, pasangan nomor urut 2, SBY-Boediono membuat slogan “Lanjutkan”, sedangkan pasangan nomor urut 3, JK-Win memilih slogan “Lebih Cepat Lebih Baik”.

Sebenarnya, slogan yang ditawarkan para kontestan pilpres 2009 tersebut, adalah sama dengan cita-cita yang diinginkan. Slogan tersebut merupakan keinginan para calon presiden dan wakil presiden yang akan diwujudkan ketika sudah terpilih dan dilantik oleh DPR/MPR. Pada tulisan ini, saya tidak akan mengurai tentang apa dan bagaimana pilpres 2009 itu, tetapi penulis tertarik untuk mengotak-atik slogan yang ditawarkan para pasangan capres-cawapres.

Sewaktu kecil, sering biasanya kita ditanya, “Nak… jika nanti sudah besar, kamu pingin jadi apa?” Mendapat pertanyaan seperti itu, jawaban yang sering kita berikan adalah, “Saya ingin jadi dokter, saya ingin jadi pilot, saya akan menjadi guru, saya akan menjadi dokter, menjadi presiden, jadi orang kaya, ingin bisa naik haji, dan beragam jawaban lainnya”. Kebanyakan, jawaban yang diberikan merupakan suatu keinginan yang pada saat itu (melontarkan cita-cita), hal yang dicita-citakan adalah belum terwujud, belum terjadi.

Jika kita cermati dari slogan kampanye di atas, saya memiliki “tafsiran” berikut. Slogan dari pasangan nomor urut 1, Mega-Prabowo adalah Pro Rakyat. Hemat penulis, slogan ini menunjukkan bahwa ia bercita-cita –jika terpilih- untuk melaksanakan pemerintahan yang mementingkan kepentingan rakyat. Pasangan ini tidak akan terpengaruh pada bagaimana ketika Mega menjalankan pemerintahan pada periode sebelumnya, tetapi yang jelas ia bertekad bahwa ketika terpilih pada pilpres 2009 ini, ia berkeinginan untuk melaksanakan program-program yang pro rakyat.

Pasangan SBY-Boediono membuat cita-cita, di mana-mana hal yang dicita-citakan adalah sesuatu yang sudah pernah diraih, hanya saja SBY-Boediono menginginkan bahwa dalam pemerintahannya, ia ingin melanjutkan apa yang sudah dinyatakan berhasil. Yang jelas, jika program “lanjutkan” ini berjalan, maka kadar programnya bisa saja tetap seperti yang sudah dilaksanakan, dan kemungkinan akan jarang untuk bisa meningkat. Yang penting adalah program-program yang selama ini sudah berjalan, tinggal dilanjutkan begitu saja.

Sedangkan slogan yang diusung pasangan JK-Win adalah Lebih Cepat Lebih Baik. Hemat penulis, slogan ini mengandung maksud bahwa ketika terpilih menjadi presiden dan wakil presiden, maka ia bertekad untuk menjalankan program-program dan menyelesaikan pelbagai problem dengan prinsip lebih cepat (tidak lambat), yang hal ini diharapkan menjadi lebih baik. Dengan kata lain, inti slogan pasangan JK-Win adalah hanya Lebih Cepat, pokoknya ia bertekad untuk selalu menjadi pasangan yang paling cepat. Nah jika ia bisa menjalankan sesuatu dengan lebih cepat, maka hal yang demikian itulah yang dikatakan lebih baik. Jadi, lebih baik di sini hanyalah merupakan tambahan yang menunjukkan (baca: menguatkan) bahwa lebih cepat itu memang lebih baik.

Kembali ke cita-cita
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), cita-cita adalah rasa, perasaan hati; keinginan (kehendak) yang selalu ada di dalam pikiran. Sekarang, jika kita perhatikan pilihan cita-cita berikut. Ada dua pilihan cita-cita, Bercita-cita menjadi orang baik? atau Bercita-cita menjadi orang yang tidak baik?

Hemat saya, pada pernyataan cita-cita yang pertama “Bercita-cita menjadi orang baik”. Cita-cita ini sama seperti, cita-cita anak yang ingin menjadi dokter, menjadi pilot, menjadi guru, dan seterusnya. Artinya, cita-cita ini menunjukkan bahwa keinginan yang diharapkan itu belum dijalani. Jika kita bercita-cita ingin jadi pilot, maka sekarang kita masih belum menjadi pilot, hanya saja memiliki keinginan agar kelak suatu saat dapat menjadi pilot. Begitu juga bercita-cita menjadi orang baik, berarti selama ini kita masih menjadi orang yang tidak baik, sehingga kita berkeinginan untuk menjadi orang baik.

Cita-cita yang kedua, Bercita-cita menjadi orang yang tidak baik. Berarti, selama ini kita telah menjadi orang baik, namun kita “masih” berkeinginan untuk menjadi orang yang tidak baik. Na’udzubillah. Melihat “otak-atik” tersebut, sekarang kita –sebagai orang “sehat”- memilih cita-cita yang mana? Jika memilih cita-cita yang pertama, berarti selama ini kita termasuk orang yang tidak baik, sedangkan pilihan cita-cita kedua, jelas tidak mungkin. Benar-benar sebuah pilihan dilematis.

Perspektif Logika Fuzzy
Kedua pilihan cita-cita di atas, Bercita-cita menjadi orang baik? atau Bercita-cita menjadi orang yang tidak baik? Merupakan pilihan yang dilematis. Bisa saja jika kita memilihnya salah satu, jelas tidak akan menyelesaikan problemnya. Oleh karenanya, perlu didekati dengan pendekatan logika fuzzy, agar pilihan cita-cita tersebut menjadi lebih bijak.

Orang yang belum pernah mengenal logika fuzzy pasti akan menganggap bahwa logika fuzzy adalah sesuatu yang rumit, membingungkan, dan tidak menyenangkan. Namun, sekali saja seorang mulai mengenalnya, ia pasti akan sangat tertarik dan akan menjadi pendatang baru untuk ikut serta mempelajari dan mengembangkan logika fuzzy. Logika fuzzy merupakan logika yang sangat realistis dan rasional dalam menghadapi dan menyelesaikan problem dalam kehidupan.

Sering dalam keseharian, orang menjawab kuesioner dengan kata-kata sangat setuju, setuju, ragu-ragu, tidak setuju, sangat tidak setuju. Jarang sekali jawaban kuesioner yang hanya memiliki dua kriteria, yakni ya atau tidak; setuju atau tidak setuju; benar atau salah. Tentunya jawaban yang lebih realistis adalah pilihan jawaban pertama yang memiliki banyak alternatif pilihan. Konsep ini sama halnya dengan konsep pada logika fuzzy. Logika fuzzy dikatakaan sebagai logika baru yang lama, sebab ilmu tentang logika fuzzy dan metode, baru ditemukan beberapa tahun yang lalu, padahal cckonsep tentang logika fuzzy itu sendiri sebenarnya sudah ada sejak lama dan sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari, namun kebanyakan orang tidak mengetahui bahwa itu adalah penerapan dalam konsep logika fuzzy.

Pada himpunan tegas (crisp) dalam logika dwi-nilai, nilai keanggotaan suatu item x dalam suatu himpunan A, yang sering ditulis dengan , memiliki dua kemungkinan nilai, yakni: Satu (1), yang berarti bahwa suatu item menjadi anggota dalam suatu himpunan, atau Nol (0), yang berarti bahwa suatu item tidak menjadi anggota dalam suatu himpunan.

Sedangkan pada himpunan fuzzy nilai keanggotaan terletak pada interval 0 sampai 1. Apabila x memiliki nilai keanggotaan fuzzy berarti x tidak menjadi anggota himpunan A, yang berarti bahwa suatu item tidak menjadi anggota dalam suatu himpunan, demikian pula apabila x memiliki nilai keanggotaan fuzzy berarti x menjadi anggota penuh pada himpunan A.

“Kembali ke cita-cita”, jika penulis bercita-cita dengan menggunakan pendekatan logika fuzzy, maka cita-citanya berbunyi sebagai berikut: “Saya bercita-cita untuk bisa menjadi orang yang lebih baik”. Sebagaimana uraian sebelumnya, jika kita bercita-cita seperti itu, berarti kenyataannya selama ini kita belum menjadi orang yang lebih baik, tetapi mungkin saja kita selama ini baru menjadi orang baik, sehingga pantaslah jika bercita-cita menjadi orang yang lebih baik. Kata-kata “lebih” inilah sebenarnya bahasa yang digunakan dalam logika fuzzy.

Apabila menggunakan derajat keanggotaannya, maka dapat dijelaskan seperti berikut: Misalkan, cita-cita menjadi orang tidak baik adalah 0, kemudian menjadi orang baik adalah 0.5, dan cita-cita menjadi orang lebih baik yang paling tertinggi adalah 1. Nah, jika kita bercita-cita menjadi orang yang lebih baik, berarti kita menginginkan derajat keanggotaannya itu selalu naik dari 0.5. Batas minimal orang baik adalah 0.5 sehingga jika derajat keanggotaannya mengalami peningkatan, seperti 0.6; 0.699; 0.8; 0.87; dan seterusnya.

Demikian, uraian singkat bagaimana dengan pendekatan logika fuzzy kita mengurai tentang bagaimana cita-cita yang akan kita wujudkan. Semoga dengan otak-atik ini dapat menambah wawasan kita tertutama dengan mengetahui ternyata logika fuzzy bisa digunakan sebagai “alat urai” sebuah kalimat pilihan yang dilematis. Semoga bermanfaat. [ahf]

Perihal masthoni
Alumni Jurusan Matematika Fakultas Sains dan Teknologi UIN Malang

One Response to Menjadi yang Lebih Baik

  1. jerzz mengatakan:

    visit my blog again
    http://jerzz.wordpress.com/
    http://blackercomputerz.wordpress.com/
    jika ingin tukeran link konfirmasi di blog saya y…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s