Smart Solution, antara Inovasi dan Kemalasan Berpikir


Oleh A Halim Fathani Yahya

Otak merupakan organ yang paling kompleks. Otak adalah satu-satunya bagian tubuh yang selalu berkembang dinamis dan secara otomatis dapat mempelajari dirinya sendiri. Otak adalah organ yang apabila di rawat, dijaga, dan dipelihara secara serius dan teratur, dapat bertahan lebih dari seratus tahun. Tidak seperti organ tubuh lain, yang semakin tua semakin rusak. Otak justru semakin tua semakin menunjukkan fungsinya yang lebih luas dan lebar.

Seperti pernyataan yang sering kita saksikan; “makin tua makin menjadi”, begitulah otak manusia. Bila otak semakin sering diasah dan difungsikan dengan baik, maka semakin menghasilkan fungsi optimal yang luar biasa. Otak memang dapat dibentuk dan terus-menerus berubah, dalam jangka milidetik demi milidetik, menurut pengalaman hidup masing-masing. Kelebihan otak terletak pada sifat plastis-nya. Dalam bentuk dan cara kerja pun, otak menampakkan keunggulan dibandingkan dengan organ tubuh lainnya. Jantung, hati, paru-paru, ginjal, kantung kencing, kantung empedu dan lain-lain.

Pendeknya semua yang ada dalam tubuh manusia, bekerja dengan cara sama sejak mereka diciptakan sampai ketika mereka rusak dan hancur. Otak tidak seperti itu, ia berubah dan bekerja dengan cara yang berbeda, detik demi detik, waktu demi waktu dan kondisi ini terjadi secara molekuler melalui latihan dan belajar. Hebatnya otak bisa belajar seumur hidup dan pada belajar pula terletak kekuatan otak. Karena itu, reformasi otak mengandung arti juga pemaksimalan kemampuan manusia untuk belajar. Orang yang berprinsip Long life education (‘Uthlub al-‘ilma min al-mahdi ila al-lahdi, tuntutlah ilmu sejak buaian sampai ke liang lahat) adalah mereka yang menggunakan kemampuan otaknya secara maksimal (Pasiak, 2003: 41-42).

Dalam setiap individu ada dua belahan otak. Proses berpikir belahan otak kiri bersifat logis, sekuensial, linear, dan rasional. Akan tetapi, bagian otak ini dapat bersifat abstrak dan simbolis. Ekspresi verbal, menulis, membaca, asosiasi auditorial, menempatkan detail dan fakta merupakan tugas-tugas otak kiri. Cara berpikir otak kanan bersifat acak, tidak teratur, intuitif, dan holistik. Perasaan, emosi, kesadaran spesial, seni, musik, kreativitas dan visualisasi merupakan hasil berpikir otak kanan.

Relevansi dari pemahaman terhadap otak kanan dan kiri mengharuskan kita untuk tidak bisa menihilkan peran salah satu di antara kedua belahan otak itu. Keduanya harus berkembang simultan, positif, dan measurable. Dengan demikian, sudut pandang dan pemikiran yang dilakukan terhadap suatu persoalan harus bersifat komprehensif serta tidak lepas dari setting persoalannya.

Smart Solution: Buah Pikiran Produktif
Berbicara mengenai Smart Solution yang dianalogkan dengan malas berpikir tentu menarik untuk dibahas secara ilmiah. Hal ini penting dibahas karena konsep Smart Solution saat ini sudah menjadi makanan “bergizi” bagi para siswa terutama yang akan menghadapi ujian. Sebagai contoh, hasil pengerjaan soal 32 – 22 bisa langsung dijawab hanya dengan menjumlahkan bilangan 3 dan 2 menjadi 5. Demikian juga hasil perhitungan 332 – 322 bisa diperoleh dengan menjumlahkan angka 33 dan 32 menjadi 65. Tentu tidak dengan begitu saja jawaban itu diperoleh. Hasil tersebut sebenarnya diperoleh dari konsep sederhana yaitu a2 – b2 = (a + b) (a – b). Untuk angka a dan b yang berselisih 1 (satu) seperti 32 – 22 maka yang diperoleh adalah (3 + 2) (3 – 2) = (5) (1) = 5. Dengan cara ini, soal tersebut bisa dijawab dengan menjumlahkan angka 3 dan 2.

Cara sederhana diatas tidak dapat dengan mudah diperoleh tanpa ada suatu proses berpikir kreatif. Diperlukan daya eksplorasi taktis akademis untuk merumuskan jawaban itu dan bukan sekedar eksploitasi konsep seperti dugaan-dugaan selama ini.Tentu kita sadar bahwa dalam era globalisasi ini mengharuskan kita untuk memiliki daya analisis yang tajam atas sebuah persoalan. Pemahaman dengan landasan berpikir yang kuat dan utuh tentang suatu masalah merupakan langkah taktis untuk bisa lebih eksis.

Akan tetapi, perlu juga diketahui bahwa untuk memiliki ketajaman analisis yang tinggi dan pemahaman komprehensif diperlukan kreativitas berpikir yang tidak selalu bersifat linier. Kemampuan seperti itu hanya dimiliki oleh kalangan masyarakat yang memiliki keahlian dan kemampuan yang mumpuni atau disebut dengan smart people yang dengan solusi-solusi terobosannya dapat cepat mampu mengatasi pelbagai persoalan kehidupan.

Dengan demikian, Smart Solution yang dikembangkan oleh sebuah lembaga bimbingan belajar (LBB) dapat dipandang sebagai suatu pengembangan wacana berpikir akademis. Wacana itu harus diikuti dengan inovasi dan kreativitas baru. Tidak mustahil pula jika kemudian dapat ditemukan smart solution mutakhir sebagai hasil proses bepikir kreatif, produktif dan tidak emosional (subyektif).

Malas berpikir
Smart People adalah orang yang tidak pernah diam dalam mengeksplorasi ilmu dan persoalan serta pemecahannya. Ia akan selalu berupaya menemukan pelayanan exellence yang dapat dipertanggungjawabkan secara akademis. Tentu tidak bisa serta merta dikatakan bahwa smart solution yang ditawarkan itu sebagai penyebab malas berpikir. Seperti juga kita tidak bisa mengatakan bahwa kalkulator sama dengan malas menghitung, mobil sama dengan malas berjalan, pompa air sama dengan malas menimba.

Kita tentu tahu bahwa kalkulator, mobil, dan pompa air adalah perangkat pelayanan yang diperoleh melalui proses berpikir kritis, produktif, kreatif, dan bermakna bagi manusia. Untuk itu diperlukan orang yang mampu mengikuti kecepatan perubahan dengan menciptakan cara pemecahan masalah yang reasonable dan memiliki responsibilitas yang tinggi. Semua itu hanya bisa dilakukan oleh smart people yang memiliki dinamika dalam kehidupannya.

Tetapi, oleh sebagian guru yang mengajar di sekolah berpendapat lain. Menurutnya smart solution merupakan hal yang dapat memandegkan proses berfikir siswa. Mereka menilai smart solution banyak menjebak dan cenderung tidak dapat dibuktikan secara ilmiah (baca: hanya kebetulan). Lain dengan pendapat para tentor di Lembaga bimbingan belajar (LBB) yang mengatakan bahwa smart solution merupakan buah pikiran yang cerdas untuk mengatasi persoalan yang rumit untuk dipecahkan sebagimana yang diuraikan di atas.

Beberapa hal yang bisa memotivasi dan mendukung terhadap fenomena banyaknya pelajar menggunakan smart solution, khususnya menyelesaikan soal-soal matematika adalah disebabkan soal yang dijadikan alat evaluasi adalah bertipe pilihan ganda (multiple choise) dan sistem evaluasi pendidikan di Indonesia hanya melihat hasil akhirnya. Ini justru bertolak belakang dengan paradigma pembelajaran seutuhnya, di mana suatu keberhasilan pendidikan tidak dapat hanya dinilai dari aspek kognitif saja, melainkan harus mewakili seluruh aspek dalam pembelajaran. Selain itu, keberhasilan siswa juga ditentukan bagaimana selama proses pembelajaran tersebut berlangsung. Tipe soal pilihan ganda justeru memberi kesempatan untuk memanfaatkan smart solution atau mengundi jawaban sehingga seringkali kita menemukan jawaban siswa benar tetapi setelah disuruh menjelaskan tidak dapat berbuat apa-apa.

Seharusnya jika kita bertekad untuk membangun pendidikan manusia seutuhnya, minimal soal ujian itu disusun dalam dua tipe bentuk, yakni soal harus berupa essay dan multiple choise. Dan proses pendidikan yang dilangsungkan merupakan sistem pendidikan yang menghargai aspek anak didik secara utuh, mulai dari input, proses, sampai output. Jika mengacu pada hal ini, maka keberadaan Ujian, baik Ulangan Akhir Semester, Ujian Nasioal, atau ujian lainnya hanya dijadikan sebagai salah satu alat penentu keberhasilan siswa, bukan satu-satunya.

Di akhir tulisan ini, menurut hemat penulis penyelesaian soal-soal matematika harus tetap memperhatikan proses penyelesaiannya. Kecuali pada soal yang berbentuk pilihan ganda maka “dengan terpaksa” boleh menggunakan smart solution. Tetapi, alangkah baiknya, jika langkah ini hanya boleh digunakan jika siswa tersebut benar-benar telah menguasai konsep matematika secara matang. [ahf]

Perihal masthoni
Alumni Jurusan Matematika Fakultas Sains dan Teknologi UIN Malang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s