Manusia dan Kebutuhannya terhadap Matematika


Oleh A Halim Fathani Yahya

Apabila kita cermati, dalam kegiatan sehari-hari, maka setian individu manusia akan terlibat dengan matematika, mungkin dalam bentuk sederhana dan bersifat rutin atau mungkin dalam bentuk yang sangat kompleks. Disadari atau tidak, pengetahuan tentang matematika telah sering dipergunakan oleh masyarakat dalam menyelesaikan permasalahan sehari-sehari. Zaman dahulu ketika orang masih primitif yang kehidupannya food gathering dan menggembala ternak, manusia menggunakan matematika sederhana untuk menandai lengkap tidaknya ternak yang mereka gembalakan, yaitu membuat relasi antara batu-batu dengan ternak mereka.

Bahkan ketika peradaban manusia mulai maju, cobalah amati bagaimana para pedagang di pasar tradisional yang begitu mahir dan cepat menghitung jumlah pembelian dan sekaligus mengembalikan sisa uang pembeliannya. Ada pula kita dengar berita bagaimana para pakar matematika mengembangkan terobosan-terobosan pembelajaran matematika dengan tujuan untuk peningkatan pembelajaran matematika itu sendiri.

Perkembangan pengetahuan dan teknologi yang menopang perkembangan budaya dan kehidupan manusia di pelbagai belahan dunia sejak masa lalu, kini, dan masa yang akan datang dipengaruhi oleh bidang kemajuan dalam bidang matematika. Oleh karena itu, wajar apabila pada tingkat materi-materi pelajaran di sekolah pun konsep-konsep matematika melekat pada berbagai pelajaran, seperti pelajaran geografi, fisika, kimia, biologi, ekonomi, sosial, bahkan pelajaran agama sehingga penguasaan konsep-konsep matematika merupakan prasyarat untuk dapat memahami dan mengembangkan cabang ilmu-ilmu yang lain.

Kebutuhan akan pemahaman dan penerapan konsep-konsep matematika dalam pelbagai lapangan kehidupan ini belum disadari dengan baik, karena kenyataan menunjukkan bahwa minat siswa-siswa kita dalam pelajaran matematika relatif rendah sehingga sangat jarang ditemukan siswa kita yang memahami konsep dan penerapan matematika dengan baik. Kenyataan ini tentu mengkhawatirkan di tengah ketertinggalan kita dalam bidang iptek dibandingkan dengan negara-negara lain.

Gejala demikian seharusnya lebih mendorong kita untuk lebih berani melakukan evaluasi terhadap proses pembelajaran matematika yang berlansung hingga saat ini. Misalnya, melakukan pengembangan kurikulum yang dapat merespons tuntutan zaman, yakni yang mendukung arah orientasi pembelajaran matematika pada penerapan matematika dalam kehidupan nyata sehingga penguasaan konsep matematika oleh para siswa kita dimaksudkan selain sebagai bekal dalam melanjutkan studi pada jenjang yang lebih tingi, juga dapat digunakan dalam kehidupan nyata sehari-hari.

Selain itu dengan menghubungkan konsep-konsep matematika dengan kehidupan nyata akan membuat proses pembelajaran matematika menjadi lebih menarik, lebih nyata, dan berguna. Dengan demikian diharapkan dapat semakin menambah minat dan meningkatkan rasa keingintahuan siswa terhadap pelajaran matematika. Penumbuhan minat siswa terhadap pelajaran matematika sangat penting untuk mendapat prioritas karena rendahnya prestasi siswa kita pada pelajaran ini secara umum berawal dari minatnya yang sangat rendah yang mengantarkan pada gairah belajar yang rendah pula.

Lalu apa yang menyebabkan minat siswa-siswa kita itu sedemikian rendah? Untuk dapat menjawab pertanyaan ini dengan tepat sangat tergantung dari sisi mana kita menilai karena banyak sisi permasalahan yang dapat dijadikan sebagai bahan kajian. Namun berdasarkan temuan di lapangan secara umum dapat disimpulkan, bahwa rendah bahkan musnahnya minat siswa untuk menekuni bidang studi matematika di antaranya karena adanya image yang mengganggu pikiran sebagian besar siswa kita, yaitu matematika dianggap sebagai pelajaran yang superrumit, rajanya pelajaran studi dan jelimet sehingga berjumpa dengan pelajaran matematika seperti bertemu dengan hantu yang menyeramkan.

Mengubur dalam-dalam image (negatif) itu merupakan salah satu upaya yang perlu gencar dilakukan, diganti dengan image yang lebih tepat yakni “matematika dalam pelajaran yang enak dipelajari dan berguna dalam kehidupan”. Akan tetapi, apabila dalam praktiknya siswa kita menemukan kesulitan-kesulitan dalam memahami sebagian konsep-konsep matematika yang memang relatif kompleks, solusinya adalah kita jadikan keadaan ini sebagai bagian dari proses pembinaan pada skala sikap dan kepribadian, yaitu dengan menghubungkan konsep-konsep matematika dengan konsep iman dan takwa. Misalnya, konsep latihan kesabaran dan tidak mudah putus asa sehingga selalu berusaha sampai terpecahkan masalahnya dengan cara diskusi dan bertukar pikiran dengan teman-temannya. Atau, kita olah menjadi bagian pembelajaran untuk menghayati keagungan dan keluasan ilmu Sang Pencipta (al-Khalik) yang mengatur alam raya yang sangat rumit ini dengan tertib dan sempurna berdasarkan prinsip-prinsip matematika.

Sejak Peradaban manusia bermula, matematika memainkan peranan yang sangat vital dalam kehidupan sehari hari. Berbagai bentuk simbol digunakan untuk membantu perhitungan, pengukuran, penilaian dan peramalan. Dari penemuan-penemuan situs purbakala, para ahli arkeologi telah menemukan penggunaan sistem penjumlahan di Afrika, dan diperkirakan telah terwujud sejak 8.500 SM dengan menggunakan tulang sebagai alat perhitungan.

Walaupun peradaban manusia berubah dengan pesat, namun bidang matematika terus relevan dan menunjang terhadap perubahan ini. Matematika merupakan subjek yang sangat penting di dalam sistem pendidikan di seluruh negara di dunia ini. Negara yang mengabaikan pendidikan matematika sebagai prioritas utama akan tertinggal dari segala bidang, dibanding dengan negara negara lainnya yang memberikan tempat bagi matematika sebagai subjek yang sangat penting. Seperti kita ketahui di negara kita, sejak sekolah dasar sampai universitas, syarat penguasaan matematika jelas sangat dibutuhkan, terutama dalam bidang sains dan teknik. Tidak tertutup juga untuk ilmu-ilmu sosial, seperti ekonomi yang memerlukan analisis kuantitatif untuk membantu membuat keputusan yang lebih akurat berdasarkan data, bahkan juga untuk memahami ilmu-ilmu agama. Para siswa yang mempunyai nilai baik dalam matematika, biasanya tidak akan mempunyai masalah (baca: kesulitan) apabila dia akan melanjutkan studi di perguruan tinggi, baik itu bidang sains, teknik, sosial, maupun agama. Untuk bidang sains, tentulah Matematika dan Statistik adalah ratunya. Secara umum, sistem pendidikan tidak akan mantap jika pelajar-pelajar di sekolah dan mahasiswa-mahasiswa di perguruan tinggi lemah dalam menguasai ilmu matematika.

Begitulah matematika, telah banyak dipakai orang untuk membantu hal lain di luar matematika . Tetapi, matematika pun dipelajari orang untuk kepentingan matematika itu sendiri. Karena itulah, wajar kalau sebagian khalayak menyebut matematika sebagai human activities. Maksudnya, tiada lain adalah keadaan di mana manusia selalu melibatkan matematika dalam kegiatan hidupnya. Sejalan dengan sifat kegiatan manusia yang tidak selalu statis, pandangan mathematics as a human activity memuat makna matematika sebagai suatu proses yang aktif, dinamik, dan generatif. [ahf]

Perihal masthoni
Alumni Jurusan Matematika Fakultas Sains dan Teknologi UIN Malang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s