SNMPTN di Tengah Kegelisahan Pendidikan


Oleh A Halim Fathani Yahya

Setelah siswa SMA/MA/SMK “lega” setelah mengikuti Ujian Nasional (UN) dan telah dinyatakan lulus, kini bagi yang akan melanjutkan pendidikannya ke jenjang S-1, mereka bersaing ketat dalam ujian seleksi masuk yang sekarang dikenal dengan Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN). Tidak heran, jika pasca UN banyak kita saksikan siswa-siswi yang ramai-ramai untuk mengikuti les/bimbingan belajar di pelbagai tempat, seperti Primagama, Ganesha Operation, Soni Sugema College, Nurul Fikri, dan lainnya. Mereka berpendapat, hanya dengan cara inilah kemungkinan untuk dapat diterima di PTN yang diidam-idamkan terbuka lebar. Lembaga Bimbingan Belajar (LBB) didesain secara khusus untuk mengantarkan lulusan SMA/MA/SMK agar lolos dalam tes SNMPTN.

Jika demikian, apa gunanya proses pembelajaran selama 3 tahun? Apakah peran guru selama 3 tahun tidak maksimal? Atau jangan-jangan materi tes SNMPTN memang hanya dapat diperoleh di LBB, sedangkan di bangku SMA hanya menyiapkan siswa untuk lulus dalam UN. Ada apa dengan kurikulum pendidikan kita? Kita saksikan seakan-akan antara materi SMA/MA/SMK dan tes SNMPTN tidak saling berkaitan. Tidak percayakah kita kepada guru-guru SMA/MA/SMK yang telah berusaha maksimal menyampaikan materi?

Menelisik Perjalanan SNMPTN
Perjalanan sistem penerimaan mahasiswa baru di Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dilakukan secara terpadu kurang lebih sudah berjalan selama tiga dasawarsa. Tahun 1976 ujian masuk PTN diselenggarakan oleh masing-masing PTN dengan nama Ujian Saringan Masuk PTN, mulai tahun 1977 baru dilakukan secara terpadu yang disebut dengan Sekretariat Kerjasama Antar Lima Universitas (SKALU), meliputi PTN senior, yaitu UI, IPB, ITB, UGM, dan UNAIR yang sekarang menjadi BHMN (Badan Hukum Miliki Negara).

Mulai 1978 sampai dengan 1983 disebut Projek Perintis I, Perintis II, Perintis III, dan Perintis IV. Mulai tahun 1984 sampai dengan 1988 disebut Sistem Penerimaan Mahasiswa Baru (Sipenmaru PTN), tahun 1989 sampai dengan 2001 dinamakan Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri (UMPTN) dan melalui SK Mendiknas No. 173 tahun 2001 mulai tahun 2002 sampai dengan 2006 disebut Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB). Sementara, sejak tahun 2008 berubah lagi menjadi Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) yang diselenggarakan oleh paguyuban Rektor Perguruan Tinggi Negeri se-Indonesia, termasuk perguruan tinggi di bawah naungan Departemen Agama, yaitu UIN Malang, UIN Jakarta, UIN Yogyakarta, UIN Bandung, UIN Pekanbaru, UIN Makasar, dan IAIN Surabaya.

Meski sering berganti nama, namun seleksi tersebut tetap memiliki esensi yang sama yaitu sebuah sistem terpadu dalam rangka penerimaan mahasiswa baru PTN, agar memperoleh jaminan mutu masukan, dan dalam upaya melayani calon mahasiswa baru di mana jika bermaksud mendaftar ke PTN tertentu tidak perlu datang langsung ke PTN yang dituju, tetapi cukup dengan satu tiket, one for all.

SNMPTN merupakan bentuk seleksi penjaringan mahasiswa baru yang paling efektif dan efisien (hemat waktu, tenaga dan biaya). Seseorang yang mengikuti SNMPTN berkesempatan untuk memilih perguruan tinggi negeri di seluruh Indonesia, tanpa harus datang langsung ke perguruan tinggi tersebut. Dia tidak perlu susah-susah meninggalkan daerahnya untuk ikut tes, tinggal menghubungi panitia lokal SNMPTN setempat. Selain itu, dari segi biaya pun SNMPTN juga memberi kesempatan kepada calon mahasiswa baru untuk kuliah dengan biaya lebih murah. Seorang mahasiswa yang diterima melalui tes SNMPTN (mahasiswa reguler), biaya akademik kuliahnya akan lebih murah bila dibandingkan dengan mahasiswa yang diterima melalui jalur khusus (mahasiswa non reguler). Seorang mahasiswa non reguler biaya akademik kuliahnya bisa dua kali lipat biaya akademik mahasiswa reguler. Inilah salah satu kelebihan SNMPTN yang menjadikannya sebagai media seleksi yang paling diminati oleh calon mahasiswa.

Selain pelbagai kemudahan dan kelebihan yang dimiliki sistem SNMPTN sebagaimana yang telah disebutkan di atas, bukan berarti SNMPTN tidak memiliki kekurangan. Penyelenggaraan SNMPTN masih banyak aspek-aspek yang memerlukan perbaikan, khususnya menyangkut bentuk tes dan standar penilaian yang dipakai. SNMPTN memakai bentuk academic achievmen test, di mana kemampuan akademik seseorang “hanya” diukur melalui kemampuannya untuk mengerjakan soal-soal SMA. Bentuk tes semacam ini akan menyebabkan penempatan mahasiswa yang kurang sesuai dengan bakat dan potensi akademik yang dimilikinya.

Kita ketahui bahwa yang paling menentukan keberhasilan studi seseorang adalah bakat dan potensi akademiknya, bukan kemampuan untuk mengerjakan soal. Bisa saja seseorang lolos SNMPTN, hanya karena dia sudah sangat hapal dengan tipe soal SNMPTN yang telah banyak didapatnya sewaktu mengikuti bimbingan belajar. Dia bisa mengerjakan lantaran dia sudah sangat mahir (sengaja dihapalkan) dengan metode penyelesaian singkat yang diperolehnya di bimbingan belajar.

Melihat Sistem Baru SNMPTN 2009
Cara atau sistem penilaian SNMPTN 2009 berbeda dengan SNMPTN tahun-tahun sebelumnya. SNMPTN 2008 menggunakan sistem penjumlahan semua mata pelajaran yang diujikan, sedangkan SNMPTN 2009 lebih ke sistem ranking dari setiap mata pelajaran yang diujikan. Sistem yang digunakan di SNMPTN 2008 semua pelajaran dijumlahkan terus dibagi rata, nilai yang terbesar yang bisa masuk.Sistem penilaian seperti ini, memiliki kelemahan sebab mengabaikan beberapa mata pelajaran. Misalnya, bisa saja ada calon mahasiswa yang hanya mendalami bahasa Indonesia tanpa menghiraukan Matematika. Jadi, meskipun nilai matematika kecil, tak bermasalah buatnya karena dapat tertutupi oleh nilai bahasa Indonesia. Makanya seringkali ada kasus salah masuk jurusan, anak yang sebenarnya pandai Biologi dia malah masuk ke Fisika.

Sistem yang diberlakukan di SNMPTN 2009 setiap mata ujian akan dinilai berdasarkan peringkat dengan skala nol sampai seratus sebelum nilai tersebut dijumlahkan. Atau sesuai dengan rumus matematika 100x(1-ranking:jumlah peserta). ‘Setiap mata pelajaran ditentukan rankingnya masing-masing. Misalnya, mata pelajaran Matematika, ranking 1 diperoleh si A begitu pun dengan mata pelajaran lainnya. Dengan cara ini, setiap mata ujian harus dikerjakan sebaik mungkin dan tidak ada yang diabaikan. Ketentuan Penilaian hasil ujian sendiri masih menggunakan ketentuan yang lama. Yakni jawaban benar diberi nilai empat, jawaban salah diberi nilai minus satu dan tidak menjawab diberi nilai nol. Sesuai namanya, sistem ini dimaksudkan untuk menyeleksi calon mahasiswa. Yakni mahasiswa yang dinilai bisa mengikuti semua mata kuliah. Salah satu keunggulan sistem ini adalah bisa mengurangi angka Drop Out (DO) di Perguruan Tinggi.

UN dan SNMPTN: Hubungan yang Disharmoni
Sampai tahun ini penerimaan mahasiswa model SNMPTN masih dipertahankan. Apakah itu bentuk ketidakpercayaan PTN pada sistem UN di tingkat SMA? Jika terkait soal efektivitas, jalur SNMPTN memang menjanjikan efektivitas dan biaya yang lebih murah. SNMPTN menganut sistem lintas rayon sehingga mempermudah calon mahasiswa untuk memilih PTN sesuai dengan minatnya yang berbeda kota atau provinsi. Namun, jika alasannya adalah bentuk ketidakpercayaan perguruan tinggi kepada UN, persoalannya lain. Itu berarti ada hubungan disharmoni (saling “tidak percaya”) antara perguruan tinggi dan pendidikan menengah. Jika hasil UN dipercayai sebagai angka-angka standar kemampuan siswa lulusan SMA/MA/SMK, maka dalam logika sederhana, UN seharusnya mampu menggantikan peran SNMPTN. Toh, dalam UN dan SNMPTN ada banyak kesamaan (dalam hal sebagai alat ukur kemampuan kognitif, misalnya).

Kesamaan SNMPTN dan UN sebagai standar mutu pendidikan seharusnya mengantarkan UN sebagai cara penyeleksian calon mahasiswa baru di PTN, tanpa harus ada seleksi SNMPTN. Dengan kesamaan bobot soal di seluruh Indonesia serta pelaksanaan yang kredibel dan transparan, hasil UN layak diakui PTN sebagai representasi kemampuan akademik siswa yang sebenarnya. Sebaliknya, jika SNMPTN lebih dipercaya sebagai bentuk seleksi yang paling diterima bagi perguruan tinggi (PTN), mengapa mesti mensyaratkan surat lulus UN yang nyata-nyata blunder bahkan pelaksanaannya dinilai melanggar UU Sisdiknas? Jika SNMPTN dinilai sebagai rekruitmen calon mahasiswa baru yang paling efektif, ke manakah makna hakiki sebagai standar mutu pendidikan yang pelaksanaannya menghabiskan dana rakyat beratus-ratus miliar? Inilah salah satu bentuk blunder SNMPTN yang se-linier dengan kontroversi UN. Ataukah, karena UN dianggap sistem evaluasi yang menunjukkan keberhasilan siswa selama studi, sedangkan SNMPTN merupakan bentuk tes untuk memprediksi kemampuan seseorang dalam menjalani studi di perguruan tinggi? Atau mungkinada alasan lainnya.

Kerancuan sistem seleksi dalam dunia pendidikan kita ini, merupakan bentuk kedzaliman penguasa terhadap dunia pendidikan, khususnya peserta didik harapan bangsa. Pemerintah tidak boleh abai atas kegelisahan itu. Jika penyatuan SNMPTN dan UN dipandang lebih baik, seharusnya pemerintah (dalam hal ini Depdiknas) peka terhadap wacana tersebut. Lebih jelas lagi, jika kedua macam ujian itu dipandang bermasalah, pemerintah harus berpikir ujian manakah yang mesti dieliminasi; SNMPTN, UN, atau dua-duanya? Atau bisa juga, dilakukan perubahan secara mendasar tentang model tes yang dapat menggambarkan bagaimana seorang siswa itu sebenarnya. Bisa juga melalui multiple intelligence research. Yang penting, semoga ke depan pelaksanaan evaluasi dan ujian seleksi dapat terselenggara semakin baik dan berkualitas, sehingga dapat meminimalisir pihak-pihak yang dirugikan. [ahf]

Perihal masthoni
Alumni Jurusan Matematika Fakultas Sains dan Teknologi UIN Malang

One Response to SNMPTN di Tengah Kegelisahan Pendidikan

  1. Adeath mengatakan:

    Gmna mau maju kalo dipersulit terus. Bukan ga mrasa tertantang, tapi dimohon dengan sangat keadilan disini. INI NEGARA HUKUM !

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s