Menimbang Ulang, PTN atau PTS?


Oleh A Halim Fathani Yahya

Agenda rutin tahunan. Setiap berakhirnya tahun pelajaran dan pasca pengumuman kelulusan bagi siswa SMA/MA/SMK merupakan moment yang pas bagi perguruan tinggi untuk merekrut (baca: menyeleksi) calon mahasiswa baru. Selama 2 hari, 1-2 Juli 2009 diselenggarakan Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) yang digelar serentak secara nasional. Tingginya motivasi lulusan SMA/MA/SMK untuk mengikuti SNMPTN ini menunjukkan bahwa, kebanyakan calon mahasiswa baru masih mendambakan untuk diterima di PTN.

PTN Yes, PTS No
Selama ini, masyarakat punya anggapan “berlebihan” terhadap PTN. Mereka berpikir, PTN merupakan tempat pendidikan yang lebih baik daripada PTS, meski ada juga prestasi PTS yang justru mengungguli PTN. Bagaimanapun, citra masyarakat masih menomorsatukan PTN. Kalau terjadi persaingan ketat antara PTN dan PTS, jelas PTS, kalah satu langkah. Intinya, PTS masih diangap sebagai perguruan tinggi kelas dua. Tak sedikit, selama ini calon mahasiswa mendaftarkan ke PTN dulu, kemudian baru ke PTS jika gagal.

Terdapat beberapa, alasan mengapa para lulusan SMA/MA/SMK berjuang “mati-matian” mengikuti SNMPTN, antara lain: 1) akan ada rasa kebanggaan tersendiri, jika dapat diterima di PTN melalui persaingan yang cukup ketat; 2) kebanyakan calon mahasiswa masih percaya bahwa lulusan PTN memiliki nilai jual yang lebih “mahal” dibanding lulusan PTS; 3) adanya anggapan bahwa manajemen di PTN lebih “rapi” dibandingkan PTS; 4) fasilitas pendidikan di PTN dianggap lebih lengkap dibanding di PTS; 5) biaya pendidikan di PTS jauh lebih mahal; dan beberapa alasan lainnya.

Menyadari kenyataan di atas, tidak heran jika beberapa PTS “rela” mendompleng pada PTN untuk membagi-bagikan brosur penerimaan mahasiswa baru. Hal ini dapat kita saksikan, tatkala SNMPTN digelar, maka akan banyak dijumpai pihak yang bagi-bagi brosur PTS di sepanjang akses jalan peserta SNMPTN. Atas kenyataan inilah, maka seolah-olah PTS memang kampus kelas dua. Seolah-olah mereka harus “rela” menerima mahasiswa “sisa” dari PTN. Tetapi, patut kita apresiasi bahwa beberapa waktu lalu, Januari 2009 beberapa PTS di Indonesia telah menggelar UMB (ujian masuk bersama) –sama seperti SNMPTN. Ini merupakan satu langkah maju bagi PTS. Bahkan, kabarnya akan ada UMB tahap II yang akan digelar pada Agustus nanti.

Menakar Ulang Persaingan PTN dan PTS
Di tengah pesatnya persaingan antara PTN dengan PTS atau persaingan sesama PTS membuat para lulusan SMA/MA/SMK harus selektif untuk memilih perguruan tinggi tempat kuliah. Mengapa? Saat ini promosi gencar dilakukan beberapa perguruan tinggi, baik PTN maupun PTS. Layaknya kampanye pilpres. Iklan, spanduk, brosur dapat mudah ditemui di tempat-tempat umum. Sebagaimana biasanya, kebanyakan iklan tersebut hanya menginformasikan yang baik-baik saja, bahkan tidak jarang mengandung “penipuan”.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan bagi calon mahasiswa baru adalah bagaimana kondisi riil kampus yang akan dipilih. Pemilihan, seyogyanya tidak hanya didasarkan atas status negeri maupun swasta ansich. Karena, kualitas sebuah perguruan tinggi (PT) kini tidak lagi bisa hanya diukur dari negeri atau swasta. Kualitas PT dapat dilihat dari fasilitas pendidikan, laboratorium, perpustakaan, dosen, karya tulis dan hasil riset, prestasi akademik mahasiswa, hasil akreditasi program studi, dan sarana pendukung lainnya yang dipilih. Ini yang jarang dilihat oleh calon mahasiswa ketika ia menentukan PT, terutama PTS mana yang akan dipilih. Sebagian besar di antara mereka hanya memilih karena nama besar dan bangunan kampus yang megah. Kebanyakan informasi didapat dari teman, website atau justru brosur/iklan.

Terkadang, banyak kampus yang memiliki gedung mewah, namun fasilitas belajarnya masih belum mencukupi. Bahkan, dosen yang dimiliki pun masih banyak yang berpendidikan S-1. Profesionalitas tenaga pengajar memang harus dibuktikan dengan kemampuan akademis sang dosen. Ini tentu tidak bisa dibuktikan oleh calon mahasiswa apalagi mereka belum pernah berinteraksi dengan yang bersangkutan. Seorang dosen lulusan S-1 tentu secara akademik berbeda dengan lulusan S-2 ataupun S-3. Terlebih, bagaimana budaya akademik di PT yang bersangkutan. Karena, salah satu faktor yang mendukung pembelajaran di PT adalah lingkungan yang “kondusif” (baca: tradisi akademik sivitas akademika).

Namun, calon mahasiswa juga harus cermat karena tak jarang PT yang hanya memasang “nama besar” seorang dosen untuk “menjual” PT-nya. Reputasi PT dan prestasi akademik mahasiswa merupakan akibat dari dipenuhinya fasilitas pendidikan dan adanya tenaga pengajar yang profesional. Tidak sedikit PT di Indonesia yang memiliki catatan baik karena dukungan fasilitas dan dosen yang handal. Biasanya, PT yang demikian selalu melahirkan alumni besar, yang berkiprah di tingkat nasional. Ini dapat dijadikan ukuran untuk menilai sebuah PT.

Objektivitas Stakeholder dan Tantangan PT
Tentunya, bagi stakeholder juga harus objektif untuk menjaring lulusan dalam penerimaan kerja. Seleksi kerja, sudah bukan waktunya lagi mendahulukan lulusan PTN, dan menomorduakan alumni PTS. Namun, stakeholder harus melihat dari sisi kualitas sumber daya manusianya. Terlepas, dari mana asalnya. Tidak peduli, apakah lulusan PTN atau PTS; lulusan luar negeri atau dalam negeri. Yang terpenting adalah, secara kemampuan dapat dipenuhi dan tak diragukan. Dengan demikian, maka bagi calon mahasiswa baru yang masih “ragu’ragu” untuk memilih perguruan tinggi, maka sudah saatnya untuk kembali fokus memilih PT yang benar-benar terbukti telah menghasilkan lulusan berkualitas dan berdaya saing tinggi.

Baik PTN dan PTS harus dapat memikirkan “nasib” masa depan calon sarjana baru di tengah-tengah arus globalisasi pada abad ke-21. Perguruan tinggi harus mampu menangkap peluang dan memanfaatkan potensi para calon sarjana baru. Perguruan tinggi tidak semata-mata mementingkan bisnis dan mengeruk keuntungan yang melimpah ruah. Jangan lupa, adanya lembaga perguruan tinggi merupakan mitra pemerintah dalam mencetak generasi penerus bangsa yang dapat dimanfaatkan dalam mengisi pembangunan. Kita masih ingat dulu betapa banyak bangsa asing yang mau belajar ke Indonesia. Sekarang jadi berbalik, kita yang justru pergi ke luar negeri belajar dengan mereka.[ahf]

Perihal masthoni
Alumni Jurusan Matematika Fakultas Sains dan Teknologi UIN Malang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s