Internalisasi Nilai Kesufian


Oleh A Halim Fathani Yahya

“Barangsiapa yang mengenal dirinya, maka ia akan mengenal Tuhannya,
dan barangsiapa yang mengenal Tuhannya niscaya dirinya akan binasa.”

(al-Hadits)

Manusia sebagai hamba Allah merupakan satu-satunya makhluk yang paling istimewa dibanding makhluk lainnya. Di samping dilengkapi dengan akal dan pikiran, manusia adalah makhluk yang penuh misteri dan rahasia-rahasia yang menarik untuk dikaji. Misteri ini justru sengaja dibuat oleh-Nya agar manusia memiliki rasa antusias yang tinggi untuk menguak dan mendalami keberadaan dirinya sebagai ciptaan Allah, untuk kemudian mengenali siapa penciptanya.

Seyogyanya, manusia menyadari betul “siapa” dirinya dan “bagaimana” posisinya di hadapan Allah dan mereka sudah mampu menguasai hawa nafsu mereka, sehingga dengan demikian segala apa yang mereka lakukan selalu berada dalam koridor kepatuhan, ketaatan dan ketundukan kepada Allah dengan penuh keridhaan, kecintaan dan mereka pun diridhai dan dicintai oleh-Nya.

Agama Islam datang membawa pesan universal dengan ajaran yang komprehensif menawarkan solusi dalam berbagai permasalahan kehidupan umat manusia. Di bawah bimbingan Nabi saw, Kaum muslimin dapat membentuk pribadinya yang utuh untuk memperoleh kebahagiaan dunia akhirat dengan melakukan ibadah dan amal shaleh, sehingga mereka memperoleh kejayaan di segala bidang kehidupan. Islam mengajarkan kepada umatnya akan keseimbangan untuk meraih kebahagian dan kesuksesan di dunia dan akhirat secara bersamaan.

Tasawuf tidak pernah selesai diperbincangkan, dipelajari, dan dikomentari. Apalagi saat ini ketika orang mulai merasakan arti penting Allah, tasawuf dilirik untuk dijadikan pengantar dalam mendekati Allah. Manusia modern memandang bahwa “hanya tasawuf yang dapat menjadi jalan untuk mendekati Allah. Secara historis menunjukkan pada umumnya para sufi tidak menjauhi kehidupan duniawi, mereka memberikan sumbangan yang besar bagi kehidupan sosial kemasyarakatan. Munculnya tasawuf adalah sebagai alternatif yang terpilih untuk merespon kemiskinan spiritual masyarakat modern khususnya di barat dan sesungguhnya sangat beralasan karena sufisme mengajar hal-hal yang cukup rasional.

Pemahaman ajaran agama secara rasional ditambah dengan pelaksanaannya secara formal tidak cukup menjamin kesetiaan orang pada agama yang dianutnya. Pemahaman dan formalitas agama tidak membawa orang merasakan nikmatnya beragama, bahkan mungkin hanya akan membuat seseorang merasa terbebani dengan berbagai ketentuan normatif dari ukurannya sendiri. Oleh sebab itu tasawuf menjadi pilihan, karena bentuk kebajikan spiritual dan tasawuf telah dikemas dengan filsafat, pemikiran, ilmu pengetahuan dan disiplin kerohanian tertentu berdasarkan ajaran Islam.

Sufisme memandang dunia ini sebagai sebuah jembatan yang harus dilalui untuk menuju akhirat. Dalam ajaran sufisme ditemui adanya anjuran-anjuran untuk mempertinggi etos kerja. Seseorang yang mendalami tasawuf juga diperintahkan untuk bekerja mencari penghasilan bagi kehidupan sehari-harinya. Seseorang sama sekali tidak diperkenankan berpasrah diri dan tawakkal kepada Allah, sembari rajin mengerjakan shalat sunnah dan banyak berdzikir, sebelum ia memenuhi kewajiban-kewajibannya-misalnya- seseorang kepala rumah tangga, mencari nafkah. Apabila harta benda dikumpulkan, maka haruslah untuk memenuhi kewajiban yang harus dipenuhi, dan bukan untuk kepentingan pribadi secara berlebihan.

Dengan demikian, sufisme serta segala komponen ajarannya merupakan pengendali moral manusia. Keseluruhan konsep yang ditawarkan sufisme seperti zuhud, akan dapat mengurangi kecenderungan pola hidup konsumtivisme dan individualisme yang semakin menggejala di tengah dunia modern. Sufisme dan Islam dalam skala yang lebih luas adalah bentuk tata aturan normatif yang menjanjikan kedamaian dan ketenteraman. Sehingga ketika zaman menghadirkan pelbagai keresahan, seseorang bisa menghadirkan tasawuf/sufisme sebagai kompensasi positif.

Ulasan penulis memperlihatkan betapa sungguh sangat banyak para sufi, hamba Allah yang luar biasa ibadahnya, yang kaya raya secara materi. Dengan limpahan rezekinya, mereka mampu mendorong umat ke arah kemajuan, kesejahteraan, dan kekuatan. Jelas dalam surat al-Ra’d ayat 11, Allah berfirman bahwa “Dia tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri”.

Melalui buku ini, pembaca akan diajak menelusuri bagaimana konsep Islam dengan kehidupan manusia terutama terkait dengan kekayaan dan kerja keras; faktor-faktor apa saja yang menjadikan umat Islam dilanda kemiskinan; bagian selanjutnya dipaparkan profil Rasulullah sebagai pebisnis yang kaya raya. Di bagian akhir buku ini, kita akan diajak untuk meneladani kehidupan para sufi yang bisa menginternalisasikan nilai-nilai kesufian dalam kesehariannya, hidup yang seimbang antara dunia-akhirat. Semoga buku ini benar-benar dapat menjadi inspirasi kepada pembaca untuk bekerja keras dalam rangka beribadah kepada Allah.

Identitas Buku:
Judul Buku :Bahkan Para Sufi Pun Kaya Raya …
Penulis : Badiatul Roziqin
Penerbit : DIVA Press, Yogyakarta
Cetakan :Januari 2009
Tebal : 213 Halaman

Sufi Kaya Raya

Perihal masthoni
Alumni Jurusan Matematika Fakultas Sains dan Teknologi UIN Malang

One Response to Internalisasi Nilai Kesufian

  1. mbah wongso mengatakan:

    matur sembah nuwun, semoga tulisan menambah keyakinan dan meluruskan perjalanan ang sedang aku tempuh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s