Buku Baru dan Buku Lama


Oleh A Halim Fathani

Suatu hari, seorang mahasiswa berkunjung ke kantor penerbit UIN-Malang Press. Adakah buku baru yang diterbitkan UIN-Malang Press?”, tanya mahasiswa. Kemudian saya jawab, untuk apa Anda mencari buku baru, apa mau membeli? “Saya mau pinjam buku untuk diresensi, tapi buku yang popular saja, jangan buku ajar (referensi)” terangnya kepada saya. Ternyata, setelah berkenalan dan bincang-bincang lama, mahasiswa tersebut termasuk penulis yang aktif mengirimkan tulisan resensinya dan kebanyakan berhasil dimuat di media massa.

Awalnya saya beri buku baru yang berjudul “MATEMATIKA UNTUK SAINS DAN TEKNIK” (karena mahasiswa matematika, maka menurut saya lebih pas kalau ia meresensi buku tersebut). Tetapi, setelah saya tunjukkan buku tersebut, ia dengan halus menolaknya dan meminta buku baru lain yang berjudul “ISLAM JAWA” (karena menurutnya buku ini dapat mudah untuk masuk di media daripada buku ajar yang pertama tadi). Ya, akhirnya saya pinjamkan buku ISLAM JAWA tersebut, yang katanya adalah buku popular dan gampang masuk media.

Seringkali penulis (baca: peresensi buku) ketika hendak menulis resensi, maka kebanyakan ia “bingung” untuk mencari buku-buku terbitan terbaru. Kebiasaan yang kerap terjadi adalah membeli buku-buku terbaru di toko-toko besar seperti Gramedia, Toga Mas, atau meminjam kepada penerbit yang telah mereka kenal. Dengan modal buku terbaru tersebut, lalu diresensi yang kemudian dikirim ke media massa dan diharapkan mendapat “kembalian”.
Lalu, pertanyaannya apakah meresensi buku terbaru itu merupakan suatu keharusan dalam dunia meresensi buku? Bagaimana jika yang diresensi itu buku “tempoe doeloe” tetapi buku tersebut sangat diharapkan kehadiran edisi revisinya oleh khalayak pembaca? Apakah buku ajar juga tidak layak untuk diresensi. Dengan kata lain apakah hanya buku baru saja yang patut untuk diresensi?

Terkait hal ini, mari kita simak beberapa definisi resensi buku berikut: dalam bahasa Inggris, sepadan dengan istilah review (ini juga berasal dari bahasa Latin: revidere; re “kembali”, videre “melihat”). Dalam bahasa Indonesia, lebih dikenal dengan istilah timbangan buku, tinjauan buku, pembicaraan buku, belakangan muncul istilah populer: bedah buku.

Dari beberapa definisi tersebut, maka saya menyimpulkan bahwa resensi (baca: resensi buku) adalah memiliki ciri-ciri sebagai berikut: 1) Menilai buku secara objektif, meliputi kelebihan dan kelemahannya; 2) Menyandingkan dengan buku lain, meliputi perbedaan dan persamaan; 3) Mendeskripsikan alasan penulis menulis buku dan alasan penerbit menerbitkannya; 4) Menginformasikan kepada pembaca, bagaimana seharusnya merespon buku tersebut; 5) Memberikan kritik-konstruktif dan “ide baru” bagaimana seharusnya buku itu ditulis, demi perbaikan dalam penerbitan selanjutnya (edisi revisi); dan 6) Meresensi karena didorong oleh panggilan nurani (diri sendiri), bukan karena disuruh penerbit atau penulis.

Pada dasarnya, tujuan buku itu diresensi adalah bagaimana kita (peresensi) itu dapat memberikan informasi kepada masyarakat, ada buku X yang diterbitkan oleh Penerbit Y pada bulan Z. Informasi lain yang diberikan adalah mengenai garis besar isi buku, perbandingan dengan buku lain, kelebihan dan kelemahan, dan sebagainya. Intinya, agar masyarakat mengetahui kalau ada buku ini-buku itu.

Semisal ada buku popular yang lama, seperti buku “Politik Ulama di Masa Belanda” terbitan tahun 1946. Hemat saya, sah-sah saja kalau ada penulis yang mau meresensi buku tersebut. Pasalnya, meskipun buku itu sudah diterbitkan 62 tahun yang lalu, tetapi jika peresensi mampu mengulas buku dengan menyandingkan peran ulama di masa reformasi ini, maka saya yakin akan menjadi menarik. Dan, bisa saja peresensi menawarkan kepada penulis buku tersebut untuk membuat edisi revisi yang ditambahkan dengan data-data terbaru dan kemudian dapat diterbitkan kembali.

Walhasil, jika (misalnya) ada buku yang sudah terbit tahun 80-an, tetapi buku itu kita anggap sebagai buku yang layak untuk diresensi, maka sah-sah saja kita meresensinya. Di samping menginformasikan kepada pembaca, dengan meresensi buku yang sudah lama maka kita dapat memberi informasi kepada pihak penerbit. Misalnya, buku itu sangat penting untuk diterbitkan kembali dengan menambahkan beberapa bab lagi, sehingga kualitas buku dapat ditingkatkan.

Dengan demikian, hemat saya untuk meresensi buku, kita tidak harus “terjebak” hanya pada buku-buku baru saja. Kita dapat meresensi buku apapun, terbitan kapanpun, yang penting dengan meresensi buku tersebut terdapat hal-hal yang “perlu” untuk disampaikan kepada pembaca maupun penerbit. Bagi pembaca perlu untuk mengetahui informasi tentang garis besar buku tersebut, sedangkan bagi penerbit perlu untuk memberi masukan dalam edisi revisi berikutnya.

Jadi, untuk meresensi buku tidak harus antri menunggu terbitan yang terbaru, apa saja dan kapanpun kita bisa meresensi buku. Dan, yang penting resensi buku tidak hanya (harus) ditujukan kepada masyarakat (pembaca), tetapi juga harus memiliki kontribusi kepada penerbit maupun penulisnya.[]

Perihal masthoni
Alumni Jurusan Matematika Fakultas Sains dan Teknologi UIN Malang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s