Menjadi Kiai Indonesia


nasionalisme_kiai1
Oleh A. Halim Fathani
Kehadiran sang kiai di tengah-tengah masyarakat bagaikan sebuah payung raksasa. Payung tersebut memiliki kesanggupan yang dahsyat menjadi pengayom masyarakat di sekelilingnya. Kapan dan di manapun mereka membutuhkannya, pengayoman dari sang kiai itupun akan didapatkannya dengan sangat mudah. Mengapa demikian? Sebab apapun permasalahan yang menimpa masyarakat, mulai dari problematika rumah tangga, problem-problem sosial, tradisi kultural, kondisi keamanan, hingga merebak ke wilayah carut-marutnya politik bangsa pun, maka sang kiai akan selalu hadir bersama-sama mereka untuk segera menyelesaikannya. Hubungan timbal-balik inilah yang mengakibatkan tali ikatan antara keduanya (kiai dan masyarakat) teramat sulit untuk diputuskan.

Keterkaitan kiai dengan perkembangan bangsa dan negara bisa dilacak sejak kedatangan Islam di Indonesia. Sebagaimana dikemukanan Dhofier (1982: 58), sejak Islam menjadi agama resmi orang Jawa, para penguasa harus berkompetisi dengan pembawa panji-panji Islam (baca: kiai) dalam bentuk hierarki kekuasaan yang lebih rumit. Dalam hal mempertahankan kemerdekaan RI, para kiai telah membentuk barisan tentara yang populer dengan sebutan “Tentara Allah” (Hisbullah) dan “Jalan Allah” (Sabilillah). Selain tersebut, banyak juga para kiai yang menjadi anggota tentara PETA (Pembela Tanah Air). (hlm. 117). Hal ini membuktikan bahwa peran kiai dalam masa perjuangan nasional dalam mengantarkan Indonesia menuju pintu gerbang kemerdekaan sangat besar.
Nasionalisme merupakan persoalan identitas sebagai bagian dari unsur pokok negara-bangsa. Seseorang yang memiliki rasa cinta terhadap bangsa adalah orang yang di dalam dirinya mengalir darah nasionalisme. Rasa cinta itu akan bekerja secara reflektif ketika perasaan sebagai bagian dari negara-negara tersebut dilecehkan orang lain. Oleh karena itu, ketika Indonesia dianggap sebagai bangsa yang rendah maka harga diri kiai sebagai bagian dari negara-bangsa tersebut tentu saja akan merasa tercemar. Ketika lagu Indonesia Raya dinyanyikan di luar negeri maka akan ada dalam diri mereka perasaan memiliki (sense of belonging) lagu kebangsaan itu. Perasaan sebagai bagian dari bangsa Indonesia itulah yang disebut sebagai proses identifikasi diri di tengah pergaulan dunia sosial. (hlm. 277).
Buku ini bermula dari penelitian yang dilakukan Ali Maschan Moesa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pemahaman para kiai mengenai nasionalisme dalam konteks nasionalisme Indonesia, tentang bagaimana mereka mengonstruksi nasionalismenya, tentang dasar-dasar konstruksi mereka dan konteks yang melatarbelakanginya, serta apa maknanya bagi mereka. Sedangkan para kiai yang dimaksudkan dalam penelitian ini adalah mereka yang menjadi anggota Lembaga Pembahasan Masalah-masalah agama NU Wilayah Jawa Timur, yang terdiri atas sembilan orang yakni KH. Yasri Marzuki, KH. Syaifudin, KH. Syahid, KH.Misbah Abrar, KH. Abdurrauf Najih, KH. Syraief Djamhari, KH. Masyhudi Ma’ruf, KH. Hasymi Arkhas, dan KH. Zuhdi Zaini.
Penulis mengelompokkan ada tiga macam tipologi kiai dalam mengonstruksi nasionalisme, yaitu kiai fundamentalis, kiai moderat, dan kiai pragmatis. Konstruksi nasionalisme kiai bercorak fundamentalis bisa terjadi jika pendidikannya Timur Tengah, paham universalisme Islam, formalisasi Islam, model penafsiran yang tekstual-normatif-skripturalistik, dan konteks sosial memungkinkan munculnya pandangan tersebut. Nasionalisme dalam konstruksi kiai bercorak moderat terjadi latar belakang pendidikannya adalah pesantren-pesantren yang mengedepankan tradisi NU, pandangan Islam substansial, bercorak pemikiran lokal, dan kuatnya gagasan tentang kontekstualisasi Islam di masyarakat. Sedangkan nasionalisme dalam konstruksi kiai pragmatis terjadi jika seorang individu memiliki pengalaman-pengalaman pendidikan pesantren yang mengedepankan tradisi Nahdlatul Ulama dan kemudian meneruskan studi ke Timur Tengah yang pemahamannya cenderung tekstual-skriptualistik namun pada akhirnya kembali ke Indonesia dan berinteraksi dengan individu-individu yang memiliki tradisi NU yang kuat dan memiliki komitmen melakukan kontekstualisasi terhadap ajaran Islam.
Paradigma pemahaman agama yang inklusif dan toleran ini akan mampu membawa perubahan sosial yang berkeadaban sebab ia mengajarkan transformasi loyalitas menuju transformasi identitas yang berakhir pada transformasi nilai. Dengan beragama, seseorang membangun ketulusan kerja seagama, kemudian seiman, dan lantas tras-iman. Inilah babakan agama yang mengajarkan persaudaraan seagama (ukhuwah Islamiyah) ke persaudaraan sebangsa dan setanah air (ukhuwah Wathaniyah), dan persaudaraan sesama manusia (ukhuwah Basyariyah). Dalam konteks ini, kecintaan terhadap bangsa dan tanah air dan kecintaan kepada sesama manusia menjadi ukuran atas derajat keimanan seseorang kepada Tuhannya. (hlm. 329).
Buku yang ditulis Pak Maschan ini, membuktikan bahwa nasionalisme di kalangan para kiai dan masyarakat pesantren memang masih sangat kuat. Di tengah hiruk-pikuknya bangsa ini, para kiai tetap menunjukkan loyalitasnya terhadap Indonesia sebagai negara yang tetap berkomitmen untuk mempertahankan keutuhan NKRI. Juga menunjukkan bahwa agama menjadi faktor “penguat” kesadaran pengalaman kesejarahan sebagai dasar terbentuknya suatu negara. Penulis buku ini tidak mendukung kajian Abdus Salam tentang nasionalisme yang bertentangan dengan Islam, sebagaimana juga tidak mendukung kajian Muslih tentang keharusan umat Islam mendirikan negara Islam. Sebaliknya, buku ini menegaskan bahwa secara mayoritas para kiai berpandangan final dalam memandang negara Pancasila yang pluralistik.
Adapun sisi kekurangan penelitian yang dilakukan dalam buku ini, di antaranya penelitian belum menjangkau lebih banyak subyek penelitian (para kiai) yang terlibat dalam politik praktis, belum menjelaskan secara tuntas tentang kelompok tertentu yang selalu ingin menjadikan agama sebagai ideologi dalam bernegara. Lebih dari itu, buku ini juga belum mampu mendeskripsikan secara lebih komprehensif tentang bagaimana komunitas Islam di luar NU dan non-Muslim memandang hubungan antara agama dan negara. Tetapi, terlepas dari kelebihan dan kekurangannya, buku ini patut dinikmati khalayak luas, terutama bagi pihak yang ingin memandang lebih jauh bagaimana seharusnya model hubungan antara agama (baca: kiai) dengan negara. Bagi pemerintah (penguasa), kehadiran buku ini merupakan bukti bahwa para kiai ternyata merupakan kelompok yang masih “perhatian” terhadap keutuhan NKRI tercinta. [ ]

Identitas Buku
Penulis: KH Ali Maschan Moesa
Judul Buku: Nasionalisme Kiai; Konstruksi Nasionalisme Berbasis Agama
Penerbit: LKiS, Yogyakarta
Cetakan I: November 2007
Tebal: xxii + 358 Halaman

Perihal masthoni
Alumni Jurusan Matematika Fakultas Sains dan Teknologi UIN Malang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s