Kuliah bagi Pengangguran


Oleh A. Halim Fathani
Motivasi siswa untuk melanjutkan studinya di perguruan tinggi sangat beragam. Secara umum, ada dua motivasi yang melatarbelakanginya, Pertama, siswa yang benar-benar ingin mengembangkan profesionalisme keilmuannya. Seperti, siswa yang sewaktu SMA memilih program IPA kemudian ia ingin mendalami lebih lanjut tentang ilmu IPA maka ia berniat untuk kuliah di Fakultas MIPA. Bagi siswa yang memilih program khusus keagamaan, maka ia memilih kampus IAIN untuk kuliah. Bagi siswa SMK jurusan manajemen bisnis, maka ia memilih program studi di fakultas ekonomi, dan sebagainya.

Alasan kuliah seperti ini patut didukung dan diarahkan. Hal ini disebabkan siswa tersebut merupakan siswa yang benar-benar ingin “belajar lagi” dalam rangka memperdalam ilmu yang sudah dimiliki. Yang penting, jurusan yang diambil merupakan jurusan yang benar-benar sesuai dengan kemampuan dan minatnya. Jangan sampai jurusan yang diambil adalah jurusan “rendahan”, jagan sampai-yang penting masuk PTN-tanpa memperdulikan jurusan yang diambil, padahal ternyata jurusannya tidak “prospek” di masa depan.
Sedangkan motivasi kedua, adalah daripada menganggur di rumah, lebih baik kuliah. Hal ini biasanya bagi mereka yang ketika lulus SMA/SMK belum (baca: tidak) memiliki “konsep hidup” yang jelas. Mereka bingung mau kuliah di mana, mau mengambil jurusan apa, mau bekerja juga belum ada yang menawari, sehingga agar tidak kelihatan sebagai pengangguran, biasanya mereka lalu memutuskan untuk kuliah. Kampus yang dipilih biasanya pun kampus “kecil” yang tidak terlalu banyak aturan macem-macem. Jurusan yang dipilih juga ngawur, tidak mempertimbangkan bagaimana prospeknya di masa depan. Yang penting kuliah! Akibatnya, akan banyak lahir generasi pengangguran profesional yang terdidik.
Alasan motivasi kedua inilah yang sebenarnya akibat dari kegagalan pendidikan kita. Seharusnya, konsep pendidikan yang dibangun memiliki tujuan jangka panjang yang jelas. Bagi SMK, maka lulusannya harus benar-benar dirancang sebagai tenaga terampil yang sudah siap kerja (baca: pencipta lapangan pekerjaan), bukan dirancang sebagai “pelamar kerja”. Bagi SMA, maka lulusannya harus dirancang agar dapat melanjutkan kuliah di perguruan tinggi. Jika lulusan SMA, lalu tidak melanjutkan, maka dikhawatirkan ia akan mengalami pengangguran terdidik.
Berefleksi dari paparan di atas, kiranya kita semua, baik siswa, guru, pejabat pendidikan, pemerhati pendidikan, dan semua pihak yangberkecimpung di dunia pendidikan, sudah semestinya untuk mengembalikan “kepentingan” pendidikan sesuai dengan Visi pendidikan menurut UNESCO, yakni: learning to think (bagaimana belajar berfikir), learning to do (belajar hidup atau belajar bagaimana berbuat/bekerja), learning to be (belajar bagaimana tetap hidup), dan learning to live together (belajar untuk hidup bersama-sama). Dengan demikian, pendidikan tidak hanya terbatas pada transfer of knowledge tetapi juga membekali siswa dengan kemampuan kesiapan untuk mampu hidup di tengah masyarakat. Lebih-lebih di era globalisasi.[]

Perihal masthoni
Alumni Jurusan Matematika Fakultas Sains dan Teknologi UIN Malang

One Response to Kuliah bagi Pengangguran

  1. wahyu mengatakan:

    Ya Mas, kl boleh sharing, aku dl kuliah gk seneng sm jurusan yang kupilih. Karena basic ku di IPA kmd kuliah di Sastra, but seperti pepatah org Jawa, “witing tresno jalaran soko kulino”, aku akhirnya menyukai jurusanku. Dan alhamdulliah sebelum lulus jg udah kerja di tempat kerjaku sekarang ini. So sekedar imbauan buat yang mo kuliah, mmg harus dipikr matang² dalam mengambil jurusan, jangan sampe menyesal di kemudian hari..
    Ok?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s