Tafsir Bahasa Politik Gus Dur


Oleh A. Halim Fathani

Sosok pribadi Gus Dur selalu menjadi perhatian publik dan menarik untuk dikaji dari berbagai sudut. Masih segar dalam ingatan kita, bagaimana tingkah pola Gus Dur ketika menjabat presiden. Gus Dur adalah figur yang heroik, yang meyakini kekuatan kata-kata yang muncul dari dirinya sendiri dan siap menanggung dari kata-katanya itu, tanpa bergantung pada orang lain. Kontroversial, plinplan, tidak konsisten, semaunya sendiri, dan sejenisnya adalah beberapa predikat yang sejak awal sudah melekat padanya. Tidak heran, jika banyak pernyataan-pernyataan kontroversial yang diproduksi, seperti “biang kerok dari banyak persoalan akhir-akhir ini ada di MPR/DPR; sekarang banyak intelektual bergelar MA tetapi bukan Master of Arts melainkan maling; DPR kok seperti Taman Kanak-Kanak; DPR memble aja; Gitu aja kok repot; Wiranto harus mundur dari Menko Polkam; Feisal Tanjung pernah berusaha membunuh saya dan Mega, dan lainnya”.

Menanggapi berbagai pernyataan Gus Dur tersebut, pesaing-pesaing politiknya membalas dengan mengeluarkan pernyataan-pernyataan tandingan (counter discourse), seperti “presiden gila, syaraf presiden ada yang tidak beres, Gus Dur jangan pethentang-pethenteng, presiden selingkuh dengan Aryanti, presiden akan saya jewer: dan sebagainya”. Dari keadaan politik seperti itu, jelas menggambarkan terjadinya komunikasi yang tidak sehat. Mietzner (2001:29-44) menyatakan komunikasi politik antar-lembaga tinggi negara tersebut menunjukkan hubungan yang tidak mesra (hal.220-221).

Mencermati dan memahami bahasa politik Gus Dur sebagaimana di atas, meminjam istilah Saryono (2000:2) sesungguhnya Gus Dur sedang mendekontruksi secara mendasar linguistics of power Orde Baru pada satu sisi. Di sisi lain, ia sedang mengkontruksi sebuah linguistics of power baru yang diharapkan lebih cocok dengan semangat demokrasi, masyarakat madani, dan penghormatan HAM yang ia perjuangkan. Bahasa politik Orde Baru yang cenderung represif-sarkastis, otoritarian, posesif, arkais (kejawakunoan), stratfifikatif-feodal, kepriyayian, magis-mistis, militeristis, tertutup, sentralistis, sloganistis, dan imperatif-direktif dicoba didekontruksi oleh Gus Dur menjadi bahasa politik yang lebih demokratis, partisipatif, dialogis, egaliter, kerakyatan, profan, terbuka, akomodatif, deklaratif-informatif, dan humanistis (hal. 222).

Adalah Mudjia Rahardjo (penulis buku ini) mencoba melakukan kajian dan analisis terhadap bahasa politik keempat tokoh politik era presiden Gus Dur (Gus Dur, Megawati, Amin Rais, dan Akbar Tanjung), baik yang bersifat memulai (prior discourse) atau bersifat menanggapi (counter discoure). Selama Gus Dur menjabat presiden, dunia politik Indonesia menjadi kancah persaingan antar elit politik. Dalam persaingan itu, para elit menggunakan bahasa/wacana politik sebagai piranti perjuangan mereka. Dari hasil pelacakan, sejauh ini belum ditemukan kajian wacana politik dengan pendekatan kebahasaan melalui perspektif hermeneutika, apalagi Gadamerian.

Hermenutika Gadamerian merupakan sebuah metode tafsir dalam aliran filsafat yang memandang bahwa makna suatu tindak (teks atau praktik) bukan sesuatu yang ada pada tindak itu sendiri, namun makna justru ditelusur melalui orang lain sebagai pasangan komunikasinya dan bersifat relatif bagi penafsirnya. Wacana/wicara ditulis atau dituturkan oleh seseorang, sesuai dengan hakikat bahasa, sebagaian besar wacana itu tidak ditujukan untuk diri sendiri. Sehingga, makna sebenarnya dari wacana/wicara itu justru seperti apa yang ditafsirkan oleh pasangan komunikasinya (hal. 55).

Penggunaan istilah Gadamerian menyiratkan arti bahwa perspektif yang digunakan oleh penulis -yang juga guru besar sosiolinguistik- ini adalah mengacu kepada buah pemikiran Gadamer. Jika Hermenutika Gadamer hanya ada dua pihak yang terlibat dalam proses pemaknaan, maka dalam buku ini, penulis menggunakan prinsip dan metode untuk memperoleh makna wacana yang diproduksi seseorang dengan cara meneliti penerimaan dan tanggapan pasangan komunikasinya.

Data dalam kajian buku ini awalnya diambil dari ujaran-ujaran lisan, temu wicara, dialog atau pidato tanpa teks, sehingga diperoleh ungkapan, gagasan, dan pemikiran asli mereka. Tetapi karena kesulitan yang dihadapi untuk memperoleh teks lisan tersebut, kajian juga menggunakan teks tertulis berupa naskah-naskah pidato, tulisan, komentar, argumen, dan analisis politik yang muncul di media. Akibatnya kajian ini memiliki beberapa kelemahan, Pertama, teks tertulis tidak dibuat sendiri oleh elit politik tetapi merupakan pemikiran kolektif staf ahlinya. Kedua, karena teks tertulis itu disusun oleh staf khusus, maka teks itu hanya mencerminkan kebaikan-kebaikannya saja, sehingga tidak mencerminkan realitas sebenarnya.

Hadirnya buku ini, tentu dapat menambah khazanah pengetahuan tentang kajian politik dalam sudut pandang bahasa. Isi buku ini memaparkan mulai dari sosok pribadi Gus Dur, para pesaingnya, dan perjalanan bahasa politik selama masa pemerintahannya yang dilanjutkan dengan analisis bahasa politiknya. Tentu kajian ini sangat bermanfaat untuk diketahui oleh siapapun terutama para elit politik yang ingin belajar, bagaimana cara berkomunikasi politik dari keempat tokoh politik sebagaimana yang dimaksud di atas. Dengan membaca buku ini, akhirnya kita mengetahui bagaimana perseteruan antar elit di era presiden Gus Dur, yang ujung-ujungnya Gus Dur Jatuh dari kursi RI-1. [ahf]

Identitas Buku
Judul Buku : Hermeneutika Gadamerian, Kuasa Bahasa dalam Wacana Politik Gus Dur
Penulis : Prof. Dr. H. Mudjia Rahardjo, M.Si
Penerbit : UIN-Malang Press
Cetakan I : Januari 2007
Tebal : xvi + 472 Halaman

Perihal masthoni
Alumni Jurusan Matematika Fakultas Sains dan Teknologi UIN Malang

5 Responses to Tafsir Bahasa Politik Gus Dur

  1. Aely mengatakan:

    Sip.keren artikelnya.saya senang bisa dapet referensi baru mengenai PAUD.Semoga diperbanyak lagi tentang berbagai pengetahuan tentang seluk beluk PAUD,terimakasih

  2. Perfectly pent subject matter, regards for entropy. “He who establishes his argument by noise and command shows that his reason is weak.” by Michel de Montaigne.

  3. I am no longer certain where you are getting your information, but great topic.
    I needs to spend some time finding out much more or figuring out more.

    Thanks for magnificent info I used to be on the lookout for this info for my mission.

  4. physical fitness mengatakan:

    My relatives always say that I am killing my time here at net,
    except I know I am getting familiarity every day by reading such pleasant articles or reviews.

  5. Way cool! Some very valid points! I appreciate you
    writing this article and also the rest of the site is
    also really good.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s