TES BERKUALITAS = TES YANG DAPAT DIKERJAKAN


Oleh Abdul Halim Fathani

ujian-nasional
ADA pemandangan menarik di kebanyakan kelas pembelajaran yang sering kita jumpai. Misalnya, pada suatu kesempatan ketika seorang guru (sebut saja Pak A) mengajar matematika di kelas X-B. Setelah masuk kelas, Pak A mengucapkan salam dan menyapa semua siswa yang telah duduk tenang di bangkunya masing-masing. Spontan, seluruh siswa kelas X-B menjawab salam dan merespons sapaan yang disampaikan Pak A, hatinya senang bahagia karena akan belajar dengan Pak A yang dikenal enjoi dalam mengajarnya. Tidak lama kemudian, setelah itu, Pak A menginstruksikan kepada semua siswa kelas X-B, agar menyiapkan selembar kertas kosong, “Anak-anak, sekarang tolong siapkan satu lembar kertas kosong, dan jangan lupa diberi identitas, nama dan nomor induk siswa ya?, begitulah perintah dari guru Pak A. Namun, anehnya, bukan jawaban “ya” yang menunjukkan tanda setuju, tetapi justru suara penolakan yang muncul. Siswa satu kelas “sepakat” berkata: “Duuuuuuuhhhhhh paaaak!” atau “belum siaap paaak!” atau “jangan sekarang paaaakk, tadi malam belum belajar!” atau “buka buku ya paaaaak!” dan beragam jawaban penolakan yang lain. Hampir tidak pernah instruksi –sebagaimana yang dilakukan Pak A- tersebut mendapat respons berupa dukungan dari siswa, seperti: “Siap pak!” atau “Oke pak, ini yang saya tunggu-tunggu”, atau yang lain. Mengapa demikian yang sering terjadi? Baca pos ini lebih lanjut

Iklan

Manusia dan Kebutuhannya terhadap Matematika


ABDUL HALIM FATHANI

Apabila kita cermati, dalam kegiatan sehari-hari, maka setian individu manusia akan terlibat dengan matematika, mungkin dalam bentuk sederhana dan bersifat rutin atau mungkin dalam bentuk yang sangat kompleks. Baca pos ini lebih lanjut

KEUNIKAN INDIVIDU DALAM BELAJAR MATEMATIKA


Abdul Halim Fathani

SETIAP individu adalah unik. Artinya setiap individu memiliki perbedaan antara yang satu dengan yang lain. Perbedaan tersebut bermacam-macam, mulai dari perbedaan fisik, pola berpikir dan cara-cara merespon atau mempelajari hal-hal baru.

Setiap anak itu unik, demikian judul tulisan Hasanudin Abdurakhman, di Kolom Kompas (05/10/2017). Mereka tak sama dengan orang lain di sebelahnya. Tak sama dengan kakak dan adiknya. Bahkan tak selalu sama dengan saudara kembarnya.
Dalam hal belajar, masing-masing individu memiliki kelebihan dan kekurangan dalam menyerap pelajaran yang diberikan. Menurut Hudojo (1988:100) memang tidak ada dua individu yang persis sama, setiap individu adalah unik. Suharyanto (1996:96) menyatakan bahwa jika perbedaan individu kurang diperhatikan, maka banyak siswa akan mengalami kesulitan belajar dan kegagalan belajar. Baca pos ini lebih lanjut

TONI MEMBAWA TOPI: POLA KECERDASAN LOGIS-MATEMATIS


Oleh Abdul Halim Fathani

DALAM suatu pelatihan Teachers Training “Sekolahnya Manusia” yang dilaksanakan oleh Laboratorium Psikologi IAIN Sunan Ampel Surabaya bekerjasama dengan PT Next Worldview (25-27 Desember 2009) ada beragam informasi menarik bagi saya (dan tentunya bagi teman-teman peserta yang lain). Pada sesi pertama, narasumber yang hadir dan memberikan materi adalah Pak Munif Chatib –biasa dipanggil Pak Munif- yang juga penulis buku “Sekolahnya Manusia” memberikan pertanyaan yang “unik” kepada peserta pelatihan. Salah satu tujuan dari pertanyaan yang dilontarkan oleh Pak Munif ini adalah untuk mengetahui tingkat kecerdasan logis-matematis para peserta pelatihan yang diselenggarakan di Auditorium Self Acces Center (SAC) IAIN Sunan Ampel Surabaya tersebut. Baca pos ini lebih lanjut

SAYA MANUSIA, SAYA CERDAS


ABDUL HALIM FATHANI

SUDAH cukup lama banyak orang atau pihak yang terlanjur percaya seratus persen pada hasil tes IQ (intelligence quotient), sampai-sampai tes IQ menjadi salah satu pertimbangan dalam seleksi penerimaan siswa baru di sekolah-sekolah yang meng(di)anggap favorit dan unggul. Bahkan, ada beberapa orang tua yang rela membayar mahal kepada lembaga tertentu agar hasil tes IQ anaknya dapat mencapai skor tertentu (sebagaimana yang dipersyaratkan sekolah yang akan dibidik), sehingga bisa diterima di sekolah yang dianggap- favorit atau unggul tersebut. Baca pos ini lebih lanjut

KEMBALI KE DEFINISI


ABDUL HALIM FATHANI

TELAH ditegaskan bahwa, jika kita berada dalam kondisi bimbang, biasanya diakibatkan karena kita berada di pusaran masalah. Namun, masalah tersebut tidak perlu dihindari, tapi justru harus dihadapi. Kok dihadapi? Iya, dihadapi dalam rangka untuk menyelesaikannya. Ada satu kata kunci yang dapat disimpulkan dari uraian di atas, ialah segera tinggalkan ketidakpastian (bimbang), dan segeralah menuju kepastian. Untuk menuju ke kepastian, perlu modal. Modalnya apa? Modalnya adalah pengetahuan yang shahih. Baca pos ini lebih lanjut

BELAJAR MATEMATIKA DI USIA DINI


Oleh Abdul Halim Fathani

DALAM faktanya, matematika merupakan salah satu matapelajaran di sekolah yang mendapatkan perhatian “lebih” baik dari kalangan guru, orangtua maupun anak. Selain matematika adalah termasuk matapelajaran yang diujikan dalam ujian nasional (UN) juga masih ditemukan banyak pihak yang memiliki persepsi bahwa matematika adalah pengetahuan terpenting yang harus dikuasai anak. Baca pos ini lebih lanjut