MEMBANGUN KOMUNIKASI POSITIF MELALUI TIGA KATA AJAIB


Abdul Halim Fathani

DALAM kehidupan sehari-hari, seorang individu manusia tidak bisa lepas dari orang lain. Tidak mungkin seorang manusia dapat menunaikan tugas kekhalifaannya secara mandiri. Tentu, dibutuhkan peran dari individu yang lain. Karena itulah, manusia disebut sebagai makhluk sosial. Dari segi perspektif agama (baca: Islam), manusia tentu tidak dapat dilepaskan dari campur tangan Allah swt. Dengan kata lain, ada dua jenis hubungan, yakni hubungan manusia dengan Tuhannya (hablum min llah) dan hubungan sesama manusia (hablum minannaas). Dalam berhubungan itulah, diperlukan adanya komunikasi. Komunikasi yang bagaimana? Tentu komunikasi yang beretika. Baca pos ini lebih lanjut

BAHAGIA DENGAN MENULIS


ABDUL HALIM FATHANI


MENULIS, oleh sebagian orang masih saja dianggap sebagai sebuah aktivitas yang memerlukan energi khusus. Baik energi tentang “kemampuan” maupun energi “kesempatan”. Padahal, kita tahu, bahwa siapa pun orangnya, di sekeliling kita, setiap saat, kapan pun dan di mana pun, selalu membawa benda elektronik, berupa HP (Android), Tablet, dll. Dengan perangkat elektronik tersebut, kita tahu, bahwa semua orang pasti mampu untuk mengirim atau membalas pesan. Dalam aktivitas tersebut, tidak lepas dari kegiatan membaca pesan, menulis pesan, atau mengedit pesan. Baca pos ini lebih lanjut

BETUL, BENAR, DAN IJAZAH


Abdul Halim Fathani

Penulis teringat ketika masih belajar di MAN Lamongan, tepatnya ketika belajar Matematika yang diajar oleh yang terhormat Bapak Syamsuri, M.Pd. Di sela-sela pelajaran pada pokok bahasan Logika Matematika, beliau melontarkan pertanyaan “Apa perbedaan antara BENAR dan BETUL? Kontan, teman-teman dan termasuk saya sendiri tidak dapat menjawab pertanyaan Pak Syamsuri tersebut. Baca pos ini lebih lanjut

MENTERI AGAMA BIN MENTERI AGAMA


Abdul Halim Fathani

BARU saja, tepatnya 12-14 Mei 2017, diselenggarakan acara haul Sunan Ampel yang ke-568. Haul Agung Sunan Ampel ini berbeda dengan Haul para Ulama’ di Indonesia pada umumnya. Biasanya, haul diperingati pada hitungan Hijriyah -tepat- saat hari wafatnya, sedangkan pada Haul Agung Sunan Ampel ink dilaksanaka pada Hari Jum’at, Sabtu dan Ahad pada Akhir bulan Sya’ban. Biasanya kurang 1 atau 2 minggu awal bulan Ramadhan. Baca pos ini lebih lanjut

TIPOLOGI ANAK


Abdul Halim Fathani

Membaca buku berjudul “Al-Hikam: Butiran Hikmah Abah Hasyim Muzadi”, yang diedit Dr. Rosidin, M.Pd.I, yang diterbitkan Tira Smartphone Tangerang (2017), pada halaman 142, terdapat ulasan menarik. Pada bagian ini diuraikan secara gamblang tentang tipologi anak. Baca pos ini lebih lanjut

HARI BUKU SEDUNIA


Abdul Halim Fathani

Hari ini merupakan hari yang spesial, terutama bagi pegiat buku. Hari Minggu, 23 April 2017 merupakan Hari Buku Sedunia Ada yang mengenalnya dengan Hari Buku dan Hak Cipta Sedunia dan Hari Buku Internasional. Baca pos ini lebih lanjut

WISUDA


SETIAP kali pelaksanaan wisuda (baik program diploma, sarjana, maupun pascasarjana) kita selalu menyaksikan suasana kegembiraan dan kebahagiaan yang menyelimuti hati para wisudawan dan para keluarganya, atau bahkan juga calon keluarga barunya. Mengapa gembira dan bahagia? Di antara penyebabnya adalah karena telah berhasil mengenyam pendidikan dan mengikuti segala proses pembelajaran dalam perkuliahan atau persekolahan yang sudah menguras energi yang tidak sedikit.

Sehingga dengan pelaksanaan wisuda, berarti secara formal- menunjukkan bahwa proses perkuliahan secara formal telah usai. Selanjutnya adalah mengamalkan ilmu yang telah dipelajari di bangku kuliah dalam kehidupan realitas di masyarakat.

Tidak hanya itu, bagi wisudawan yang spesial” akan bertambah lagi kegembiraannya. Karena pada kesempatan itu, pimpinan perguruan tinggi akan memberikan penghargaan (baca: pengakuan) kepada wisudawan terbaik. Wisudawan terbaik yang diberikan penghargaan ini merupakan wisudawan yang memiliki IPK (indeks prestasi kumulatif) tertinggi. Sehingga, tidak mengherankan jika peraih penghargaan ini sangat senang pada kesempatan itu.

Namun, apakah wisudawan dengan IPK tertinggi yang telah mendapat penghargaan langsung dari Rektor (baca: pimpinan perguruan tingggi) tersebut akan berakibat pada kesuksesan dalam masa depannya nanti? Jawabannya bisa bermacam-macam. Bisa ya, bisa juga tidak. Kadang saya sendiri menyaksikan, banyak wisudawan yang tidak mendapatkan penghargaan, karena IPK-nya pas-pasan atau justeru IPK-nya di bawah standar, namun mereka ternyata sudah bekerja di salah satu perusahaan atau lembaga tersohor. Ada juga yang sudah bermental entrpreneur dengan membangun usaha sendiri bermodalkan ilmu seadanya yang telah dipelajari di bangku kuliah.
Sementara bagi wisudawan yang mendapat IPK tertinggi dan telah mendapat penghargaan dari Rektor (baca: pimpinan perguruan tingggi), ternyata ada juga yang masih bingung. Ke mana setelah ini? Mau melanjutkan studi, terkendala biaya pendidikan. Mau bekerja, harus mengikuti serangkaian tes dan juga belum tentu diterima. Karena, ternyata dalam tes tersebut, tidak hanya dilihat berapa besar IPK-nya saja. Tetapi lebih dari itu, yang dilihat justru kemampuan problem solvingnya. Itulah keunikan sang juara IPK tertinggi. Namun, yang perlu digarisbawahi adalah, tidak semua wisudawan dengan IPK tertinggi bernasib buruk seperti itu. Begitu juga, bagi wisudawan dengan IPK pas-pasan atau malah di bawah standar, juga tidak selamanya selalu berpihak pada nasib kebetulan baik.