NOL (BUKAN KOSONG) DELAPAN SATU


Oleh Abdul Halim Fathani

SERING kali, ketika kita berjumpa teman yang baru saja kenal atau sudah lama tidak bertemu, selalu saja minta nomor kartu yang kita pakai dalam HP. “Berapa nomormu?” begitulah pertanyaan yang sering kita dengarkan. Tanpa berpikir panjang, kita biasanya langsung menyebutkan nomor cantik yang dimiliki, kosong delapan satu tiga tiga dua satu dan seterusnya. Si penanya juga langsung menyimpan di kontak hapenya. Baca pos ini lebih lanjut

Iklan

PROBLEM SOLVING ALA DETEKTIF


ABDUL HALIM FATHANI

SETIAP manusia tidak luput dari masalah. Selama masih hidup, selalu saja ada masalah dalam kehidupan kita. Masalah itu memiliki latar belakang dan karakter masing-masing, dan tergantung cara pandang kita dalam menghadapinya. Ada masalah besar, masalah kecil. Masalah bisa terjadi pada anak-anak, remaja, maupun dewasa. Tema masalah pun bermacam-macam. Ada masalah ekonomi, masalah pendidikan, masalah pekerjaan, masalah keluarga, masalah sosial-politik, dan seterusnya. Baca pos ini lebih lanjut

PAGI PENGAJAR, PETANG PENGARANG


ABDUL HALIM FATHANI

GURU merupakan bagian dari masyarakat yang memiliki tugas unik. Guru memiliki tanggung jawab moral untuk mengawal kemajuan dan perkembangan dinamis yang terjadi di masyarakat. Kegiatan pembelajaran di kelas yang merupakan interaksi formal-minimal antara guru dan siswa merupakan miniatur pembelajaran sesungguhnya yang terjadi dalam kehidupan.
Dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen ditegaskan bahwa Guru merupakan profesi. Undang-undang tersebut mengamanatkan fungsi, peran, dan kedudukan guru sangat yang strategis dalam pembangunan nasional dalam bidang pendidikan, sehingga perlu dikembangkan sebagai profesi yang bermartabat. Baca pos ini lebih lanjut

TES BERKUALITAS = TES YANG DAPAT DIKERJAKAN


Oleh Abdul Halim Fathani

ujian-nasional
ADA pemandangan menarik di kebanyakan kelas pembelajaran yang sering kita jumpai. Misalnya, pada suatu kesempatan ketika seorang guru (sebut saja Pak A) mengajar matematika di kelas X-B. Setelah masuk kelas, Pak A mengucapkan salam dan menyapa semua siswa yang telah duduk tenang di bangkunya masing-masing. Spontan, seluruh siswa kelas X-B menjawab salam dan merespons sapaan yang disampaikan Pak A, hatinya senang bahagia karena akan belajar dengan Pak A yang dikenal enjoi dalam mengajarnya. Tidak lama kemudian, setelah itu, Pak A menginstruksikan kepada semua siswa kelas X-B, agar menyiapkan selembar kertas kosong, “Anak-anak, sekarang tolong siapkan satu lembar kertas kosong, dan jangan lupa diberi identitas, nama dan nomor induk siswa ya?, begitulah perintah dari guru Pak A. Namun, anehnya, bukan jawaban “ya” yang menunjukkan tanda setuju, tetapi justru suara penolakan yang muncul. Siswa satu kelas “sepakat” berkata: “Duuuuuuuhhhhhh paaaak!” atau “belum siaap paaak!” atau “jangan sekarang paaaakk, tadi malam belum belajar!” atau “buka buku ya paaaaak!” dan beragam jawaban penolakan yang lain. Hampir tidak pernah instruksi –sebagaimana yang dilakukan Pak A- tersebut mendapat respons berupa dukungan dari siswa, seperti: “Siap pak!” atau “Oke pak, ini yang saya tunggu-tunggu”, atau yang lain. Mengapa demikian yang sering terjadi? Baca pos ini lebih lanjut

Manusia dan Kebutuhannya terhadap Matematika


ABDUL HALIM FATHANI

Apabila kita cermati, dalam kegiatan sehari-hari, maka setian individu manusia akan terlibat dengan matematika, mungkin dalam bentuk sederhana dan bersifat rutin atau mungkin dalam bentuk yang sangat kompleks. Baca pos ini lebih lanjut

KEUNIKAN INDIVIDU DALAM BELAJAR MATEMATIKA


Abdul Halim Fathani

SETIAP individu adalah unik. Artinya setiap individu memiliki perbedaan antara yang satu dengan yang lain. Perbedaan tersebut bermacam-macam, mulai dari perbedaan fisik, pola berpikir dan cara-cara merespon atau mempelajari hal-hal baru.

Setiap anak itu unik, demikian judul tulisan Hasanudin Abdurakhman, di Kolom Kompas (05/10/2017). Mereka tak sama dengan orang lain di sebelahnya. Tak sama dengan kakak dan adiknya. Bahkan tak selalu sama dengan saudara kembarnya.
Dalam hal belajar, masing-masing individu memiliki kelebihan dan kekurangan dalam menyerap pelajaran yang diberikan. Menurut Hudojo (1988:100) memang tidak ada dua individu yang persis sama, setiap individu adalah unik. Suharyanto (1996:96) menyatakan bahwa jika perbedaan individu kurang diperhatikan, maka banyak siswa akan mengalami kesulitan belajar dan kegagalan belajar. Baca pos ini lebih lanjut

TONI MEMBAWA TOPI: POLA KECERDASAN LOGIS-MATEMATIS


Oleh Abdul Halim Fathani

DALAM suatu pelatihan Teachers Training “Sekolahnya Manusia” yang dilaksanakan oleh Laboratorium Psikologi IAIN Sunan Ampel Surabaya bekerjasama dengan PT Next Worldview (25-27 Desember 2009) ada beragam informasi menarik bagi saya (dan tentunya bagi teman-teman peserta yang lain). Pada sesi pertama, narasumber yang hadir dan memberikan materi adalah Pak Munif Chatib –biasa dipanggil Pak Munif- yang juga penulis buku “Sekolahnya Manusia” memberikan pertanyaan yang “unik” kepada peserta pelatihan. Salah satu tujuan dari pertanyaan yang dilontarkan oleh Pak Munif ini adalah untuk mengetahui tingkat kecerdasan logis-matematis para peserta pelatihan yang diselenggarakan di Auditorium Self Acces Center (SAC) IAIN Sunan Ampel Surabaya tersebut. Baca pos ini lebih lanjut