GURU PEMBELAJAR, MENTAL GURU PROFESIONAL


Abdul Halim Fathani

 

Kemarin, Tanggal 10 Februari 2018, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Islam Malang menyelenggarakan kegiatan Pembekalan Penyelenggaraan Program Pendidikan Profesi Guru (PPG) bagi LPTK Penyelenggara Baru. Hadir dalam acara tersebut sebagai narasumber, adalah Ibu Prof. Tjutju Yuniarsih, Guru Besar Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung. Ada satu hal yang menarik bagi saya, dari pernyataan yang dilontarkan Prof. Tjuju. Adalah pernyataan yang menegaskan bahwa “PPG merupakan program yang menjadi ‘jaminan’ terakhir bagi kualitas (mutu) bagi guru. Jika PPG tidak bisa dijadikan jaminan, maka habislah riwayat pendidikan di negeri ini”. Tentu, pernyataan Prof. Tjuju ini, menarik untuk menjadi renungan  bersama, bagi kemajuan pendidikan. Baca pos ini lebih lanjut

Iklan

MERAWAT KECERDASAN


Oleh Abdul Halim Fathani

SUDAH cukup lama banyak orang/pihak yang terlanjur percaya seratus persen pada hasil tes IQ, sampai-sampai tes IQ menjadi salah satu pertimbangan dalam seleksi penerimaan siswa baru di sekolah-sekolah yang me(di)anggap favorit dan unggul. Bahkan, ada beberapa orang tua yang rela membayar mahal kepada lembaga tertentu agar hasil tes IQ anaknya dapat mencapai skor tertentu (sebagaimana yang dipersyaratkan sekolah yang akan dibidik), sehingga bisa diterima di sekolah –yang dianggap- favorit atau unggul tersebut. Baca pos ini lebih lanjut

BAHAGIANYA MENULIS TANPA TEKANAN


Abdul Halim Fathani

TENTANG menulis, di antara kita masih belum satu suara. Ada yang berpendapat bahwa menulis itu mudah dan menyenangkan. Ada juga yang mengatakan bahwa menulis itu susah, bahkan kadang bikin stres. Tetapi, masih ada sebagian lagi, kelompok yang tidak peduli dengan menulis. Ketiga kelompok itu berada di sekeliling kita. Baca pos ini lebih lanjut

NOL (BUKAN KOSONG) DELAPAN SATU


Oleh Abdul Halim Fathani

SERING kali, ketika kita berjumpa teman yang baru saja kenal atau sudah lama tidak bertemu, selalu saja minta nomor kartu yang kita pakai dalam HP. “Berapa nomormu?” begitulah pertanyaan yang sering kita dengarkan. Tanpa berpikir panjang, kita biasanya langsung menyebutkan nomor cantik yang dimiliki, kosong delapan satu tiga tiga dua satu dan seterusnya. Si penanya juga langsung menyimpan di kontak hapenya. Baca pos ini lebih lanjut

PROBLEM SOLVING ALA DETEKTIF


ABDUL HALIM FATHANI

SETIAP manusia tidak luput dari masalah. Selama masih hidup, selalu saja ada masalah dalam kehidupan kita. Masalah itu memiliki latar belakang dan karakter masing-masing, dan tergantung cara pandang kita dalam menghadapinya. Ada masalah besar, masalah kecil. Masalah bisa terjadi pada anak-anak, remaja, maupun dewasa. Tema masalah pun bermacam-macam. Ada masalah ekonomi, masalah pendidikan, masalah pekerjaan, masalah keluarga, masalah sosial-politik, dan seterusnya. Baca pos ini lebih lanjut

PAGI PENGAJAR, PETANG PENGARANG


ABDUL HALIM FATHANI

GURU merupakan bagian dari masyarakat yang memiliki tugas unik. Guru memiliki tanggung jawab moral untuk mengawal kemajuan dan perkembangan dinamis yang terjadi di masyarakat. Kegiatan pembelajaran di kelas yang merupakan interaksi formal-minimal antara guru dan siswa merupakan miniatur pembelajaran sesungguhnya yang terjadi dalam kehidupan.
Dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen ditegaskan bahwa Guru merupakan profesi. Undang-undang tersebut mengamanatkan fungsi, peran, dan kedudukan guru sangat yang strategis dalam pembangunan nasional dalam bidang pendidikan, sehingga perlu dikembangkan sebagai profesi yang bermartabat. Baca pos ini lebih lanjut

TES BERKUALITAS = TES YANG DAPAT DIKERJAKAN


Oleh Abdul Halim Fathani

ujian-nasional
ADA pemandangan menarik di kebanyakan kelas pembelajaran yang sering kita jumpai. Misalnya, pada suatu kesempatan ketika seorang guru (sebut saja Pak A) mengajar matematika di kelas X-B. Setelah masuk kelas, Pak A mengucapkan salam dan menyapa semua siswa yang telah duduk tenang di bangkunya masing-masing. Spontan, seluruh siswa kelas X-B menjawab salam dan merespons sapaan yang disampaikan Pak A, hatinya senang bahagia karena akan belajar dengan Pak A yang dikenal enjoi dalam mengajarnya. Tidak lama kemudian, setelah itu, Pak A menginstruksikan kepada semua siswa kelas X-B, agar menyiapkan selembar kertas kosong, “Anak-anak, sekarang tolong siapkan satu lembar kertas kosong, dan jangan lupa diberi identitas, nama dan nomor induk siswa ya?, begitulah perintah dari guru Pak A. Namun, anehnya, bukan jawaban “ya” yang menunjukkan tanda setuju, tetapi justru suara penolakan yang muncul. Siswa satu kelas “sepakat” berkata: “Duuuuuuuhhhhhh paaaak!” atau “belum siaap paaak!” atau “jangan sekarang paaaakk, tadi malam belum belajar!” atau “buka buku ya paaaaak!” dan beragam jawaban penolakan yang lain. Hampir tidak pernah instruksi –sebagaimana yang dilakukan Pak A- tersebut mendapat respons berupa dukungan dari siswa, seperti: “Siap pak!” atau “Oke pak, ini yang saya tunggu-tunggu”, atau yang lain. Mengapa demikian yang sering terjadi? Baca pos ini lebih lanjut