<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>masthoni</title>
	<atom:link href="http://masthoni.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://masthoni.wordpress.com</link>
	<description>merakit kata, mengikat makna</description>
	<lastBuildDate>Sat, 28 Jan 2012 03:38:54 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='masthoni.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>masthoni</title>
		<link>http://masthoni.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://masthoni.wordpress.com/osd.xml" title="masthoni" />
	<atom:link rel='hub' href='http://masthoni.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>KESEPAKATAN</title>
		<link>http://masthoni.wordpress.com/2012/01/28/kesepakatan/</link>
		<comments>http://masthoni.wordpress.com/2012/01/28/kesepakatan/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 28 Jan 2012 03:38:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>masthoni</dc:creator>
				<category><![CDATA[ARTIKEL]]></category>
		<category><![CDATA[ARTIKEL MATEMATIKA]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://masthoni.wordpress.com/?p=649</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Abdul Halim Fathani SAMPAI hari ini kita masih sering menyaksikan kegiatan ‘demo’ yang dilakukan oleh sebagian angggota masyarakat. Seperti halnya yang terjadi di Bekasi, Jawa Barat (Jumat, 27/1/2012). Unjuk rasa yang berlangsung di lima titik ini menyebabkan lumpuhnya transportasi yang mengambil jalur melalui Cikarang Barat. Termasuk tertutupnya akses Tol Cibitung dan Cikarang Barat. Di [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=masthoni.wordpress.com&amp;blog=4280765&amp;post=649&amp;subd=masthoni&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh Abdul Halim Fathani </p>
<p>SAMPAI hari ini kita masih sering menyaksikan kegiatan ‘demo’ yang dilakukan oleh sebagian angggota masyarakat. Seperti halnya yang terjadi di Bekasi, Jawa Barat (Jumat, 27/1/2012). Unjuk rasa yang berlangsung di lima titik ini menyebabkan lumpuhnya transportasi yang mengambil jalur melalui Cikarang Barat. Termasuk tertutupnya akses Tol Cibitung dan Cikarang Barat. Di Jalan Teuku Umar, misalnya, seluruh transportasi macet total, tidak bergerak sama sekali. Aksi tersebut menuntut agar Apindo Jawa Barat menarik kembali gugatannya soal penyesuaian upah minimum tahun 2012. (Kompas, 27/1/12).<span id="more-649"></span></p>
<p>Di Belanda, para Guru Muak dengan Menteri Pendidikan. Aksi protes yang dilakukan sekitar 20.000 guru sekolah menengah tersebut dilakukan dalam bentuk mogok mengajar secara masal. Mereka memprotes rencana undang-undang baru yang akan mempertahankan jumlah jam pelajaran sebanyak 1.040 jam setiap tahunnya. Guru dan siswa ingin jam tersebut dikurangi menjadi 1.000 jam. Pengaturan jam kerja dan liburan, menurut argumentasi menteri, akan mengurangi beban kerja staf pengajar selama tahun ajaran berlangsung. Namun para guru berpendapat sebaliknya; mereka tidak keberatan bekerja keras, asalkan mereka memiliki waktu yang cukup panjang setiap musim panas untuk memulihkan diri kembali. (Kompas, 27/1/12).</p>
<p>Mengapa demo masih saja terjadi, bahkan seolah-olah sudah menjadi hal yang biasa? Salah satu pemicunya adalah tidak (baca: belum) adanya satu suara dalam ‘kesepakatan’ tertentu. Dalam suatu kesepakatan, mestinya harus terjadi kata sepakat. Namanya sepakat, berarti semuanya harus setuju apa yang telah menjadi kesepakatan. Namun, pada kenyataannya meskipun secara tertulis sudah ada kesepakatan, tetapi masih saja terjadi ketidaksepakatan. Buktinya, di kemudian hari masih ada saja pihak-pihak yang protes terhadap kesepakatan yang telah disepakati.</p>
<p>Mengapa mereka tidak sepakat pada ‘kesepakatan’? Ada beberapa kemungkinan yang melatarbelakangi hal ini. Di antaranya: dalam kesepakatan tersebut masih ada celah merugikan sebagian pihak. Nah, biasanya pihak-pihak yang dirugikan ini kemudian melakukan protes terhadap ‘kesepakatan’. Dengan kata lain, kesepakatan model ini bisa kita sebut dengan ‘kesepakatan sepihak’ atau bisa juga dinamakan ‘kesepakatan yang memihak’.</p>
<p>Kesepakatan seyogianya menguntungkan semua pihak tanpa ada lagi celah merugikan pihak tertentu. Misalnya, dalam suatu organisasi, diadakan musyawarah membahas draf peraturan tentang ‘A’. Selama pembahasan, banyak pandangan yang diberikan oleh anggota musyarawaroh, sehingga draf peraturan ‘A’ tidak bisa langsung disepakati, melainkan harus mempertimbangkan pelbagai pandangan dan usulan dari anggota. Akhirnya, semua anggota musyawarah –baik pimpinan maupun anggota organisasi- telah sepakat draf peraturan ‘A’ berubah wajah menjadi ‘AB’ (dengan pelbagai pertimbangan yang menguntungkan semua pihak-tanpa merugikan pihak tertentu). Alhasil, semua anggota organisasi telah sepakat pada peraturan ‘AB’. Karena sudah sepakat yang memihak pada kebenaran, maka peraturan ‘AB’ di organisasi tersebut dapat berjalan sebagaimana mestinya.</p>
<p>Berbeda dengan kasus lainnya, di mana draf peraturan ‘A’ dilakukan pembahasan. Dalam pembahasan tersebut, ada pihak-pihak yang mengajukan usulan agar diubah menjadi peraturan ‘ABB’. Namun, meski sudah diberikan pelbagai pertimbangan, pimpinan rapat sekaligus pimpinan organisasi tetap bersikukuh untuk menetapkan draf peraturan ‘A’ menjadi peraturan ‘A’ yang –seolah-olah- telah disepakati bersama. Inilah yang kita sebut dengan kesepakatan yang memihak (baca: menguntungkan) pihak tertentu dengan merugikan pihak lain. Nah, praktik kesepakatan yang model inilah yang biasanya memicu terjadinya protes.</p>
<p>Belajar dari Matematika<br />
Ketika belajar matematika, guru kita sering menyebutkan bahwa ‘ini merupakan kesepakatan bersama kesepakatan para ahli’. Kesepakatan dalam matematika dapat berupa definisi, aksioma, simbol, istilah, dan sebagainya. Kesepakatan dalam matematika ini, sampai sekarang masih terus sepakat. Di mana pun dan kapan pun. Kesepakatan matematika tidak mengenal daerah dan waktu.</p>
<p>Mari kita perhatikan contoh berikut: Simbol yang digunakan untuk melambangkan bilangan, misalnya:<br />
‘satu’ dilambangkan ‘1’,<br />
‘dua’ dilambangkan ‘2’,<br />
‘tiga’ dilambangkan ‘3’,<br />
‘empat’ dilambangkan ‘4’,<br />
‘lima’ dilambangkan ‘5’,<br />
‘enam’ dilambangkan ‘6’,<br />
‘tujuh’ dilambangkan ‘7’, </p>
<p>Itulah beberapa kesepakatan lambang bilangan yang masih berlaku sampai sekarang.  Lambang bilangan yang digunakan sekarang: 1, 2, 3, dan seterusnya merupakan contoh sederhana dari sebuah kesepakatan dalam matematika. Siswa secara tidak sadar menerima kesepakatan itu ketika mulai mempelajari tentang angka atau bilangan. Termasuk pula penggunaan kata “satu” untuk lambang “1”, atau “sama dengan” untuk lambang “=” merupakan kesepakatan.</p>
<p>Contoh lainnya, istilah matematika ada yang disebut dengan ‘fungsi’. Adapun definisi fungsi dalam matematika adalah sebagai berikut:<br />
Misalnya A dan B merupakan himpunan. Fungsi dari himpunan A ke himpunan B adalah aturan yang mengaitkan tiap unsur dalam himpunan A dengan suatu unsur unik/tunggal di himpunan B. Secara simbol, fungsi ditulis dengan f: A  B. Himpunan semua nilai x di A disebut dengan domain dan himpunan semua nilai fungsi yang dihasilkan disebut dengan range.</p>
<p>Istilah “fungsi” dibatasi pengertiannya sebagai pemetaan yang mengawankan setiap elemen dari himpunan yang satu (unik/tunggal) ke tepat sebuah elemen di himpunan yang lain. Mengapa harus menggunakan kata “tepat satu”? Penggunaan kata “tepat satu” merupakan contoh kesepakatan dalam matematika. Bila ada pemetaan yang bernilai ganda, kita tidak menyebutnya sebagai fungsi.</p>
<p>Dalam matematika, kesepakatan merupakan tumpuan yang amat penting. Kesepakatan yang amat mendasar adalah aksioma (postulat, pernyataan pangkal yang tidak perlu pembukian) dan konsep primitif (pengertian pangkal yang tidak perlu didefinisikan, underfined term). Aksioma yang diperlukan untuk menghindari berputar-putar dalam pembuktian (circulus in probando). Sedangkan knsep primitif diperlukan untuk menghindari brputar-putar dalam pendefinisian (circulus in defienindo). Simbol-simbol dan istilah-istilah dalam matematika merupakan kesepakatan yang penting. Dengan simbol dan istilah yang telah disepakati dalam matematika tentu akan berdampak pada belajar matematika yang menjadi mudah dilakukan dan dikomunikasikan.<br />
Itulah, kesepakatan dalam matematika. Selama belajar matematika kita dituntut untuk bekerja sesuai dengan kesepakatan. Namun, apabila kita menemukan kesepakatan dalam matematika tersebut ada yang harus dikembangkan, maka kita ‘boleh’ tidak mengikuti kesepakatan, tetapi kita harus memberikan argumentasi secara matematis kalau kesepekatan tersebut sudah tidak ‘relevan’ lagi, sehingga akan diganti dengan ‘kesepakatan baru’.</p>
<p>Belajar dari kesepakatan dalam matematika ini, tentu kita semua sebagai orang yang pasti pernah belajar matematika, baik tingkat SD, SMP, SMA, hingga perguruan tinggi kiranya kita dapat mengambil ‘hikmah’ yang terkandung di dalamnya. Selama kesepakatan tersebut memihak kebenaran dengan menguntungkan semua pihak, maka kita harus mendukung kesepakatan tersebut. Sehingga kesepakatan yang telah disepakati benar-benar kesepakatan yang berlaku bagi semua orang. [ahf]</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/masthoni.wordpress.com/649/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/masthoni.wordpress.com/649/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/masthoni.wordpress.com/649/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/masthoni.wordpress.com/649/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/masthoni.wordpress.com/649/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/masthoni.wordpress.com/649/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/masthoni.wordpress.com/649/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/masthoni.wordpress.com/649/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/masthoni.wordpress.com/649/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/masthoni.wordpress.com/649/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/masthoni.wordpress.com/649/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/masthoni.wordpress.com/649/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/masthoni.wordpress.com/649/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/masthoni.wordpress.com/649/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=masthoni.wordpress.com&amp;blog=4280765&amp;post=649&amp;subd=masthoni&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://masthoni.wordpress.com/2012/01/28/kesepakatan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4fa1ace0eaaf7442dd6f821cd02bbd38?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">masthoni</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>BERGURU MENULIS KEPADA KH. HASYIM ASYARI</title>
		<link>http://masthoni.wordpress.com/2012/01/27/berguru-menulis-kepada-kh-hasyim-asyari/</link>
		<comments>http://masthoni.wordpress.com/2012/01/27/berguru-menulis-kepada-kh-hasyim-asyari/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 27 Jan 2012 08:12:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>masthoni</dc:creator>
				<category><![CDATA[ARTIKEL]]></category>
		<category><![CDATA[ARTIKEL PENULISAN]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://masthoni.wordpress.com/?p=645</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Abdul Halim Fathani ISLAM, sejak dahulu menghargai tradisi dan kemampuan tulis-menulis, mengingat manfaatnya yang begitu besar bagi perkembangan peradaban umat manusia. Misalnya, apa yang akan terjadi kalau tidak ada budaya (tradisi) baca-tulis, orang tentu akan sangat sulit mengetahui, belajar tentang kitab suci al-Qur’an yang berjumlah lebih dari 6000-an ayat tersebut, dan hadits yang tak [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=masthoni.wordpress.com&amp;blog=4280765&amp;post=645&amp;subd=masthoni&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh Abdul Halim Fathani</p>
<p>ISLAM, sejak dahulu menghargai tradisi dan kemampuan tulis-menulis, mengingat manfaatnya yang begitu besar bagi perkembangan peradaban umat manusia. Misalnya, apa yang akan terjadi kalau tidak ada budaya (tradisi) baca-tulis, orang tentu akan sangat sulit mengetahui, belajar tentang kitab suci al-Qur’an yang berjumlah lebih dari 6000-an ayat tersebut, dan hadits yang tak kalah besar jumlahnya mencapai ratusan ribu buah. <span id="more-645"></span></p>
<p>Apabila kita menengok pada sejarah para ulama’, akan diketahui bahwa para ulama’ tersebut mewariskan ilmunya dengan sebuah tulisan dalam berbagai kitab dan manuskrip. Dan, isi kitab yang ditulisnya pun memiliki kadar kualitas yang berbobot dan menjadi referensi umat sepanjang zaman, sampai saat ini. Namun, tradisi yang demikian itu, semakin lama semakin punah. Sulit rasanya kita mencari generasi umat Islam yang mewariskan “kitab” pegangan hidup. Padahal, tidak dapat dipungkiri, waktu demi waktu, ulama kita secara bergiliran akan meninggalkan kita. Tentu, hanya ada satu cara untuk menyelamatkan pikiran-pikiran mulai para ulama tersebut. Yakni dengan menulis, menulis, dan menulis.</p>
<p>Tidak ada di antara kita yang tak sepakat bahwa kepakaran dan keilmuan seorang ulama, cendekiawan, perlu didukung (dibuktikan) dengan menghasilkan karya nyata yang betul-betul bisa “dinikmati” oleh masyarakat, di antaranya dengan melihat berapa banyak karya tulis atau buku yang telah dikarang. Tentunya umat Islam sudah tak asing lagi dengan nama Imam al-Ghazali karena kemashuran kitabnya yang berjudul Ihya’ al-‘Ulumuddin, Imam Bukhari dengan Shahih Bukhari, Imam Muslim dengan Shahih Muslim, Imam Malik dengan Muwatta’, Imam Syafi’i dengan al-Umm dan banyak lagi ulama lainnya. </p>
<p>Di Indonesia, nama KH. Hasyim Asyari sudah tidak asing lagi bagi kita, terutama warga nahdliyin. KH. Hasyim Asy’ari  merupakan pendiri Pesantren Tebuireng Jombang-Jawa Timur, tokoh ulama dan pendiri Nahdlatul Ulama’ (NU), organisasi Islam terbesar di Indonesia bahkan di Asia Tenggara. Hadratussyaikh yang juga merupakan Pahlawan Nasional ini merupakan salah satu tokoh besar Indonesia abad ke-20. Kiai Hasyim lahir pada Selasa Kliwon, 24 Dzulqa’dah 1287 H, bertepatan dengan tanggal 14 Februari l871 M, di pesantren Gedang, desa Tambakrejo, sekitar 2 km. ke arah utara Kota Jombang. Putra ketiga dari 11 bersaudara pasangan Kiai Asy’ari dan Nyai Halimah. Kiai Asy’ari adalah menantu Kiai Utsman, pengasuh pesantren Gedang. </p>
<p>Di bawah ini merupakan biografi singkat tentang “rekaman” tradisi menulis yang telah dilakoni oleh Hadratussyaikh semasa hidupnya. Rekaman ini disadur dari sebuah artikel biografi yang diunduh dari situs pesantren tebuireng (http://www.tebuireng.net/index.php?pilih=news&amp;mod=yes&amp;aksi=lihat&amp;id=30). </p>
<p>Menelusuri Karya KH. Hasyim Asyari<br />
KH. Hasyim Asyari adalah sosok ulama yang lengkap. Di samping aktif mengajar, berdakwah, dan berjuang, beliau juga termasuk penulis produktif. Beliau meluangkan waktu untuk menulis setiap pagi hari, antara pukul 10.00 sampai menjelang dzuhur. Waktu ini merupakan waktu longgar yang biasa digunakan untuk membaca kitab, menulis, juga menerima tamu. Karya-karya Kiai Hasyim banyak yang merupakan jawaban atas berbagai problematika masyarakat. Misalnya, ketika umat Islam banyak yang belum faham persoalan tauhid atau aqidah, Kiai Hasyim lalu menyusun kitab tentang aqidah, di antaranya Al-Qalaid fi Bayani ma Yajib min al-Aqaid, Ar-Risalah al-Tauhidiyah, Risalah Ahli Sunnah Wa al-Jama’ah, Al-Risalah fi al-Tasawwuf, dan lain sebagainya.</p>
<p>KH. Hasyim Asyari juga sering menjadi kolumnis di majalah-majalah, seperti Majalah Nahdhatul Ulama’, Panji Masyarakat, dan Swara Nahdhotoel Oelama’. Biasanya tulisan Kiai Hasyim berisi jawaban-jawaban atas masalah-masalah fiqhiyyah yang ditanyakan banyak orang, seperti hukum memakai dasi, hukum mengajari tulisan kepada kaum wanita, hukum rokok, dll. Selain membahas tentang masail fiqhiyah, Kiai Hasyim juga mengeluarkan fatwa dan nasehat kepada kaum muslimin, seperti al-Mawaidz, doa-doa untuk kalangan Nahdhiyyin, keutamaan bercocok tanam, anjuran menegakkan keadilan, dan lainnya.</p>
<p>Adapun karya-karya KH. Hasyim Asy’ari yang dapat ditelusuri adalah sebagai berikut:<br />
1.	Al-Tibyan fi al-Nahy ‘an Muqatha’ah al-Arham wa al-Aqarib wa al-Ikhwan. Berisi tentang tata cara menjalin silaturrahim, bahaya dan pentingnya interaksi sosial. Tebal 17 halaman, selesai ditulis hari Senin, 20 Syawal 1360 H., penerbit Maktabah Al-Turats Al-Islami Ma’had Tebuireng.<br />
2.	Mukaddimah al-Qanun al-Asasy li Jam’iyyah Nahdhatul Ulama. Pembukaan undang-undang dasar (landasan pokok) organisasi Nahdhatul Ulama’. Tebal 10 halaman. Berisikan ayat-ayat al-Qur’an yang berkaitan dengan Nahdhatul Ulama’ dan dasar-dasar pembentukannya disertai beberapa hadis dan fatwa-fatwa Kiai Hasyim tentang berbagai persoalan. Pernah dicetak oleh percetakan Menara Kudus tahun 1971 M. dengan judul, ”Ihya’ Amal al-Fudhala’ fi al-Qanun al-Asasy li Jam’iyah Nahdhatul Ulama’”.<br />
3.	Risalah fi Ta’kid al-Akhdz bi Madzhab al-A’immah al-Arba’ah. Risalah untuk memperkuat pegangan atas madzhab empat. Tebal 4 halaman, berisi tentang perlunya berpegang kepada salah satu diantara empat madzhab (Hanafi, Maliki, Syafi’I, dan Hanbali). Di dalamnya juga terdapat uraian tentang metodologi penggalian hukum (istinbat al-ahkam), metode ijtihad, serta respon atas pendapat Ibn Hazm tentang taqlid.<br />
4.	Mawaidz. Beberapa Nasihat. Berisi fatwa dan peringatan tentang merajalelanya kekufuran, mengajak merujuk kembali kepada al-Quran dan hadis, dan lain sebagainya. Testament keagamaan ini pernah disiarkan dalam kongres Nahdhatul Ulama’ ke XI tahun 1935 di Kota Bandung, dan pernah diterjemahkan oleh Prof. Buya Hamka dalam majalah Panji Masyarakat no.5 tanggal 15 Agustus 1959, tahun pertama halaman 5-6.<br />
5.	Arba’in Haditsan Tata’allaq bi Mabadi’ Jam’lyah Nahdhatul Ulama’. 40 hadits Nabi yang terkait dengan dasar-dasar pembentukan Nahdhatul Ulama’.<br />
6.	Al-Nur al-Mubin fi Mahabbah Sayyid al-Mursalin. Cahaya yang jelas menerangkan cinta kepada pemimpin para rasul. Berisi dasar kewajiban seorang muslim untuk beriman, mentaati, meneladani, dan mencintai Nabi Muhammad SAW. Tebal 87 halaman, memuat biografi singkat Nabi SAW mulai lahir hingga wafat, dan menjelaskan mu’jizat shalawat, ziarah, wasilah, serta syafaat. Selesai ditulis pada 25 Sya’ban 1346 H., terdiri dari 29 bab.<br />
7.	At-Tanbihat al-Wajibat liman Yashna’ al-Maulid bi al-Munkarat. Peringatan-peringatan wajib bagi penyelenggara kegiatan maulid yang dicampuri dengan kemungkaran. Ditulis berdasarkan kejadian yang pernah dilihat pada malam Senin, 25 Rabi’ al-Awwal 1355 H., saat para santri di salah satu pesantren sedang merayakan Maulid Nabi yang diiringi dengan perbuatan mungkar, seperti bercampurnya laki-laki dan perempuan, permainan yang menyerupai judi, senda gurau, dll. Pada halaman pertama terdapat pengantar dari tim lajnah ulama al-Azhar, Mesir. Selesai ditulis pada 14 Rabi’ at-Tsani 1355 H., terdiri dari 15 bab setebal 63 halaman, dicetak oleh Maktabah at-Turats al-Islamy Tebuireng, cetakan pertama tahun 1415 H.<br />
8.	Risalah Ahli Sunnah Wal Jama’ah fi Hadits al-Mauta wa Syarat as-Sa’ah wa Bayan Mafhum al-Sunnah wa al-Bid’ah. Risalah Ahl Sunnah Wal Jama’ah tentang hadis-hadis yang menjelaskan kematian, tanda-tanda hari kiamat, serta menjelaskan sunnah dan bid’ah. Berisi 9 pasal.<br />
9.	Ziyadat Ta’liqat a’la Mandzumah as-Syekh ‘Abdullah bin Yasin al-Fasuruani. Catatan seputar nadzam Syeikh Abdullah bin Yasin Pasuruan. Berisi polemik antara Kiai Hasyim dan Syeikh Abdullah bin Yasir. Di dalamnya juga terdapat banyak pasal berbahasa Jawa dan merupakan fatwa Kiai Hasyim yang pernah dimuat di Majalah Nahdhatoel Oelama’. Tebal 144 halaman.<br />
10.	Dhau’ul Misbah fi Bayan Ahkam al-Nikah. Cahayanya lampu yang benderang menerangkan hukum-hukum nikah. Berisi tata cara nikah secara syar’i; hukum-hukum, syarat, rukun, dan hak-hak dalam perkawinan. Kitab ini biasanya dicetak bersama kitab Miftah al-Falah karya almarhum Kiai Ishamuddin Hadziq, sehingga tebalnya menjadi 75 halaman.<br />
11.	Ad-Durrah al Muntasyiroh Fi Masail Tis’a ‘Asyarah. Mutiara yang memancar dalam menerangkan 19 masalah. Berisi kajian tentang wali dan thariqah dalam bentuk tanya-jawab sebanyak 19 masalah. Tahun 1970-an kitab ini diterjemahkan oleh Dr. KH. Thalhah Mansoer atas perintah KH. M. Yusuf Hasyim, dierbitkan oleh percetakan Menara Kudus. Di dalamnya memuat catatan editor setebal xxxiii halaman. Sedangkan kitab aslinya dimulai dari halaman 1 sampai halaman 29.<br />
12.	Al-Risalah fi al-’Aqaid. Berbahasa Jawa, berisi kajian tauhid, pernah dicetak oleh Maktabah an-Nabhaniyah al-Kubra Surabaya, bekerja sama dengan percetakan Musthafa al-Babi al-Halabi Mesir tahun 1356 H./1937M. Dicetak bersama kitab Kiai Hasyim lainnya yang berjudul Risalah fi at-Tashawwuf serta dua kitab lainnya karya seorang ulama dari Tuban. Risalah ini ditash-hih oleh syeikh Fahmi Ja’far al-Jawi dan Syeikh Ahmad Said ‘Ali (al-Azhar). Selelai ditash-hih pada hari Kamis, 26 Syawal 1356 H/30 Desember 1937 M.<br />
13.	Al-Risalah fi at-Tasawwuf. Menerangkan tentang tashawuf; penjelasan tentang ma’rifat, syariat, thariqah, dan haqiqat. Ditulis dengan bahasa Jawa, dicetak bersama kitab al-Risalah fi al-‘Aqaid.<br />
14.	Adab al-‘Alim wa al-Muta’allim fima Yahtaju ilaih al-Muta’allim fi Ahwal Ta’limih wama Yatawaqqaf ‘alaih al-Muallim fi Maqat Ta’limih. Tatakrama pengajar dan pelajar. Berisi tentang etika bagi para pelajar dan pendidik, merupakan resume dari Adab al-Mu’allim karya Syekh Muhammad bin Sahnun (w.256 H/871 M); Ta’lim al-Muta’allim fi Thariq at-Ta’allum karya Syeikh Burhanuddin al-Zarnuji (w.591 H); dan Tadzkirat al-Saml wa al-Mutakallim fi Adab al-‘Alim wa al-Muta’allim karya Syeikh Ibn Jama’ah. Memuat 8 bab, diterbitkan oleh Maktabah at-Turats al-Islamy Tebuireng. Di akhir kitab terdapat banyak pengantar dari para ulama, seperti: Syeikh Sa’id bin Muhammad al-Yamani (pengajar di Masjidil Haram, bermadzhab Syafii), Syeikh Abdul Hamid Sinbal Hadidi (guru besar di Masjidil Haram, bermadzhab Hanafi), Syeikh Hasan bin Said al-Yamani (Guru besar Masjidil Haram), dan Syeikh Muhammad ‘Ali bin Sa’id al-Yamani.</p>
<p>Selain kitab-kitab tersebut di atas, terdapat beberapa naskah manuskrip karya KH. Hasyim Asy’ari yang hingga kini belum diterbitkan, yaitu:<br />
1.	Hasyiyah ‘ala Fath ar-Rahman bi Syarh Risalah al-Wali Ruslan li Syeikh al-Islam Zakariya al-Anshari.<br />
2.	Ar-Risalah at-Tawhidiyah<br />
3.	Al-Qala’id fi Bayan ma Yajib min al-Aqa’id<br />
4.	Al-Risalah al-Jama’ah<br />
5.	Tamyiz al-Haqq min al-Bathil<br />
6.	al-Jasus fi Ahkam al-Nuqus<br />
7.	Manasik Shughra</p>
<p>Sungguh luar biasa! KH. Hasyim Asyari telah meninggalkan warisan yang sangat berharga. Dari kebiasaan yang dilakoni Hadratussyaikh, ada beberapa “hikmah” yang dapat kita ambil. Pertama, terkait waktu menulis, ternyata beliau istiqamah meluangkan waktu untuk menulis setiap pagi hari, antara pukul 10.00 sampai menjelang dzuhur. Hal ini mengingatkan kepada kita semua (termasuk saya) agar meluangkan waktu tertentu untuk menghasilkan karya (baca: menulis). Kalau di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, terdapat figure Rektor yang patut diteladani, Prof. Dr. H. Imam Suprayogo. Beliau secara istiqamah meluangkan waktu untuk menulis setiap bakda shubuh yang kemudian dipublikasikan via website.</p>
<p>Kedua, Motivasi KH. Hasyim Asyari untuk menulis merupakan jawaban atas berbagai problematika masyarakat dan fatwa dan nasehat kepada kaum muslimin Dengan demikian, masyarakat dan umat Islam akan selalu menunggu tulisan (baca: karya) dari Hadratussyaikh. Karena, tulisan yang dihasilkan dapat menjadi jawaban atas berbagai “kegelisahan” yang terjadi di masyarakat. Alhasil, tulisan yang dihasilkan Hadratusysyaikh benar-benar bermanfaat.</p>
<p>Berbagai tulisan yang telah diwariskan KH. Hasyim Asyari –baik dalam bentuk buku, manuskrip, maupun yang dipublikasikan dalam majalah- benar-benar telah menjadi bukti atas kepakaran dan keilmuan seorang ulama. Ini dibuktikan dengan munculnya sejumlah karya bermutu tinggi yang dilahirkan beliau. Dan, tulisan Hadratussyaikh –sampai kini- masih menjadi rujukan penting bagi umat Islam dalam melakoni kehidupan. Tidak heran jika dikatakan bahwa karya tulis (memang) memegang peran penting dalam transmisi ilmu pengetahuan kepada masyarakat secara luas. Bila pada masa lalu Kyai Haji Hasyim Asyari telah berhasil mewariskan ilmunya melalui karya tulisan yang banyak, bermutu, dan bermanfaat, maka generasi muda sekarang pun seharusnya bisa mengikuti jejak Hadratussyaikh. Amin. [ahf]</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/masthoni.wordpress.com/645/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/masthoni.wordpress.com/645/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/masthoni.wordpress.com/645/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/masthoni.wordpress.com/645/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/masthoni.wordpress.com/645/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/masthoni.wordpress.com/645/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/masthoni.wordpress.com/645/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/masthoni.wordpress.com/645/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/masthoni.wordpress.com/645/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/masthoni.wordpress.com/645/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/masthoni.wordpress.com/645/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/masthoni.wordpress.com/645/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/masthoni.wordpress.com/645/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/masthoni.wordpress.com/645/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=masthoni.wordpress.com&amp;blog=4280765&amp;post=645&amp;subd=masthoni&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://masthoni.wordpress.com/2012/01/27/berguru-menulis-kepada-kh-hasyim-asyari/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4fa1ace0eaaf7442dd6f821cd02bbd38?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">masthoni</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>ENTREPRENEURSHIP PENELITI(AN)</title>
		<link>http://masthoni.wordpress.com/2012/01/26/entrepreneurship-penelitian/</link>
		<comments>http://masthoni.wordpress.com/2012/01/26/entrepreneurship-penelitian/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 26 Jan 2012 06:28:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>masthoni</dc:creator>
				<category><![CDATA[ARTIKEL]]></category>
		<category><![CDATA[ARTIKEL PENDIDIKAN]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://masthoni.wordpress.com/?p=642</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Abdul Halim Fathani PENELITIAN merupakan kompas moral akademia, utamanya dalam aras pendidikan baik pada perguruan tinggi maupun lembaga riset. Penelitian merupakan ruh dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek). Bangsa yang maju ialah bangsa yang memberi perhatian “khusus” bagi terciptanya budaya meneliti di negaranya. Kuantitas peneliti di Indonesia sangat luar biasa. Indonesia memiliki lebih [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=masthoni.wordpress.com&amp;blog=4280765&amp;post=642&amp;subd=masthoni&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh Abdul Halim Fathani</p>
<p><strong>PENELITIAN</strong> merupakan kompas moral akademia, utamanya dalam aras pendidikan baik pada perguruan tinggi maupun lembaga riset. Penelitian merupakan ruh dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek). Bangsa yang maju ialah bangsa yang memberi perhatian “khusus” bagi terciptanya budaya meneliti di negaranya. <span id="more-642"></span></p>
<p>Kuantitas peneliti di Indonesia sangat luar biasa. Indonesia memiliki lebih dari 60.000 peneliti yang tersebar di 114 perguruan tinggi negeri, 301 perguruan tinggi swasta, 8 badan usaha milik Negara, 8 badan usaha miliki swasta, 76 lembaga penelitian kementerian, 91 lembaga nonkementerian, dan 24 lembaga penelitian pemerintah daerah (Kompas, 1/11/2011). Melihat fakta ini, sungguh luar biasa potensi peneliti di negara kita.</p>
<p>Ilmu pengetahuan bukanlah hal yang statis. Ilmu pengetahuan akan terus berkembang secara dinamis. Di sinilah, penelitian memegang peran penting dalam rangka membangun peradaban bangsa. Namun, tradisi penelitian di Indonesia –sampai kini- masih “kembang-kempis”. Mulai dari keluhan pada minimnya kesejahteraan peneliti dan terbatasnya dana penelitian, belum lagi rumitnya sistem pelaporan keuangan dibanding laporan penelitiannya. Konsekuensinya, banyak peneliti yang terjebak pada sistem birokrasi negara. </p>
<p>Sebagaimana diberitakan Koran ini, mekanisme kegiatan penelitian dimasukkan dalam pos pengadaan barang dan jasa. Tentu, mekanisme ini sangat merepotkan bagi peneliti karena semua pengeluaran harus bisa dibuktikan dengan kuitansi. Akibatnya, -bisa jadi- laporan pengeluran keuangan akan lebih tebal dibanding laporan penelitian (akademik)nya.</p>
<p>Selain menyangkut mekanisme pelaporan keuangan, kadang instansi/lembaga penelitian menggunakan paradigma “yang penting terserap”. Setiap intansi memperoleh dana penelitian yang bersumber dari APBN, meski secara kumulatif telah mengalami penurunan drastis. Tahun 2009, anggaran riset Rp 1,2 triliun, tahun 2010 turun lebih dari separuh menjadi Rp 453 miliar, dan tahun 2011 ini turun lagi menjadi Rp 435 miliar (Kompas, 1/11/2011). </p>
<p>Dampak dari praktik paradigma inilah yang mengakibatkan banyaknya peneliti yang melakukan riset secara asal-asalan. Baginya, yang penting adalah peneliti mendapatkan dana penelitian (yang terbatas itu) kemudian melakukan penelitian sekadarnya, kemudian hasil penelitiannya “cukup” dikumpulkan beserta kuitansinya dan selanjutnya menjadi koleksi rapi di perpustakaan yang hanya bisa dikonsumsi kaum akademik yang sangat-sangat terbatas. Praktik ini aman secara sistem keuangan APBN, tetapi kualitas (dan manfaat) penelitian sungguh, masih layak dipertanyakan. </p>
<p><strong>Daur ulang penelitian</strong><br />
Masalah krusial dalam penelitian, adalah terbatasnya dana dan minimnya kesejahteraan peneliti. Sebagaimana kesimpulan Ratnawati (Kompas, 10/11/2011) terhadap pernyataan Menteri Riset dan Teknologi Gusti Muhammad Hatta bahwa dalam waktu dekat tak akan menaikkan gaji peneliti meskipun kesenjangan gaji peneliti dengan gaji dosen sangatlah lebar dan tidak manusiawi.</p>
<p>Menanggapi kenyataan tersebut, menjadi tidak heran jika banyak peneliti yang melakukan daur ulang hasil penelitiannya dalam format lain, demi mengejar “kesejahteraan” yang lebih layak dan manusiawi. Tidak sedikit peneliti yang memformat hasil penelitiannya dalam bentuk artikel jurnal, makalah seminar, buku yang diterbitkan, dan sebagainya. Hal ini dilakukan agar hasil penelitiannya itu dapat “dihargai” kembali sehingga peneliti dapat “sejahtera” untuk memenuhi kebutuhan finansialnya.</p>
<p>Tidak jelek memang, namun menyikapi hal ini seyogianya pemerintah membuka mata lebar-lebar. Agar tema penelitian tidak hanya berhenti di satu titik, maka peneliti perlu diberi ruang dan waktu yang lebih luas, agar dapat menghasilkan banyak penelitian murni. Pemerintah perlu memperlakukan peneliti secara manusiawi dari pelbagai aspeknya. Dengan demikian, tradisi penelitian semakin semarak, perkembangan ilmu pengetahuan akan semakin cepat dan maju. </p>
<p><strong>Paradigma “layak jual”</strong><br />
Kalau kita menengok harga lukisan, tentu bervariasi. Mulai dari ratusan ribu hingga jutaan rupiah. Seakan-akan hidup pelukis lebih sejahtera disbanding seorang peneliti. Lukisan jauh lebih “berharga” daripada hasil penelitian. Terinspirasi dari hal ini, hemat penulis bahwa penelitian sudah selayaknya dilakukan dengan mengedepankan aspek kualitas secara keilmuan yang “dihargai” secara manusiawi. Bukan berbasis proyek yang memiliki paradigma “yang penting dapat menghabiskan anggaran”, sementara hasil penelitiannya tidak bermutu. </p>
<p>Kadang perlu dicoba, peneliti melakukan penelitian atas inisiatif sendiri yang bersumber dari dana pribadi atau penelitian mandiri. Dengan kata lain, penulis sebut sebagai peneliti yang memiliki mental entrepreneurship. Setelah melakukan penelitian, kemudian produk atau manfaatnya “dijual” ke konsumen, dalam hal ini adalah sasaran penelitian. Berkaca pada lukisan, maka harga jual sebuah “hasil” penelitian dapat bervariasi hingga jutaan rupiah bahkan bisa lebih.</p>
<p>Penelitian mandiri ini tentu berisiko. Bagi peneliti yang hasil penelitiannya “kelas rendahan”, peluang untuk laku di pasar adalah kecil. Sebaliknya, bagi peneliti yang hasil penelitiannya berkualitas tinggi, tentu akan diserbu pasar dengan harga yang bersaing. Hal ini merupakan tantangan bagi setiap peneliti untuk menghasilkan kualitas penelitian yang berbobot. Jika hal ini dicoba-praktikkan, maka tidak akan ada lagi keluhan minimnya dana penelitian dan rumitnya birokrasi keuangan. </p>
<p>Dengan penelitian mandiri, maka kita bisa melakukan penelitian secara bebas, tidak terikat sistem keuangan negara, tidak terbatasi oleh ruang dan waktu. Paradigma penelitian mandiri adalah bagaimana melakukan penelitian yang layak jual di pasaran.[ahf]</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/masthoni.wordpress.com/642/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/masthoni.wordpress.com/642/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/masthoni.wordpress.com/642/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/masthoni.wordpress.com/642/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/masthoni.wordpress.com/642/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/masthoni.wordpress.com/642/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/masthoni.wordpress.com/642/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/masthoni.wordpress.com/642/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/masthoni.wordpress.com/642/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/masthoni.wordpress.com/642/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/masthoni.wordpress.com/642/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/masthoni.wordpress.com/642/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/masthoni.wordpress.com/642/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/masthoni.wordpress.com/642/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=masthoni.wordpress.com&amp;blog=4280765&amp;post=642&amp;subd=masthoni&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://masthoni.wordpress.com/2012/01/26/entrepreneurship-penelitian/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4fa1ace0eaaf7442dd6f821cd02bbd38?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">masthoni</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>KECERDASAN SPIRITUAL</title>
		<link>http://masthoni.wordpress.com/2012/01/25/kecerdasan-spiritual/</link>
		<comments>http://masthoni.wordpress.com/2012/01/25/kecerdasan-spiritual/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 25 Jan 2012 13:46:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>masthoni</dc:creator>
				<category><![CDATA[ARTIKEL]]></category>
		<category><![CDATA[ARTIKEL PENDIDIKAN]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://masthoni.wordpress.com/?p=637</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Abdul Halim Fathani KETIKA diskusi terkait kecerdasan, biasanya yang sering disebut adalah kecerdasan intelektual (Intellectual Quotient/IQ), dan emosional (Emotional Quotient/EQ). Tema pokok yang paling mendasar adalah “kesuksesan dapat dicapai bila ada keseimbangan antara kedua kecerdasan tersebut”. Dalam perkembangannya, tepatnya tahun 2000, Psikolog Danah Zohar dan suaminya Ian Marshall memunculkan kecerdasan “baru” yaitu kecerdasan spiritual [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=masthoni.wordpress.com&amp;blog=4280765&amp;post=637&amp;subd=masthoni&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh Abdul Halim Fathani</p>
<p><strong>KETIKA</strong> diskusi terkait kecerdasan, biasanya yang sering disebut adalah kecerdasan intelektual (<em>Intellectual Quotient/IQ</em>), dan emosional (<em>Emotional Quotient/EQ</em>). Tema pokok yang paling mendasar adalah “kesuksesan dapat dicapai bila ada keseimbangan antara kedua kecerdasan tersebut”. Dalam perkembangannya, tepatnya tahun 2000, Psikolog Danah Zohar dan suaminya Ian Marshall memunculkan kecerdasan “baru” yaitu kecerdasan spiritual (<em>Spiritual Quotient/SQ</em>). Danah Zohar adalah pemikir asal Inggris yang terpengaruh oleh pemikiran dosennya, David Bohm, fisikawan ternama yang menemukan fisika kuantum. Pemikiran Danah Zohar terhadap psikologi manusia, khususnya menyangkut <em>self</em> (diri), merujuk pada hasil riset terakhir dalam berbagai bidang, antara lain teori kuantum dan riset tentang mata ketiga dari tradisi Yoga. Juga, bagian dari perkembangan riset tentang misteri otak.<span id="more-637"></span></p>
<p>Melalui bukunya berjudul SQ: Spiritual Intelligence, The Ultimate Intelligence, yang diterbitkan di London Januari 2000, dan sudah diterjemahkan (dan diterbitkan) dengan judul SQ: Memanfaatkan Kecerdasan Spiritual dalam Berpikir Integralistik dan Holistik untuk Memaknai Kehidupan, oleh Mizan (2001), Danah Zohar dan Ian Marshall mendefiniskan kecerdasan spiritual adalah kecerdasan untuk menghadapi persoalan makna (value), yaitu kecerdasan untuk menempatkan perilaku dan hidup kita dalam konteks makna yang lebih luas dan kaya, kecerdasan untuk menilai bahwa tindakan atau jalan hidup seseorang lebih bermakna dibandingkan dengan yang lain. SQ adalah landasan yang diperlukan untuk memfungsikan IQ dan EQ secara efektif. Bahkan SQ merupakan kecerdasan tertinggi kita.</p>
<p>Sementara itu, Subandi dalam papernya <em>Menyoal Kecerdasan Spiritual</em> yang disampaikan dalam seminar setengah hari “Spiritual Intelligence” yang diselenggarakan oleh PW IJABI Yogya di gedung UC UGM 6 Juni 2001, menguraikan bahwa dalam bukunya SQ, Danah Zohar tampak tidak memberikan batasan secara definitif, tetapi mereka memberikan penjelasan-penjelasan maupun berbagai gambaran yang semuanya berkaitan dengan esensi SQ. </p>
<p>Dari penjelasan-penjelasan Danah dan Ian dalam bukunya, tampak bahwa pengarang sangat menekankan aspek nilai dan makna sebagai unsur penting dari kecerdasan spiritual. Yakni: “SQ adalah kecerdasan untuk menghadapi dan memecahkan masalah makna dan nilai”. (h.4); ‘SQ adalah kecerdasan untuk menempatkan perilaku dan hidup manusia dalam konteks makna yang lebih luas dan kaya (h.4); “Kecerdasan untuk menilai bahwa tindakan atau jalan hidup seseorang lebih bermakna dibandingkan dengan yang lain (h.4); “Kecerdasan ini tidak hanya untuk mengetahui nilai-nilai yang ada, tetapi juga untuk secara kreatif menemukan nilai-nilai baru.</p>
<p>Namun, pada zaman sekarang ini terjadi krisis spiritual karena kebutuhan makna tidak terpenuhi sehingga hidup manusia terasa dangkal dan hampa. Menurut Lisa Kumalanty (2010) dalam jurnal Pendidikan BPK Penabur menjelaskan ada tiga sebab yang membuat seseorang dapat terhambat secara spiritual, yaitu tidak mengembangkan beberapa bagian dari dirinya sendiri sama sekali, telah mengembangkan beberapa bagian, namun tidak proporsional, dan bertentangannya/buruknya hubungan antara bagian-bagian. </p>
<p>Terkait hal ini, dalam artikelnya Lisa menguraikan pelbagai usaha yang dapat digunakan untuk mengatasi krisis spiritual menurut Danah dan Ian dengan memberikan “Enam Jalan Menuju Kecerdasan Spiritual yang Lebih Tinggi” dan “Tujuh Langkah Praktis Mendapatkan SQ Lebih Baik”. Enam Jalan tersebut yaitu jalan tugas, jalan pengasuhan, jalan pengetahuan, jalan perubahan pribadi, jalan persaudaraan, jalan kepemimpinan yang penuh pengabdian. Sedangkan Tujuh Langkah Menuju Kecerdasan Spiritual Lebih Tinggi adalah (1) menyadari di mana saya sekarang, (2) merasakan dengan kuat bahwa saya ingin berubah, (3) merenungkan apakah pusat saya sendiri dan apakah motivasi saya yang paling dalam, (4) menemukan dan mengatasi rintangan, (5) menggali banyak kemungkinan untuk melangkah maju, (6) menetapkan hati saya pada sebuah jalan, (7) tetap menyadari bahwa ada banyak jalan. </p>
<p>Bila SQ seseorang telah berkembang dengan baik, maka tanda-tanda yang akan terlihat pada diri seseorang adalah (1) kemampuan bersikap fleksibel, (2) tingkat kesadaran diri tinggi, (3) kemampuan untuk menghadapi dan memanfaatkan penderitaan, (4) kemampuan untuk menghadapi dan melampaui rasa sakit, (5) kualitas hidup yang diilhami oleh visi dan nilai-nilai, (6) keengganan untuk menyebabkan kerugian yang tidak perlu, (7) kecenderunganuntuk melihat keterkaitan antara berbagai hal (berpandangan holistik), (8) kecenderungan nyata untuk bertanya “Mengapa?” atau “Bagaimana jika?” untuk mencari jawaban yang mendasar, (9) memiliki kemudahan untuk bekerja melawan konvensi.</p>
<p><strong>ESQ</strong><br />
Dalam ESQ, kecerdasan spiritual adalah kemampuan untuk memberi makna ibadah terhadap setiap perilaku dan kegiatan, melalui langkah-langkah dan pemikiran tauhidi (integralistik), serta berprinsip “hanya karena Allah”. Dalam tulisan ini akan diberikan contoh kisah seseorang yang memiliki tingkat kecerdasan spiritual yang tinggi dan “mapan” yang dikutip dari situs (http://wisataoutboundmalang.com/artikel-motivasi-kecerdasan-spiritual-sq/, diakses 24 Januari 2012).</p>
<p><em>Harry bekerja di sebuah perusahaan otomotif sebagai seorang buruh. Tugasnya memasang dan mengencangkan baut pada jok pengemudi mobil. Itulah tugas rutin yang sudah dikerjakannya selama hampir sepuluh tahun. Karena pendidikannya hanya setingkat SLTP, maka sulit baginya untuk meraih posisi puncak. Saya pernah bertanya kepada Harry bahwa bukankah itu suatu pekerjaan yang sangat membosankan, dia menjawab dengan tersenyum, “Tidakkah ini suatu pekerjaan mulia, saya telah menyelamatkan ribuan orang yang mengemudikan mobil-mobil ini?, saya mengeratkan kuat-kuat kusri pengemudi yang mereka duduki, sehingga mereka sekeluarga selamat, termasuk kursi pengemudi yang anda duduki itu”. Esok harinya saya mendatangi Harry lagi. Saya ajukan pertanyaan, “Mengapa anda tidak melakukan mogok kerja seperti yang lain untuk menuntut kenaikan upah, dan nampaknya saat ini bahkan anda bekerja semakin giat saja?” Ia memandang mata saya, seraya tersenyum ia menjawab “Saya memang senang dengan kenaikan upah itu, seperti teman-teman yang lain, tapi saya memahami bahwa keadaan ekonomi sangat sulit, sehingga perusahaan kekurangan dana, saya memahami pimpinan perusahaan yang juga tentu sedang dalam kesulitan, dan bahkan terancam pemotongan gaji seperti saya. Jadi kalau saya mogok kerja, maka itu hanya akan memperberat masalah mereka”. Lalu ia melanjutkan pembicaraan sambil tersenyum. “Saya bekerja, karena prinsip saya adalah ‘memberi’, bukan hanya untuk perusahaan, tapi untuk ibadah saya.” Setelah lima tahun Harry telah menjadi seorang pengusaha otomotif ternama di Jakarta.</p>
<p>Harry mampu memaknai pekerjaannya sebagai ibadah, demi kepentingan umat manusia dan Tuhannya yang sangat dicintainya. Ia berpikir secara tauhidi dengan memahami seluruh kondisi perusahaan, situasi ekonomi, dan masalah atasannya, dalam satu kesatuan yang esa (integral). Harry mempergunakan prinsip Bismillah dengan tetap bekerja giat dan bahkan lebih giat lagi. Harry berprinsip dari dalam, bukan dari luar, ia tidak terpengaruh oleh lingkungan. Harry adalah seorang raja, raja atas jiwanya. Jiwa yang bebas merdeka dengan prinsip La ilaha illallah. Inilah satu contoh konkret hasil penggodokan kecerdasan emosi dan spiritual –ESQ. Sebuah penggabungan atau sinergi antara kepentingan dunia (EQ) dankepentingan spiritual (SQ). Hasilnya adalah kebahagiaan dan kedamaian pada jiwa Harry, sekaligus etos kerja Harry yang tinggi tak terbatas. Harry menjadi aset perusahaan yang sangat penting. Harryi adalah “rahmatan lil alamiin”. </em></p>
<p>Belajar dari contoh di atas, kita dapat merefleksikan bahwa SQ adalah kecerdasan yang bertumpu pada bagian dalam diri kita yang berhubungan dengan kearifan di luar ego atau jiwa sadar. SQ menjadikan manusia yang benar-benar utuh secara intelektual, emosional dan spiritual. SQ adalah kecerdasan jiwa. Ia adalah kecerdasan yang dapat membantu manusia menyembuhkan dan membangun diri manusia secara utuh. </p>
<p>Dengan demikian, fungsi SQ antara lain memberikan kemampuan untuk kreatif, memberikan perasaan moral, memberikan kepastian jawaban tentang sesuatu yang baik dan yang buruk. Seperti IQ, tingkat SQ orang per orang berbeda-beda. Orang yang ber-SQ tinggi, memiliki tingkat kesadaran diri yang tinggi dan selalu mawas diri. Juga, kemampuan untuk memanfaatkan dan mentransendenkan kesulitan yang ditemui. &#8220;Orang yang cerdas secara spiritual lebih bisa bertanggung jawab terhadap hidupnya,&#8221; </p>
<p>Namun, tingkat kecerdasan spiritual tak berbanding lurus dengan keberagamaannya. &#8220;Orang yang taat menjalankan ibadah agama bisa jadi kecerdasan spiritualnya rendah, sedangkan seorang ateis bisa jadi malah memiliki kecerdasan spiritual tinggi. Contohnya, orang beragama sering tidak memiliki toleransi kepada penganut agama lain. Idealnya memang, orang yang beragama memiliki kecerdasan spiritual yang tinggi sehingga mereka bisa menghormati keberagamaan orang lain. (Tempo, 4 september 2000)</p>
<p>Mereka yang mempunyai kecerdasan spiritual tinggi akan mampu memaknai setiap peristiwa dan masalah yang dihadapi dalam hidupnya, bahkan dalam penderitaan sekalipun. Dengan memberi makna yang positif, mereka akan mampu membangkitkan jiwanya untuk bersikap dan bertindak secara positif pula. Dan kecerdasan ini juga memungkinkan manusia untuk berpikir secara kreatif, berwawasan jauh kedepan, intuitif, tambah cerdas dan semakin berkesadaran.</p>
<p>Oleh karenanya, bagi mereka yang telah menggunakan kecerdasan spiritualnya, mereka akan menjadi pribadi yang kreatif, intuitif, bisa menerima segalanya secara apa adanya, dan hidupnya akan berbahagia. [ahf]</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/masthoni.wordpress.com/637/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/masthoni.wordpress.com/637/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/masthoni.wordpress.com/637/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/masthoni.wordpress.com/637/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/masthoni.wordpress.com/637/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/masthoni.wordpress.com/637/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/masthoni.wordpress.com/637/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/masthoni.wordpress.com/637/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/masthoni.wordpress.com/637/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/masthoni.wordpress.com/637/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/masthoni.wordpress.com/637/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/masthoni.wordpress.com/637/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/masthoni.wordpress.com/637/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/masthoni.wordpress.com/637/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=masthoni.wordpress.com&amp;blog=4280765&amp;post=637&amp;subd=masthoni&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://masthoni.wordpress.com/2012/01/25/kecerdasan-spiritual/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4fa1ace0eaaf7442dd6f821cd02bbd38?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">masthoni</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Gaya Belajar Siswa dalam Menyelesaikan Masalah Matematik Berdasarkan Multiple Intelligences</title>
		<link>http://masthoni.wordpress.com/2011/08/12/gaya-belajar-siswa-dalam-menyelesaikan-masalah-matematik-berdasarkan-multiple-intelligences/</link>
		<comments>http://masthoni.wordpress.com/2011/08/12/gaya-belajar-siswa-dalam-menyelesaikan-masalah-matematik-berdasarkan-multiple-intelligences/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 12 Aug 2011 06:23:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>masthoni</dc:creator>
				<category><![CDATA[RISET]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://masthoni.wordpress.com/?p=615</guid>
		<description><![CDATA[ABSTRAK Fathani, Abdul Halim. 2011. Gaya Belajar Siswa dalam Menyelesaikan Masalah Matematik Berdasarkan Multiple Intelligences. Tesis, Jurusan Pendidikan Matematika, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Drs. Purwanto, Ph.D., (II) Drs. H. Muchtar Abdul Karim, M.A. Kata kunci: multiple intelligences, gaya belajar, masalah matematik Kecerdasan menduduki tempat yang sangat penting dalam dunia pendidikan, namun [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=masthoni.wordpress.com&amp;blog=4280765&amp;post=615&amp;subd=masthoni&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>ABSTRAK</p>
<p>Fathani, Abdul Halim. 2011. Gaya Belajar Siswa dalam Menyelesaikan Masalah Matematik Berdasarkan Multiple Intelligences. Tesis, Jurusan Pendidikan Matematika, Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Drs. Purwanto, Ph.D., (II) Drs. H. Muchtar Abdul Karim, M.A. </p>
<p>Kata kunci: multiple intelligences, gaya belajar, masalah matematik<span id="more-615"></span></p>
<p>Kecerdasan menduduki tempat yang sangat penting dalam dunia pendidikan, namun seringkali kecerdasan ini dipahami secara parsial oleh sebagian kaum pendidik. Hakikatnya, kecerdasan merupakan kemampuan yang dimiliki oleh seseorang untuk melihat suatu masalah, lalu ia menyelesaikan masalah tersebut atau membuat sesuatu yang dapat berguna bagi orang lain. Gardner menyatakan ada delapan kecerdasan dalam teori multiple intelligences, yaitu kecerdasan linguistik, matematik, spasial, musikal, kinestetik, interpersonal, intrapersonal, dan naturalis. Penelitian ini difokuskan untuk mendeskripsikan dan menganalisis gaya belajar siswa dalam menyelesaikan masalah matematik ditinjau dari tingkat kecenderungan multiple intelligences.</p>
<p>Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Instrumen lembar tugas yang digunakan merupakan salah satu contoh masalah matematik yang diambil dari buku berjudul “Problem Solving – A Basic Mathematics Goal: Becoming a Better Problem Solver” yang diterbitkan oleh Ohio Department of Education, Columbus, Tahun 1980. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas IXB Madrasah Tsanawiyah Negeri Kepanjen Malang yang memiliki tingkat kecenderungan kecerdasan matematik dan linguistik yang ditentukan berdasarkan hasil multiple intelligences research (MIR). Dalam mengumpulkan data, peneliti menggunakan wawancara, observasi, dan studi dokumentasi.</p>
<p>Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara umum gaya belajar siswa dalam menyelesaikan masalah matematik menggunakan kombinasi tiga gaya belajar, yaitu: visual, auditorial, dan kinestetik. Tetapi, pada tahap-tahap tertentu ada siswa yang menggunakan dua kombinasi gaya belajar (visual–kinestetik dan visual–auditorial), dan ada siswa  yang hanya menggunakan gaya belajar secara visual. Secara umum, siswa memiliki kecenderungan tertinggi dalam menyelesaikan masalah matematik dengan menggunakan gaya belajar visual. Dengan demikian, ketika guru melayani siswa sesuai dengan gaya belajarnya yang didasarkan atas tingkat kecenderungan multiple intelligences, maka dia akan mampu meningkatkan gairah belajar siswa dan pemahaman terhadap materi, sehingga siswa dapat menyelesaikan masalah sampai tuntas. Selain itu, siswa menjadi sadar akan kemampuannya untuk menyelesaikan masalah matematik, sehingga dapat dijadikan sebagai bahan refleksi untuk terus memacu semangat belajarnya menjadi lebih baik. Dengan memperhatikan gaya belajar siswa dapat diartikan sebagai proses pembelajaran yang memberi ruang gerak bagi setiap individu siswa untuk mengembangkan kecerdasannya.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/masthoni.wordpress.com/615/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/masthoni.wordpress.com/615/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/masthoni.wordpress.com/615/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/masthoni.wordpress.com/615/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/masthoni.wordpress.com/615/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/masthoni.wordpress.com/615/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/masthoni.wordpress.com/615/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/masthoni.wordpress.com/615/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/masthoni.wordpress.com/615/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/masthoni.wordpress.com/615/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/masthoni.wordpress.com/615/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/masthoni.wordpress.com/615/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/masthoni.wordpress.com/615/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/masthoni.wordpress.com/615/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=masthoni.wordpress.com&amp;blog=4280765&amp;post=615&amp;subd=masthoni&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://masthoni.wordpress.com/2011/08/12/gaya-belajar-siswa-dalam-menyelesaikan-masalah-matematik-berdasarkan-multiple-intelligences/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4fa1ace0eaaf7442dd6f821cd02bbd38?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">masthoni</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pendidikan Multikultural</title>
		<link>http://masthoni.wordpress.com/2011/04/21/pendidikan-multikultural/</link>
		<comments>http://masthoni.wordpress.com/2011/04/21/pendidikan-multikultural/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 21 Apr 2011 00:29:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>masthoni</dc:creator>
				<category><![CDATA[ARTIKEL]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://masthoni.wordpress.com/?p=611</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Abdul Halim Fathani MULTIKULTURAL dan pendidikan merupakan rangkaian kata yang berisikan esensi dan konsekuensi yang tidak dapat dipisahkan. Di dalam multikultur terdapat materi kajian bahkan menjadi dasar pijakan pelaksanaan pendidikan, yang keduanya sama-sama penting. Namun, menurut Muhammad Ali (2003:102) mengatakan bahwa saat ini urgensi pendidikan multikulural belum dirasakan dunia pendidikan dan masyarakat luas. Multikulturalisme [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=masthoni.wordpress.com&amp;blog=4280765&amp;post=611&amp;subd=masthoni&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh Abdul Halim Fathani</p>
<p>MULTIKULTURAL dan pendidikan merupakan rangkaian kata yang berisikan esensi dan konsekuensi yang tidak dapat dipisahkan. Di dalam multikultur terdapat materi kajian bahkan menjadi dasar pijakan pelaksanaan pendidikan, yang keduanya sama-sama penting. Namun, menurut Muhammad Ali (2003:102) mengatakan bahwa saat ini urgensi pendidikan multikulural belum dirasakan dunia pendidikan dan masyarakat luas. Multikulturalisme hanya disinggung secara terpisah dan sangat terbatas dalam antropologi, politik, dan sosiologi. <span id="more-611"></span></p>
<p>Sesungguhnya, multikulturalisme merupakan kearifan untuk melihat keanekaragaman budaya sebagai realitas fundamental dalam kehidupan bermasyarakat. Kearifan itu segera muncul, jika seseorang membuka diri untuk menjalani kehidupan bersama dengan melihat realitas plural sebagai kemestian hidup yang kodrati, baik dalam kehidupan dirinya sendiri yang multidimensional maupun dalam kehidupan masyarakat yang lebih kompleks.</p>
<p>Pendidikan multikultural, dalam perspektif Islam, tidak dapat dilepaskan dengan konsep pluralis, sehingga muncul istilah Pendidikan Islam Pluralis-Multikultural. Konstruksi pendidikan semacam ini berorientasi pada proses penyadaran yang berwawasan pluralis secara agama, sekaligus berwawasan multikultural. Dalam kerangka yang lebih jauh, konstruksi pendidikan Islam pluralis-multikultural dapat diposisikan sebagai bagian dari upaya secara komprehensif dan sistematis untuk mencegah dan menanggulangi konflik etnis agama, radikalisme agama, separatisme, dan integrasi bangsa. Nilai dasar dari konsep pendidikan ini adalah toleransi (Ngainun Naim dan Achmad Sauqi, 2008: 52).</p>
<p>Multikulturalisme –seyogianya- dapat dipahami sebagai sikap bagaimana masing-masing kelompok bersedia untuk menyatu (integrate) tanpa mempedulikan keragaman budaya yang dimiliki. Mereka semua melebur, sehingga pada akhirnya ada proses “hidridisasi” yang meminta setiap individu untuk tidak menonjolkan perbedaan masing-masing kultur (Ramly, 2005:xiv). Secara historis, pendidikan multikultural sejak lama telah berkembang di Eropa, Amerika dan Negara-negara maju lainnya. Dalam perkembangannya, gerakan pendidikan tentang budaya majemuk (multicultural education) mencapai puncaknya pada dekade 1970/1980-an, terutama di lembaga-lembaga pendidikan Amerika Serikat.</p>
<p>Hampir di setiap lembaga pendidikan di Amerika Serikat baik di Perguruan Tinggi maupun di lembaga persekolahan prinsip-prinsip kemajemukan etnik dan budaya diusahakan agar diintegrasikan ke dalam kegiatan-kegiatan pendidikan dalam rangka pembaharuan kurikulum yang menunjang gerakan pendidikan multikultural. Konsep-konsep tentang etnisitas dan nasionalitas dijabarkan kembali dengan tujuan agar gambaran keberadaan jati-diri “etnik seseorang” jelas di mana tempatnya di dalam kebersamaan dan keseluruhan. Seperti yang dikemukakan Rose bahwa kelompok yang anggota-anggotanya memiliki kebersamaan secara unik dalam warisan sosial dan kultural serta kemudian diwariskan dari generasi kepada generasi berikutnya, disebut kelompok etnik. Biasanya mereka mudah diidentifikasi karena memiliki pola-pola keluarga, bahasa, agama dan adapt istiadat yang berbeda dengan yang lainnya serta memiliki kesadaran kelompok yang tinggi (James A Banks, 1987:9). </p>
<p>Wacana pendidikan multikultural sangat penting sebagai salah satu agenda pendidikan masa depan di Indonesia, terutama dalam mengembangkan manusia Indonesia yang cerdas. Manusia cerdas tidak hanya cerdik dan berkemampuan untuk menguasai ilmu pengetahuan dan menyelesaikan masalah, tetapi juga bermoral, bersikap demokrasi, keadilan dan humanisme.</p>
<p>Salah satu upaya untuk membangun kesadaran dan pemahaman generasi yang akan datang adalah dengan penerapan pendidikan multikultural. Hal ini dikarenakan pendidikan multikultural adalah proses penanaman cara hidup menghormati, tulus, dan toleran terhadap keanekaragaman budaya yang hidup di tengah-tengah masyarakat plural. </p>
<p>Dengan pendidikan multikultural, kita tidak sekedar merekatkan kembali nilai-nilai persatuan, kesatuan dan berbangsa di era global seperti saat ini, tetapi juga mencoba untuk mendefinisikan kembali rasa kebangsaan itu sendiri dalam menghadapi benturan berbagai konflik sosial budaya, ekonomi dan politik dalam era global. Dengan kata lain, diterapkannya pendidikan multikultural ini, diharapkan segala bentuk diskriminasi, kekerasan dan ketidakadilan yang sebagian besar dilatarbelakangi oleh adanya perbedaan kultural seperti perbedaan agama, ras, etnis, bahasa, kemampuan, gender, umur dan kelas sosial-ekonomi dapat diminimalkan. Semoga [ahf] </p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/masthoni.wordpress.com/611/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/masthoni.wordpress.com/611/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/masthoni.wordpress.com/611/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/masthoni.wordpress.com/611/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/masthoni.wordpress.com/611/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/masthoni.wordpress.com/611/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/masthoni.wordpress.com/611/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/masthoni.wordpress.com/611/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/masthoni.wordpress.com/611/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/masthoni.wordpress.com/611/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/masthoni.wordpress.com/611/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/masthoni.wordpress.com/611/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/masthoni.wordpress.com/611/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/masthoni.wordpress.com/611/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=masthoni.wordpress.com&amp;blog=4280765&amp;post=611&amp;subd=masthoni&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://masthoni.wordpress.com/2011/04/21/pendidikan-multikultural/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4fa1ace0eaaf7442dd6f821cd02bbd38?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">masthoni</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>IQ, MI, dan Gaya Belajar</title>
		<link>http://masthoni.wordpress.com/2011/04/16/iq-mi-dan-gaya-belajar/</link>
		<comments>http://masthoni.wordpress.com/2011/04/16/iq-mi-dan-gaya-belajar/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 16 Apr 2011 08:13:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>masthoni</dc:creator>
				<category><![CDATA[ARTIKEL]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://masthoni.wordpress.com/?p=608</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Abdul Halim Fathani TULISAN (ada) siswa cerdas, tapi (dianggap) “bodoh”, yang saya posting tanggal 15 April 2011 ditanggapi oleh dua kawan. Ella imuet menanggapi tulisan tersebut demikian,“pd dasarnya cerdas tidaknya anak tergantung tingkat kemaun untuk berusaha dalam mencari ilmu baru yang belum dimengerti tp tingkat IQ tu jg harus tetap dipakai untuk mempermudah dalam [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=masthoni.wordpress.com&amp;blog=4280765&amp;post=608&amp;subd=masthoni&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh Abdul Halim Fathani</p>
<p>TULISAN (ada) siswa cerdas, tapi (dianggap) “bodoh”, yang saya posting tanggal 15 April 2011  ditanggapi oleh dua kawan. Ella imuet menanggapi tulisan tersebut demikian,“pd dasarnya cerdas tidaknya anak tergantung tingkat kemaun untuk berusaha dalam mencari ilmu baru yang belum dimengerti tp tingkat IQ tu jg harus tetap dipakai untuk mempermudah dalam memberi pengajaran.” Sedangkan Wawan Doank berkomentar “sebenarnya tingkat IQ anak jg berpengaruh pd pembelajaran disamping kemauan dan kadisiplinan,tp kepercayaan dan dukungan jg berpengaruh terutama ank yg tingkat IQ rendah,tp kebanyakan orang akan memberikan kepercayaan( baca:Kesempatan) &amp; dukungan pd anak yg dianggap tingkat IQ tinggi.” Terkait tanggapan dua kawan tersebut, dalam kesempatan ini saya berminat untuk member tanggapan balik atas tanggapan dua kawan tersebut, seputar IQ, MI, dan Gaya Belajar. Semoga bisa menjadi bahan diskusi lebih lanjut.<span id="more-608"></span></p>
<p>Kita ketahui bahwa saat ini, banyak orang yang telah menjalani tes IQ memperoleh hasil yang berbeda. Bila Anda pernah menjalani tes ini, Anda tentu sangat berharap untuk bisa masuk ke dalam golongan elit dengan IQ di atas rata-rata. Mengapa demikian? Tentu saja Anda akan sangat bangga kalau hasil tes Anda baik. Apalagi kalau Anda bisa masuk dalam kategori sangat cerdas atau jenius. (Gunawan, 2007:158). Kalau nilainya berada di antara 100-110, maka ia termasuk golongan yang biasa-biasa saja. Kalau di bawah 100, maka ia termasuk yang agak bodoh. Kalau di atas 110, maka ia masuk golongan yang cerdas. Semakin tinggi hasil tesnya berarti semakin cerdas. </p>
<p>Tetapi pernahkah Anda berpikir apakah sebenarnya yang diukur dengan tes IQ tersebut?  Secara umum yang diuji dalam tes IQ hanyalah dua jenis kecerdasan, yaitu kecerdasan linguistik dan logis-matematis. Padahal, kalau kita merujuk pendapat Howard Gardner dalam teori multiple intelligences-nya, disebutkan bahwa ada delapan kecerdasan dalam setiap diri manusia.</p>
<p>Gardner mengusulkan dalam bukunya, Frames of Mind: The Theory of Multiple Intelligences (1983), bahwa kecerdasan memiliki tujuh komponen, meliputi kecerdasan verbal-linguistik, kecerdasan logis-matematis, kecerdasan visual-spasial, kecerdasan ritmik-musik, kecerdasan kinestetik, kecerdasan interpersonal, dan kecerdasan intrapersonal (Lwin, dkk. (2004:2). Kemudian, sesuai dengan perkembangan penelitian yang dilakukannya, Gardner lalu memasukkan kecerdasan kedelapan dalam multiple intelligences, yakni kecerdasan naturalis (Gunawan, 2007:106).</p>
<p>Sekarang ini masih ada satu lagi kecerdasan yang sedang “digodok”, yakni kecerdasan eksistensial.  Berkaitan dengan kecerdasan ini, dalam salah satu pesan singkatnya (6/1/2010, 00:48), Munif Chatib menjelaskan kepada saya, bahwa kecerdasan eksistensial itu terkait dengan keyakinan masing-masing orang, hampir mirip dengan kecerdasan spiritual. Gardner mengatakan kecerdasan eksistensial ini sebagai kecerdasan yang ke 8 setengah (belum termasuk kecerdasan yang kesembilan).</p>
<p>Dengan melihat teori multiple intelligences yang dicetuskan Gardner dengan tes IQ, maka menjadi kurang bijak jika kita terus mengagung-agungkan tes IQ yang hanya mampu mengakomodasi dua kecerdasan (linguistik dan matematis) saja. Jika demikian, lalu bagaimana dengan nasib seseorang yang unggul dalam kecerdasan yang lain?</p>
<p>Kalau dihubungkan dengan gaya pembelajaran di sekolah, masih banyak praktik pembelajaran yang hanya menghargai dua kecerdasan (linguistik dan matematis) ini. Masih banyak guru yang mengajarnya dengan gayanya sendiri, sementara siswa dianggap sama-sama memiliki kecenderungan kecerdasan  linguistik dan matematis. Akibatnya, siswa yang dominan kecerdasannya selain dua kecerdasan tersebut, mengalami “gangguan” dalam belajarnya.</p>
<p>Terkait hal ini,  dalam bukunya berjudul  “Teori Intelegensi Ganda dan Aplikasinya di Sekolah”, Suparno (2004:14) menguraikan bahwa Gardner, dengan bantuan banyak mahasiswanya, telah mengadakan penelitian pada banyak sekolah di Amerika Serikat. Mereka menemukan bahwa sebagian anak tidak cepat berkembang dalam mempelajari beberapa mata pelajaran karena banyak guru tidak mengajar sesuai dengan kecerdasan siswa yang dominan. Sebaliknya, banyak siswa menjadi sangat maju dalam belajarnya setelah mereka dibantu oleh guru lewat pendekatan yang sesuai dengan kecerdasan siswa. Maka, pada banyak sekolah dianjurkan agar guru mengubah model pembelajaran mereka, bukan disesuaikan dengan kecerdasan guru, melainkan dengan kecerdasan siswa.</p>
<p>Lebih lanjut, Suparno (2004:15) menerangkan bahwa dalam penelitiannya, Gardner menemukan bahwa meskipun siswa hanya menonjol pada beberapa kecerdasan, mereka dapat dibantu lewat pendidikan dan bantuan guru untuk mengembangkan kecerdasan yang lain, sehingga dapat digunakan dalam mengembangkan hidup yang lebih menyeluruh. Demikian juga dalam penelitiannya ditemukan bahwa guru yang hanya menonjol pada kecerdasan tertentu dan mengajar dengan kecerdasan tersebut dapat dibantu untuk mengembangkan kecerdasannya yang lain dan dapat menggunakannya dalam pembelajaran membantu siswa. Dengan demikian, baik siswa maupun guru sama-sama dapat mengembangkan kecerdasan mereka yang belum berkembang. </p>
<p>Dari sini tampak bahwa pendidikan memang berperan dalam mengembangkan kecerdasan siswa. Cukup jelas bagi Gardner, kecerdasan seseorang dapat dikembangkan lewat pendidikan. Kecerdasan bukanlah sesuatu yang sudah mati yang tidak dapat dikembangkan lagi, seperti sering dikatakan mengenai IQ seseorang. Sebagaimana yang ditulis Chatib (2009:102) bahwa kecerdasan seseorang itu berkembang, tidak statis. Kecerdasan seseorang lebih banyak berkaitan dengan kebiasaan, yaitu perilaku yang diulang-ulang. </p>
<p>Gaya belajar dapat menentukan prestasi belajar siswa. Jika diberikan strategi mengajar yang sesuai dengan gaya belajarnya, siswa dapat berkembang dengan lebih baik. Gaya belajar otomatis tergantung dari orang yang belajar. Artinya, setiap orang mempunyai gaya belajar yang berbeda-beda. Gaya belajar tidak bersifat kaku. Meski sudah memiliki gaya belajarnya bukan berarti siswa tidak bisa mengembangkan metode belajar yang lain. Jadi, ukuran keberhasilan paling penting adalah jika anak bisa menangkap informasi yang kita sampaikan dan menikmati aktivitas belajarnya.[ahf]</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/masthoni.wordpress.com/608/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/masthoni.wordpress.com/608/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/masthoni.wordpress.com/608/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/masthoni.wordpress.com/608/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/masthoni.wordpress.com/608/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/masthoni.wordpress.com/608/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/masthoni.wordpress.com/608/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/masthoni.wordpress.com/608/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/masthoni.wordpress.com/608/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/masthoni.wordpress.com/608/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/masthoni.wordpress.com/608/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/masthoni.wordpress.com/608/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/masthoni.wordpress.com/608/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/masthoni.wordpress.com/608/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=masthoni.wordpress.com&amp;blog=4280765&amp;post=608&amp;subd=masthoni&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://masthoni.wordpress.com/2011/04/16/iq-mi-dan-gaya-belajar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4fa1ace0eaaf7442dd6f821cd02bbd38?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">masthoni</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>(Ada) Siswa Cerdas, Tapi (Dianggap) “Bodoh”</title>
		<link>http://masthoni.wordpress.com/2011/04/14/604/</link>
		<comments>http://masthoni.wordpress.com/2011/04/14/604/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 14 Apr 2011 22:54:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>masthoni</dc:creator>
				<category><![CDATA[ARTIKEL]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://masthoni.wordpress.com/?p=604</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Abdul Halim Fathani SUDAH cukup lama banyak orang/pihak yang terlanjur percaya seratus persen pada hasil tes IQ, sampai-sampai tes IQ menjadi salah satu pertimbangan dalam seleksi penerimaan siswa baru di sekolah-sekolah yang me(di)anggap favorit dan unggul. Bahkan, ada beberapa orang tua yang rela membayar mahal kepada lembaga tertentu agar hasil tes IQ anaknya dapat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=masthoni.wordpress.com&amp;blog=4280765&amp;post=604&amp;subd=masthoni&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh Abdul Halim Fathani</p>
<p>SUDAH cukup lama banyak orang/pihak yang terlanjur percaya seratus persen pada hasil tes IQ, sampai-sampai tes IQ menjadi salah satu pertimbangan dalam seleksi penerimaan siswa baru di sekolah-sekolah yang me(di)anggap favorit dan unggul. Bahkan, ada beberapa orang tua yang rela membayar mahal kepada lembaga tertentu agar hasil tes IQ anaknya dapat mencapai skor tertentu (sebagaimana yang dipersyaratkan sekolah yang akan dibidik), sehingga bisa diterima di sekolah –yang dianggap- favorit atau unggul tersebut.<span id="more-604"></span></p>
<p>Namun, kalau kita melihat realitas di lapangan, ada orang yang memiliki skor IQ tinggi, namun tidak (baca: belum) dapat menjalani kehidupannya dengan sukses dan bahagia. Mereka memiliki skor IQ tinggi, tetapi sering berkonflik dengan orang lain, tidak dapat bekerjasama dengan orang lain, dan parahnya emosinya tidak stabil dan sering marah. Akibatnya, orang tersebut sering mengalami kegagalan dalam mengarungi kehidupannya.</p>
<p>Di sisi lain, ada beberapa orang yang memiliki IQ rendah, tetapi karena didukung dengan sifat ketekunan, ketelatenan, kesabaran, emosi yang stabil, memiliki sikap percaya diri yang tinggi dan selalu optimis, maka dengan mudahnya ia dapat menjalani kehidupan sehari-hari dengan sukses dan bahagia. Jika demikian, lalu bagaimana sebenarnya posisi IQ dalam menentukan kesuksesan hidup seseorang?</p>
<p>Kalau kita renungkan,  seandainya ada tiga siswa yang memiliki tingkat IQ yang sama, mereka sama-sama rajin, dan dibelajarkan dengan cara yang sama oleh seorang guru, maka sangat dimungkinkan ketiganya akan menghasilkan nilai matematika yang berbeda. Di sekolah, siswa yang menyandang peringkat teratas, biasanya didominasi oleh siswa yang rajin belajar, memiliki IQ tinggi, nilai akademiknya tinggi, dan biasanya mahir di bidang bahasa dan matematika. </p>
<p>Sementara, siswa yang senang berolahraga, memasak, melukis, memainkan musik dan melakukan pentas teater, dan sebagainya, meskipun pernah menjadi juara pada perlombaan, pihak sekolah jarang, bahkan tidak memberikan apresiasi penghargaan yang sepantasnya. Mereka tidak dilihat sebagai siswa yang cerdas, namun lebih dilihat sebagai siswa yang memiliki bakat di bidang yang digemari. </p>
<p>Melengkapi kenyataan atas masih adanya kekeliruan orang tua dalam memandang kecerdasan, berikut saya kutip cerita yang ditulis Munif Chatib –penulis buku Sekolahnya Manusia- yang dikirim ke inbok saya via facebook,  11 April 2011, jam 19:13, berjudul “ORANGTUA ‘SHOCK’ MELIHAT HASIL TRY OUT ANAKNYA”.<br />
<em><br />
Seorang sahabat ‘shock’ melihat hasil try out anaknya yang kelas 6 SD, nilainya 3 dan sudah diremidi 7 kali. Sebutnya saja nama si anak adalah Amin. Ketika saya berdiskusi dengan guru si Amin ternyata memang Amin tidak mampu untuk mengerjakan soal kognitif matematika. Amin memang punya hambatan untuk berpikir mengerjakan soal matematika. Ketika saya tanya tentang bagaimana strategi mengajar guru. Semua guru Amin mengatakan kami sudah jungkir balik mengajar Amin dengan ganti-ganti strategi. Mulai strategi umum sampai khusus. Ketika try our Ujian Nasional diselenggarakan nilai Amin terpuruk. Ketika hasil itu disodorkan orangtuanya, terutama sang mama, langsung ‘shock’ hampir pingsan sebab akan membayangkan anaknya tidak akan lulus ujian nasional. </p>
<p>Lalu bagaimana seharusnya kita menyikapi hal di atas? Kebingungan, ketegangan dan pikiran untuk ambil jalan pintas tidak hanya ada di kepala orangtua, juga terjadi pada para guru, para kepala sekolah di seluruh Indonesia ketika memasuki bulan-bulan Apri, Mei dan Juni, bulan-bulan krusial Ujian Nasional.</p>
<p>Saya bertanya kepada gurunya, apakah si Amin mempunyai kelebihan yang menonjol. Serempak mereka menjawab, ada! Yaitu musik dan menggambar. Kalau dua hal itu si Amin jagonya. Namun tidak semua orang melihat dua kemampuan Amin itu menjadi sesuatu yang patut dikembangkan dan dinilai dari si Amin. Memang sih, musik dan menggambar memang tidak ada Ujian Nasional-nya dan akhirnya tidak ada try outnya. Coba jika ada try outnya, pasti si Amin akan menduduki ranking 1 dengan nilai sempurna 10.</em><br />
***</p>
<p>Belajar dari cerita di atas –sungguh- jika kita memperlakukan si Amin secara manusiawi, maka tentu kita tidak akan dapat memaksa si Amin untuk “mempelajari” Matematika, apalagi hanya bertujuan agar dapat dikatakan sebagai siswa yang lulus dalam ujian nasional. Tetapi, seyogianya kita akan mengapresiasi si Amin ketika mengembangkan secara maksimal pada kemampuan musik dan menggambarnya. Dalam teori multiple intelligencesnya Gardner, kemampuan ini termasuk dalam kecerdasan musikal dan spasial. </p>
<p>Dalam bukunya, Armstrong (1999:2) memberikan contoh sehingga diperoleh gambaran tentang kecerdasan. “Jika mobil Anda mogok di tengah jalan, siapakah orang yang paling tepat untuk mengatasi keadaan tersebut? Apakah seseorang yang bergelar doktor dari universitas terkemuka ataukah montir mobil yang berpendidikan SMP? Kalau Anda tersesat di sebuah kota besar, siapakah yang akan sangat membantu Anda? Seorang profesor ataukah anak kecil yang mempunyai kemampuan mengenal arah? Kecerdasan, pada dasarnya bergantung  pada konteks, bagaimana kita dapat menyelesaikan suatu problem yang terjadi dalam kehidupan. Jadi, kecerdasan bukan hanya tergantung tingginya IQ, deretan gelar dari perguruan tinggi, atau nilai ujian di sekolah.</p>
<p>Terkait hal di atas, Gardner (1993) mendefinisikan kecerdasan sebagai berikut: kemampuan untuk menyelesaikan suatu masalah yang terjadi dalam kehidupan nyata; kemampuan untuk menghasilkan masalah baru untuk dipecahkan; dan kemampuan untuk menciptakan sesuatu atau menawarkan suatu pelayanan yang berharga dalam budaya suatu masyarakat.</p>
<p>Berpijak pada definisi kecerdasan menurut Howard Gardner di atas, menjadikan kita semakin sadar, bahwa setiap individu adalah cerdas, tidak ada individu yang bodoh. Cerdas yang dimaksud bukan cerdas di segala bidang, melainkan cerdas di bidangnya masing-masing. Seperti si Amin yang memiliki kecenderungan kecerdasan di bidang musical dan spasial.</p>
<p>Dalam praktiknya di kehidupan nyata, hampir semua aktivitas yang dilakukan individu memerlukan kombinasi dari beberapa kecerdasan. Misalnya, untuk dapat menjadi seorang wartawan yang baik, seseorang perlu memiliki kecerdasan linguistik, logis-matematis, dan intrapersonal yang tinggi. Untuk menjadi seorang Arsitek, seseorang perlu memiliki kecerdasan visual-spasial, logis-matematis, kinestetik, dan interpersonal yang tinggi. Bahkan untuk dapat menjadi seorang guru yang berhasil, tentu harus dapat mengombinasikan semua jenis kecerdasan dalam multiple intellegences selama proses pembelajaran berlangsung. Hal ini akan dapat memudahkan siswa dalam menerima informasi yang disampaikan oleh guru. [ahf]</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/masthoni.wordpress.com/604/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/masthoni.wordpress.com/604/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/masthoni.wordpress.com/604/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/masthoni.wordpress.com/604/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/masthoni.wordpress.com/604/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/masthoni.wordpress.com/604/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/masthoni.wordpress.com/604/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/masthoni.wordpress.com/604/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/masthoni.wordpress.com/604/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/masthoni.wordpress.com/604/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/masthoni.wordpress.com/604/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/masthoni.wordpress.com/604/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/masthoni.wordpress.com/604/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/masthoni.wordpress.com/604/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=masthoni.wordpress.com&amp;blog=4280765&amp;post=604&amp;subd=masthoni&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://masthoni.wordpress.com/2011/04/14/604/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4fa1ace0eaaf7442dd6f821cd02bbd38?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">masthoni</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Belajar Statistika dengan Pendekatan Kecerdasan Linguistik</title>
		<link>http://masthoni.wordpress.com/2011/04/14/belajar-statistika-dengan-pendekatan-kecerdasan-linguistik/</link>
		<comments>http://masthoni.wordpress.com/2011/04/14/belajar-statistika-dengan-pendekatan-kecerdasan-linguistik/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 14 Apr 2011 00:46:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>masthoni</dc:creator>
				<category><![CDATA[ARTIKEL]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://masthoni.wordpress.com/?p=601</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Abdul Halim Fathani TIDAK ada yang mengharuskan kepada masing-masing kita untuk belajar statistika. Namun, bagi kita yang telah mengikrarkan diri menjadi mahasiswa di sebuah perguruan tinggi –apa pun jurusannya- tentu mau tidak mau, suka maupun tidak suka, akan bertemu dengan statistika. Baik yang berwujud dalam matakuliah tersendiri atau hanya menjadi bagian bab dalam suatu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=masthoni.wordpress.com&amp;blog=4280765&amp;post=601&amp;subd=masthoni&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh Abdul Halim Fathani</p>
<p>TIDAK ada yang mengharuskan kepada masing-masing kita untuk belajar statistika. Namun, bagi kita yang telah mengikrarkan diri menjadi mahasiswa di sebuah perguruan tinggi –apa pun jurusannya- tentu mau tidak mau, suka maupun tidak suka, akan bertemu dengan statistika. Baik yang berwujud dalam matakuliah tersendiri atau hanya menjadi bagian bab dalam suatu matakuliah tertentu. Dengan demikian, maka tidak akan mungkin bagi mahasiswa untuk bisa menghindar dari mempelajari statistika.<span id="more-601"></span></p>
<p>Kalau bagi mahasiswa matematika, maka statistika sudah menjadi “bahan makanan” wajib yang harus dipelajari. Bagi mahasiswa jurusan lain, misalnya kependidikan, maka akan menempuh matakuliah statistika pendidikan, mahasiswa psikologi akan menempuh matakuliah statistika psikologi, di jurusan lain ada yang namanya matakuliah statistika ekonomi, statistika bisnis, statistika kesehatan, statistika-statistika lainnya. Ada juga materi statistika yang tidak berdiri dalam matakuliah tersendiri, tetapi menjadi satu bagian dalam matakuliah tertentu. Misalnya dalam matakuliah metodologi penelitian (baca: penelitian kuantitatif), maka ada bagian dalam bab-bab tertentu yang membahas tentang statistika, mulai dari bagaimana mengumpulkan data, menyajikan data, mengolah dan menganalisis data, hingga melakukan interpretasi dan menarik kesimpulan dari suatu data.</p>
<p>Biasanya, bagi mahasiswa non-eksakta yang mempelajari statistika akan mengeluh. Mereka cenderung tidak antusias untuk mempelajarinya. Dalam benak pikirannya, belajar statistika justru akan mengingatkan masa kenangannya sewaktu belajar matematika di bangku sekolah. Ialah termasuk salah satu pelajaran yang dianggapnya sebagai pelajaran yang sulit dan susah. Realitas yang demikian memang bisa dimaklumi. Bisa saja ada kekeliruan dalam strategi pembelajaran yang dimainkan oleh para guru. Oleh karenanya, jika kita merujuk pada paradigm baru tentang kecerdasan yang digagas Howard Gardner (1983), yakni dengan teori multiple intelligences. Merujuk teori ini, strategi guru ketika mengajar dituntut  untuk mampu menyesuaikan dengan gaya belajar yang disenangi siswa.</p>
<p>Kembali pada topik belajar statistika pada mahasiswa. Kita ambil contoh misalnya, mahasiswa jurusan bahasa. Kalau kita mencoba mahasiswa pada jurusan bahasa ini untuk diriset kecenderungan multiple intelligences-nya, maka sangat dimungkinkan kecenderungan kecerdasan akan didominasi pada kecerdasan linguistik. Dengan kecenderungan kecerdasan linguistik ini, maka mahasiswa memiliki kemampuan tinggi dalam berbahasa. Salah satu yang termasuk kemampuan berbahasa adalah kemampuan untuk menulis atau mengarang.</p>
<p>Berpijak pada hal tersebut, maka dapat diambil kesimpulan bahwa mahasiswa jurusan bahasa lebih cenderung suka untuk “berbahasa” (baca: menulis dan mengarang). Maka, bagi seorang dosen matakuliah statistika atau metodologi penelitian kuantitatif akan menjadi menarik jika ia menerapkan strategi pembelajarannya dengan mengakomodasi kesenangan mahasiswa, salah satunya memanfaatkan kemampuan dan kesenangan dalam hal menulis dan mengarang untuk belajar statistika.</p>
<p>Sebelumnya, perlu kita ketahui bahwa metode dalam statistika digolongkan menjadi dua, yaitu metode statistika deskriptif dan metode statistika inferensia. Somantri &amp; Muhidin (2006:19) dalam bukunya “Aplikasi Statistika dalam Penelitian” menjelaskan bahwa statistika deskriptif membahas cara-cara pengumpulan data, penyederhanaan angka-angka pengamatan yang diperoleh (meringkas dan menyajikan), serta melakukan pengukuran pemusatan dan penyebaran data untuk memperoleh informasi yang lebih menarik, berguna, dan mudah dipahami. Dengan statistika deskriptif, kumpulan data yang diperoleh akan tersaji dengan ringkas dan rapi serta dapat memberikan informasi inti dari kumpulan data yang ada. </p>
<p>Informasi yang dapat diperoleh dengan statistika deskriptif antara lain, pemusatan data, penyebaran data, serta kecenderungan suatu gugus data. Yang termasuk dalam ukuran pemusatan data, misalnya mean, median, dan modus. Ukuran penyebaran misalnya, range, simpangan rata-rata, varians, dan simpangan baku. Selain itu dalam statistika deskriptif juga ada yang termasuk dalam ukuran letak, misalnya kuartil, desil, dan persentil.</p>
<p>Terkait hal ini, dalam tulisan ini akan dipaparkan satu contoh bagaimana belajar statistika dengan pendekatan kemampuan berbahasa (menulis). Contoh di bawah ini merupakan contoh pembelajaran statistika deskriptif yang dikutip dari sebuah laman http://idepembelajaranmatematika.blogspot.com/, diakses pada 13 April 2011. Sebuah strategi pembelajaran statistika deskriptif dengan menggunakan pendekatan linguistika, yakni mengakdomodasi kemampuan berbahasa terutama dalam hal kemampuan menulis dan mengarang.</p>
<p><em>ALAT TULIS TEMAN-TEMANKU</p>
<p>Hari ini &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;..tanggal &#8230;&#8230;.. Nopember 2009, teman-temanku ternyata membawa banyak sekali alat tulis, yaitu: (1) &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;, (2) &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.., (3)&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;, (4)&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230; Di antara teman-teman, ada yang membawa sebanyak &#8230;. &#8230;&#8230;.. alat tulis, dan ada pula yang membawa sebanyak &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.. alat tulis. Paling sedikit mereka membawa &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;..(biasanya berupa &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;..) dan paling banyak mereka membawa &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;. alat tulis . </p>
<p>Dari semua alat tulis tersebut, alat tulis yang paling banyak dibawa oleh teman-teman adalah&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.. Ini terjadi sebab kata mereka &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;..<br />
Kalau dilihat dari ukurannya, maka alat-alat ulis itu rata-rata memiliki ukuran panjang &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230; cm. Sementara itu, kalau dilihat dari merek-nya, maka untuk jenis alat tulis &#8230;.. &#8230;.. merek yang paling dominan adalah merek&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.. Untuk jenis alat tulis &#8230;&#8230;&#8230;. yang paling dominan adalah merek&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.. </p>
<p>Menurut teman-teman, merek ini paling banyak dimiliki karena &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.</p>
<p>Itu terjadi karena mereka &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;..</p>
<p>Malang, 12 Nopember 2009<br />
Penulis</p>
<p>(&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;..)<br />
</em></p>
<p>Dari strategi pembelajaran statistika di atas, seorang pengajar meminta kepada para mahasiswa jurusan bahasa untuk bekerja dalam beberapa  kelompok dalam membuat deskripsi ini. Mahasiwa melakukan diskusi dalam beberapa kelompok untuk memikirkan apa yang harus mereka lakukan dan bagaimana melakukannya. Dengan pendekatan seperti ini, para mahasiswa jurusan bahasa akan terlihat aktif memikirkan langkah-langkah yang harus dilakukannya, mengembangkan instrumen, mengumpulkan data, mengolah data dan memanfaatkan data yang diperolehnya untuk mengisi dan melengkapi deskripsi yang diminta.</p>
<p>Tanpa disadari, mahasiswa jurusan bahasa tersebut akan belajar statistika deskriptif. Akan terlihat Susana pembelajaran yang sangat menyenangkan dan kelihatan antusias. Sangat-sangat manusiwai. Strategi pembelajaran statistika deskriptif yang didesain dengan mengakomodasi “kesenangan” mahasiswa. Akhirnya materi statsitika deskriptif akan mudah masuk dalam otak mahasiswa. Akibatnya, tidak ada lagi mahasiswa jurusan bahasa yang sinis dan fobia statistika. Semoga. [ahf]</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/masthoni.wordpress.com/601/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/masthoni.wordpress.com/601/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/masthoni.wordpress.com/601/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/masthoni.wordpress.com/601/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/masthoni.wordpress.com/601/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/masthoni.wordpress.com/601/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/masthoni.wordpress.com/601/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/masthoni.wordpress.com/601/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/masthoni.wordpress.com/601/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/masthoni.wordpress.com/601/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/masthoni.wordpress.com/601/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/masthoni.wordpress.com/601/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/masthoni.wordpress.com/601/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/masthoni.wordpress.com/601/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=masthoni.wordpress.com&amp;blog=4280765&amp;post=601&amp;subd=masthoni&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://masthoni.wordpress.com/2011/04/14/belajar-statistika-dengan-pendekatan-kecerdasan-linguistik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4fa1ace0eaaf7442dd6f821cd02bbd38?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">masthoni</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Meraih “Makna” dalam Pembelajaran</title>
		<link>http://masthoni.wordpress.com/2011/04/13/meraih-%e2%80%9cmakna%e2%80%9d-dalam-pembelajaran/</link>
		<comments>http://masthoni.wordpress.com/2011/04/13/meraih-%e2%80%9cmakna%e2%80%9d-dalam-pembelajaran/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 13 Apr 2011 00:07:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>masthoni</dc:creator>
				<category><![CDATA[ARTIKEL]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://masthoni.wordpress.com/?p=599</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Abdul Halim Fathani MENURUT Elaine B.J (2008) keterkaitan yang mengarah kepada makna adalah jantung dari pengajaran dan pembelajaran kontekstual, pada saat siswa mulai berpikir tentang pelajaran agama, ilmu pengetahuan sosial (IPS), ilmu pengetahuan alam (IPA), Bahasa Inggris dengan kenyataan hidupnya, masyarakatnya, maka sebenarnya ia telah menapaki jalan menuju pembelajaran dan pengajaran yang menemukan makna. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=masthoni.wordpress.com&amp;blog=4280765&amp;post=599&amp;subd=masthoni&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh Abdul Halim Fathani</p>
<p>MENURUT Elaine B.J (2008) keterkaitan yang mengarah kepada makna adalah jantung dari pengajaran dan pembelajaran kontekstual, pada saat siswa mulai berpikir tentang pelajaran agama, ilmu pengetahuan sosial (IPS), ilmu pengetahuan alam (IPA), Bahasa Inggris dengan kenyataan hidupnya, masyarakatnya, maka sebenarnya ia telah menapaki jalan menuju pembelajaran dan pengajaran yang menemukan makna. Keterkaitan antara teori dan konsep akademis yang miliki siswa dengan lingkungannya sehari-hari dari kehidupannya. <span id="more-599"></span></p>
<p>Setelah siswa merasa menemukan makna dalam pembelajarannya ia akan bangkit dan terus berjuang sampai ia mendapatkan makna yang bermanfaat bagi dirinya, maka ia akan terus belajar dan belajar. Motivasi besar ini muncul dari manfaat yang telah ia terima dan rasakan, ternyata konsep akademis yang ia terima di sekolah sesuai dengan kehidupannya sehari-hari.</p>
<p>Dalam bukunya yang berjudul ”Quantum learning,” Bobby De Porter (2007) menyimpulkan bahwa ketika seseorang bersemangat, gembira, dan tidak bosan dalam melakukan sesuatu pada dasarnya ia telah menemukan manfaat dan makna dari apa yang telah ia lakukan. Pembelajaran bermakna memberi manfaat secara langsung maupun tidak langsung kepada siswa, semakin banyak mengetahui manfaat, maka akan semakin besar antusias siswa untuk belajar, sebab dengan banyak belajar akan makin dekat dengan manfaat itu, akan makin senang melakukan pekerjaannya. </p>
<p>Jadi, makin besar kita mengetahui manfaat sesuatu maka akan makin besar peluang untuk melakukan perbuatan itu, sebaliknya semakin sedikit mengetahui manfaat dari yang kita kerjakan maka akan makin sedikit semangat kita untuk melakukan hal itu. Ketika siswa tahu banyak akan manfaat dari sedekah maka siswa akan makin rajin untuk sedekah, demikian juga ketika siswa tahu akan manfaat olah raga maka siswa akan dengan senang hati untuk melakukan olah raga. Ketika siswa mengetahui manfaat menolong orang maka siswa akan terus berlomba untuk menolong orang.</p>
<p>Proses belajar tidak hanya menghafal, tetapi siswa harus membangun pengetahuan di pikirannya sendiri tanpa harus dipaksa. Siswa dalam pembelajaran harus mengalami sendiri dari apa yang dipelajarinya. Jadi siswa harus mencari sendiri, guru hanya memberi pengarahan, dan motivasi ektrinsik. Para ahli menyepakati bahwa pengetahuan yang dimiliki oleh seseorang tertata rapi sehingga menjadi suatu pemahaman dan pengetahuan yang mendalam, dalam arti pengetahuan yang ada pada diri seseorang terorganisir, sehingga menjadi pemahaman yang melekat. </p>
<p>Di sisi lain, dalam cara memandang siswa hendaknya perlu kesadaran adanya keunikan dan keragaman setiap individu. Hendaknya siswa dibiasakan mengeluarkan ide-ide sendiri, memecahkan masalah, menemukan sesuatu yang mendukung bakat, minat dan manfaat bagi kehidupannya. Ketika ketrampilan makin tersusun dan bakatnya terus dikembangkan maka secara tidak langsung akan berpengaruh pada struktur otaknya, dengan demikian proses pembelajaran akan mampu mengubah struktur otaknya.</p>
<p>Pembelajaran bermakna merupakan kegiatan pembelajaran yang menitikberatkan pada kegunaan pengalaman belajar pada kehidupan nyata peserta didik. Dalam hal ini guru dituntut mampu meyakinkan secara realistik suatu pengalaman belajar dengan menekankan pada siswa belajar secara aktif dan dapat memotivasi belajar yang tinggi kepada peserta didik. </p>
<p>Tahapan dalam pelaksanaan pembelajaran dengan pendekatan pembelajaran bermakna yang ditawarkan Puskur Balitbang Depdiknas (2002) (dalam Sukmara, 2007) adalah sebagai berikut:</p>
<p>a.	Pemanasan/Apersepsi<br />
Mengawali kegiatan pembelajaran, guru harus memperhatikan dan melakukan hal-hal berikut: Pelajaran harus dimulai dengan hal-hal yang diketahui dan dipahami siswa; Motivasi siswa ditumbuhkan dengan bahan ajar yang menarik dan berguna; dan Siswa didorong agar tertarik untuk mengetahui hal-hal baru.<br />
b.	Eksplorasi<br />
Pengembangan sejumlah pengalaman belajar hendaknya memperhatikan: Keterampilan baru yang diperkenalkan; Kaitkan materi pengalaman belajar dengan pengetahuan yang sudah ada pada siswa sebelumnya; dan Pilih metodologi yang paling tepat dalam meningkatkan penerimaan siswa akan pengalaman baru yang disajikan.</p>
<p>c.	Konsolidasi Pelajaran<br />
Pemantapan pengalaman belajar siswa dapat dilakukan dengan cara: Melibatkan siswa secara aktif dalam menafsirkan dan memahami pengalaman atau materi baru; Melibatkan siswa secara aktif dalam pemecahan masalah; Menekankan pada kaitan struktural yaitu kaitan antara materi pengalaman baru dengan berbagai aspek kegiatan dan kehidupan di dalam lingkungan; dan Pilih metodologi yang tepat sehingga pengalaman baru dapat terproses menjadi bagian dari kehidupan siswa sehari-hari.</p>
<p>d.	Pembentukan Sikap dan Perilaku<br />
Proses internalisasi suatu pengalaman baru dapat dilakukan dengan: Mendorong siswa menrapkan konsep atau pengertian baru yang dipelajari dalam kehidupan sehari-hari; Membangun sikap dan perilaku baru dalam kehidupan siswa sehari-hari berdasarkan pengalaman belajarnya; Pilih metodologi yang tepat agar terjadi perubahan pada sikap dan perilaku siswa menuju perubahan yang lebih baik.</p>
<p>e.	Penilaian Formatif<br />
Untuk menentukan efektivitas serta keberhasilan proses pembelajaran dapat dilakukan hal-hal berikut: Kembangkan cara-car menilai hasil belajar siswa secara variatif; Gunakan hasil penilaian tersebut untuk melihat kelemahan atau kekurangan dan masalah-masalah yang dihadapi baik oleh siswa maupun guru; dan Pilih metodologi penelitian yang paling tepat dan sesuai dengan tujuan yang mesti dicapai.</p>
<p>Walhasil, meraih “makna” dalam proses pembelajaran merupakan serangkaian proses menyerap informasi atau pengetahuan baru dengan menghubungkannya ke pelbagai aspek relevan yang ada di pikiran dan kehidupan nyata. Inilah pembelajaran bermakna. [ahf]</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/masthoni.wordpress.com/599/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/masthoni.wordpress.com/599/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/masthoni.wordpress.com/599/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/masthoni.wordpress.com/599/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/masthoni.wordpress.com/599/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/masthoni.wordpress.com/599/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/masthoni.wordpress.com/599/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/masthoni.wordpress.com/599/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/masthoni.wordpress.com/599/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/masthoni.wordpress.com/599/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/masthoni.wordpress.com/599/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/masthoni.wordpress.com/599/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/masthoni.wordpress.com/599/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/masthoni.wordpress.com/599/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=masthoni.wordpress.com&amp;blog=4280765&amp;post=599&amp;subd=masthoni&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://masthoni.wordpress.com/2011/04/13/meraih-%e2%80%9cmakna%e2%80%9d-dalam-pembelajaran/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/4fa1ace0eaaf7442dd6f821cd02bbd38?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">masthoni</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
