Belajar Statistika dengan Pendekatan Kecerdasan Linguistik


Oleh Abdul Halim Fathani

TIDAK ada yang mengharuskan kepada masing-masing kita untuk belajar statistika. Namun, bagi kita yang telah mengikrarkan diri menjadi mahasiswa di sebuah perguruan tinggi –apa pun jurusannya- tentu mau tidak mau, suka maupun tidak suka, akan bertemu dengan statistika. Baik yang berwujud dalam matakuliah tersendiri atau hanya menjadi bagian bab dalam suatu matakuliah tertentu. Dengan demikian, maka tidak akan mungkin bagi mahasiswa untuk bisa menghindar dari mempelajari statistika.

Kalau bagi mahasiswa matematika, maka statistika sudah menjadi “bahan makanan” wajib yang harus dipelajari. Bagi mahasiswa jurusan lain, misalnya kependidikan, maka akan menempuh matakuliah statistika pendidikan, mahasiswa psikologi akan menempuh matakuliah statistika psikologi, di jurusan lain ada yang namanya matakuliah statistika ekonomi, statistika bisnis, statistika kesehatan, statistika-statistika lainnya. Ada juga materi statistika yang tidak berdiri dalam matakuliah tersendiri, tetapi menjadi satu bagian dalam matakuliah tertentu. Misalnya dalam matakuliah metodologi penelitian (baca: penelitian kuantitatif), maka ada bagian dalam bab-bab tertentu yang membahas tentang statistika, mulai dari bagaimana mengumpulkan data, menyajikan data, mengolah dan menganalisis data, hingga melakukan interpretasi dan menarik kesimpulan dari suatu data.

Biasanya, bagi mahasiswa non-eksakta yang mempelajari statistika akan mengeluh. Mereka cenderung tidak antusias untuk mempelajarinya. Dalam benak pikirannya, belajar statistika justru akan mengingatkan masa kenangannya sewaktu belajar matematika di bangku sekolah. Ialah termasuk salah satu pelajaran yang dianggapnya sebagai pelajaran yang sulit dan susah. Realitas yang demikian memang bisa dimaklumi. Bisa saja ada kekeliruan dalam strategi pembelajaran yang dimainkan oleh para guru. Oleh karenanya, jika kita merujuk pada paradigm baru tentang kecerdasan yang digagas Howard Gardner (1983), yakni dengan teori multiple intelligences. Merujuk teori ini, strategi guru ketika mengajar dituntut untuk mampu menyesuaikan dengan gaya belajar yang disenangi siswa.

Kembali pada topik belajar statistika pada mahasiswa. Kita ambil contoh misalnya, mahasiswa jurusan bahasa. Kalau kita mencoba mahasiswa pada jurusan bahasa ini untuk diriset kecenderungan multiple intelligences-nya, maka sangat dimungkinkan kecenderungan kecerdasan akan didominasi pada kecerdasan linguistik. Dengan kecenderungan kecerdasan linguistik ini, maka mahasiswa memiliki kemampuan tinggi dalam berbahasa. Salah satu yang termasuk kemampuan berbahasa adalah kemampuan untuk menulis atau mengarang.

Berpijak pada hal tersebut, maka dapat diambil kesimpulan bahwa mahasiswa jurusan bahasa lebih cenderung suka untuk “berbahasa” (baca: menulis dan mengarang). Maka, bagi seorang dosen matakuliah statistika atau metodologi penelitian kuantitatif akan menjadi menarik jika ia menerapkan strategi pembelajarannya dengan mengakomodasi kesenangan mahasiswa, salah satunya memanfaatkan kemampuan dan kesenangan dalam hal menulis dan mengarang untuk belajar statistika.

Sebelumnya, perlu kita ketahui bahwa metode dalam statistika digolongkan menjadi dua, yaitu metode statistika deskriptif dan metode statistika inferensia. Somantri & Muhidin (2006:19) dalam bukunya “Aplikasi Statistika dalam Penelitian” menjelaskan bahwa statistika deskriptif membahas cara-cara pengumpulan data, penyederhanaan angka-angka pengamatan yang diperoleh (meringkas dan menyajikan), serta melakukan pengukuran pemusatan dan penyebaran data untuk memperoleh informasi yang lebih menarik, berguna, dan mudah dipahami. Dengan statistika deskriptif, kumpulan data yang diperoleh akan tersaji dengan ringkas dan rapi serta dapat memberikan informasi inti dari kumpulan data yang ada.

Informasi yang dapat diperoleh dengan statistika deskriptif antara lain, pemusatan data, penyebaran data, serta kecenderungan suatu gugus data. Yang termasuk dalam ukuran pemusatan data, misalnya mean, median, dan modus. Ukuran penyebaran misalnya, range, simpangan rata-rata, varians, dan simpangan baku. Selain itu dalam statistika deskriptif juga ada yang termasuk dalam ukuran letak, misalnya kuartil, desil, dan persentil.

Terkait hal ini, dalam tulisan ini akan dipaparkan satu contoh bagaimana belajar statistika dengan pendekatan kemampuan berbahasa (menulis). Contoh di bawah ini merupakan contoh pembelajaran statistika deskriptif yang dikutip dari sebuah laman http://idepembelajaranmatematika.blogspot.com/, diakses pada 13 April 2011. Sebuah strategi pembelajaran statistika deskriptif dengan menggunakan pendekatan linguistika, yakni mengakdomodasi kemampuan berbahasa terutama dalam hal kemampuan menulis dan mengarang.

ALAT TULIS TEMAN-TEMANKU

Hari ini ………………..tanggal …….. Nopember 2009, teman-temanku ternyata membawa banyak sekali alat tulis, yaitu: (1) ……………, (2) …………….., (3)………………………, (4)…………………… Di antara teman-teman, ada yang membawa sebanyak …. …….. alat tulis, dan ada pula yang membawa sebanyak …………….. alat tulis. Paling sedikit mereka membawa ……………..(biasanya berupa ……………..) dan paling banyak mereka membawa ………………. alat tulis .

Dari semua alat tulis tersebut, alat tulis yang paling banyak dibawa oleh teman-teman adalah…………….. Ini terjadi sebab kata mereka ……………………………………………………………..
Kalau dilihat dari ukurannya, maka alat-alat ulis itu rata-rata memiliki ukuran panjang …………… cm. Sementara itu, kalau dilihat dari merek-nya, maka untuk jenis alat tulis ….. ….. merek yang paling dominan adalah merek…………….. Untuk jenis alat tulis ………. yang paling dominan adalah merek…………..

Menurut teman-teman, merek ini paling banyak dimiliki karena ………………………………………………………………………….

Itu terjadi karena mereka …………………………………………………..

Malang, 12 Nopember 2009
Penulis

(……………..)

Dari strategi pembelajaran statistika di atas, seorang pengajar meminta kepada para mahasiswa jurusan bahasa untuk bekerja dalam beberapa kelompok dalam membuat deskripsi ini. Mahasiwa melakukan diskusi dalam beberapa kelompok untuk memikirkan apa yang harus mereka lakukan dan bagaimana melakukannya. Dengan pendekatan seperti ini, para mahasiswa jurusan bahasa akan terlihat aktif memikirkan langkah-langkah yang harus dilakukannya, mengembangkan instrumen, mengumpulkan data, mengolah data dan memanfaatkan data yang diperolehnya untuk mengisi dan melengkapi deskripsi yang diminta.

Tanpa disadari, mahasiswa jurusan bahasa tersebut akan belajar statistika deskriptif. Akan terlihat Susana pembelajaran yang sangat menyenangkan dan kelihatan antusias. Sangat-sangat manusiwai. Strategi pembelajaran statistika deskriptif yang didesain dengan mengakomodasi “kesenangan” mahasiswa. Akhirnya materi statsitika deskriptif akan mudah masuk dalam otak mahasiswa. Akibatnya, tidak ada lagi mahasiswa jurusan bahasa yang sinis dan fobia statistika. Semoga. [ahf]

Perihal masthoni
Alumni Jurusan Matematika Fakultas Sains dan Teknologi UIN Malang

4 Responses to Belajar Statistika dengan Pendekatan Kecerdasan Linguistik

  1. Rendra Budi mengatakan:

    Kalau jurusan statistika itu yg dipelajari apa aja ya?

  2. sonny mengatakan:

    saya tidak mengerti…..
    tetapi saya ingin mengerti…..
    arti tulisan diatas…
    salam kenal gan :)

  3. novewatibuulolo mengatakan:

    kalau boleh mas kasi contohnya satu saja, tentang bagaimana cara mencari panjang kelas. terimakasih

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.