Air dalam Botol: Sebuah Ilustrasi Pembelajaran Berbasis Multiple Intelligences


Oleh A Halim Fathani

Dalam faktanya, banyak siswa mengalami kebingungan dalam menerima pelajaran karena tidak mampu mencerna materi yang diberikan oleh guru. Ternyata, banyaknya kegagalan siswa mencerna informasi dari gurunya disebabkan oleh ketidaksesuaian gaya mengajar guru dengan gaya belajar siswa. Sebaliknya, apabila gaya mengajar guru sesuai dengan gaya belajar siswa, semua pelajaran (termasuk pelajaran matematika) akan terasa sangat mudah dan menyenangkan. Guru juga senang karena punya siswa yang semuanya cerdas dan berpotensi untuk sukses pada jenis kecerdasan yang dimilikinya. (Chatib, 2009:100).

Salah satu implikasi dari penerapan multiple intelligences dalam proses pembelajaran adalah terwujudnya gaya mengajar guru yang menyesuaikan dengan gaya belajar siswa. Bobbi DePorter, Mark Reardon, dan Sarah Singer-Nourie (2000:85-86) menjelaskan bahwa setiap orang memiliki kecenderungan gaya mengajar atau modalitas mengajar yang biasanya sama dengan gaya belajar masing-masing. Jika kita memiliki kecenderungan belajar secara visual, maka kita akan menjadi guru yang visual pula. Hal itu terjadi secara alamiah. Tetapi, tidak demikian dengan siswa. Sebagian mungkin memiliki modalitas belajar yang sama dengan gurunya, tetapi mungkin banyak yang tidak. Bagi siswa yang modalitasnya tidak sama dengan modalitas mengajarnya guru, kemungkinan tidak akan dapat menangkap semua yang diajarkan atau mendapat tantangan lebih besar dalam mempelajari bahan. Siswa secara harfiah memproses dunia melalui bahasan yang berbeda dengan guru. Bukankah seorang guru akan senang dapat menjangkau semua siswa dengan modalitas berbeda-beda –dan melakukannya secara konsisten? Meskipun cara belajar dan mengajar seseorang itu mencerminkan kecenderungan modalitas seseorang, penelitian menunjukkan bahwa semakin banyak modalitas yang dilibatkan secara bersamaan, belajar akan semakin hidup, berarti, dan melekat,

Rose & Nicholl (2002:131) memapaparkan hasil studi yang dilakukan lebih dari 5.000 siswa di Amerika Serikat, Hongkong, dan Jepang, kelas 5 hingga 12, menunjukkan kecenderungan belajar berikut: Visual sebanyak 29%, Auditori sebanyak 34%, dan Kinestetik sebanyak 37%. Namun, pada saat mereka mencapai usia dewasa, kelebihsukaan pada gaya belajar visual ternyata lebih mendominasi, menurut Lynn O’Brien, Direktur Studi Diagnostik Spesifik Rickville, Maryland, yang melakukan studi tersebut.

Ada sebuah ilustrasi menarik tentang praktik pembelajaran yang diselenggarakan dengan pendekatan multiple intelligences. Ada air dalam cangkir besar yang akan dituangkan dalam 10 botol. Dan, bentuk botolnya pun berbeda-beda. Tidak sama antara satu dengan yang lain. Tetapi, air yang dituangkan ternyata dapat memenuhi bentuk botol yang bermacam-macam itu –karena, salah satu sifat air adalah cair, yakni dapat menyesuaikan dengan bentuk yang dialiri. Intinya, ketika air tadi di dalam cangkir, maka bentuk air adalah seperti cangkir. Namun, ketika dituangkan dalam 10 botol yang berbeda, maka diperoleh 10 model bentuk air yang berbeda-beda.

Nah, bagaimana dalam proses pembelajaran. Tantangan bagi seorang guru adalah bagaimana guru dapat membuat “bentuk” ilmu pengetahuan atau informasi yang mau ditransfer ke siswa itu sesuai dengan “bentuk” masing-masing individu siswa. Jika bentuk yang ditransfer sudah sesuai dengan bentuk masing-masing siswa, maka secara otomatis akan dapat masuk ke dalam masig-masing siswa. Dengan kata lain, gaya mengajar guru harus menyesuaikan dengan gaya belajar siswa. Bukan sebaliknya, gaya belajar siswa harus menyesuaikan dengan gaya mengajar guru.

Memang, dengan menerapkan pembelajaran berbasis multiple intelligences ini guru akan dibuat dalam posisi yang “sulit”. Artinya, tugas seorang guru menjadi berat dan berat. Dan, memang inilah keharusan yang menurut penulis merupakan suatu keniscayaan, jika kita ingin para siswa nantinya akan menjadi manusia pebelajar sejati. Lalu, pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana mungkin kita dapat menerapkan pembelajaran berbasis multiple intelligences jika dalam suatu kelas terdapat beragam model belajar yang dimiliki siswa?

Untuk keefektifan dalam praktiknya di lapangan, memang pembelajaran yang diselenggarakan berbasis multiple intelligences ini lebih cocok jika diterapkan dalam sistem pembelejaran yang menggunakan sistem kelompok, bukan klasikal. Dan, akan lebih sesuai lagi jika pembelajarannya menggunakan pendekatan personal. Sehingga guru benar-benar akan dapat menggali apa saja yang menjadikeunggulan siswa. Dan, pada akhirnya sekolah akan menghargai masing-masing kelebihan dan keunggulan siswa. Artinya, sekolah tidak lagi membatasi peringkat hanya 1-3, atau hanya sepuluh besar. Tetapi, semua siswa layak menjadi juara, mereka akan mendapat peringkat sesuai dengan bidang kemampuannya masing-masing. Guru harus dapat meyakinkan kepada siswa, bahwa si A juara di bidang ini, si B juara di bidang itu, si C ahli bidang ini, si D mahir di bidang itu, dan seterusnya. [ahf]

Perihal masthoni
Alumni Jurusan Matematika Fakultas Sains dan Teknologi UIN Malang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.