Pembelajaran Matematika: Sebuah Refleksi


Oleh A Halim Fathani Yahya

Matematika merupakan subjek yang sangat penting dalam sistem pendidikan di seluruh dunia, tak terkecuali Indonesia. Akibatnya, bagi negara yang mengabaikan pendidikan matematika sebagai prioritas utama, akan tertinggal dari kemajuan segala bidang (terutama iptek), dibanding dengan negara lain yang memberikan tempat bagi matematika sebagai subjek vital. Di Indonesia, sejak bangku SD, SMP, SMA, hingga PT, bahkan mungkin sejak play group, syarat penguasaan terhadap matematika jelas tidak bisa dikesampingkan. Untuk dapat menjalani pendidikan selama di bangku sekolah sampai kuliah dengan baik, maka anak didik dituntut untuk dapat menguasai matematika dengan baik pula.

Satu hal yang penting untuk diketahui dan dijadikan pegangan adalah bahwa matematika itu merupakan ilmu dasar dari pengembangan sains dan sangat berguna dalam kehidupan sehari-hari. Dalam perdagangan kecil-kecilan saja, orang dituntut untuk mengerti aritmetika minimal penjumlahan dan pengurangan. Bagi pegawai/karyawan perusahaan harus mengerti waktu/jam, bendaharawan suatu perusahaan harus memahami seluk beluk keuangan. Ahli agama, politikus, ekonom, wartawan, petani, ibu rumah tangga, dan semua manusia dituntut menyenangi matematika yang kemudian berupaya untuk belajar dan memahaminya, mengingat begitu pentingnya dan banyaknya peran matematika dalam kehidupan manusia.

Ada lima tujuan yang mendasar dalam belajar matematika seperti dirumuskan oleh NCTM (1990), yakni: That they learn to value mathematics; That they become confident in their ability to do mathematics; That they become mathematical problem-solvers; That they learn to communicate mathematically; dan That they learn to reason mathematically. Secara umum, tujuan diberikannya matematika di sekolah adalah untuk memenuhi kebutuhan praktis dan memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari, mempersiapkan diri siswa agar sanggup menghadapi perubahan kehidupan dan dunia yang selalu berkembang dan sarat perubahan, melalui latihan bertindak atas dasar pemikiran logis, rasional, dan kritis. Begitu juga, untuk mempersiapkan siswa agar dapat bermatematika dalam kehidupan sehari-hari, mempelajari ilmu pengetahuan, teknologi dan seni (IPTEKS). (Suherman, 2001:56).

Yang masih menjadi pertanyaan –hingga saat ini- adalah, apa yang perlu dilakukan agar pembelajaran matematika di sekolah dapat memotivasi siswa untuk belajar matematika dan mampu mendidik para siswa sehingga mereka bisa tumbuh menjadi orang-orang yang mampu berpikir secara mandiri dan kreatif, berkepribadian mandiri, dan mempunyai kemampuan dan keberanian dalam menghadapi masalah-masalah dalam kehidupan mereka? Jika pembelajaran matematika di sekolah-sekolah kita dapat mengupayakan terbentuknya siswa dengan karakteristik seperti itu, berarti pembelajaran matematika di sekolah-sekolah kita telah memberikan sumbangan yang besar dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia.

Akan tetapi, sejauh mana tujuan pendidikan matematika di sekolah sudah dapat direalisasikan. Inilah kiranya yang masih menjadi keprihatinan kita bersama. Sungguh banyak kesulitan yang ada dan merambah hampir ke seluruh komponen pembelajaran matematika, mulai dari faktor intern (siswa, guru, kurikulum, sarana dan prasarana yang belum memadai), sampai pada faktor ekstern (pentingnya peran orangtua dan lingkungan).

Terdapat beberapa hal, apabila kita mencermati praktik pembelajaran matematika yang kebanyakan masih dianut oleh lembaga penyelanggara pendidikan (sekolah) hingga akhir-akhir ini, di antaranya adalah:
a. Komposisi materi pembelajaran yang harus dipelajari siswa sangat padat, sedangkan alokasi waktu yang disediakan sangat terbatas.
b. Proses pelaksanaan pembelajaran lebih didominasi oleh upaya untuk menyelesaikan materi pembelajaran dalam waktu yang tersedia, dan kurang adanya proses dalam diri siswa untuk mencerna materi secara aktif dan konstruktif
c. Orientasi akhir pembelajaran yang cenderung hanya memenuhi kepentingan pragmatis, yakni untuk memenuhi target kulusan siswa dalam ujian nasional (UN).
d. Minimnya mengaitkan materi dengan kehidupan dunia nyata.

Berdasarkan beberapa hal di atas, maka dapat dikatakan bahwa pembelajaran matematika di Indonesia –sampai saat ini- belum mampu mengaktualisasikan potensi-potensi yang dimiliki oleh matematika pada diri siswa untuk memenuhi tujuan pembelajaran matematika. Untuk mengupayakan agar pembelajaran matematika di sekolah-sekolah dapat mengaktualisasikan potensi-potensi yang dimiliki oleh matematika pada diri para siswa, banyak hal yang perlu dilakukan, antara lain penggunaan kurikulum yang fleksibel, penerapan strategi pembelajaran yang lebih memberikan kesempatan pada siswa untuk mempelajari matematika secara aktif dan konstruktif, dan upaya untuk lebih melibatkan dunia nyata dalam proses pembelajaran matematika di sekolah.
Terkait upaya menyelenggarakan praktik pembelajaran matematika di sekolah di atas, kiranya dapat diatasi dengan penyelenggaraan praktik pembelajaran matematika berbasis kecerdasan majemuk, yakni teori kecerdasan yang digagas oleh seorang ahli, Howard Gardner, yang biasa dikenal dengan sebutan Teori Multiple Intelligences, yang me meliputi sembilan kecerdasan, yaitu kecerdasan linguistik, matematis, visual, musikal, kinestetik, interpersonal, intrapersonal, naturalis, dan eksistensial. Teori Multiple Intelligences ini telah meyakinkan kepada setiap guru, bahwa setiap siswa adalah individu yang cerdas, menurut jenis kecerdasan yang dimiliki sebagai bawaan lahir atau pun yang berkembang sebagai hasil pendidikan dalam kehidupan. Teori ini menuntut semua orang untuk mengevaluasi kembali ”Paradigma Pendidikan” yang diyakininya selama ini, khususnya dalam memandang kecerdasan setiap individu siswa dan strategi pembelajaran yang harus dilakukan.
Penerapan pembelajaran dengan menggunakan pendekatan Multiple Intelligences ini diharapkan siswa dapat belajar secara bermakna. Dengan kata lain, siswa dapat mempelajari matematika dengan mengoptimalkan potensi kecerdasan yang dimilikinya. Akibatnya, siswa menjadi lebih senang dan bersemangat dapat belajar dan tentu akan membawa implikasi positif bagi tercapainya tujuan pembelajaran matematika di sekolah. Dan, yang penting adalah siswa menjadi lebih enjoy dalam belajar (baca: berusaha untuk bisa memahami) matematika dan akan terbangun sikap ingin belajar secara berkelanjutan. [ahf]

Perihal masthoni
Alumni Jurusan Matematika Fakultas Sains dan Teknologi UIN Malang

2 Responses to Pembelajaran Matematika: Sebuah Refleksi

  1. elfaridi mengatakan:

    ARTIKEL muantebbbbbbbb nice info salam kenal aku tunggu okomentar baliknya di blog aku ya:)

  2. udin mengatakan:

    salam kenal pak…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.