Potret Sekolah Masa Depan


Sekolah bukan pasarOleh A Halim Fathani Yahya

Sekolah merupakan ”jantung” kehidupan. Baik buruknya seseorang, keluarga, masyarakat, dan negara diprediksi –salah satunya- merupakan hasil dari proses pendidikan di sekolah. Saat ini jamak kita saksikan model sekolah yang “macam-macam”, mulai dari Sekolah Berstandar Nasional (BSN), Rintisan Sekolah Berstandar Internasional (RSBI), Sekolah Berstandar Internasional (SBI), sekolah unggul, sekolah model, sekolah laboratorium, sekolah percontohan, sekolah percobaan, sekolah akselerasi, sekolah terpadu, sekolah konvensional, sekolah swasta, sekolah beasrama, dsb. Tetapi, apakah “macam-macam” sekolah tersebut dapat mengantarkan siswa-siswanya untuk menjemput masa depannya secara cemerlang? Bagaimana seharusnya pengelolaan sekolah di masa mendatang?

Sekolah masa depan harus bertitik tolak dari semangat dan komitmen komunitas sekolah yang kuat untuk membuat sekolah itu berkualitas. Sekolah masa depan –tentunya- sekolah yang bukan menjadikan sekolah sebagai lahan bisnis, seperti bisnis buku pelajaran, seragam sekolah, asuransi kesehatan, kartu ATM, bisnis sepatu, bisnis, dan sebagainya. Begitu juga, bukan sekolah yang lulus ujian nasional dengan cara-cara yang tidak terpuji. Bukan sekolah yang mengeruk kekayaan orangtua melalui pembayaran uang gedung dan biaya daftar ulang, dan seterusnya.

Sekolah masa depan juga tidak diukur dari seberapa lengkap dan bagus fasilitas yang dimiliki, seberapa banyak baju seragam guru yang dimiliki, seberapa banyak gurunya punya piagam penghargaan, seberapa banyak gurunya mengikuti seminar dan lokakarya, seberapa banyak gurunya yang lulus sertifikasi, apakah guru pakai dasi atau tidak, apakah gurunya negeri atau swasta, apakah memiliki gedung bertingkat, apakah sekolahnya terletak di kota atau di desa. Juga tidak dilihat apakah sekolah tersebut mengadopsi kurikulum internasional dan menggunakan bahasa Inggris sebagai kata pengantar. Lalu, bagaimana sesungguhnya profil sekolah masa depan?

Menurut Alwasilah (2007, dalam Jambi Ekspress, 2009) sekolah masa depan merupakan sekolah: Pertama, visi dan misi sekolah yang jelas. Mayoritas sekolah kita belum mampu dan memang tidak diberdayakan untuk mampu mengartikulasikan visi dan misinya. Visi adalah pernyataan singkat, mudah diingat, pemberi semangat, dan obor penerang jalan untuk maju melejit.

Kedua, komitmen tinggi untuk unggul. Staf administrasi, guru, dan kepala sekolah memiliki tekad yang kuat untuk menjadikan sekolahnya sebagai sekolah unggul dalam segala aspek, sehingga semua siswa dapat menguasai materi pokok dalam kurikulum. Komitmen ini adalah energi untuk mengubah budaya konvensional (biasa-biasa saja) menjadi budaya unggul.

Ketiga, kepemimpinan yang mumpuni. Kepala sekolah adalah ‘pemimpin dari pemimpin’ bukan ‘pemimpin dari pengikut.’ Artinya selain kepala sekolah ada pemimpin dalam lingkup kewenangannya sehingga tercipta proses pengambilan keputusan bersama (shared decision making). Komunikasi terus-menerus dilakukan antara kepala sekolah dan para guru untuk memahami budaya dan etos sekolah yang yang diimpikan lewat visi sekolah itu. Bila tidak dikomunikasikan terus-menerus, visi itu akan mati sendiri. Idealnya pimpinan sekolah seharusnya di-elected bukan di-appointed.

Keempat, kesempatan untuk belajar dan pengaturan waktu yang jelas. Semua guru mengetahui apa yang mesti diajarkan. Alokasi waktu yang memadai dan penjadwalan yang tepat sangat berpengaruh bagi kualitas pengajaran. Mengajar yang berkualitas memiliki ciri sebagai berikut: (1) organisasi pembelajaran yang efisien, (2) tujuan yang jelas, (3) pelajaran yang terstruktur, dan (4) praktik mengajar yang adaptif dan fleksibel.
Kelima, lingkungan yang aman dan teratur. Sekolah unggul bersuasana tertib, bertujuan, serius, dan terbebas dari ancaman fisik atau psikis, tidak opresif tetapi kondusif untuk belajar dan mengajar. Banyak penelitian menunjukkan bahwa suasana sekolah yang sehat berpengaruh positif terhadap produktivitas, semangat kerja, dan kepuasan guru dan siswa.

Keenam, hubungan yang baik antara rumah dan sekolah. Para orang tua mestinya memahami misi dan visi sekolah. Mereka harus diberi kesempatan untuk berperan dalam program demi tercapainya visi dan misi tersebut; dan
Ketujuh, monitoring kemajuan siswa secara berkala. Kemajuan siswa dimonitor terus-menerus dan hasil monitoring itu dipergunakan untuk memperbaiki perilaku dan performansi siswa dan untuk memperbaiki kurikulum secara keseluruhan. Artinya, semua hasil monotoring dimasukkan ke dalam sebuah data base yang menggambarkan perkembangan akademik siswa secara utuh yang akan menjadi pedoman dalam membuat program sekolah berikutnya.

Sebagian isi buku ini merupakan kumpulan tulisan yang pernah muncul di rubrik catatan pendidikan, didiaktika, opini, fenomena, sampai desain di Kompas Minggu. Isi buku ini terdiri atas 3 bagian, yaitu: pertama, sekolah di zaman kini, yang berisi seputar tulisan yang menyoroti bagaimana fenomena dan beberapa kegagalan sekolah dewasa ini; Kedua, tergantung pada guru, mengurai tentang “kondisi” guru pasca disahkannya undang-undang guru dan dosen; dan ketiga, tentang mengajarkan keutamaan, yakni bagaimana konsep pendidikan yang diselenggarakan itu juga berbasis nilai.

Buku yang ditulis oleh seorang guru berpengalaman ini patut kiranya menjadi rujukan para orangtua yang anaknya sedang menempuh pendidikan, guru, pemegang kebijakan, pengamat pendidikan, mahasiswa, dan siapa pun yang peduli akan keselamatan pendidikan Indonesia.[ahf]

Identitas Sekolah:

Judul Buku : Sekolah Bukan Pasar: Catatan Otokritik seorang Guru
Penulis : ST. Kartono
Penerbit : Kompas, Jakarta
Cetakan I : Juni 2009
Tebal : x + 222 Halaman

About these ads

Perihal masthoni
Alumni Jurusan Matematika Fakultas Sains dan Teknologi UIN Malang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.